Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC. 81


__ADS_3

Kabar bahagia mengenai kehamilan Ayara telah sampai pada para sahabatnya, hal tersebut menambah rasa kebahagian mereka dengan akan bertambahnya anggota mereka. Karena terlalu sering ramainya ruang perawatan Ayara, dengan itu mereka memutuskan untuk membawanya pulang dan bisa bersama-sama dengan semuanya. Tentunya Cakra dan juga Damendra tidak melepaskan jaminan untuk kesehatan Ayara, sempat akan mencari perawat khusus untuk menjaga Ayara namun ditolak langsung oleh orangnya.


"Mas, aku akan lebih merasa nyaman jika bersama kalian." Ayara merasa belum bisa menambah orang baru untuk berada disekitar mereka.


"Baiklah sayang, tapi. Kamu harus janji untuk tidak boleh terlalu lelah dan tetap menjaga semuanya." Titah Cakra.


"Siap bos."


Kedua insan tersebut bersendau gurau didalam kamar pribadinya, membiarkan para sahabatnya yang tidak bosan untuk selalu bertemu.


Bahkan Damendra dan Yuri juga ikut- ikutan menjadi over protektif pada menantunha itu, untuk makanan, minuman bahkan kegiatan sehari-hari Ayara pun mereka memantaunya.


"Huh, sampai kapan ni dianggurin. Tuh manusia batu pelit banget ya, masa kakak ipar tidak boleh gabung disini." Keluh Dzacky yang merasa bosan menunggu.


"Yang menyuruhmu menunggu mereka siapa? Telingamu masih normal kan, masa nasihat dokter tidak didengar." Eliot memanyunkan bibirnya pada Dzacky.

__ADS_1


"Ya paling tidak kan se hai gitu, aku kan mau menjaga kakak ipar dan calon keponakanku." Dzacky semakin menggerutu.


"Heh, bicara padamu sama saja bicara sama kaset kusut, mau diapakan juga tetap kusut tu mulut. Aku mau pulang, kenapa aku tidak ikut Liam dan Pedro saja tadi untuk langsung pulang. Mengikuti perkataanmu ini, sungguh membuatku menyesal." Eliot beranjak dari tempatnya.


"Tunggu kak, mau kemana?" Dzacky yang panik saat melihat Eliot beranjak dari duduknya.


"Pulang! Sampai saja salamku untuk mereka." Teriak Eliot yang sudah keluar dari pintu utama.


Jika semuanya sudan pulang, kakak ipar dan manusia batu itu dikamar. Lah, terus aku sama siapa? Huh, nasib oh nasib.


Pada akhirnya, Dzacky mengikuti langkah Eliot untuk pulang.


Kebahagian menyelimuti keluarga Damendra dan juga Pedro, namun yang tidak disangkakan oleh semua orang. Bahwa mereka tahu jika Eliot sangat dingin dan anti dengan yang namanya wanita, untuk kali pertamanya ia bisa berkata lembut kepada seorang wanita.


"Bicara pada siapa kau hah? Tumben sekali nada bicaramu bisa selembut kapas." Sindir Emry kepada Eliot.

__ADS_1


"Kepo!" Balas Eliot yang berdengus kesal pada Emry.


Dengan adanya perdebatan diantara Emry dan Eliot, menarik perhatian para mata yang sedang melirik pada keduanya. Mereka kun saling berbisik untuk menerka apa yang sedang terjadi pada Eliot, bahkan sampai detik ini. Mereka tidak melihat pria itu dekat ataupun menjalin hubungan dengan wanita manapun, namun tiba-tiba mendapatkan perubahan yang cukup drastis darinya.


"Mas, kita taruhan yuk. Kira-kira, apa yang terjadi pada Eliot? Tebakan siapa yang benar, harus saling beri hadiah ya." Gumam Ayara pada Cakra yang sedang asik memandangi perdebatan kedua pria tadi.


"Taruhan? Boleh juga." Balas Cakra yang masih manatapi perdebatan dua pria itu.


"Kak, mau ikutan juga tidak?" Ayara menawarkan ide yang ia usulkan kepada Pedro dan Aina.


Untuk Pedro, setelah mengucapkan janji sucinya pada Aina. Mereka bisa dibilang tidak terpisahkan, kemanapun Aina pergi. Maka Pedro akan dengan setianya menemani kemanapun istrinya ingin pergi, sesibuk apapun dirinya akan tetap menemani.


"Ikutan apa?" Pedro bertanya akan dari ucapan Ayara.


Sedikit tersenyum, Ayara pun menjelaskan mengenai ide yang akan ia lakukan. Sebenarnya, ide itu hanya ingin ia lakukan bersama sang suami saja. Akan tetapi, alangkah bertambah serunya jika menambah anggota lainnya.

__ADS_1


"Kakak ikut." Jawab Aina yang langsung setuju akan ide tersebut.


Tatapan tajam dari Cakra maupun Pedro tertuju pada istrinya masing-masing, mereka tidak menyangka jika dua ibu hamil itu memiliki pemikiran yang sama. Yang pada akhirnya mereka berdua menggelengkan kepala bersama.


__ADS_2