(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Ibu aku ingin disayang


__ADS_3

"Bagus, ternyata kerja kamu cepet juga. Sekarang kamu boleh pergi" kata Ralvin ketika pekerjaan Sherin sudah selesai dengan cepat.


Sherin melangkahkan kaki keluar dari ruangan Ralvin. Sesampainya di depan lift. Ia melihat seorang wanita cantik yang memiliki tubuh langsing dan tinggi. Kulitnya putih dan ia memang benar-benar cantik. Wanita itu keluar dari lift dan tak sengaja melihat Sherin yang sedang berdiri di depan lift yang di khususkan sebagai lift turun.


Wanita itu menghampiri Sherin lalu memberikan senyum yang ramah.


"Permisi, bolehkah saya bertanya?" sapa wanita itu menggunakan bahasa formal.


"Tentu saja boleh. Mungkin ada yang bisa saya bantu?" kata Sherin menggunakan bahasa formal juga.


"Ralvin ada di dalam ruangannya kan?" tanya wanita itu.


"Ada Mbak, baru saja saya dari ruangannya" jawab Sherin.


"Ok, terima kasih" kata wanita itu sambil tersenyum.


Wanita itu melenggang pergi munuju ruangan Ralvin dengan sebuah kantung di tangannya. Sherin mencoba menebak-nebak siapa wanita itu? Mungkin kah ia kekasih Ralvin? Karena jika dilihat dari cara berpenampilan, wanita itu sudah pasti orang yang sangat glamor dan ia juga punya pesona yang luar biasa. Tentu saja Ralvin akan menyukai wanita seperti wanita yang menyapanya tadi.


"Eh kenapa jadi mikirin pacarnya dia sih? Aku gak peduli mau orang itu pacarnya pak Ralvin kek atau neneknya kek, aku gak peduli" kata Sherin sambil menggelengkan kepalanya berusaha membuyarkan pikiran tentang Ralvin.


* * * *


Di lobby kantor Citra Jaya, para karyawan berjalan keluar untuk pulang. Sherin dan Dita sedang jalan berdua sambil berbincang-bincang. Tadi Hendry dan Filly mengatakan agar Sherin dan Dita pulang duluan karena mereka ada kerjaan lembur.


Dita membahas masa saat ia kuliah dulu. Sedangkan Sherin memikirkan wanita yang tadi pagi ia temui di lantai sebelas.


"Dit, pak Ralvin itu punya pacar ya?" tanya Sherin.


Tiba-tiba Dita menghentikan langkahnya. Ia tidak menyangka Sherin akan bertanya soal itu.


"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba nanya soal pacar pak Ralvin?" tanya Dita balik.


"Jawab dulu" pinta Sherin.


"Setahu semua karyawan di sini, pak Ralvin itu belum pernah punya pacar" jawab Dita.


"Terus perempuan tadi yang dateng ke ruangannya pak Ralvin siapa?" tanya Sherin bingung.


"Orangnya tinggi? Putih? Cantik? Ramah?" Dita bertanya secara rentet.

__ADS_1


Sherin menganggukkan kepalanya. Yang ditanyakan oleh Dita memang benar semua.


"Ya ampun Rin, itu sih kakak kandungnya pak Ralvin" kata Dita sambil menepuk jidatnya.


"Hah? Beneran?" tanya Sherin tidak percaya.


"Ya iyalah Rin, siapa lagi perempuan luar yang berani datang ke ruangannya pak Ralvin selain kakaknya itu. Dia itu sering dateng ke kantor ini untuk ngunjungin pak Ralvin. Mereka itu akrab banget. Jadi jangan cemburu lah ya" kata Dita.


Sherin langsung cemberut, "Siapa sih yang cemburu. Aku kan cuma nanya aja" kata Sherin.


"Ok lah aku tau kok kalau kamu itu sebel banget sama pak Ralvin. Ya udah ayo kita pulang" kata Dita mengakhiri pembicaraan tentang Ralvin.


* * * *


Sherin sudah tiba di depan rumahnya, tadi ia naik taksi untuk pulang ke rumah. Sherin membuka pintu lalu masuk ke dalam. Di ruang tamu, ayahnya Sherin sedang membaca koran sambil menikmati secangkir kopi. Ayahnya Sherin melihat Sherin sudah berdiri di dekat sofa.


"Kamu ini apa gak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk rumah?" kata Wisnu dengan ketus.


"Maaf Pah, Sherin lupa" kata Sherin sambil menundukkan kepala.


"Bisanya cuma bilang maaf, sana bantuin mamah kamu di dapur" perintah Wisnu.


Sherin berjalan menuju dapur melewati ruang keluarga. Di ruang keluarga itu Sherin meletakkan tasnya di atas meja. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya menuju dapur. Begitu ia sampai dapur, ibunya sedang mencuci sayuran. Dengan pelan Sherin menghampiri ibunya.


