(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Cerita masa lalu (2)


__ADS_3

Hendry terhenyak kaget. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya adalah pengusaha gelap. Ditambah lagi dengan keberanian ayahnya untuk mencelakai orang lain. Selama ini yang ia tahu, Bima adalah seorang ayah yang tegas, penyayang dan hangat.


"Jadi Papah pengusaha gelap?" tanya Hendry tidak percaya.


Bima terkekeh. Ia menertawai kepolosan anaknya itu. Ya memang selama ini ia menutupi sisi buruknya dari Hendry.


"Ya, betul. Perusahaan papah udah bangkrut bertahun-tahun yang lalu. Beruntungnya, mendiang mamah kamu itu punya perusahaan juga, jadi papah yang mengelolanya untuk terhindar dari kemiskinan," jawab Bima tanpa merasa bersalah.


"Selangkah lagi papah hampir mendapatkan Sherin, tapi sayang, ternyata Sherin bekerja untuk Ralvin. Bahkan dia deket sama Ralvin."


Hendry mengerutkan keningnya. "Kenapa papah takut sama Ralvin?"


Bima tersenyum sinis, namun ada senyum pahit juga di sana. Ia tidak bisa menyangkal bahwa ia merasa malu dengan hal satu itu. Ia tidak bisa berkutik ketika berhadapan dengan Ralvin.


"Braham, adalah mantan intelijen di Amerika. Khasus hilang dan terbunuhnya pengusaha muda dua puluh tahun yang lalu, cuma Braham yang berani ambil bagian. Pengusaha muda itu adalah saudara David."


"Dua puluh tahun yang lalu ...."


Bima yang sedang rapat di kantor Willthon group. Tiba-tiba suasana rapat menjadi tegang setelah David menerima telepon dari seseorang. Semua orang bertanya-tanya. Mengapa pemilik perusahaan Willthon itu terlihat sangat terkejut dan cemas.


"Ada apa Tuan David?" tanya Bima. Ia tidak dapat menahan rasa penasarannya seperti rekan bisnis lainnya.


"A-a-adikku, adikku menghilang. Mobilnya menabrak pohon, tapi Renold tidak ada di sana," jawab David dengan wajah pucatnya.


"Mengapa tidak menghubungi polisi, Tuan?" tanya salah satu rekan bisnisnya.


"Justru yang memberikan kabar itu adalah polisi."


David terlihat gundah, pikiran buruk terus berkelebat dalam otaknya. Bagaimana tidak, Renold adalah pengusaha muda yang sukses. Ia memiliki banyak saingan, dimulai dari pengusaha Amerika, sampai pengusaha Asia.


"Maaf, sepertinya aku harus menghentikan rapat ini. Aku akan pergi ke kantor polisi."

__ADS_1


"Aku akan menemanimu, Tuan." Bima menawarkan diri. Ia sangat penasaran dengan kasus menghilangnya Renold. Renold adalah salah satu musuh besarnya setelah David. Ia ingin memastikan bahwa Renold tidak baik-baik saja.


"Baiklah."


* * * *


"Bagaimana mungkin, kalian tidak dapat menemukan adikku! Kalian ini polisi atau apa?"


David tidak dapat mengontrol emosi lagi. Ia marah-marah di dalam kantor polisi.


"Sudah hampir dua bulan, tapi kalian belum menemukannya juga? Lucu sekali," kata David sambil tersenyum sinis.


"Tuan, sabar. Kita harus bicara baik-baik pada mereka," kata Bima.


Setiap kali David ke kantor polisi, Bima pasti ikut dengannya. Ia tidak ingin tertinggal informasi apapun.


Ia ingin memastikan Renold yang membantu David menjatuhkan mafia terbesar di Amerika kini dalam kondisi terburuk. Ia akan berterima kasih pada orang yang mencelakakan Renold itu.


"Begini, Tuan. Kami akan menurunkan intel untuk menangani kasus ini. Dari sekian banyak intel, hanya ada satu yang mengatakan kesanggupannya. Kami akan menghubunginya sekarang," kata polisi itu.


