
Sejak masuk ke dalam ruangan, Sherin langsung duduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Teman-temannya tidak berani untuk bertanya karena takut Sherin akan marah. Mereka kasihan pada Sherin, karena mereka kabur, pada akhirnya Sherin lah yang menjadi sasaran kemarahan Ralvin.
Tiba-tiba Sherin mengacak-acak rambutnya.
"Habis ini apa aku masih punya muka untuk ketemu dia" kata Sherin frustasi.
Sungguh sebelumnya tidak ada yang pernah mencium dirinya. Bahkan ia tidak pernah punya pacar karena Yani melarang keras Sherin pacaran.
Hendry hanya menatap Sherin dari ujung matanya, ia tidak berani bertanya. Dita memberanikan diri untuk meminta maaf. Ia berjalan menuju meja kerja Sherin.
"Rin, maafin kami ya, kami gak ada maksud buat kamu dalam masalah" kata Dita.
Sherin menyingkirkan tangan dari wajahnya, menatap mata Dita yang penuh penyesalan.
"Udahlah Dit, aku gak marah sama kalian kok. Aku cuma kesel sama si Ralvin itu" kali ini Sherin tidak menggunakan 'Pak' saat menyebut nama Ralvin.
"Jadi kamu gak marah sama kami?" tanya Hendry dan Filly bersamaan dengan semangat.
"Enggaklah, kalian itu temen terbaikku" jawab Sherin.
"Kita akan jadi sahabat Rin" kata Dita langsung memeluk Sherin.
"Aku mau nenangin diri dulu ya, kalian lanjut kerja aja" kata Sherin.
Dengan cepat, teman-temannya memenuhi permintaan Sherin. Mereka takut Sherin akan berubah pikiran untuk memaafkan mereka.
* * * *
Daniel telah kembali dengan membawa lima kantong pesanan Ralvin. Ia tidak meneruskan langkah ketika melihat Ralvin dan Jura duduk di sofa dengan Ralvin yang tertunduk seperti takut dimarahi.
"Ral, aku udah bawa nih." kata Daniel yang sudah kembali meneruskan langkah kakinya.
"Eh, Jura juga ada di sini" sapa Daniel.
"Iya" jawab Jura singkat.
Daniel meletakan makanan di meja kaca yang berhadapan dengan sofa mewah itu. Daniel ikut bergabung di sofa setelah ia selesai menyusun makanan.
"Ral, kamu kok ekspresinya gak enak amat. Abis dimarahin sama siapa?".
Ralvin hanya terdiam. Sebenarnya Jura tidak memarahinya, dan soal pukulan tadi juga hanya sebagai syarat Jura dalam melindungi adiknya dari pria hidung belang. Ia juga sudah mengatakan isi hatinya karena Jura mendesak agar ia menjawab.
"Ah, malah gak jawab. Oh ya Ra, gimana soal peneroran itu?" tanya Daniel yang masih tidak tahu apa yang terjadi.
"Aku belum nemu titik terang yang jelas" jawab Jura seadanya.
"Hari rabu malam, Sherin cerita kalau dia dua kali dapat mimpi buruk yang aneh. Mimpi itu kayak saling bersangkutan dan dia rasa masih ada kelanjutannya. Tapi di dalam mimpi itu gak ada dia. Di sana cuma ada anak kecil bernama Claudya dan orang tua anak kecil itu yang udah babak belur".
Jura kembali menceritakan apa yang diceritakan oleh Sherin, dari awal hingga akhir.
__ADS_1
"Hmmm aneh juga sih, tapi mungkin karena terlalu kecapean" kata Daniel yang berpendapat seperti yang Jura katakan pada malam itu.
"Tapi kalau menurutku sih aneh. Sherin bilang dia baru pejamkan mata sebentar" kata Ralvin.
"Namanya orang ketiduran ya mana tau dia tidur udah lama atau enggak" kata Daniel.
"Udahlah, lagian cuma mimpi aja. Pak Ralvin, saya kembali ke ruangan. Permisi" kata Jura pamit dengan sopan.
"Kalian kenapa kayak canggung gitu?" tanya Daniel setelah Jura meninggalkan ruangan.
"Aku nyium Sherin".
"What!!" Daniel membulatkan matanya.
* * * *
Jam pulang kerja sudah tiba. Seperti biasanya, Sherin menscan ID Card di mesin scanner. Begitu ia berbalik badan, ia di hadapkan pada Ralvin yang berdiri tegap.
Sherin bergeser ke kanan untuk mencari jalan tapi Ralvin sengaja menghalangi nya. Sherin ke kiri, maka Ralvin pun akan bergeser ke kiri.
"Pak, saya mau pulang" kata Sherin kesal.
"Saya mau ngomong dulu" kata Ralvin.
"Saya gak punya waktu" jawab Sherin singkat.
"Saya mau minta maaf soal tadi siang. Saya khilaf" kata Ralvin menatap mata Sherin mencari pengampunan dari mata gadis itu.
