(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Penyesalan Jura


__ADS_3

Ralvin menyusul Sherin keluar. Entah secepat apa gadis itu melangkah, Ralvin sampai tidak melihat Sherin di balkon lantai dua. Ralvin berlari menuruni tangga. Ia mencari Sherin di lantai dasar lalu lanjut keluar rumah. Ralvin bingung harus mencari Sherin kemana. Gadis itu sudah tidak terlihat hanya dalam beberapa detik.


Di kamar lantai dua. Calvin dan Braham memilih untuk meninggalkan Jura sendirian. Mereka tahu saat ini Jura sedang shock dan tidak bisa mengendalikan emosi. Maka dari itu mereka memberikan waktu agar Jura dapat berpikir jernih.


Calvin dan Braham menghampiri Ralvin yang sedang mondar-mandir di halaman rumah itu.


"Ke mana Sherin?" tanya Braham.


Ralvin menoleh pada ayahnya yang berdiri di belakang, "Gak tau Pah. Dia jalan cepet banget. Ralvin kehilangan jejak." jawab Ralvin.


"Ya udah kamu cari Sherin sana. Biar papah yang jaga Jura." perintah Braham.


Ralvin mengangguk. Ia langsung melangkah menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Calvin meminta izin pada Braham untuk menemani Ralvin. Setelah itu, kakak beradik itu melesat meninggalkan halaman luas.


* * * *


Sherin berjalan cepat di jalan sempit. Setelah keluar dari rumah itu, Sherin berlari ke belakang rumah. Ia memilih pergi lewat jalan belakang karena ia tidak ingin diganggu siapapun. Sherin yakin Ralvin akan mengejarnya. Maka dari itu ia pergi lewat belakang.


Hati Sherin sakit. Bagaimana tidak, pertama ia sedih ketika tahu bahwa Wisnu dan Yani bukanlah orang tua kandungnya. Kedua ia harus merelakan kepergian Wisnu dari dunia ini. Dan yang terakhir, Jura mengatakan kata-kata yang sangat menyakitkan. Sherin tidak pernah membayangkan Jura akan mengatakan itu.


"Kakak, kenapa Kakak jadi begini? Kakak tau kan, kalau Sherin gak punya siapa-siapa selain Kakak. Kalau Kakak gak mau jadi Kakak Sherin lagi, terus Sherin harus hidup sama siapa? Sama siapa Sherin membanggakan kesuksesan Sherin nanti?".


Sherin menangis sepanjang langkah kakinya. Ia berpikir kenapa hidupnya seperti sebuah drama. Ya, ia tahu ada istilah dunia ini panggung sandiwara. Tapi Sherin sama sekali tidak sanggup harus memerankan peran yang sulit seperti sekarang.


"Kalau Kakak udah gak pengen Sherin hidup sama Kakak. Sherin gak mau hidup lagi. Sherin gak mau hidup sendirian, Sherin gak sanggup." kata Sherin sambil menangis tersedu-sedu.


Dadanya terasa sakit dan lelah karena sedari tadi terus sesegukan. Baru kali ini Sherin menangis seperti anak kecil. Tiba-tiba kepalanya sangat sakit dan pusing. Ia memegangi kepalanya dengan kuat berharap sakit itu akan sedikit berkurang. Tapi sayangnya sakit itu bertambah parah.


Anak kecil terlempar jauh ke aspal. Kepalanya sudah berlumuran darah. Mobil yang menabraknya langsung melarikan diri. Anak kecil itu tidak menangis. Mungkin saat itu ia belum merasakan sakit.


"Sial!! Cepat tolong anak kecil itu." kata pria yang memakai jas.

__ADS_1


Dua orang pria berkulit putih dan hitam tertatih-tatih untuk melangkah. Mereka masih merasakan sakit di antara kedua belah pahanya.


Anak kecil itu membuka mata. Ia melihat para penjahat yang tadi menyandera nya sedang berjalan semakin dekat. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, anak kecil pemberani itu berusaha bangun. Ia berhasil berdiri dan berjalan terhuyung-huyung. Pandangannya mulai kabur.


Anak kecil itu tidak ingin tertangkap lagi. Ia berjalan menjauh dari pria jahat yang berada di belakangnya.


"Hei, jangan lari!" teriak salah satu dari mereka.


"Dasar payah. Menangkap anak kecil saja kalian tidak bisa." kata pria berjas hitam lalu berlari mengejar anak kecil yang berusaha melarikan diri.