Pria itu menyelami David dan Bima. "Selamat siang. Saya Braham Sulindra, panggil saja saya Braham."


David memberikan senyum ketika pria sebayanya itu tersenyum.


"Terima kasih karena sudah menyanggupi penanganan kasus ini," kata David.


Braham tersenyum. "Tidak masalah, ini sudah perkerjaan saya."


Mereka tidak banyak basa-basi lagi. David menceritakan tentang riwayat hidup adiknya itu. Dimulai dari teman sampai musuh-musuhnya, semua ia ceritakan. Braham mencermati dengan baik. Sesekali ia menganggukkan kepala.


"Dari cerita Anda, ada dua kemungkinan besar. Pertama perusahaan Narton yang dipimpin oleh Ghani tadi, dan perusahaan JDHe yang dipimpin oleh Mark."

__ADS_1


"Tapi, Mark adalah teman dekatku, mana mungkin ia melakukan itu," sambut Bima membantah.


Bima sendiri mencurigai Mark. Mark adalah temannya yang bekerjasama dengan nya untuk menghancurkan David dan Renold. Jangan sampai orang membongkar kejahatan Mark karena bisa saja ia juga akan terbawa.


Braham mengalihkan perhatiannya pada Bima. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik tubuh Bima, kemudain ia tersenyum.


"Anda yakin? Tapi tubuh Anda tidak mengatakan hal itu."


Bima dan David terhenyak. Ia menatap Braham. Ribuan pertanyaan muncul di benak mereka berdua.


"Saya menguasai ilmu psikologi fisiologik. Tentu sebagai intel saya harus menguasainya bukan? Semua keluarga saya rata-rata menguasai ilmu psikologis itu."


Bima duduk dengan gelisah. Jika pria itu bisa membaca gerak-gerik orang lain, lama-kelamaan akan terbongkar jika ia memusuhi David.


"Saya akan mengurus kasus ini. Tuan tenang saja."


* * * *


Tidak butuh waktu lama. Hanya dalam waktu tiga hari, Braham sudah menemukan siapa pelaku sebenarnya. Ia mengatakan bahwa Renold sudah meninggal dunia. Jasadnya ditemukan di sebuah jurang yang terpencil. Pelaku pembunuhan tersebut adalah Ghani. Namun sayang, jejak Ghani sudah menghilang sempurna. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


Setelah itu, pengejaran Ghani terus berlanjut hingga beberapa tahun kemudian.


Bima sudah terang-terangan memusuhi David. Bahkan sudah tiga belas tahun sejak Claudya menghilang seperti di telan bumi.


Suatu hari, Bima mendapatkan kabar dari mata-matanya. Braham akan tetap mencari Ghani, bahkan sekarang ia juga membantu David mencari Claudya. Mata-mata itu mengatakan Braham akan mengirim anak bungsunya untuk melanjutkan misi pencarian Ghani yang diduga kabur ke Indonesia.


Tidak hanya itu, anak bungsunya itu juga akan selalu mendapat bantuan dari kakak lelakinya. Anak kedua dari Braham adalah seorang intel rahasia yang berkedok sebagai pengusaha. Ia tinggal di Indonesia dan memiliki banyak bodyguard dan mata-mata handal di Australia. Dari situlah Bima mulai berhati-hati saat mencari keberadaan Claudya.


"Sekarang kamu udah tau semuanya. Itulah alasan kenapa papah gak berani mengusik Sherin selama ada Ralvin ataupun keluarga Braham di sisinya." Bima kembali bangun dan duduk berhadapan dengan Hendry.


"Apa papahnya Ralvin udah tau kalau Sherin itu anak pak David?" tanya Hendry.

__ADS_1


"Papah rasa dia udah tau, cuma dia nunggu waktu yang tepat dan aman untuk ngembaliin Sherin ke David."


"Maka dari itu kita harus bergerak lebih cepet dari Braham, Ralvin dan Calvin," lanjut Bima.


__ADS_2