Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC. 62


__ADS_3

Dengan berjalan menuju suatu ruangan yang sudah di informasinya sebelumnya, Pedro bersama sang istri dan adik iparnya berjalan mengiringi langkah Ayara.


"Kak." Air mata sudah tidak dapat tertahankan, saat Ayara melihat orang-orang yang sangay ia kenal.


Mereka sedang duduk dan ada yang berdiri di depan salah satu ruangan, dari merekalah kemudian Ayara mengetahui siapa yang dimaksud oleh Pedro dan Aina sebelumnya. Langkah kaki itu terasa cukup berat untuk digerakkan.


"Ayara!"


Mendengar nama itu, membuat semuanya mengalihkan perhatiannya menuju arah yang diberikan. Melihat keberadaan Ayara saat itu, Yuri beranjak dari tempatnya dan langsung menghampiri dan memeluk Ayara dengan begitu erat.


Suara isakan tangisan terdengar kala itu, yang dimana membuat Ayara terdiam ditempatnya. Tubuh Ayara sudah sulit untuk merespon apa yang kini ia hadapi, perlahan mereka membimbing Ayara untuk memasuki ruangan yang dimana sudah ada seseorang yang benar-benar membutuhkan dirinya.


Dugh!


Secara tiba-tiba, seorang Damendra berlutut dihadapan Ayara tepat saat mereka telah masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


"Jangan pernah pergi dari kehidupan Cakra, daddy akan mengabulkan semua permintaanmu Ayara. Daddy mohon." Pria yang terkenal begitu dingin dan datar itu kini menanggis, dihadapan seseorang yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.


"Dad! Berdirilah." Ayara menyadari akan hal tersebut, membuat dirinya segera ikut berlutut.


"Daddy mohon Ayara."


Semua yang berada disana ikut menanggis, apalagi mereka menyaksikan seorang Damendra berubah seperti itu.


"Tidak ada yang bisa menghentikan takdir dalam kehidupan Ayara, dad. Sejauh mungkin Ayara bersembunyi dari kalian, takdir ini membawa Ayara kembali bertemu dengan kalian semua."


Setelah menenangkan Damendra, kini Matteo meminta semuanya untuk keluar dari ruangan tersebut dan membiarkan hanya Ayara yang berada disana. Namun, sebelum Matteo pergi. Ia sejenak memberitahukan mengenai keadaan Cakra yang kini tidak terlepas dari pandangan mata Ayara, setelahnya ia pergi dan menutup pintunya.


Sulit bagi Ayara untuk menenangkan hatinya yang sedang bergejolak, menatap pria yang sudah ia tinggalkan dengan begitu beratnya. Kini ia terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit, dan juga berbagai alat medis lainnya yang berada ditubuh pria tersebut.


Dengan tubuh yang sudah lemah, Ayara duduk disamping pria tersebut. Isakan tanggis tak terbendung kala tangan mungilnya meraih tangan kekar yang selama ini berusaha melindungi dan mencintainya.

__ADS_1


"Mengapa menjadi seperti ini? Kita sudah sepakat untuk saling melupakan dan menguatkan hati untuk menerima semuanya, tapi. Tapi takdir seakan enggan untuk mengabulkannya, tuan." Air mata Ayara tak terbendung untuk mengalir, ia menyekanya menggunakan jemari tangan yang lainnya.


Betapa hancurnya ia melihat pria itu kembali terbaring tidak berdaya dengan alat-alat medis di tubuhnya, disaat memutuskan untuk pergi. Ayara sangat yakin jika Cakra akan kembali menjalani kehidupannya seperti sedia kala seperti sebelum mereka bertemu, namun semuanya tidak terwujud.


"Maafkan aku, aku berjanji tidak akan pernah pergi lagi dari kehidupan tuan. Tapi aku mohon, buka mata dan bangunlah." Isakan tanggis itu pecah, Ayara meletakkan punggung tangan Cakra pada sisi wajahnya.


"Waktu itu, tuan yang memintaku untuk menikah. Tapi, aku selalu menolaknya. Kali ini, apakah tuan mau menikah denganku? Menjadi bagian dari kehidupan orang seperti aku, yang sangat jauh berbeda dengan dirimu tuan. Apakah tuan mau menerima permintaanku?"


Dengan semua energi yang Ayara punya, ia meluapkan semua perasaan yang selama ini menganjal dihatinya. Berharap bisa untuk melupakan Cakra disaat memutuskan untuk pergi, namun semuanya kini pupus.


" Maukah tuan menikah denganku?" Ayara Mengulangi kembali ucapannya.


Kalimat itu berulang kali terdengar dari mulut Ayara, ia berharap mendapatkan jawaban atas apa yang ia katakan. Untuk beberapa saat tidak mendapatkan respon apapun, hal itu membuat Ayara sedikit kecewa. Ia menduga jika takdir tidak mengizinkan mereka berdua untuk bersatu kembali, semakin dalam isakan tanggisan itu terdengar.


Ketika Ayara sudah menghela nafasnya, berusaha untuk merelakan jika semuanya tidak terlaksana. Karena terlalu larut dalam perasaannya, Ayara tidak menyadari jika tangan yang ia letakkan pada sisi wajahnya itu memberikan respon melalui gerakan jemarinya.

__ADS_1


__ADS_2