
Situasi saat itu menjadi sangat tidak kondusif, Liam pun segera mengambil alih semuanya. Ia meminta kepada Aina untuk menarik Pedro dari sisi Ayara, dengan itu ia bisa mengambil alih apa yang akan Pedro lakukan sebelumnya.
"Aina, Andin. Apakah Ayara memakan makanan itu? Sebanyak apa?" Liam menegaskan ucapannya.
Jawaban yang didapatkan adalah anggukan kepala Aina dan Andin, mereka mengatakan jika Ayara cukup banyak memakan makanan tersebut. Karena itu membuat panik Pedro, mengetahui itu adalah makanan kesukaannya. Ayara menjadi sangat semangat untuk menghabiskannya, walaupun sebenarnya ia merasa ragu.
"Ma maaf, aku hanya memakannya. Aku kira itu adalah masakan dari mommy, karena suamiku mengatakan jika mommy akan menghantarkan makanan kesukaanku." Ayara menjelaskan mengenai apa yang telah ia lakukan.
Ingin sekali Pedro melayangkan kepalan tangannya itu pada seseorang, ia begitu geram mendengar apa yang telah Ayara katakan. Sementara itu, Cakra dan yang lainnya belum mengerti akan apa yang Pedro khawatirkan. Disaat semuanya sedang terlena dengam situasi yang ada, tiba-tiba saja Ayara batuk dengan cukup keras. Dan itu sangat membuat yang lainnya semakin khawatir, karena dari mulut Ayara juga mengeluarkan darah segar.
"Rumah sakit! Hubungi Matteo! Cepat!!" Teriakan Pedro membuyarkan semua perhatian dari semua orang disana.
__ADS_1
"Sa sayang, kamu kenapa?!" Cakra kini kaget namun rasa khawatir itu lebih mendominan.
"Ke kenapa terasa panas sekali." Ayara Menepuk-nepuk dadanya dengan memejamkan kedua matanya.
Merasa jengah dengan sikap Cakra yang lamban, Pedro bergegas meraih tubuh Ayara dan mengendongnya. Ia berteriak agar segera mempersiapkan mobil, dimana Jhony langsung tanggap dan menyiapkannya.
"Kau ini, kenapa malah diam. Istrimu kritis dodol!" Emry menepuk kepala Cakra.
"Jelaskan padaku, ini semuanya ada apa?" Bentak Cakra yang ditujukan kepada Pedro dan Jhony disana.
Sementara itu, Ayara merasakan dadanya seperti terbakar. Ia terus terbatuk dan juga aliran pada hidungnya tidak berhenti mengalir, semuanya semakin menekan kesadarannya untuk hilang.
__ADS_1
"Aku mencium aroma racun dalam makanan itu, Jhon. Ambil jalan pintas, kita harus segera sampai dirumah sakit. Aku akan hubungi Matteo, tetap jaga kesadaran Ayara." Kalimat tegas itu Pedro ucapkan dengan menatap Ayara.
Sebelumnya ia telah melupakan keberadaan istrinya disana, ia lalu menghubungi Aina dan memintanya berangkat menyusul bersama Liam dan yang lainnya. Tak lupa untuk menjelaskan mengenai apa yang terjadi saat ini, hal itu juga membuat Aina tak henti-hentinya merasa bersalah karena ikut lalai.
"Sayang, buka matanya. Ayo bertahanlah, kamu kuat." Cakra terus menjaga kesadaran Ayara.
Tidak ada jawaban, Ayara juga berusaha untuk tetap tersadar membuka matanya. Namun, kedua mata itu sangat terasa berat untuk terbuka. Perlahan rasa panas pada tubuhnya menghilang, dan itu membuatnya ingin tertidur.
"Tidak! Ayara, buka matamu. Buka matamu sayang, sayang!" Cakra terus menguncang tubuh mungil dalam dekapannya.
Seketika suasana berubah menjadi tegang dan mencekam, kedua mata itu terpejam dengan seiring hilangnya sanggahan pada tubuh mungil itu. Wajah yang pucat berubah menjadi semakin tidak berwarna, tidak ada suara sedikitpun terdengar dari bibir mungil itu.
__ADS_1
"Ayara!!" Cakra maupun Pedro tersentak dengan hilangnya kesadaran dari orang yang namanya mereka sebut.