"Gimana saya bisa anggap itu gak pernah terjadi? Saya gak bisa" kata Ralvin.
"Kalau gitu biar saya aja yang anggap gak pernah terjadi".
"Gak bisa, itu gak boleh" kata Ralvin.
Sherin terdiam menatap dalam pada mata Ralvin. Entah apa yang diinginkan oleh bosnya itu. Pria itu selalu saja mencari masalah.
"Claudya lari Nak!".
Tiba-tiba kepala Sherin menjadi pusing dan sangat sakit. Teriakan nama itu terngiang di telinga. Bayangan mimpi itu kembali terlintas. Sherin memegang kepalanya dan terhuyung ke belakang. Untung saja Ralvin menangkapnya dengan sigap.
"Sherin kamu kenapa?" tanya Ralvin panik.
"Kepala saya sakit" jawab Sherin.
Ralvin berusaha membuat tubuh Sherin tetap berdiri, tapi sepertinya usahanya sia-sia karena keseimbangan tubuh Sherin sudah mulai hilang. Sherin memejamkan mata menahan rasa sakit di kepalanya. Ralvin membimbing tubuh Sherin untuk duduk di lantai.
Jura melewati lobby dan tidak sengaja melihat ke arah tempat mesin scanner untuk para karyawan. Dari belakang Ralvin terihat seperti sedang memeluk Sherin. Jura langsung berlari ke arah mereka. Namun setelah semakin dekat, ternyata Ralvin hanya membantu menyanggah tubuh Sherin.
"Sherin, kamu kenapa?" tanya Jura dengan sangat panik.
__ADS_1
"Dia bilang kepalanya sangat sakit" jawab Ralvin.
Sherin langsung tak sadarkan diri ketika Ralvin dan Jura berusaha membuatnya duduk.
"Kita harus bawa dia ke rumah sakit" kata Ralvin.
* * * *
Setengah jam Jura dan Ralvin menunggu Sherin yang sedang ditangani oleh dokter. Kedua pria itu sangat mengkhawatirkan Sherin. Jura dan Ralvin tidak bisa duduk dengan tenang. Seperti ada paku di tempat duduk mereka hingga mereka berdua tidak bisa duduk diam.
"Kenapa dokter lama banget" kata Jura yang semakin panik tak karuan.
"Semoga saja Sherin gak apa-apa" Ralvin mengusap wajahnya dengan kasar.
Tak lama kemudian, seorang dokter wanita keluar dari ruangan. Ralvin dan Jura berdiri bersamaan lalu menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi adik saya Dok?" tanya Jura.
"Pasien membutuhkan istirahat untuk saat ini, mari ke ruangan saya".
Jura dan Ralvin mengikuti dokter menuju ruangannya.
Sesampainya di ruangan dokter itu, Ralvin dan Jura duduk berhadapan dengan sang dokter. Wajah mereka tetap saja khawatir walau wajah dokter itu santai.
"Begini Pak, kondisi pasien baik-baik saja. Ia hanya mengalami pemulihan ingatan" kata dokter itu.
"Pemulihan ingatan?" Jura dan Ralvin kompak.
"Iya, setelah saya periksa secara mendalam. Pasien Sepertinya pernah mengalami kecelakaan parah sehingga mengalami hilang ingatan. Karena kerusakan saraf otak itu, seharusnya pasien hilang ingatan secara permanen, tali suatu keajaiban pasien mulai bisa mengingat ingatan masa lalunya" dokter itu menjelaskan dengan jelas.
"Tapi, adik saya tidak pernah mengalami kecelakaan sekalipun Dok" Jura kebingungan.
"Apa mungkin? Tapi hasil pemeriksaan saya seperti itu" kata dokter yang sekarang menjadi bingung.
"Ibu saya bilang, adik saya memiliki suatu gangguan sejak lahir yang menyebabkan dia tidak bisa mengingat masa kecil di bawah umur 6 tahun" kata Jura yang mengingat ucapan ibunya.
"Saya sudah memeriksa pasien Pak, saya tidak menemukan gangguan bawaan lahir seperti yang Bapak ucapkan" kata dokter itu tetap pada pendirian hasil pemeriksaan.
"Apakah pasien pernah mengatakan sesuatu yang pernah ia ingat?" tanya dokter itu.
"Tidak adik saya tidak....".
"Mimpi itu Jura" potong Ralvin.
Jura mengingat semua cerita Sherin, tak lama kemudian ia membulatkan matanya.
"Berarti mimpi buruk itu adalah....".
"Ingatan masa kecil Sherin" kata Ralvin melanjutkan perkataan Jura yang tidak tuntas.
__ADS_1
Hatinya tersayat mengingat bagaimana cerita mimpi buruk Sherin itu yang ternyata adalah sebuah ingatan masa kecil Sherin, sebuah kenyataan yang pernah terjadi.