
Proses pemakaman sudah dilaksanakan, Ayara membantu Aina untuk melakukannya. Tentunya dengan izin dari Cakra yang sudah begitu menginginkan dirinya untuk segera kembali ke mansion, namun setelah ia mengatakan semuanya. Cakra memberikan izinnya, dan tak lupa meminta Ayara kembali setelah semuanya selesai.
"Andin, ini Ayara." Aina memperkenalkan Ayara kepada adiknya.
"Andin kak, terima kasih atas pertolongannya." Andin mengetahui jika Ayara telah membantu mereka dalam proses pemulangan serta pemakaman sang ibu hingga selesai.
"Sama-sama, Andin. Oh ya kak Aina, Andin. Aku tidak bisa menginap, karena ada sesuatu pekerjaan yang harus aku lakukan. Besok aku akan kembali kesini lagi." Ujar Ayara kepada Aina disaat mereka telah selesai dengan semuanya.
"Tidak apa-apa, Ayara. Kami yang seharusnya sangat berterima kasih padamu, maaf jika sudah merepotkan." Aina sangat terbantu akan kehadiran Ayara, pertemuan pertama yang sarat akan makna.
Tak lupa Ayara memberikan bantuannya yang lain, karena itu adalah titipan dari Cakra untuk mereka. Sempat tertolak, karena Aina merasa sudah sangat merepotkan Ayara. Menggunakan cara lainnya yang tak lain adalah meletakkan titipan tersebut ke dalam saku baju yang dikenakan Aina ketika itu, lalu Ayara segera berlalu dengan Jhony yang sudah menunggunya.
Melepas semua para tamu yang hadir, kini Aina bersama Andin membereskan semuanya. Rasa lelah sudah sangat menghampiri keduanya, membiarkan sang adik untuk beristirahat terlebih dahulu. Aina sempat termenung sejenak ketika hendak merapikan teras rumahnya yang baru saja selesai digunakan untuk memberikan doa kepada sang ibu.
Keheningan itu terasa begitu mendalam bagi Aina, perjuangannya yang telah gagal untuk mendapatkan pertolongan dalam proses pengobatan ibunya. Membuat Aina diselimuti rasa bersalah yang begitu besar, walaupun semuanya tahu keadaan mereka.
"Maafkan Aina, bu." Wajah yang tertunduk itu melepaskan semua beban yang telah menumpuk di pundaknya.
Isakan tanggis membuat bahunya bergetar, menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Aina meluapkan semua rasa yang telah ia simpan, terlihat kuat dihadapan orang-orang namun begitu rapuh ketika sendirian.
Terdengar suara langkah mendekati Aina, dimana wanita tersebut tidak menyadari hal itu karena larut dalam kesedihan yang mendalam.
"Sudah lelah dengan berpura-pura kuat dari semuanya?!" Suara berat yang cukup ia kenali, terdengar di telinga Aina.
Secepat mungkin Aina menghapus air matanya, ia tidak ingin melihat orang tersebut. Karena saat ini, jiwa dan raganya sedang tidak baik-baik saja. Tanpa memperdulikan kehadiran orang lain, Aina beranjak dari tempatnya dan bermaksud untuk masuk ke dalam rumahnya yang sangat sederhana itu.
"Maafkan aku, Aina."
Tiba-tiba saja sebuah tangan telah menahan lengannya dari langkahnya, Aina sadar hal tersebut tidak pantas untuk dilakukan. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan tersebut, namun apa daya tenaganya kalah besar dari pemilik tangan kekar tersebut.
__ADS_1
"Lepaskan tuan, kita bukan mahram. Anda tidak bersalah apapun pada kami, tidak pantas jika harus mengucapkan permintaan maaf." Tidak ingin melihat siapa orang tersebut, Aina terus berusaha melepaskan tangan tersebut dari dirinya.
"Cukup Aina, jangan membuatku semakin bersalah seperti ini!" Ucapan yang begitu tegas, membuat Aina tersentak.
Tubuh wanita itu merosot, Aina menekuk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya diatas kedua kakinya. Dengan tangan yang masih digenggam oleh pria yang tak lain adalah Pedro. Tanggis Aina pun pecah, dadanya terasa begitu sesak untuk bernafas.
Dimana ia berusaha melupakan pria yang sudah begitu menempati hatinya, yang kemudian menghilang setelah terjadi kesalahpahaman tanpa penjelasan apapun. Berusaha mencari pertolongan untuk pengobatan sang ibu yang sudah harus ia dapatkan, akan tetapi tidak ada satu pun yang dapat membantunya. Karna memang yang dibutuhkan sangatlah besar jumlahnya, dan jalan terakhir yang ia punya adalah meminta pertolongan pada pria dari masa lalunya.
