(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Rekan bisnis yang Ralvin segani


__ADS_3

Sherin duduk di kursi kerjanya sambil menundukkan kepala. Kejadian di kantin tadi sudah membuatnya sangat malu. Kenapa ia tidak bisa mencerna perkataannya sebelum berkata. Dita dan Filly datang menghampirinya ketika mereka sudah masuk ke dalam ruang kerja.


"Tadi kamu kok ditarik-tarik sama pak Ralvin? Kamu ada buat masalah?" tanya Dita.


Sherin hanya menggelengkan kepala.


"Terus kenapa dia narik tangan kamu? Atau jangan-jangan kamu memang ada hubungan ya sama pak Ralvin" kata Filly sambil menyenggol lengan Sherin.


"Apaan sih kalian? Udah deh, aku ni lagi malu" kata Sherin berkata jujur.


"Ya udah deh kami pergi. Tapi inget ya, jangan pasang muka kusut gitu dong" kata Filly lalu berlalu pergi.


* * * *


Di ruangan CEO, Ralvin sedang fokus menandatangani berkas tentang proyek di Surabaya yang akan segera dilaksanakan. Ralvin harus benar-benar membaca dan menyimak berkas-berkas yang akan ia tanda tangani karena ini menyangkut keuntungan dan kerugian yang sangat besar jika ia salah langkah.


Pintu diketuk beberapa kali dari luar yang membuat Ralvin segera mengambil remote dan menekan tombol remote tersebut. Pintu pun terbuka dan masuklah seorang wanita mengenakan rok selutut dan memakai sweater hitam.


"Selamat siang Ral, udah makan siang?" sapa wanita dan langsung bertanya soal makan.


"Eh Kak, aku kira siapa. Tumben Kakak sering banget dateng ke sini? Bukannya hari Sabtu kemaren Kakak udah ke sini?" kata Ralvin sambil berdiri untuk menyambut kakaknya.


"Jadi sementang ini udah jadi perusahaan kamu kakak gak boleh datang ke sini?" kata Viola kakaknya Ralvin.


"Ya boleh dong Kak, maksud aku kenapa tumben sering datang ke kantor. Kakak ini udah sensi aja kayak nenek-nenek" jawab Ralvin.


"Kakak gak dipersilahkan duduk nih?" sindir Viola.


"Ini kantor aku, adiknya seorang Viola, ya gak perlu lah kayak orang lain gitu" kata Ralvin sambil berjalan menuju sofa.

__ADS_1


Mereka berdua duduk di sofa yang mahal. Viola lebih banyak bicara dari pada Ralvin karena Viola memang tipe orang yang cerewet, ramah, baik hati dan suka berbagi cerita. Ralvin sebagai adiknya hanya bisa mendengarkan dan menanggapi sesekali. Sebenarnya Ralvin tidak seberapa suka dengan sifat cerewetnya Viola. Akibat kecerewetan kakaknya itu lah ia sering digosipkan oleh para karyawan kalau ia adalah seorang gay karena tidak pernah menyukai seorang wanita.


"Papah bilang kamu kok beberapa hari ini gak ada laporan?" tanya Viola menyampaikan apa yang dikatakan oleh ayahnya.


"Iya Kak maaf, soalnya beberapa hari ini aku sibuk di kantor nanganin urusan proyek yang bentar lagi dibangun di Surabaya. Jadi aku gak sempet, bilangin ke papah maaf ya" kata Ralvin.


"Iya, nanti kakak bilangin ke papah. Tapi kamu gak capek apa, udah lima tahun ini kamu terus-terusan jalanin misi dari papah?" tanya Viola.


"Enggaklah Kak, ini demi kebaikan keluarga kita dan ke amanan kerabat kita juga" jawab Ralvin santai.


"Oh iya, kakak hampir lupa bilang. Kata Calvin, hari Rabu kamu ke Australia ya. Soalnya perusahan papah ada kerja sama perusahaan besar di Australia. Papah gak bisa nge-handle semua sendirian.".


"Ok, nanti aku minta tolong sama Daneil untuk atur jadwalku" kata Ralvin.


