Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC. 59


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat, berkat terapi mandiri yang dilakukan Ayara dan juga dari rumah sakit. Sehingga membuat Cakra bisa berdiri dan beraktivitas seperti biasanya, hal tersebut hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya. Tidak menutup kemungkinan akan ada sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi, karena itu ia meminta pada semuanya untuk menahan pemberitaan tersebut.


Masih dengan menggunakan kursi rodanya, Cakra kini sedang bersiap untuk berangkat ke perusahaannya bersama dengan Emry yang sudah menunggunya.


"Kamu yakin menggunakan cara ini?" Emry yang ikut bergabung bersama untuk menikmati sarapan paginya bersama keluarga Damendra.


"Benar nak, apa harus seperti ini?" Yuri pun menanggapainya pembicaraan itu.


Untuk Damendra sendiri, kini ia bisa dibilang banyak berdiam diri. Menyerahkan semua peristiwa yang terjadi pada sang putra, ia kini merasa lebih mudah emosional jika harus berhadapan mengenai permasalahan yang ada.


"Dad, mau kemana?" Cakra menghentikan langkah Damendra saat ia menyudahkan sarapannya.


"Mau berisitirahat." Jawaban singkat lalu ia berjalan meninggalkan semuanya yang masih terdiam ditempat.

__ADS_1


Selepas kepergian Damendra, membuat Emry mengkerutkan keningnya. Tidak biasanya jika pria itu bersikap dingin yang seperti ini, hal itu benar-benar menimbulkan tanda tanya besar di pikiran Cakra dan Emry.


"Mommy sudah selesai, kalian lanjutkan saja." Begitu pula dengan Yuri, ia terlihat berubah.


Biasanya ia akan begitu ceria dan berceloteh panjang, sikapnya yang begitu bersahaja. Namun saat ini, hanya ada kesan seorang ibu yang menemani keluarganya.


"Sudah, tidak perlu dibuat pusing. Ayo berangkat." Cakra meminta Emry untuk segera beranjak dari tempat duduknya.


Mereka pun berangkat menuju perusahaan, dimana keadaan disana semakin mencekam. Banyak sekali persoalan yang silih berganti berdatangan, tidak ada yang berani untuk mengambil sikap. Karena semua keputusan ada dibawah kendali Cakra, sedangkan Emry hanya menjalankan atas perintah dari tuannya. Walaupun sebenarnya dirinya ikut berperan dalam hal tersebut, hanya saja semuanya harus mereka lakukan untuk mengungkap kasus yang terjadi.


Kasak kasuk terdengar mengenai kedatangan sang CEO, namun itu tidak berarti apapun untuk Cakra. Ia membiarkan semua orang membicarakan dirinya, dengan itu akan menyebarkan berita kepada orang yang mereka targetkan.


"Kau yakin ini akan terdengar oleh mereka?" Saat sudah berada diruangan utama, Emry menegaskan atas apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


"Aku yakin, mereka akan mendengar semuanya. Boleh saja mereka menutup semua akses untuk kita, tapi telinga dan mulut seseorang tidak akan dapat dicegah." Dengan penuh percaya diri, Cakra menyakinkan Emry.


Begitu pula Emry, ia tahu siapa Cakra. Apapun yang telah ia rencanakan dengan begitu matang, maka tidak akan ada namanya kegagalan. Hanya saja, ia gagal dalam masalah kehidupan.


"Baiklah, aku ke ruangan dulu." Pamit Emry setelah menghantarkan sang pemimpin perusahaan.


"Tunggu. "


"Apa?" Emry menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Cakra.


"Ayara, bagaimana kabarnya?"


"Nomor ponsel dan alamat rumahnya yang lama masih berlaku, belum ada perubahan." Emry melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Saat menutup pintu ruangan itu, Emry harus menghela nafasnya. Semenjak peristiwa keributan yang ditimbulkan oleh Celine. Ayara memutuskan untuk keluar dari mansion tersebut dan kembali menjalani kehidupannya bersama bik Leha, dengan membuka usaha lamanya dan juga bersama teman lamanya.


"Dasar batu, sekali batu tetap batu." Kesal Emry mengumpat.


__ADS_2