(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Khilaf


__ADS_3

Sherin diam membeku di tempat. Bahkan untuk membalas pelukan pria yang ia cintai saja rasanya sangat kaku. "Ral, kamu kabur dari pernikahan?" tanya Sherin ragu.


Ralvin mengangguk. "Karena aku cuma mencintaimu," jawab Ralvin masih memeluk Sherin.


Sherin sadar bahwa seluruh pakaian Ralvin basah kuyup. Ia melepaskan pelukan Ralvin. "Baju kamu basah kuyup. Ayo ganti baju dulu. Nanti kamu masuk angin. Mungkin baju kak Jura bakal cukup kalau kamu pakai."


Sherin membawa Ralvin masuk lalu menutup pintu. Ralvin hanya mengikuti Sherin tanpa berbicara lagi. Sherin masuk ke dalam kamar Jura, ia mencari baju yang kira-kira pas untuk Ralvin. Setelah menemukannya, ia segera ke ruang tamu.


"Aku siapin air hangat dulu. Kamu tunggu di sini ya."


Lagi-lagi Ralvin tidak menjawab, ia hanya menatap Sherin dan menatap Sherin yang berjalan menuju dapur untuk ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Sherin kembali ke ruang tamu. "Air hangatnya udah siap. Aku ambilkan handuk dulu ya."


Sherin masuk ke dalam kamarnya. Ia berjalan menuju lemari untuk mencari handuk baru. Setelah menemukan handuk yang ia cari, ia segera menutup pintu. Namun saat berbalik badan ia sangat terkejut dengan kehadiran Ralvin di belakangnya.


"Eh, kamu ngagetin aku." Sherin menarik nafas untuk menenangkan diri setelah terkejut tadi.


Ralvin tidak menanggapi ucapan Sherin tadi. "Kamu mencintaiku, kan?" tanya Ralvin tiba-tiba.


Sherin termangu, ia tidak bisa berbicara apapun. Hatinya langsung mengatakan 'ya', tapi mulutny terkunci.


"Jawab," desak Ralvin.


Sherin masih diam. Ia hanya bisa menatap mata Ralvin yang sedang menanti jawaban dari nya.


"Sherin, tolong jawab. Aku gak mau memperjuangkannya cinta yang bertepuk sebelah tangan," desak Ralvin lagi.


"Bukannya kamu udah tau isi hatiku?" Sherin malah melempar balik pertanyaan lagi.


"Aku pengen denger sekali lagi," kata Ralvin.


Sherin menelan ludahnya dengan kasar. Sulit sekali mengatakan cinta pada Ralvin. "Ya. Aku mencintaimu." Akhirnya Sherin bisa mengucapkan kalimat itu.


Ralvin langsung memeluk Sherin dengan erat. "Jangan tinggalkan aku."

__ADS_1


Sherin bisa merasakan ada sebuah air yang jatuh ke bahunya. Ja tahu Ralvin sedang menangis. Sherin pun membalas pelukan Ralvin. "Aku gak akan ninggalin kamu."


Ralvin melepaskan pelukannya. Ia manatap mata Sherin dengan lekat. Tanpa aba-aba Ralvin langsung mencium Sherin. Sherin yang juga mencintai Ralvin dan merindukan pria itu, ia tidak menolak sama sekali.


Entah bagaimana mulanya, mereka terhanyut dalam perasaan mereka. Ralvin membawa Sherin ke tempat tidur. Semuanya terjadi tanpa mereka sadari sudah melewati batas. Malam itu tidak ada saksi yang bisa menceritakan apa yang sudah terjadi.


* * * *


Cahaya matahari membangunkan Sherin yang tertidur pulas. Ia merasakan ada sesuatu yang berat melingkar perutnya. Saat ia berbalik ia sangat terkejut.


"Aaa!" Sherin terkejut dan menarik selimut untuk menutupi dirinya.


Mendengar teriakan, Ralvin membuka matanya. Sama seperti Sherin yang terkejut, Ralvin juga terkejut. Ia bangun dan melihat ke sekeliling.


"Ral, apa yang ...." Sherin tidak mampu meneruskan ucapannya karena air matanya sudah jatuh terlebih dahulu dan isak tangisnya memenuhi kamar itu.


Ralvin mengusap wajahnya kasar. Ia menyesal karena sudah menghancurkan Sherin. "Ma-maaf." Hanya kata itu yang bisa Ralvin ucapkan pertama kali.


Sherin menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


Saat Sherin mulai tenang, seseorang mengetuk pintu. 'Tok, tok, tok'.


