(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Ralvin adik kembarnya Bang Calvin?


__ADS_3

Sherin merasa sangat kesal. Seharusnya pembalasan hari ini bisa membuat Ralvin kesal. Namun semua yang terjadi justru sebaliknya. Sherin yang menjadi sangat kesal. Jika bukan karena ia membutuhkan pekerjaan ini maka ia sudah mengundurkan diri dari perusahaan Citra Jaya.


Sherin kembali keruangan dengan wajah yang muram. Ia duduk di tempat kerjanya. Hendry dan Filly yang sedang mengerjakan pekerjaannya langsung menghampiri Sherin ketika melihat Sherin sudah kembali. Filly duduk di atas meja Sherin sedangkan Hendry berdiri di sebelahnya.


"Muka kamu kenapa ditekuk begitu? Bukannya tadi kamu semangat mau balas dendam?" tanya Filly.


"Gagal" kata Sherin singkat.


Dari ujung ruangan Dita tertawa terbahak-bahak. Karena tawanya yang begitu besar hingga membuat semua karyawan yang berada di ruangan itu memusatkan perhatian mereka pada Dita.


"Ups, i'm sorry." kata Dita ketika menyadari semua orang sedang menatapnya.


Dita berjalan menghampiri ketiga temannya sambil terus menahan tawa.


"Rin, baru kali ini deh aku tau ada karyawan yang mau ngelawan seorang pemilik perusahaan. Aneh banget sih kamu? Ada hubungan apa kamu sama Pak Ralvin?" kata Dita setelah ikut duduk di atas meja Sherin.


"Ngaco kamu Dit. Udah deh aku lagi kesel nih, kalian jangan bikin aku nambah kesel" kata Sherin sambil menyilangkan dua tangan di depan dada.


"Tapi yang dibilang sama Dita ada benernya juga Rin. Baru kali ini deh pak Ralvin ngerjain karyawan. Dan baru kali ini ada karyawan yang ngelawan sama pak Ralvin bahkan sampe bertengkar gini" kata Hendry.


"Ya udah aku ceritain. Jadi gini, sebelum aku tau pak Ralvin, aku udah kenal duluan tuh sama kakaknya, si Calvin" kata Sherin.


Sebelum ia melanjutkan, perkataannya sudah di potong oleh Filly.


"Apa? Kamu udah ketemu dan kenal sama pak Calvin. Waw luar biasa" kata Filly sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan pertanda ia sedang terkejut.


"Kenapa kaget begitu? Biasa aja kali. Mereka berdua itu sama-sama nyebelin. Males banget aku ketemu dua kakak beradik itu" kata Sherin.


"Ya udah lah gak usah dibahas lagi. Kasian tuh Sherin, nanti dia nambah kesel" kata Hendry menghentikan perbincangan mereka.


"Iya bener kata Hendry. Mending kalian lanjutin tuh kerjaan kalian. Aku mau nenangin pikiran dulu" kata Sherin dengan maksud mengusir teman-temannya dari meja kerja secara halus.


Ketiga teman Sherin itu kembali ke tempat masing-masing dan melanjutkan pekerjaan mereka. Sherin menghembuskan nafas dengan kasar. Ia berharap CEO Citra Jaya segera diganti. Ia sudah sangat lelah menahan kekesalannya setiap hari.


Dering telepon duduk di atas mejanya berdering. Ia pikir itu pasti Ralvin yang ingin memulai peperangan lagi. Dengan malas Sherin mengangkat telepon.


"Halo, ada apa lagi sih Pak? Kalau bapak gak ngasih kerjaan lebih bagus Bapak diem aja gak usah cari gara-gara sama saya" kata Sherin tanpa menunggu orang yang berada di seberang telepon berbicara.


"Ini aku Daniel. Jangan marah-marah dong. Nanti cantiknya ilang. Siang ini kamu ada waktu luang gak?" kata orang itu yang ternyata adalah Daniel.

__ADS_1


"Oh Mas Daniel. Maaf ya Mas, aku gak tau. Hmmm mungkin ada, memangnya ada apa Mas?" tanya Sherin penasaran.


"Kamu mau gak makan siang sama aku?" tanya Daniel.


Seketika wajah Sherin menjadi merah, jantungnya berdetak kencang. Ia tidak percaya Daniel mengajaknya makan siang bersama.


"Ok, aku mau" jawab Sherin malu-malu.


"Ya udah nanti pas jam istirahat datang ke ruanganku ya" kata Daniel dengan gembira.


"Ok Mas" kata Sherin.


Telepon ditutup, Sherin mengembangkan senyumannya. Sekarang moodnya sudah membaik. Jika saja Ralvin sebaik Daniel, pasti Sherin akan sangat senang.


"Eh, kenapa malah mikirin dia lagi sih? Iiih kayaknya aku bakal gila kalau terus berurusan sama bos nyebelin itu" kata Sherin sambil merebahkan tubuhnya ke senderan kursi.


