Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.28


__ADS_3

"Pembohong?! Apa maksudmu?" Cakra tidak terima jika dirinya dianggap berbohong pada Ayara.


"Sudahlah, aku butuh istirahat. Kumohon menyingkirlah tuan."


"Tidak! Emry. Kita ke rumah sakit." Titah Cakra yang membuat Emry segera melajukan kendaraannya tersebut.


Baik Cakra maupun Ayara masih nampak berdebat, Emry hanya bisa menyaksikannya dari kaca yang mengarah ke belakang. Karena kondisi tubuh yang sudah begitu lemah, Ayara memilih untuk diam saja. Berdebat dengan Cakra, hanya akan membuang tenaga dan juga menguras emosi.


"Cukup untuk kebodohanku selama ini mengabaikanmu, tapi tidak untuk kali ini." Ucapan lirih Cakra yang masih bisa Ayara dengar, hanya saja ia begitu malas untuk menanggapinya.


Mobil melaju menuju rumah sakit atas titah dari sang tuannya, setibanya disana. Ayara langsung mendapatkan penanganan dan perawatan yang terbaik, Cakra meminta pada Emry untuk kembali ke perusahaan. Membiarkan mereka berdua disana, agar Ayara dapat beristirahat dengan tenang.


.


.


.


.


Sebelumnya di toko Ayara, setelah sepeninggalan mereka. Orang-orang disana menjadi bingung dan terdiam dalam posisinya, bahkan bik Leha tidak dapat berbuat apa-apa.


"Itu tadi, bener kan Cakra?" Dzacky yang merasa kaget dan bingung dalam situasi tersebut.


"Jika bukan dia, siapa lagi. Mulai ilusi ni anak, bik. Ada yang bisa dibantuin?" Pedro memilih untuk tidak tertarik dengan cerita yang ada.


"Tidak ada tuan, tadi non Aya sudah menyelesaikan semuanya. Hanya tinggal beberes sedikit saja, biar bibik yang melakukannya." Leha tidak enak jika harus melibatkan para pria tersebut, walaupun biasanya mereka sendiri yang akan membantu.

__ADS_1


"Bibik kayak sama siapa saja, Dzac. Ayo bantuin, masalah mereka jangan dipusingkan. Itu tandanya sudah bagus, batu yang selalu mendapatkan tetesan air. Lama kelamaan akan hancur juga, benerkan bik." Pedro memainkan alis matanya pada bik Leha.


Leha hanya memberikan senyuman sebagai jawaban tersebut, karena memang benar adanya. Sedangkan Dzacky, ia masih belum bisa mempercayai apa yang sudah terjadi. Orang seperti Cakra yang memiliki benteng sangat kokoh, pada akhirnya bisa luluh lantah akibat perasaan tulus dari seorang wanita seperti Ayara.


Pada hari berikutnya, Cakra terus menemani Ayara selama perawatan di rumah sakit. Bahkan kedua orangtuanya tak kalah seringnya berkunjung, membuat Cakra pusing.


"Mommy dan daddy tidak ada kerjaan lain ya, kenapa selalu berada disini." Gerutu Cakra yang memasang muka masam.


Tukh!


Plakh!


"Yah!!! Kalian berdua itu orangtuanya siapa? Aku merasa jadi di anak tirikan seperti ini, lihat sayang. Ini semuanya sakit." Menunjukkan beberapa tempat dimana tubuh Cakra mendapatkan pukulan serta sentilan dari kedua orangtuanya.


"Hei, kamu berani ya. Jika bukan dari perut mommy ini, lalu itu tandanya kamu anak siapa, hah!" Yuri tak kalah ketusnya saat menjawab ucapan dari putranya itu.


"Heh, daddy tidak perlu menjawabnya. Semuanya sudah terwakilkan oleh mommy, nak. Kamu mau ya di panggil sayang sayang begitu? Huh, kalau daddy tidak mau lah." Surendra ikut memperkeruh suasana hati Cakra.


Ingin sekali Ayara menahan sikap Cakra yang seperti itu kepada kedua orangtuanya, namun tak lama kemudian Yuri dan Surendra keluar dari ruangan.


"Sampai berjumpa lagi sayang, hati-hati dengan anak mommy ini."


