
"Pergilah!!" Bentak Cakra pada Ayara.
Plak!
Tidak tahan dengan apa yang diucapkan oleh Cakra, Ayara melepaskan sebuah tamparan pada wajah pria itu. Tindakan yang dilakukannya membuat semua orang terkagetkan, dengan beraninya Ayara kembali menahan wajah Cakra dengan kedua tangannya.
"Dengar! Kamu boleh melakukan semua kebo**han ini, tapi tidak dengan menyuruhku pergi. Cukup kamu menyakiti diri kamu sendiri seperti ini, cukup!" Bentakan itu semakin tinggi.
"Dimana Cakra yang aku kenal arogan, dingin dan kejam itu hah!! Dimana dia? Bukan Cakra yang seperti ini."
Luapan emosi itu seakan tak tertahankan keluar dari mulut Ayara, sudah cukup semuanya ini menjawab akan pertanyaan yang selalu muncul di dalam pikirannya. Dengan penjelasan dan juga keterangan yang disampaikan oleh Liam padanya, ditambah lagi ia menyaksikan sendiri bagaimana pria yang mulai mengisi hatinya dengan keadaan mengharukan.
Tatapan mata Cakra pada Ayara begitu dalam,
"Argh! Argh!" Cakra berteriak dengan menahan rasa sakit pada tubuhnya, tangannya pun bergerak untuk mulai menyakiti dirinya lagi.
Dalam kesedihan itu, Ayara membawa tubuh pria itu ke dalam pelukannya. Berusaha dengan seluruh tenaga yang ia miliki untuk menahan pergerakan tersebut, walaupun sempat ia ragukan tidak bisa mengatasinya.
"Berhenti, berhenti tuan." Tangisan itu semakin pecah.
Pedro bermaksud untuk memisahkan Ayara dari Cakra, ia takut jika Ayara akan terluka saat Cakra tidak dapat mengendalikan dirinya. Namun Ayara menyakinkan semuanya jika saat ini, ia ingin mengatasinya sendiri.
Dan Matteo pun sudah siap dengan obat bius ditangannya, namun Ayara meminta agar hal tersebut jangan dilakukan. Dimana itu sama saja dengan menyakiti bahkan bisa membunuh Cakra dengan perlahan, maka dari itu mereka menahan dan berjaga-jaga agar Cakra tidak bertindak diluar batas.
Teriakan-teriakan Cakra terus terdengar, tapi ia tidak menjauhkan sedikitpun Ayara dari sisinya. Dengan perlahan, tubuh Cakra melemah dan berakhir tidak sadarkan diri. Ketika itu Matteo langsung mengambil alih tugasnya, dibantu oleh para sahabatnya untuk membaringkan tubuh Cakra di atas tempat tidur. Ia mulai memeriksa keadaannya dan langsung memberikan sebuah suntikan langsung pada lengan Cakra.
Memasangkan alat-alat medis lainnya sebagai penunjang kondisi Cakra pada saat itu, kini mereka memberikan ruang dan membiarkan Ayara untuk berada disisi Cakra.
__ADS_1
Hanya Pedro yang masih setia menemani Ayara di dalam ruangan tersebut, namun ia menjaga jarak dari keduanya. Ia sangat takut jika Cakra akan lepas kendali, begitu sayangnya ia kepada Ayara yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.
Dalam diamnya, Ayara yang kini berada disisi Cakra. Menatap wajah pria yang sedang terlelap itu dengan begitu teduh, ada rasa penyesalan dalam dirinya atas semua sikap yang ia berikan kepada pria itu.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak peka akan apa yang kamu rasakan, maafkan aku." Menyeka air mata yang selalu jatuh dari kedua matanya, membuat Ayara tidak dapat menahannya.
"Kenapa kamu menjadi seperti ini, dimana Cakra yang aku kenal dahulu. Dia begitu dingin, datar dan tidak putus ada dengan apa yang ia inginkan. Apa kamu sudah begitu lemahnya, sampai harus menjadi seperti ini."
"Aku, aku menyukaimu." Suara lirih itu begitu lemah, seakan tidak sanggup untuk dikatakan.