"Mah, Sherin udah pulang. Biar Sherin bantu ya?" kata Sherin dengan lembut.


"Ya jelas kamu harus bantu, pake nanya segala. Nih cuci sayurannya, habis itu iris bawangnya. Kangkung ini bakal ditumis. Inget, masakannya harus udah mateng sebelum Jura pulang" kata Yani sambil meninggalkan pekerjaannya yang tadi sedang mencuci sayuran.


"Iya Mah" kata Sherin langsung menghentikan pekerjaan ibunya.


"Punya anak gadis percuma. Cuma bisa ngerepotin dan males-malesan aja kerjanya" gerutu Yani.


Sherin hanya menarik nafas dalam. Inilah makanannya sehari-hari. Ibu dan ayahnya selalu saja menyalahkan setiap apa pun yang dilakukan oleh Sherin. Jika dipikir, Sherin bukanlah anak yang pemalas. Justru ia adalah anak yang sangat rajin. Sejak umur enam tahun Sherin sudah mencuci baju seluruh keluarganya, mencuci piring, beres-beres rumah, sampai-sampai ia tidak pernah punya waktu untuk bermain seperti anak-anak pada umumnya.


Dulu Sherin selalu menangis ketika dimarahi dan dipaksa melakukan pekerjaan rumah ketika ia sedang lelah. Tapi sekarang ia sudah besar dan sudah terbiasa atas perlakuan kedua orang tuanya. Yang membuatnya kuat sampai sekarang adalah semangat dari Jura kakaknya. Jura selalu ada ketika ia sedang sedih. Ia adalah kakak terbaik di hidupnya.


Beberapa menit kemudian masakan sudah matang. Sherin meletakkan semua masakannya di dalam tutup saji. Setelah semuanya sudah selesai, Sherin berniat untuk mandi karena hari sudah mulai gelap dan tubuhnya terasa lengket.


Ketika ia melangkahkan kaki menuju kamar, Yani menghentikannya.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" tanya Yani dengan ketus.


"Mau mandi Mah, Sherin udah gak enak badannya keringetan" jawab Sherin dengan lembut.


"Siapin dulu air hangat untuk Jura. Kamu baru boleh mandi kalau Jura udah mandi" kata Yani.


Sherin mengangguk, ia tidak bisa protes dan mengeluh. Ia segera merebus air untuk mandi kakaknya.


* * * *


Jura sudah pulang dan langsung masuk ke dalam rumah. Dari luar rumah ia mencium bau aroma makanan yang sepertinya sangat lezat. Tiba-tiba perutnya langsung terasa sangat lapar. Jura berjalan menuju dapur. Disana sudah ada ibunya yang sedang duduk.


"Mah, Jura pulang" kata Jura menyapa ibunya.


"Eh anak mamah udah pulang. Kamu lapar?" Yani menyambut Jura dengan hangat.


Sherin yang mendengar kakaknya pulang hanya tersenyum sambil meneruskan kegiatannya mengisi bak mandi.


"Sherin mana Mah?" tanya Jura yang tidak melihat Sherin di dapur.


"Dia lagi nyiapin air hangat buat kamu" jawab Yani.


"Rin, makan dulu yuk!" teriak Jura memanggil Sherin yang ada di dalam kamar mandi.


"Biarin aja Jura, kamu makan duluan aja. Nanti dia bisa nyusul. Bentar ya, mamah panggilin dulu papah di kamar".


Yani pergi ke kamarnya untuk memanggil suaminya. Begitu ibunya pergi, Jura berjalan menuju kamar mandi. Dilihatnya Sherin masih mengatur kadar air hangat yang akan digunakan oleh Jura mandi. Jura menghampiri adiknya itu.


"Rin, ayo makan dulu. Kakak gak mandi air hangat juga gak apa-apa" kata Jura sambil memegang bahu Sherin.


Sherin tersenyum, "Gak apa-apa Kak, Kakak makan duluan aja. Sherin yakin mamah gak akan suka kalau Sherin makan bareng kalain di meja makan" jawab Sherin.


Mendengar jawaban adiknya, Jura merasa sangat iba. Sudah bertahun-tahun Sherin diperlakukan layaknya orang lain, bahkan seperti pembantu. Tapi jika Jura membela Sherin, yang ada ibunya akan semakin marah pada Sherin. Pada akhirnya ketika Jura tidak ada di rumah, Sherin akan mendapat hukuman dari ibunya.


"Ya udah kakak makan dulu ya. Nanti kamu makan yang banyak ya" kata Jura sambil mengusap kepala Sherin sebelum ia kembali ke meja makan.


Setelah Jura pergi dari kamar mandi, Sherin meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan.


"Mah, Sherin juga pengen disayang Mamah".

__ADS_1


__ADS_2