
"Iih, kok bawangnya sedikit?" Sherin protes melihat Calvin mengupas sedikit bawang.
"Jangan terlalu banyak, nanti keteknya bau bawang" jawab Calvin.
"Ketek kamu tuh yang bau bawang" ejek Sherin.
"Kok tau? Udah pernah nyium ketekku ya?" Calvin tidak lagi canggung bercanda soal apapun karena Sherin lah yang sering bercanda tanpa batas.
"Mending nyium ketek genderewo dari pada nyium ketek kamu".
"Cie...yang pengen nyium ketek genderewo. Eh genderewo keteknya brewok tau, banyak bulunya" kata Calvin asal ceplos.
"Didatengin nanti malem baru tau" kata Sherin menunjuk hidung Calvin.
"Gak apa-apa, kan ada kamu. Bisa ambil kesempatan meluk" kata Calvin sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Idih.." Sherin memutar bola matanya.
Akhirnya Sherin pasrah, ia tidak meneruskan perdebatan mereka. Beginilah nasibnya jika masak dengan campur tangan banyak orang. Sedari tadi mereka terus berdebat soal memasak.
Lima belas menit kemudian, masakan sudah tersaji di meja makan. Calvin dan Sherin sama-sama tersenyum ketika menghirup bau sedap dari masakan mereka. Mereka berdua duduk berhadapan untuk segera menyantap sarapan yang mereka buat.
Tak terasa mereka hampir menghabiskan sayur sop yang mereka masak. Sherin mengambil minum ketika ia sudah selesai makan. Sherin juga menuangkan air putih untuk Calvin lalu menyodorkan gelas itu pada Calvin.
Calvin yang sedang menyuapkan nasi ke dalam mulut langsung menahan sendok itu di dalam mulut. Matanya menatap gelas yang diberikan oleh Sherin, setelah itu ia menatap Sherin. Terlihat Sherin sibuk mengelap mulutnya dengan tissue tanpa sadar Calvin sedang menatap nya.
Calvin terkesan dengan perlakuan Sherin yang secara natural menuangkan air minum untuk nya. Sikap natural itulah yang menunjukkan sikap asli manusia tanpa kepalsuan. Calvin yakin sebenarnya Sherin adalah tipe yang perhatian dan romantis.
"Kamu pengen keselek? Itu nasi gak dikunyah".
Calvin kembali ke alam nyata. Ia tersenyum lalu meneruskan makannya sampai habis. Setelah mereka selesai makan, mereka duduk santai sambil mengistirahatkan perut.
"Kak Jura kok belum pulang ya?" tanya Sherin.
"Bentar ya, biar aku telepon" kata Calvin.
Calvin mengambil ponselnya di ruang tamu. Setelah menemukan ponselnya, ia segera menghubungi Jura. Beberapa kali menyambungkan, Jura tidak menjawab panggilan Calvin.
Calvin mondar-mandir di ruang tamu mulai khawatir. Sudah dari jam 4.00 pagi Jura pergi, sampai sekarang belum kunjung kembali. Tak lama kemudian sambungan telepon terhubung.
"Hallo Ra, kamu di mana? Kok belum pulang?" kata Calvin langsung menyambar.
"Hallo, ini Rini" jawab wanita dari seberang telepon.
"O-oh ini Rini. Jura ke mana?" tanya Calvin.
"Di kantor lagi ada urusan, jadi dia harus ke kantor. Sekarang dia lagi di ruang rapat sama Pak Daniel" jawab Rini.
"Maaf kalau boleh tau ini siapa ya? Soalnya di sini dikasih nama huruf C aja" tanya Rini.
__ADS_1
Calvin menelan ludah, ia seperti kebingungan. Dengan terbata-bata ia menjawab, "Aku temannya. Makasih ya".
Calvin menutup telepon dan kembali ke dapur. Sesampainya di dapur, ia melihat Sherin sedang mencuci piring. Ia berjalan menghampiri Sherin lalu duduk di atas meja dapur.
"Jura lagi di kantor" kata Calvin singkat.
"Oh" kata Sherin lebih singkat.
Calvin memperhatikan cara Sherin mencuci piring. Ternyata Sherin sangat pandai dalam urusan dapur. Layaknya seorang pencuci piring di restoran besar, Sherin mencuci piring dengan sangat cepat.
Entah apa yang Calvin pikirkan sebelum akhirnya ia turun dari meja.
"Aku mau narik bajaj dulu ya. Kamu beranikan di rumah sendirian?" tanya Calvin.
"Tenang aja, selagi gak gelap aku berani kok" jawab Sherin.
"Ok kalau gitu aku mau mandi dulu" kata Calvin.
* * * *
Calvin sudah mandi dan berpakaian seperti biasanya. Memakai kaos berlengan panjang, celana levin yang terlihat sudah usang dan ia juga memakai topi.