Saat Ayara mengatakan hal tersebut, Pedro sontak membuatkan kedua matanya. Bagaimana bisa wanita itu mengatakan rasa sukanya pada pria yang sudah membuatnya jatuh berulang kali, tapi semuanya tidak bisa ia pungkiri. Karena dari awalnya, Cakra memang sangat menyukai dan mencintai Ayara. Hanya keadaan dan takdirnya yang tidak sebaik seperti perasaan keduanya, lalu Pedrk melangkah mendekatinya.
"Beristirahatlah dulu, dia tidak akan mati dengan mudah. Tubuhmu juga butuh kenyamanan, ayo." Pedro mengusap puncak kepala Ayara dan sedikit mengacak-acak rambutnya.
"Kak, apa aku salah bersikap seperti ini padanya?" Tatapan Ayara tidak berpaling dari Cakra.
Dalam diamnya, Pedro sebenarnya bukankah seseorang yang pandai dalam masalah asmara. Untuk masalah perasaan, ia tidak akan ikut campur tangan pada keduanya.
"Siapa tahu kan kalau kakak tiba-tiba saja mendapatkan pemikiran yang wah gitu, lalu menjadi puitis dalam hal perasaan." Dengan tenangnya Ayara menjawab Pedro.
"Ish! No no no. Ayo, biarkan dia tidur dan kamu beristirahat." Pedro sedikit memaksa Ayara untuk ikut bersamanya.
Seakan tidak bisa menolak, saat Ayara akan beranjak dari tempatnya. Tangan itu tertahan oleh sesuatu, sehingga membuat Ayara tidak dapat melangkah.
"Kenapa?" Pedro menyadari jika Ayara menahan tubuhnya.
Lirikan mata Ayara menjawab pertanyaan yang Pedro berikan, sorot mata pria itu mengikuti petunjuk yang diberikan. Lalu kedua matanya menajam ketika mengetahui penyebab dari hal tersebut, membuat Pedro menghela nafasnya dan berdengus.
__ADS_1
"Dasar pria batu! Hei, kamu sadar atau masih oleng?" Pedro memastikan keadaan Cakra saat itu.
"Kak." Tegur Ayara agar Pedro menahan perkataannya.
Kembali menghela nafasnya, lalu Pedro mengangkat kedua tangannya ke arah atas sebagai tanda jika ia menuruti ucapan tersebut. Ia pun menjauhkan dirinya dari mereka berdua, namun tetap menjaganya dari jarak yang ada.
Cakra tersadar atau tidak, Ayara tidak dapat memastikan keadaan tersebut. Ia pun mengambil tempat disisi Cakra, membalas genggaman salah satu telapak tangan kekar tersebut.
"Bagaimana tuan, apa ada yang sakit? Membutuhkan sesuatu?" Ucap Ayara dengan menatap wajah Cakra yang masih begitu pucat.
Dalam keheningan yang ada, Cakra masih menyimpan suaranya. Hanya saja, ia menatap wajah Ayara yang sangat ia rindukan dengan begitu dalam.
"Tuan." Tegur Ayara merasakan ada sesuatu yang aneh dari tatapan itu.
Sampai beberapa saat berikutnya, tidak ada pergerakan satupun atau lainnya yang Cakra tunjukkan. Dan itu semakin membuat Ayara menjadi khawatir, ia mencoba menggerakkan telapak tangannya dihadapan wajah Cakra.
"Kak, kak Pedro!" Teriak Ayara yang membuat Pedro berjalan mendekat dengan sangat cepat.
"Ada apa?" Wajah cemas Pedro terlihat.
"Kak, tuan Cakra tidak merespon." Jelas Ayara dengan suara yang bergetar.
Memastikan apa yang diucapkan oleh Ayara, Pedro pun melakukan hal yang serupa untuk melihat respon yang diberikan. Hasilnya tetap sama, hanya kedua mata yang berkedip tapi tidak dengan pergerakan anggota tubuh yang lainnya.
"Hai, kau tidak sedang bermain-main kan!" Pedro menegaskan suaranya.
Laku kedua mata Cakra terpejam, dari sana itu mengeluarkan air mata. Ayara berteriak memanggil Yuri dan Damendra, membuat para sahabatnya yang lain juga ikut bergerak kembali memasuki kamar Cakra.
__ADS_1
"Ada apa nak, kenapa berteriak?" Yuri yang belum menyadari akan apa yang sedang terjadi.
"Paman, cepat periksa. Tidak ada respon apapun, Cakra sadar." Ucap Pedro yang membuat Matteo segera memeriksa Cakra.