
Hampir saja makanan tersebut berakhir di tempat pembuangan, jika Cakra masih menahankan egonya saat itu.
"Boleh saja mas membeli makanan itu dalam jumlah banyak, tapi bukan untuk mas makanan sendiri. Ingat akan kesehatan diri mas sendiri, kalau hal ini masih terulang lagi. Bersiaplah untuk aku bawa kerumah sakit, biar paman Matteo memberikanmu suntikan penghalang nafsu makan." Jawba Ayara dengan cukup ketus, ia sudah lelah menghadapi sikap Cakra yang aneh.
Entah bisikan darimana yang membuat Cakra terpancing emosinya atas perkataan Ayara, biasanya ia tidak akan pernah seperti ini.
"Apa?! Kenapa harus dibuang? Itu adalah makanan, jika tidak boleh dimakan. Untuk apa orang menjualnya! Kembalikan!" Cakra mengambil bungkusan tersebut dengan cepat dari tangan Ayara, dan itu membuat Ayara hampir terjatuh akibat sentakan dari tangan Cakra.
Makanan itu memang tidak langsung Cakra makan, namun ia meletakkannya diatas meja bersama dengan makanan yang telah Ayara sisihkan sebelumnya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya, membuat Ayara menghela nafas panjangnya. Ia tidak habis pikir akan sikap Cakra tersebut, lalu ia berusaha menenangkan semua emosi yang ada dalam dirinya. Akan tetapi, tiba-tiba saja Ayara merasakan keram pada perutnya.
Hal tersebut biasanya terjadi disaat ia akan mendapatkan siklus bulanan, Ayara pun menganggapnya sebagai hal yang biasa. Namun lama kelamaan, rasa sakit itu semakin menjadi dan Ayara seakan tidak sanggup untuk menahannya.
__ADS_1
"Arkh! Sa sakit." Ucap Ayara dengan lirih.
Tidak ada yang menyadari akan hal tersebut, lalu Ayara mencoba menggerakkan kedua kakinya untuk berjalan menghampiri Cakra. Akan tetapi, rasa sakit itu semakin terasa menyakitkan. Ayara terus berpegang pada pinggiran dari meja yang ada disana, dengan satu tangan yang terus meremas perutnya.
"Pokoknya, mas tidak mau makanan ini kamu buang. Entah mengapa, rasanya sangat e... nak."
Betapa kagetnya Cakra saat memasuki area dapur, ia melihat Ayara sedang meringgis menahan rasa sakit. Tubuh mungil itu menunduk dengan tangan yang bertumpu pada meja disana.
"Sayang, ada apa? Kamu kenapa?" Kepanikan jelas terlihat dari raut wajah Cakra saat itu.
Dengan cepat, Cakra membawa tubuh mungil istrinya ke ruangan keluarga. Merebahkan tubuh Ayara di atas tempat duduk yang cukup besar dan biasa mereka gunakan saat bersama disana, namun sorot mata tajam Cakra menangkap sesuatu yang tidak biasanya dari celah kedua kaki Ayara.
"Da darah! Jhony, Jhony!" Teriak Cakra.
__ADS_1
Mendengar namanya disebut, Jhony yang saat itu sedang berada dihalaman depan. Dengan secepat mungkin menghampiri sumber suara.
"Ada apa tuan."
"Siapkan mobil, sekarang!" Nada suara Cakra meninggi.
Kedua berjalan dengan sangat cepat, bahkan Jhony pun harus berlari hingga ia dapat membukakan pintu untuk tuannya. Mobil melaju dengan sangat cepat, dimana Jhony sempat melihat warna merah pada kaki nonanya.
Tanpa mereka sadari, saat itu. Ayara sudah hilang kesadarannya, hingga saat mereka tiba dirumah sakit. Cakra langsung meminta pertolongan pada para petugas yang berada diruang gawat darurat.
"Dokter! Dokter!" Cakra membawa tubuh Ayara masuk ke dalam ruang tindakan.
"Tolong! Tolong selamatkan istriku, cepat!" Bentakan suara dari Cakra, membuat sedikit kegaduhan diruangan tersebut.
__ADS_1
Para perawat dan seorang dokter pun segera menghampiri dimana Ayara berada, pemeriksaan dilakukan dengan sedikit bersitegang diantara Cakra dan juga dokter disana. Jika saja Jhony tidak menarik tubuh pria kekar itu untuk keluar dari sana, sudah dapat dipastikan Ayara akan terlambat mendapatkan pertolongan.