Cakra menepuk keningnya atas sikap sang mommy, menutup pintu dan kembali menghampiri Ayara. Ayara harus mendapatkan perawatan dikarenakan kondisi tubuhnya saat datang ke rumah sakit waktu lalu sangat mengkhawatirkan, dehidrasi dan juga gejala typus. Sempat ia menolak untuk dirawat, namun siapa yang dapat membantah ucapan dari seorang Cakra. Yang berakhir tragis adalah nasib Emry, ia harus dihadapkan kembali dengan pekerjaan yang menumpuk.


"Tidak baik seperti itu kepada orang tua, bagaimana pun juga mereka harus kita hormati." Ucap Ayara yang sedari tadi memperhatikan interaksi anak dan kedua orangtuanya itu.


"Kamu belum paham saja dengan karakter mommy dan daddy sayang, jika kamu sudah paham. Jangan harap kamu bisa tidak merasa geram." Cakra mengarahkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Ayara yang sedang memperhatikannya.

__ADS_1


Mendengar ucapan tersebut, membuat Ayara harus menghela nafas beratnya.


"Diantara kita tidak ada apa-apanya, tolong jangan menggunakan kalimat tersebut tuan. Karena akan ada hati yang lain, yang akan anda sakiti." Ayara membuang pandangannya ke arah lain.


Wajah Cakra berubah pias saat mendengar ucapan Ayara padanya, ia cukup mengerti akan maksud dari ucapan tersebut. Tangan kekar itu menarik telapak tangan mungil ke dalam genggamannya, berharap Ayara mau menatapnya. Namun itu tidak berhasil, Ayara masih membuang pandangannya.


"Harus berapa kali aku menjelaskan padamu, Ayara. Pertemuan ini membuat semuanya diantara kita menjadi terikat, apa perlu aku menikahimu saat ini juga agar kamu yakin dan percaya padaku!" Jawaban Cakra cukup jelas dan menyatakan langsung mengenai hatinya.


Hal tersebut berhasil membuat Ayara menatap Cakra dengan tatapan yang penuh arti, tak lama kemudian ia kembali membuang pandangannya yang sudah berembun. Berusaha menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan kekar itu, namun sepertinya akan sia-sia saja.


"Apa yang membuatmu menjadi ragu akan semuanya ini? Celine?"


Ayara terdiam ketika Cakra mengucapkan nama tersebut, bohong sekali jika Ayara merasa baik-baik saja. Memejamkan sejenak kedua bola matanya, membuat Ayara memberanikan dirinya menganggukan kepalanya.


Melihat itu, Cakra semakin mendekati Ayara dan duduk dihadapannya tanpa melepas genggamannya.


"Aku mencintaimu, Ayara. Celine adalah temanku sedari kecil hingga saat ini, ia selalu bersikap manja padaku dan juga pada yang lainnya. Memang ia menyukaiku, tapi itu tidak berlaku padaku."


"Sampai kapanpun, kamu adalah pilihanku. Sejauh mana usahamu untuk menjauh, aku akan selalu menemukanmu sayang."


Air mata itu mengalir begitu saja dari kedua mata Ayara, sesungguhnya ia pun tidak dapat membohongi dirinya sendiri jika ia juga menyukai Cakra.


"Jangan berpikiran perbedaan dan juga statusmu, untukku dan keluargaku itu semuanya tidak berlaku. Semuanya bisa kamu lihat dengan mommy dan daddy sayang, mereka menerima mu."


Semakin deras pula air itu mengalir, Ayara sungguh tidak dapat menahannya. Perasaannya itu masih terhalang oleh perbedaan diantara mereka, jika Cakra dan keluarganya tidak mempermasalahnya dirinya. Tapi bagi Ayara, itu semuanya adalah hal yang terbesar dan terumit untuk ia hadapi.


Tangan Cakra menghapus jejak air mata yang mengalir di wajah Ayara, kedua pandangan mereka bertemu. Cakra tersenyum, membawa Ayara ke dalam pelukannya yang masih menanggis sesegukkan.

__ADS_1


"Aku tidak pantas untukmu tuan, jangan memberikan harapan besar ini untukku. Akan terasa sangat sakit jika itu terjadi, aku sadar diri dengan sejuanya." Dalam tanggisannya, Ayara mengungkapkan apa yang ia rasakan.


Terasa begitu bahagianya saat diangkat melambung tinggi, namun sangat sakit dan tidak akan terlupakan ketika ditempatkan begitu saja.


__ADS_2