(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Kabur dari pernikahan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Sherin sudah pergi dari rumah Ralvin. Kini ia tinggal bersama Jura di rumah lama ibunya. Sherin sudah mulai bersiap untuk melupakan Ralvin karena hari ini adalah hari pernikahan Ralvin dan Jessika. Itu berarti Ralvin akan menjadi suami Jessika dan jadi milik Jessika selamanya.


Pukul 9.30, semua tamu undangan sudah berkumpul di dalam hotel tempat resepsi pernikahan Ralvin dan Jessika akan dilangsungkan. Ayah Jessika selaku wali nikah sudah menunggu di tempat ijab kabul, sedangkan Jessika dan Ralvin masih berada di ruang rias masing-masing.


Jessika ditemani ibunya sedangkan Ralvin di temani Calvin. Ralvin terlihat gelisah. Bahkan saat ijab kabulnya akan dimulai lima menit lagi, Ralvin masih belum mengenakan jas dan dasinya.


"Ral, lima menit lagi pernikahannya mau di mulai." Calvin mengingatkan.


Ralvin tidak menjawab, ia masih melamun di depan kaca.


Calvin mendekati Ralvin lalu menepuk bahunya dari belakang. "Hei, kamu harus jadi laki-laki gentleman, gak boleh ngingkarin janjimu."


Ralvin menoleh pada kakaknya. "Tapi aku gak cinta lagi sama Jessika. Aku mencintai Sherin, dan Sherin juga mencintai aku. Aku sama Sherin sama-sama saling cinta. Aku bakal membuat Jessika sakit hati kalau aku tetap nikahin dia tapi aku gak cinta sama dia."


Calvin menggeleng dan tersenyum. "Yang penting kamu harus tepatin janji kamu dulu."


Ralvin menunduk. Sungguh ia menyesali pernah berjanji pada orangtua Jessika. Jika saja dulu ia tidak asal mengucapkan janji, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


"Kakak pergi lihat pengantin wanita dulu ya." Sekali lagi Calvin menepuk bahu Ralvin lalu berlalu pergi.


Ralvin menarik nafas panjang. Ia memakai jas dan dasinya, lalu berjalan ke depan cermin. Ia merapikan rambutnya dan menatap bayangan diri dari cermin.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di rumah Yani yang kini sudah menjadi milik Jura, Sherin sedang menyapu halaman. Dari dalam rumah keluar Jura yang sudah berpakaian rapi. Ia menghampiri Sherin terlebih dahulu sebelum pergi.


"Rin, kakak pergi ke kantor Sinar Bintang dulu ya," kata Jura.


Sherin berhenti menyapu dan tersenyum pada kakaknya. "Iya, Kak. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa makan."


Jura membalas senyuman adiknya. "Tenang aja. Oh ya, nanti kakak lembur sampai malem. Mungkin kakak bakal nginep di kantor. Kamu gak apa-apa kan ditinggal di rumah sendirian?" tanya Jura.


"Iya, Kak." Sherin mengangguk.


"Maafin kakak ya. Mulai hari ini mungkin kakak gak bisa banyak ngeluangin waktu untuk kamu, mulai sekarang kakak harus ngurus kantor cabang nenek," kata Jura.

__ADS_1


Sherin mengangguk lagi. "Iya, Kak, Sherin paham."


Setelah berpamitan Jura meninggalkan rumah menggunakan mobilnya. Dari mana Jura mendapatkan mobil? Ya tentu saja neneknya yang memberikan fasilitas itu untuk Jura agar Jura lebih mudah pergi ke kantor. Jura juga sudah berhenti bekerja di kantor Citra Jaya karena ia harus mulai fokus pada perusahaan Sinar Bintang, perusahaan peninggalan kakeknya.


Begitu Jura menghilang dari pandangan, Sherin menghela nafas panjang. Sebenarnya sedari tadi ia ingin menangis, namun ia tahan agar kakaknya tidak melihat kesedihannya.


Bagaimana tidak sedih, ia sangat ingat bahwa hari ini adalah hari pernikahan Ralvin dan Jessika. Pria yang ia cintai akan menikah dengan wanita lain.


"Gak Sherin, kamu gak boleh nangis. Semua ini adalah takdir. Takdir kamu gak bersama Ralvin."


