
Sepeninggalan Emry dari ruangannya, Cakra berdiri dari kursi roda yang ia kenakan dihadapan orang-orang. Namun disaat ia sendiri ataupun bersama orang-orangnya, ia akan melepas kursi roda itu.
Tangan itu sibuk dengan ponsel yang berada ditangannya, mencoba untuk menghubungi seseorang yang sangat ia cintai. Perasaan menyesal dan bersalah kepada Ayara sangatlah besar, Cakra terus menghubunginya namun tidak ada satu pun tanggapan yang ia dapatkan.
"Maafkan aku, Ayara. Bersabarlah sedikit lagi, semuanya akan berakhir dan kita bisa bersama selamanya." Cakra berguman yang hanya dirinya sendiri mendengar.
Memandangi sebuah gambar dari ponsel miliknya, yang dimana ia berpose berdua bersama Ayara dengan saling melepaskan senyuman kebahagian. Sebuah momen terindah yang Cakra rasakan bersama wanita yang ia cintai, akan tetapi semuanya itu kini sudah berakhir.
Tok tok tok.
Secepatnya Cakra kembali menempati kursi rodanya dan mempersilahkn orang tersebut untuk masuk ke dalam ruangannya.
Seorang pria dengan wajah dan sikap yang cukup mengesalkan, berjalan memasuki ruangan. Tentunya dengan Emry yang menghantarkannya, dia adalah Yoshi Jazztin. Orang yang mengaku akan melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan yang Cakra pimpin, berulang kali ingin bertemu namun Cakra pun menolaknya.
__ADS_1
"Selamat pagi, tuan Cakra Damendra. Bagaimana keadaan anda saat ini, sepertinya masih cukup mengkhawatirkan dan juga tidak sehat ya. Hahaha." Ucapan tersebut benar-benar menginjak harga diri lawan bicaranya.
"Bicara anda terlalu memancing, tuan. Sopanlah bersikap dengan lawan bicaramu, ingat dimana kau berada saat ini." Emry sangat tersulut emosinya mendengar ucapan tersebut.
"Kenapa? Apa ada yang salah dari ucapanku? Hahaha, aku hanya berbicara sesuai dengan faktanya. Oke, aku langsung saja. Berlama-lama akan membuatku menjadi ikut-ikutan tidak sehat."
"Aku ingin meletakkan sahamku pada perusahaan ini, karena perusahaan ini sudah terdengar kabar sedang berada di ujung kebangkrutan."
Setiap perkataan yang Yoshi ucapankan, benar-benar sudah membangkitkan sisi hitam dalam diri Cakra. Kedua tangannya sudah mengepal dengan begitu kuat, bahkan terlihat urat-urat tangannya dengan sangat jelas.
Bukannya meminta maaf atas ucapannya, namun Yoshi semakin menjadi-jadi. Ia terus mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat siapa saja mendengarnya menjadi geram, bahkan kesabaran yang ada sudah tidak dapat tertahankan.
"Kenapa lagi, bukankah dengan aku menanamkan saham di perusahaan kalian sangat menolong? Seharusnya kalian itu berterima kasih padaku, bukan malah menolak ataupun menantangku!" Yoshi membalas dengan kalimat bernada tinggi.
__ADS_1
Brakh!
Disaat ketiganya sedang dalam keadaan yang begitu sangat emosional, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka. Seorang wanita dengan begitu anggunnya berjalan memasuki ruangan, mengetahui siapa yang hadir disana. Membuat kepala Cakra kembali berdenyut dengan sangat kuat, ia harus bisa mengontrol semua emosinya saat ini. Jika tidak, maka dirinya akan hancur untuk selamanya.
"Hallo manis, ternyata kmu yang datang." Yoshi menyambut kehadiran wanita itu dengan begitu memuakkan bagi kedua pria lainnya.
"Tentu sayang, aku akan selalu menemanimu dalam keadaan apapun. Tapi, kenapa aku begitu sedih melihat pria itu." Wanita itu mengarahkan matanya kepada Cakra yang berada di atas kursi rodanya.
"Maksudmu, pria lemah itu? Hahaha, kenapa ucapanmu satu pemikiran dan sependapat denganku manis."
Yoshi begitu menikmati apa yang ia lakukan bersama wanita tersebut, yang dimana wanita itu adakah Eliza. Sungguh drama yang memuakkan sekali, namun Emry meminta Cakra untuk bisa terus mengontrol dirinya. Akan tetapi, tubuh itu sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Kau tidak apa-apa?" Emry bergegas menghampiri Cakra, memastikan keadaannya saat itu.
__ADS_1
Tidak ada jawaban yang diberikan, terlihat jika Cakra mengepalkan kedua telapak tangannya seperti sedang menahan rasa sakit pada tubuhnya. Ada perasaan khawatir juga dari lubuk hati Eliza saat melihat kondisi Cakra seperti itu, namun ia segera dibawa berlalu dari ruangan tersebut oleh Yoshi.
kabar berita mengenai keadaan Cakra telah diketahui oleh para sahabatnya dan juga kedua orangtuanya, Emry sudah melajukan pertolongan pertama untuk sahabatnya itu. Namun reaksi dari obat tersebut belum memberikan tanda-tanda berhasil.