Ralvin dan Viola kembali membahas tentang hal sehari-hari. Saat mereka berdua sedang asik berbincang, Daniel masuk ke dalam ruangan dengan nafas yang tersengal-sengal. Ralvin dan Viola langsung berdiri dan menghampiri Daneil yang sepertinya sedang kehabisan nafas.


"Kamu kenapa?" tanya Viola.


"Loh kok mendadak?" kata Ralvin yang terkejut.


"Gak tau tuh, makanya itu aku langsung ke sini supaya kamu bisa siap-siap nyambut pak David" kata Daniel.


Viola tengah mengingat sesuatu, setelah itu ia tersenyum, "Pak David rekan bisnisnya papah?".


Ralvin hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia memerintahkan Daniel untuk segera menyiapkan ruangan santai di lantai dua belas dan segera menyiapkan hidangan juga. Daniel menuruti perintah Ralvin. Ia menghubungi OB dan OG untuk segera melaksanakan perintahnya.


* * * *


Semua karyawan bingung kenapa tiba-tiba saja mereka diperintahkan oleh CEO untuk segera masuk ke dalam ruang kerja masing-masing dan di larang untuk membuat keributan dan keluar di jam kerja. Tanpa mendapat jawaban, mereka harus menuruti perintah CEO itu.

__ADS_1


Para staf keamanan seperti security dan bodyguard sudah berjaga di depan pintu masuk kantor sampai masuk ke lobby. Para resepsionis berdiri menunggu sang tamu yang akan datang ke kantor. Sedangkan di lantai empat, para karyawan sedang bergosip.


"Ada apa sih ini?" tanya Hendry yang baru tiba di ruangan lantai empat.


"Jangankan kamu Hen, kami yang dari tadi di sini dan sempet keluar aja gak tau apa-apa" jawab Filly.


"Kamu kok lama banget sih di ruangan bu Sifa? Ngapain aja?" tanya Filly pada Hendry.


"Tadi lagi terjemahin bahasa Jepang ke bahasa Inggris" jawab Hendry.


"Memangnya kamu bisa bahasa Inggris?" tanya Dita.


"Ya elah, aku kan orang California. Masa gak bisa bahasa Inggris" jawab Hendry.


"Eh, itu ya tamunya?" kata Sherin yang membuat semua orang melihatnya yang sedari tadi berdiri di dinding kaca gedung kantor.


Mereka semua langsung berdiri dan berjalan mendekati Sherin. Sherin menunjuk ke arah mobil yang baru saja datang. Dari lantai empat masih dapat terlihat cukup jelas dari mobil tersebut turun seorang pria yang langsung di sambut oleh bodyguard. Walau tidak wajah pria itu tidak dapat terlihat dengan jelas, namun sudah dapat dipastikan bahwa orang itu memiliki wibawa yang sangat besar.


"Kayaknya itu tamu besar pak Ralvin deh" kata Hendry yang masih memandangi pria itu.


"Siapa?" tanya Sherin.


"Ada dua tamu besar pak Ralvin. Yang pertama Pak David dan yang kedua Pak Bima. Tapi yang paling disegani sama pak Ralvin itu Pak David" jawab Hendry menjelaskan.


"Gimana gak segan, pak David itu punya banyak perusahaan besar di Indonesia dan induk perusahaannya yang paling besar itu di Amerika" kata Dita menimpali.


"Kalian udah tahu ya, kenapa aku belum?" kata Sherin sambil menggaruk keningnya.


"Ya iyalah, kamu kan baru satu minggu kerja di sini" kata Filly sambil tertawa.

__ADS_1


"Hei kalian anal muda, jangan gosip terus. Nanti dimarahin pak Ralvin loh" kata seorang wanita di satu ruangan mereka.


Sherin, Dita, Filly dan Hendry mengakhiri obrolan mereka. Mereka berempat kembali ke tempat duduk masing-masing. Sherin masih sangat penasaran pada tamu yang datang ke kantor Citra Jaya. Sherin adalah orang yang selalu penasaran akan sesuatu sehingga kali ini ia juga sangat penasaran. Tapi apa boleh buat para karyawan dilarang untuk keluar dari ruang kerja.


__ADS_2