(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Calvin si pahlawan


__ADS_3

"Kak Jura tolong!" Sherin berteriak sekencang-kencangnya.


"Sherin, ada kebakaran. Buka pintunya" teriak Jura dari balik pintu.


"Kak, di sini gak ada kuncinya" kata Sherin putus asa.


"Apa? Terus kenapa bisa dikunci?".


Tak lama kemudian terdengar dari luar rumah suara orang berteriak kebakaran untuk meminta bantuan lebih banyak orang.


Dari luar kontrakan Sherin dapat dilihat kobaran api membumbung tinggi dan membuat sebuah cahaya terang di langit pagi buta. Semua orang panik apalagi setelah tahu kontrakan itu telah diisi oleh seorang gadis.


Calvin baru terbangun dan duduk sambil mengucek matanya. Ia baru saja memejamkan mata dua jam yang lalu, tapi sekarang ia sudah terbangun lagi karena ada suara keributan di luar.


Dengan malas Calvin bangun dari tempat tidur. Ia berjalan menuju pintu kamar sambil menggerutu.


"Apa ada pembagian sembako sepagi ini? Ribut banget" kata Calvin dengan mata yang setengah tertutup.


"Kebakaran! Kebakaran!".


Begitu mendengar orang berteriak kebakaran, mata Calvin langsung terbuka lebar.


"Rumah siapa yang kebakaran?" Calvin berlari ke pintu depan.


Calvin dapat melihat api membumbung tinggi dari dalam kontrakan Sherin. Para warga sampai tidak berani masuk karena rumah kontrakan itu hampir seluruhnya dilahap oleh api.


Calvin tertegun sejenak. Ia hampir tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Di dalam kontrakan itu ada Sherin. Apakah Sherin masih baik-baik saja.


"Sherin!!" Calvin berteriak sambil berlari ke arah pintu rumah kontrakan.


Tubuh Calvin ditarik kebelakang. Empat orang warga menahannya.


"Jangan masuk Mas, bahaya" teriak seorang bapak-bapak pada Calvin.


"Gak bisa, saya harus masuk. Sherin dalam bahaya" kata Calvin berusaha melepaskan diri.


"Mas, kalau Mas masuk nanti makin banyak korban" kata bapak-bapak itu lagi.


"Jadi saya harus ngebiarin Sherin jadi korban. Kalau Bapak larang saya, Bapak yang harus tukaran nyawa sama Sherin" kata Calvin tajam.


Keempat bapak-bapak itu mengernyitkan dahi dengan ngeri. Saat tangan yang mencengkeram nya melemah, Calvin dengan sekuat tenaga menyingkirkan tangan yang memegangi nya.

__ADS_1


"Hei Mas! Itu bahaya!" teriak semua orang terkejut melihat Calvin langsung mendobrak pintu.


Asap menyesakkan dada dan menghalangi pandangan. Panasnya api membuat Calvin berkeringat. Tanpa peduli dengan panasnya hawa api, Calvin melangkah mencari pintu kamar Sherin.


"Sherin! Jura! Uhuk, kalian di mana?" teriak Calvin sambil terbatuk-batuk.


Langkah kaki Calvin seringkali harus menghindari perabotan dan potongan kayu beroti dari atas plafon.


"Calvin? Itu kamu?" suara Jura samar-samar terdengar.


Mata Calvin melihat Jura di depan sebuah pintu. Walaupun tidak jelas karena terhalang asap dan api, tapi Calvin tahu bahwa Jura sedang berusaha mendobrak pintu. Calvin berlari menghampiri Jura.


"Vin, cepet bantu aku, Sherin ada di dalem" kata Jura.


"Apa? Sherin, kamu masih bisa nafas kan?" tanya Calvin yang membayangkan betapa sesaknya Sherin di dalam kamar yang tidak ada fentilasi udara.


Dengan bantuan Jura, Calvin mendobrak pintu kamar dengan kuat. Usaha pertama mereka gagal.


"Sherin, apa jendelanya dikasih teralis besi?" tanya Calvin.


"Uhuk, iya. Kalau gak dikasih teralis besi aku udah keluar dari jendela" kata Sherin menggerutu.


"Kenapa pintu ini keras banget!" teriak Calvin panik.


"Sherin, kamu masih baik-baik aja kan?" tanya Jura memastikan Sherin masih baik-baik saja.


Jura dan Calvin menunggu jawaban, tapi sayangnya Sherin tidak menjawab.