Anak kecil itu terus berjalan. Ia tidak peduli sudah seberapa dekat orang itu mengejarnya. Yang terping adalah ia sudah melakukan yang terbaik. Ia melihat ke sebelah kanan, di sana ada sungai yang mengalir deras.Tepat pada saat itu, pria berjas telah memegangi kedua tangannya.


"Mau ke mana kau anak kecil? Merepotkan sekali.".


Anak kecil itu memberontak. Ia mengigit tangan pria itu dengan keras. Karena begitu sakit, pria itu tidak sadar mendorong anak kecil itu.


Tubuh mungil yang penuh darah terjun bebas di udara menuju sungai yang mengalir deras dan penuh bebatuan. Pria itu membelalakkan matanya dan berusaha meraih tubuh mungil itu. Tapi sayang, semua sudah terlambat.


Pada saat yang bersamaan, tubuh Sherin jatuh ke tanah.


Tak lama kemudian, langkah kaki orang yang berlari menghampirinya.


"Sherin?".


* * * *


Jura masih berbaring di atas tempat tidurnya. Hari sudah gelap sempurna, tapi Ralvin dan Calvin belum juga kembali. Braham yang menunggu Jura di dalam kamar sibuk mondar-mandir. Ia cemas pada gadis yang sedang dekat dengan putranya itu. Tak lama kemudian, Ralvin dan Calvin masuk ke dalam kamar, tapi tanpa Sherin.


"Loh, Sherin mana?" tanya Braham yang sudah berhenti mondar-mandir.


"Kami gak nemuin Sherin di manapun. Tadi Kak Calvin udah nyari Sherin sampe ke Jakarta Barat, tapi hasilnya nihil." jawab Ralvin.

__ADS_1


Jura yang mendengar pembicaraan itu mulai memikirkan Sherin. Setelah dipikir-pikir, seharusnya ia tidak menyalahkan Sherin atas semua yang terjadi. Adiknya itu sudah menderita sejak kecil. Dan ia juga pasti sama terpukulnya ketika Wisnu tiada. Jura merasa bersalah. Ia sudah sangat menyakiti hati adiknya itu.


Jura bangkit dari tidurnya. Dengan badan yang masih sangat lemah, ia membuka semua peralatan medis yang melekat pada tubuhnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Braham.


"Cari Sherin. Saya sudah sangat keterlaluan tadi." kata Jura yang sedang bersusah-payah untuk berdiri.


"Ra, mending kamu istirahat. Ini udah malam. Aku yang bakal cari dia." kata Ralvin sambil mendudukkan Jura kembali.


"Enggak Ra. Aku yang harus cari dia. Dia pasti sedih dan terpukul gara-gara ucapan aku tadi. Aku belum pernah sekasar itu sama dia. Dia gak punya siapa-siapa lagi selain aku. Biarin aku cari dia." kata Jura yang kembali berdiri.


"Ok kalau kamu tetap pengen cari Sherin. Tapi kamu harus aku temenin." kata Ralvin.


Jura setuju, ia pun berjalan keluar dengan bantuan Ralvin.


Ralvin dan Jura terus mencari sosok Sherin. Mata kedua orang itu terlihat sangat khawatir. Terutama Jura, ia marasa sangat bersalah dan ia sangat menyesal. Jika waktu bisa diulang, maka Jura akan memeluk Sherin ketika mendengar berita kematian ayahnya.


"Ral, aku bener-bener gak tau harus gimana. Pasti Sherin lagi nangis sekarang. Aku ini bodoh banget, harusnya aku gak ngomong gitu." kata Jura yang sedari tadi menyalahkan dirinya sendiri.


"Udahlah Ra, jangan nyalahin diri kamu sendiri. Semuanya udah terlanjur dan sekarang kita harus fokus nyari Sherin." kata Ralvin yang terus fokus menyetir dan mencari Sherin.


"Tapi gimana kalau orang jahat itu nyulik Sherin...".


"Stop Ra, jangan ngomong tentang hal-hal buruk." potong Ralvin.


Mereka melanjutkan pencarian Sherin. Namun sampai jam 4.00 pagi pun, mereka masih belum menemukan keberadaan Sherin. Jangankan keberadaan nya, saat bertanya pada beberapa orang, mereka sama sekali tidak melihat ada seorang gadis yang seperti Jura ilustrasi kan lewat jalan itu.


"Kita pulang dulu aja Ra. Aku rasa kita harus minta bantuan orangnya Kak Calvin." kata Ralvin.


Jura pun setuju. Mereka tidak mungkin menemukan Sherin hanya dengan bermodalkan bertanya pada masyarakat setempat.

__ADS_1


__ADS_2