
Setelah menolak pekerjaan dari Cakra pada hari itu, membuat Ayara harus berjuang keras untuk mencarinya ditempat yang lain. Sudah beberapa tempat yang Ayara datangi, namu mereka tidak sedang membuka lowongan pekerjaan.
Berhenti sejenak di sebuah taman yang cukup tenang, mengistirahatkan diri darinsekedar melepas lelahnya. Keringat membanjiri wajah Ayara, rasa haus juga menyerang tenggorokannya.
"Pak, beli air mineralnya satu." Ujar Ayara kepada penjual minuman yang ada ditaman tersebut.
"Boleh non, ini." Orang tersebut menyerahkan satu botol kecil air kepada Ayara.
Lalu Ayara kembali duduk ditempat semula, menikmati kedamaian dan ketenangan disana. Melupakan sejenak kepenatan yang ada, yang dimana sudah membuatnya dalam beberapa hari ini menjadi seseorang yang lebih keras untuk berjuang hidup.
"Jangan melamun, tidak baik."
Suara yang secara tiba-tiba terdengar dari samping tempat duduk yang Ayara tempati, seketika itu juga membuat Ayara mengalihkan pandangannya untuk melihat pemilik dari suara tersebut.
"Pak Liam?" Kaget Ayara yang menyadari keberadaan mantan managernya.
"Tidak baik melamun sendirian, boleh bergabung kan?" Liam seolah-olah meminta persetujuan dari Ayara, namun dirinya sudah duduk manis disana.
Tanpa diminta dan mengucapkannya saja, Liam sudah duduk. Lalu Ayara hanya memberikan anggukan kepalanya, sebagia tanda ia menyetujui ucapan dari Liam.
Kembali menatap pada arah didepannya, dimana disana terdapat berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang memperindah serta mempercantik taman tersebut sehingga orang-orang merasa nyaman disana.
"Masih mencari pekerjaan? Tidak mengambil tawaran dari Emry?" Tanya Liam yang juga tidak mengalihkan pandangannya dari ujung sepatunya.
__ADS_1
Ingin sekali Ayara menjawabnya dengan sejujur-jujurnya, namun terasa akan percuma saja. Karena tidak semua orang mau mendengarkan alasan orang lain apalagi cerita hidupnya, mengatur ucapan agar tidak menyinggung orang lain.
"Terlalu mendadak dan tiba-tiba untuk saya menerima pekerjaan itu pak, dan sepertinya saya tidak mempunyai bakat untuk bekerja disana." Jawab Ayara yang mencoba tersenyum.
"Usiaku belum terlalu tua dan juga tidak lagi menjabat sebagai managermu, Ayara." Ucapan Liam yang tersenyum mendengar Ayara memanggil dirinya sama seperti saat dia bekerja dahulu.
"Eh, tapi kan tidak sopan pak kalau saya memanggil anda dengan sebutan yang lainnya." Sanggah ayara yang tak mau kalah.
"Kakak, cukup itu saja. Tidak ada sanggahan ataupun penolakan, aku akan kecewa jika kamu melakukannya."
Semakin berat isi kepala Ayara untuk memikirkan hal-hal yang aneh menurut dirinya, rasanya ingin membenturkan saja kepalanya agar tidak terlalu berat. Sudut bibir Ayara tertarik melihat Liam mengatakan hal tersebut, namun segera ia tepis semua pikiran itu.
"Baiklah, kak Liam." Senyum yang sangat dipaksakan oleh Ayara.
Liam tersenyum bahkan secara refleks tangannya menarik salah satu sisi pipi Ayara yang mengembangkan seperti balon. Terlihat sangat menggemaskan, berbeda disaat ia sedang lainnya. Ekor mata Ayara melirik Liam seakan ingin mengatakan jika dirinya sedang protes akan apa yang dilakukan pria itu.
"Maksud anda tuan?" Semakin kacau isi kepala Ayara, untung saja wajah Liam membuatnya tenang karena tampan.
Liam menunjukkan dan memberikan sebuah kartu nama kepada Ayara, tertulis disana nama sebuah toko bunga. Keningnya Ayara berkerut, masih terlalu bingung dengan pemberian kartu tersebut padanya.
"Akan sulit untukmu mencari pekerjaan saat ini, disana sedang membutuhkan tenaga sepertimu. Semoga kamu bisa nyaman disana. " Liam beranjak dan pergi begitu saja dari pandangan Ayara.
Sementara itu, Ayara masih terpaku dalam diamnya. Menatap kartu nama pemberian dari Liam, pada akhirnya ia harus menghela nafas panjang untuk menenangkan diri.
__ADS_1
.
.
.
.
Pertemuan ke empat pria yang bisa dibilang pengusaha serta sahabat, namun mereka masih kekurangan satu anggota lagi.
"Bagaimana bisa kerjasama itu kau ambil, Eliot?" Pertayaan Emry yang sangat tajam pada sahabatnya yang terlalu banyak bicara.
"Ya mau gimana lagi, kasihan jika melihat mereka hancur lebih cepat. Di ajak bermain sedikit lah, daripada kau yang selalu terlihat serius. Membosankan." Arah mata Eliot menatap Cakra yang tidak bergeming dari ponselnya.
"Kau sudah mengenalnya, tidak bisa untuk digeser satu senti pun." Balas Emry yang bertemu dengan lawan bicara yang seimbang.
"Kau juga salah, masih saja mau bersama dia. Oh ya Liam, kau sungguh tidak mau menjual Cafe itu? Apa harganya belum cocok?" Eliot mengarang cerita agar Liam bersuara.
Diantara ke empat pria disana, hanya Liam yang merupakan pribadi tidak banyak bicara. Namun pekerjaannya, tidak bisa dianggap remeh oleh siapa pun.
"Masih banyak yang membutuhkan pekerjaan disana, bangunan itu akan tetap kokoh." Perkataan Liam seakan mengatakan jika dirinya mempertahankan bangunan cafe miliknya.
Berulang kali, Eliot berusaha mengoda Liam agar menjual cafe nya. Sampai detik ini pun, semuanya itu tidak membuahkan hasil. Yang ada, Eliot terlihat seperti perayu ulang yang sedang menggoda seseorang.
__ADS_1
Mereka pun beralih pada Cakra, pria itu masih fokus pada ponselnya. Entah apa yang membuat dirinya seperti sibuk sendiri, padahal untuk berkumpul seperti ini akan sangat jarang mereka lakukan.
"Bre***k!" Tiba-tiba saja Cakra berteriak dan menghempaskan ponsel miliknya hingga hancur dilantai.