"Rin, bangun. Kamu udah bangun belum? Kok pintu depan gak kamu kunci?" Jura memanggil dari luar kamar.


Sherin langsung membulatkan matanya dan menjauhkan diri dari Ralvin. Ia terlihat panik dan ketakutan.


"Kamu tenang, jangan khawatir. Aku bakal tanggung jawab. Aku akan hadapin Jura." Ralvin mengambil celananya yang sudah kering. Setelah memakainya ia berjalan menuju pintu.


Sebelum membuka pintu Ralvin menarik nafas terlebih dahulu. Ia sudah menyiapkan diri untuk berhadapan dengan Jura. Saat pintu ia buka, ia langsung menunduk.


"Sher--" Ucapan Jura terpotong ketika melihat orang yang membuka pintu kamar bukan adiknya, tapi seorang pria.


Melihat Ralvin hanya memakai celana, jantung Jura sudah melonjak ingin keluar dari dadanya. Ditambah lagi dengan Ralvin yang terus menunduk.


"Ra-ral-ralvin, apa yang kamu ... mana Sherin?" Mata Jura sudah mulai memerah.

__ADS_1


Ralvin menelan ludah. "Dia ada di dalam," jawab Ralvin masih menunduk.


"Apa kamu--"


"Maafin aku, aku khilaf."


'Bukk!' Satu pukulan keras mendarat di wajah Ralvin hingga membuat Ralvin tersungkur ke belakang.


"Beraninya kamu! Kamu laki-laki ...." Lagi-lagi Jura tidak dapat meneruskan ucapannya ketika melihat Sherin menutup diri dengan selimut. Air mata bisa Jura lihat dari mata Sherin. Jura tidak sanggup untuk melihat Sherin, ia menarik Ralvin keluar dari kamar dan menutup pintu.


Ralvin menunduk tapi Jura membuatnya untuk menatap ke depan. "Beraninya kamu merenggut kesucian Sherin."


Lagi-lagi Jura mendaratkan sebuah pukulan pada Ralvin. Kali ini tepat di perutnya dan kali ini tidak hanya sekali, ia meninju Ralvin berkali-kali.


Ralvin tidak melawan. Ia hanya meringis kesakitan sambil terus menunduk. Sungguh ia tidak berani menatap mata kakak dari gadis yang sudah ia nodai. Ia merasa sudah menjadi pria paling brengs*k dan paling bajing*n di dunia ini.


Pukulan terakhir mendarat di wajah Ralvin. Karena begitu kuat, Ralvin sampai merasa pusing dan tersungkur ke belakang. Darah sudan mengalir dari sudut bibirnya dan juga dari mulutnya. Ralvin sudah babak belur.


Walaupun sudah babak belur dan kakinya sudah sangat lemas, tapi Ralvin masih berusaha berdiri tegap. Ia masih menantikan Jura menghajarnya. Ia merasa masih pantas menerima pukulan Jura lagi.


Saat Jura akan melayangkan tinjunya, ia menghentikan gerakannya ketika seseorang memegang kedua kakinya.


"Sherin mohon jangan, Kak." Sherin menangis tersedu-sedu. "Jangan pukul Ralvin lagi. Bukan cuma Ralvin aja yang salah, Sherin juga salah, Kak. Kalau Sherin melawan, mungkin ini gak akan terjadi."


Karena amarah sudah menguasai Jura, ia manarik Sherin berdiri. Ia melayangkan sebuah pukulan untuk Sherin, namun Ralvin melindungi Sherin hingga ia yang terpukul. Karena sudah sangat lemas, akhirnya Ralvin tersungkur dan jatuh tak sadarkan diri.


"Ralvin!" Sherin meraih Ralvin dan memeluk badan Ralvin. "Ralvin, bangun."


Melihat Ralvin pingsan, Jura tersadar dari amarahnya. Ia langsung berjongkok untuk memeriksa Ralvin. "Kita bawa dia ke rumah sakit. Kamu buka mobil Kakak," perintah Jura.


"Ya Tuhan, apa yang udah aku lakukan. Aku kalap, bisa-bisa aku membunuh dia kalau gak tersadar," kata Jura sebelum mengangkat tubuh Ralvin.


Jura membawa Ralvin masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil sudah ada Sherin yang siap menerima Ralvin. Setelah Ralvin dimasukkan ke dalam mobil, Jura masuk ke bagian pengemudi. Tak lama kemudian mobil milik Jura melesat meninggalkan rumahnya.


Tak jauh dari sana ada pria yang memakai pakaian serba hitam yang mengamati mereka. Setelah mobil Jura tak terlihat, ia juga pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2