Sambil mengusap air matanya, ia meletakan sapu dan masuk ke dalam rumah. Ia berlari kecil agar tak terlihat oleh tetangganya.


Sesampainya di kamar, Sherin langsung menghempaskan diri ke atas tempat tidur dan menangis sesegukan. Hatinya sakit menerima kenyataan pahit ini.


"Kalau harus berpisah begini, kenapa aku harus mencintainya?" Sherin memejamkan mata sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


* * * *


"Mah! Mah! Mamah!" Calvin berteriak dari ruang rias menuju kamar hotel yang di sewa ayah dan ibunya.


"Ada apa, Vin?" tanya Braham.


Calvin mengatur nafas karena habis berjalan setengah berlari. Setelah nafasnya mulai teratur, Calvin pun menjawab. "Mah, Pah, itu. A-a-anu, Ralvin, si Ralvin."


"Ralvin apa? Kenapa?" tanya Winda tidak sabar.


"Iya, Vin. Coba ngomong yang jelas, santai aja." Braham tahu bahwa Calvin sulit mengucapkan apa yang ingin ia katakan karena tidak tenang.


"Itu Mah, Pah. Ralvin gak ada di kamarnya. Ralvin ... kabur."


"Apa!" Winda terpekik kaget. "Kamu bohong, kan?" Winda melototi Calvin.


"Ya ampun, Mah. Ngapain aku bohong." Calvin membela dirinya.

__ADS_1


Braham menarik nafas dalam. "Kamu yakin Ralvin kabur? Mungkin dia lagi pergi ke toilet atau ke mana gitu."


Calvin menggeleng. "Aku udah cari dia ke mana-mana, dan aku tadi ke ruang rias lagi. Hp, dompet, dan kunci mobilnya gak ada, berarti dia kabur, kan?"


Winda menatap suaminya. "Mas, ini gimana? Masa dia kabur? Terus mau taro di mana muka kita di hadapan orangtuanya Jessika nanti? Pasti keluarga kita dan Jessika akan malu banget. Tamu undangan udah pada dateng."


Braham menghela nafas. Ia sendiri bingung harus berbuat apa. Cara satu-satunya adalah menunda pernikahan sampai Ralvin kembali. Sedangkan mereka tetap harus mencari Ralvin.


"Vin, kamu beritahu WO untuk menjamu semua tamu, mungkin ijab kabul dan resepsinya bakal ditunda beberapa jam, biar mamah sama papah yang ngomongin ini ke orang tua Jessika. Setelah itu kamu ajak Viola untuk ikut kita cari Ralvin."


Calvin mengangguk, ia langsung bergegas menemui WO, sedangkan ayah dan ibunya langsung menuju kamar Jessika.


* * * *


Hari sudah malam, dan hari juga mendung. Sentuhan dinginnya angin menyapa kulit Sherin yang akan menutup jendela kamar. Rintik hujan mulai turun membasahi semua yang ada di kolong langit.


Setelah menutup jendela, Sherin berjalan menuju dapur karena merasa haus. Namun belum sempat ia masuk ke dalam dapur, ia mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"Apa kak Jura udah pulang? Katanya nginep?"


Sherin berjalan cepat menuju pintu luar. Ia khawatir Jura akan menunggu lama di teras sedangkan hujan turun semakin deras disertai angin.


Begitu Sherin membukakan pintu, matanya membulat sempurna. Pria yang ia cintai dan ia rindukan berdiri di depan pintu dengan badan yang basah kuyup.


"Ralvin?" Sherin tidak percaya, seharusnya sekarang Ralvin bersama dengan Jessika karena ini malam pertama mereka.


"Rin." Tanpa mempedulikan badannya yang basah kuyup karena air hujan, Ralvin memeluk Sherin dengan erat.


"Aku kangen, aku cinta kamu. Aku gak bisa nikahin perempuan alain selain kamu, Sherin."


Sherin diam membeku di tempat. Bahkan untuk membalas pelukan pria yang ia cintai saja rasanya sangat kaku.


"Ral, kamu kabur dari pernikahan?" tanya Sherin ragu.

__ADS_1


Ralvin mengangguk. "Karena aku cuma mencintaimu," jawab Ralvin masih memeluk Sherin.


__ADS_2