"Sherin? Sherin? Kamu bisa denger kakak?" tanya Jura.


"Sherin? Jura cepat dobrak!" Calvin terlihat lebih panik.


Calvin dan Jura mengambil ancang-ancang dari kejauhan. Dengan hentakan yang kuat dan kompak, pintu kamar Sherin berhasil didobrak.


Mata Calvin dan Jura sama-sama membelalak ketika melihat Sherin tergeletak di lantai. Secara bersamaan kedua pria itu meraih Sherin.


"Sherin, bangun" kata Jura.


"Percuma bangunin dia sekarang. Lebih baik kita bawa Sherin keluar dari sini" kata Calvin.


Selaku kakaknya, Jura lah yang membopong tubuh Sherin. Sebelum Jura melangkah keluar kamar, Calvin menghentikannya.

__ADS_1


"Sebentar" kata Calvin.


Calvin membuka kaos lengan panjangnya lalu menutup kaki Sherin yang hanya mengenakan baju dan celana tidur pendek.


"Kakinya bisa luka" kata Calvin.


Jura dan Calvin tidak membuang-buang waktu lagi. Mereka segera keluar dari kamar Sherin. Tangan Calvin menangkis setiap runtuhan plafon yang akan mengenai Jura dan Sherin. Ia sama sekali tidak peduli dengan panas dan sakit tangannya ketika menangkis semua bahaya, yang ia pedulikan adalah Sherin dapat selamat dan keluar tanpa terluka sedikitpun.


Semua warga bernafas lega melihat Calvin berhasil keluar dengan selamat bersama tetangga barunya. Tapi seperti kebiasaan orang Indonesia, dari suatu tragedi selalu ada yang menarik perhatian. Ya, para warga malah terfokus pada tubuh kekar, mulus dan putih Calvin yang tidak memakai baju. Mereka semua terutama para wanita memuji bentuk tubuh Calvin.


"Mas, kalian baik-baik aja kan? Ya ampun, mbak ini pingsan ya. Cepat bawa ke rumah sakit" kata salah satu ibu-ibu.


"Gak perlu, dia cuma butuh nafas segar aja" jawab Jura.


"Ya udah Mas, kalian istirahat. Sebentar lagi pemadam kebakaran akan dateng" kata ibu-ibu itu lagi.


Calvin sudah tidak peduli dengan apapun. Sekarang yang ia inginkan adalah Sherin segera sadar. Karena kontrakan Calvin berdempetan dengan kontrakan Sherin, maka belum aman jika mereka masuk ke dalam kontrakan Calvin. Calvin mengarahkan Jura ke sebuah tempat yang sejuk di bawah pohon.


Jura membaringkan Sherin dan menjadikan kakinya sebagai tumpuan kepala Sherin. Wajah panik dan khawatirnya belum hilang.


"Aku akan ambil air minum dulu" kata Calvin.


Setelah Calvin pergi, Jura baru tersadar bahwa sekarang Calvin tidak memakai baju karena bajunya ia gunakan untuk membungkus kaki Sherin.


"Aku harap dengan kamu terus sama Sherin, Sherin bisa lewatin semua masalah dan bahaya yang lagi ngincar Sherin" kata Jura pelan.


Tak lama kemudian Calvin sudah kembali dengan membawa tiga botol air mineral. Ia berjongkok di samping Sherin. Ia melihat wajah Sherin berkeringat. Calvin membuka satu botol air mineral lalu mengucurkan airnya ke telapak tangan.


Dengan perlahan dan lembut Calvin mengucap wajah Sherin. Ia harap itu dapat membantu menyegarkan Sherin.


Jura baru tersadar ternyata tangan Calvin dipenuhi oleh memar dan luka bakar. Tatapan Jura beralih pada wajah Calvin yang masih sibuk mengelap wajah Sherin. Pria itu seakan tidak merasakan kesakitan apapun selain rasa khawatir pada Sherin.


"Sepeduli itu kah kamu ke Sherin?".


Tiba-tiba Calvin menatap wajah Jura dengan pandangan terkejut. Seperti maling yang ketahuan mencuri, Calvin menjawab terbata-bata.


"A-a-aku hanya...".


"Calvin". Sherin memanggil nama Calvin dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Calvin dan Jura sama-sama menatap wajah Sherin kemudian keduanya saling berpandangan.

__ADS_1


__ADS_2