Sherin mengantarkan Calvin sampai teras rumah. Layaknya suami-istri, Sherin mempersiapkan semua keperluan Calvin di mulai dari bekal nasi, air minum sampai kain lap keringat.
Calvin masuk ke dalam bajajnya lalu menyalakan mesin bajaj.
"Ok, kamu juga hati-hati" kata Sherin sambil melambaikan tangan juga.
Setelah Calvin pergi, Sherin menurunkan tangannya. Tanpa sadar ia terus tersenyum. Ia menarik nafas panjang seperti seorang yang merasa lega tugas rumahnya mengantar sang suami sampai teras selesai.
"Eh, kenapa aku harus bahagia? Apa otakku lagi kebalik?" kata Sherin ketika menyadari tindakannya.
Sherin kembali masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu. Setelah sampai di ruang tamu, Sherin bingung harus melakukan apa, ia mulai merasa bosan. Tadi saat masih ada Calvin, ia tidak merasa bosan sama sekali.
Setelah terus berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk menonton televisi.
Satu jam telah berlalu, Sherin menonton kartun yang lucu hingga ia tertawa sendiri. Tanpa disadarinya Ralvin sudah duduk di sampingnya.
"Lucu ya?" tanya Ralvin sambil menatap wajah Sherin.
"Lucu banget, hahaha" jawab Sherin masih tidak sadar ada Ralvin di sampingnya.
"Kayak kamu" kata Ralvin sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Sherin.
Mendengar suara Ralvin yang kedua, Sherin mulai menyadari ada seseorang di sampingnya. Secara perlahan ia menoleh pada sumber suara dan...
"Aaa!! Hantu emph"
Mulut Sherin dibekap oleh tangan Ralvin.
__ADS_1
"Syut...nanti kita dikeroyok warga mau?" kata Ralvin.
Mata Sherin dan mata Ralvin sama-sama saling tatap. Jarak wajah mereka hanya terpisah 5 cm saja. Lama-kelamaan wajah keduanya memerah. Dengan cepat Ralvin melepas Sherin dan mengalihkan pandangan ke lain arah.
"Maaf" kata Ralvin canggung.
Sherin tidak berkata apa-apa, ia hanya memperbaiki posisi duduknya. Rasa malu dan canggung bercampur jadi satu. Ingatan saat hari ulang tahun nya kembali teringat. Entah mantra apa yang digunakan oleh Ralvin, Sherin selalu canggung dan jantungnya berdetak kencang saat berada di dekat Ralvin.
"Bapak ngapain ke sini?" tanya Sherin membuka suara.
Ralvin tidak langsung menjawab. Ia meraih remote tv lalu mematikan layar tv. Setelah suara bising kartun tidak terdengar lagi, Ralvin baru mulai berbicara.
"Aku denger kontrakan kamu kebakaran, makanya aku langsung ke sini" jawab Ralvin.
Sherin menunduk. Ia memikirkan bagaimana jika nanti Ralvin marah karena perabotan mahal yang baru ia beli beberapa hari lalu sudah hangus terbakar.
"Pak, maaf ya, perabotan mahal yang Bapak beliin buat saya udah kebakar" kata Sherin sambil terus menunduk.
Ralvin tertawa terkekeh. Melihat ekspresi Sherin membuatnya tidak tahan untuk menahan tawa.
"Kamu ini kok malah minta maaf. Gak masalah, itu masalah kecil kok" kata Ralvin.
Sherin mengangkat wajahnya, menatap Ralvin penuh rasa tidak percaya.
"Bapak gak marah? Kan itu mahal?" tanya Sherin.
"Enggak lah, untuk apa saya marah." jawab Ralvin.
Sherin tersenyum lebar mendengar jawaban Ralvin. Sebelum ia mengucapkan ucapan terima kasih, Ralvin sudah memotongnya.
"Tapi tetap ada hukumannya" kata Ralvin.
"Hukuman? Katanya Bapak gak marah" Sherin protes.
"Ya saya gak marah. Tapi kamu tetep harus di hukum karena gak berusaha nyelamatin minimal satu perabotan aja. Dan hukumannya adalah...."
Ralvin sengaja menggantung ucapannya agar Sherin penasaran dan deg-degan.
"Mulai sekarang kamu jadi asisten pribadi saya di perusahaan" lanjut Ralvin.
Sherin membulatkan matanya, "Hukuman macam apa itu? Itu bukan hukuman Pak".
Sherin terkejut dengan apa yang disebut Ralvin dengan hukuman. Menjadi asisten pribadi Ralvin berarti ia naik jabatan, jabatan yang diinginkan semua orang.
"Iya, kalau menurut saya itu hukuman ya berarti itu hukuman. Kamu jangan bantah" kata Ralvin sambil tersenyum.
"Makasih Pak" Sherin sangat gembira sampai tidak sadar ia memeluk Ralvin.
Ralvin juga memeluk tubuh Sun Youra. Ia bahagia melihat senyum bahagia di wajah Sherin.
__ADS_1