Membuang semua ke egoisan yang ada dalam dirinya, Aina pun mencoba menghubunginya. Sebuah takdir yang membawanya bertemu kembali, belum sempat ia mengutarakan maksud dari pertemuan yang ada. Kalimat-kalimat keras telah ia dapatkan, dengan itu ia memutuskan untuk tidak melanjutkannya.
"Pergilah, tidak baik jika pria berlama-lama dirumah wanita." Ucap Aina yang kembali berdiri tanpa membalikkan tubuhnya.
"Cukup satu kali, aku menjadi orang bo**oh yang meninggalkanmu. Tapi tidak untuk saat ini dan berikutnya, aku akan menebus semuanya Aina." Pedro menahan dirinya untuk tidak menarik Aina ke dalam pelukannya.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat, dimana genggaman tangan itu masih tetap utuh. Memiliki perasaan yang sama namun terhalang oleh ke egoisan dari keduanya, kini hanya tersisa rasa penyesalan dan juga rasa bersalah menghampiri keduanya.
"Hei, baru saja berduka. Tapi sudah berbuat yang tidak pantas, dasar mu***fik!" Beberapa wanita yang ternyata menyaksikan apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua, mengumpat dengan kalimat-kalimat tuduhan yang cukup pedas.
"Mulut kalian benar-benar harus diberi pelajaran." Pedro dengan penuh emosi mendengar tuduhan yang disangkakan pada mereka.
"Lah, itu buktinya tadi pegang pengangan tangan." Jawaban yang cukup membuat luapan amarah Pedro memuncak.
"Kalian akan menerima akibatnya!" Ketus Pedro lalu meninggalkan rumah Aina.
.
.
.
__ADS_1
.
Baru saja Ayara menginjakkan kakinya di mansion besar tersebut, terdengar suara teriakan yang cukup keras memanggil namanya.
"Ayara!"
Sontak saja, sang pemilik dari nama tersebut mencari siapa yang menyebutkan namanya dengan begitu lantang. Ketika sorot matanya beralih ke arah atas, terlihat pria yang sedang duduk di kursi roda menatap tajam pada dirinya. Dirinya tahu, Cakr atidak mungkin berteriak dengan begitu kerasnya, karena hanya Ayara yang mengetahui rahasianya. Jika bukan dia yang berteriak, lalu siapa?
Tiba-tiba saja seseorang dari arah belakang memeluk dirinya, aroma parfum wanita yang cukup kuat menyerang indera penciumannya.
"Akhirnya kita bertemu lagi ya, aku senang sekali."
"Celine!" Kaget Ayara mendapatinya saat ini.
"Hhmm, kamu sih kemana saja. Aku hubungi tapi tidak pernah nyambung, tapi. Kamu disini sedang ngapain?" Celine pun sedikit merasa penasaran dengan keberadaan Ayara di mansion Cakra.
"Aku hanya bekerja disini." Jawab Ayara dengan cukup tenang.
"Bekerja? Kok aku baru tahu, kalau begitu kita akan sering bertemu." Celine kembali merangkul lengan Ayara dan mengajaknya untuk menemaninya bersantai.
Cukup lama mereka berbincang-bincang, karena waktu sudah semakin larut. Membuat keduanya menyudahi obralan tersebut, Celine pergi dan Ayara kembali menemui Cakra.
Tangan itu mengetuk pintu sebelum membuka dan masuk ke dalamnya, ia melihat Cakra yang masih duduk di kursi rodanya dengan menghadap ke jendela.
"Beristirahatlah, ini sudah larut." Sapa Ayara yang kini berjongkok dihadapan Cakra.
Tidak ada jawaban apapun dari pria dingin itu, Ayara pun tidak memperdulikannya. Tubuhnya juga terasa lelah, setelah seharian menemani Pedro hingga pemakaman ibu dari Aina. Berulang kali ia mengajak Cakra untuk berbicara, namun pria itu masih dengan sikap awalnya.
"Kamu masih mau disini? Aku mau berisitirahat, kepalaku sedikit berdenyut." Ayara bangkit dari tempatnya ketika kepalanya semakin terasa berat.
__ADS_1
Ketika kaki itu melangkah menjauh, Cakra sudah terlebih dahulu menahannya. Membuat Ayara kini jatuh di atas pangkuannya, kedua pandangan mereka bertemu.
"Sudah puas meninggalkanku sendirian?" Tatapan itu semakin tajam.