* * * *


Pada jam istirahat, di ruangan Daniel, Sherin sedang duduk di sofa bersama Daniel. Tadi Daniel mengatakan bahwa ia sedang memesan makanan sehingga sekarang mereka tinggal menunggu saja.


"Pantesan aja kamu minta aku tukerkan peta itu, ternyata kamu mau ngerjain Ralvin. Kok kamu bisa sih masukin program bahasa Mandarin ke laptopku?" tanya Daniel ketika mereka sedang berbicara santai.


"Dulu di kampus aku sering di juluki si programmer. Aku bisa buat program dalam hitungan jam atau bahkan menit. Jadi tadi pagi aku gunain kemampuan itu untuk ngerjain pak Ralvin" jawab Sherin santai.


"Tadinya aku dan Ralvin mau makan siang bareng, tapi katanya dia mau buat peta baru itu. Jadi aku ngajak kamu aja biar gak makan sendirian" kata Daniel sambil tertawa.


Sherin hanya ikut tertawa tanpa banyak bicara. Begitu mendengar nama Ralvin, mood Sherin langsung berubah.


* * * *


Hari sudah sore, para karyawan mulai meninggalkan kantor untuk pulang. Sherin sedang berdiri di depan gerbang gedung Citra Jaya. Ia berniat naik bajaj Calvin karena ingin berbicara sesuatu. Tapi hingga hari sudah mulai gelap pun Sherin tidak melihat ada satupun bajaj yang lewat. Sherin mulai putus asa dan memutuskan untuk pulang dengan taksi.


Ketika Sherin akan melambaikan tangan pada salah satu taksi yang akan lewat, Sherin mendengar ada suara bajaj dari arah kanannya. Sherin dapat melihat bajaj itu semakin mendekati nya dan berhenti tepat di depannya.


"Mau pulang ya Neng? Ayo naik, ini udah hampir gelap" kata Calvin dengan senyum ramahnya.


Tanpa banyak berbicara, Sherin langsung naik ke dalam bajaj. Setelah bajaj mulai melaju, Calvin mulai berbicara lagi.


"Neng kayaknya lagi ada masalah ya?" tanya Calvin.

__ADS_1


"Abang ini beneran abangnya pak Ralvin?" tanya Sherin tanpa memperdulikan pertanyaan pertama dari Calvin.


"Iya Neng, kan udah saya bilang dari pertama saya ketemu Eneng, tapi Neng gak percaya" jawab Calvin dengan polos.


"Terus Abang ngadu sama pak Ralvin?" tanya Sherin lagi.


Calvin tertawa mendengar pertanyaan Sherin yang kedua. Ia menatap wajah Sherin dari kaca depan.


"Ya elah Neng, memangnya saya anak kecil? Gak mungkinlah saya ngadu ke adik saya itu" jawab Calvin dengan santai.


"Terus kenapa dia ngerjain saya di kantor? Bilangin ya ke adik Abang itu. Dia itu udah keterlaluan banget, gara-gara dia saya sampai di rumah malam hari terus saya kena marah sama orang tua saya. Di tambah lagi saya lewatin jam makan siang saya sampai saya sakit perut pas malamnya. Dan badan saya sampai sekarang masih sakit semua" kata Sherin yang meluapkan amarahnya pada Calvin.


"Saya atas nama Ralvin minta maaf ya, Ralvin memang begitu. Tapi aslinya dia baik kok" kata Calvin berusaha menenangkan amarah Sherin.


"Jadi yang sekarang nyebelin ini yang palsunya ya?" kata Sherin membuat Calvin tertawa.


* * * *


Mereka sudah sampai di depan rumah Sherin. Sherin keluar dari bajaj lalu menyodorkan uang lima puluh ribu.


"Loh kok banyak banget Neng, saya gak ada kembalian" kata Calvin saat melihat uang yang dipegang oleh Sherin.


"Tukang bajaj kok gak ada kembalian terus sih?" kata Sherin dengan kesal.


"Saya lupa Neng" kata Calvin sambil menyeringai.


"Alasan aja. Untung gak lupa bawa kepala Bang" kata Sherin.


"Itu juga hampir lupa Neng, karena yang abang inget cuma Neng aja" kata Calvin lalu tertawa.


"Dasar tukang bajaj, gombal aja" kata Sherin sambil memukul topi yang Calvin pakai dengan pelan.


"Eh..gak sopan Neng" gerutu Calvin.


"Mana yang lebih gak sopan dengan gombalin perempuan?" tanya Sherin.


"Lebih gak sopan kalau lupain Neng dari ingatan abang" kata Calvin.


"Makan tuh gombal!" .

__ADS_1


Sherin berlalu begitu saja tanpa membayar ongkos bajajnya.


"Sherin, Sherin, kamu itu memang beda dan gemesin kalau lagi marah" gumam Calvin dalam hati ketika ia memperhatikan Sherin masuk ke dalam rumah.


__ADS_2