(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Marah


__ADS_3

"Ralvin, kok kamu kayak gak seneng sih aku datang," kata Jessika yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar Ralvin.


Jessika memeluk tubuh Ralvin yang sedang berbaring di kasur. Ralvin membulatkan matanya dan melepaskan tangan Jessika dari pinggangnya.


"Kamu apa-apaan sih?" kata Ralvin. Entah mengapa ia merasa risih dengan sikap Jessika.


Tak sengaja Sherin melewati pintu kamar Ralvin. Sebuah pemandangan yang membuat mata dan hatinya muak. Geli sekali ia melihat Ralvin dan Jessika sedang bermesraan seperti itu. Sherin meneruskan langkahnya ke lantai bawah.


"Kamu ini kenapa sih sayang? Kamu gak suka ya aku pulang ke Indonesia? Sejak aku di Indonesia kamu sama sekali gak ngunjungin aku atau nelepon aku, kenapa?" tanya Jessika.


Ralvin menarik nafas panjang lalu bangun dan duduk. Ia ingin sekali marah pada Jessika, tapi itu tidak mungkin karena Jessika memang tidak ada salah. Perasaannya lah yang salah. Mengapa rasa cintanya pada Jessika harus hilang begitu saja.


"Jawab," kata Jessika sambil memonyongkan bibirnya.


"Aku bilang sama kamu untuk berhenti jadi model. Kamu tau kan aku gak suka kamu jadi model?" kata Ralvin.


"Kalau model di Indonesia mungkin gak terlalu jadi masalah karena pakainya cukup layak. Ini model majalah di Amerika. Kalau kamu masih pengen aku peduli sama kamu, kamu berhenti dari dunia modeling," kata Ralvin tegas.


Jessika berdiri dan menatap Ralvin lurus. "Permintaan macam apa itu? Kamu tau kan kalau fashion itu sebagian dari hidup aku. Aku gak bisa," kata Jessika.


"Ya udah berarti kita gak harus lanjutin hubungan ini. Kita udah gak cocok," kata Ralvin.


Tiba-tiba Jessika menangis. Air matanya mengalir deras.


"Kenapa kamu berubah? Padahal pas aku lagi mempertahankan nyawa, kamu selalu ada di samping ku. Setiap aku terapi kamu selalu nemenin aku dengan penuh cinta. Kamu jahat, kamu udah gak sayang sama aku."


Ralvin yang melihat Jessika menangis menjadi iba. Ia menarik Jessika lalu memeluknya dalam pelukan hangatnya. Ia membelai kepala Jessika agar gadis itu tenang.


"Syutt...jangan nangis lagi. Maafin aku, aku gak bermaksud untuk ngomong gitu. Aku cuma lagi banyak masalah."


Jessika masih saja menangis. Ia memeluk erat Ralvin.


"Kamu lapar? Atau mau sesuatu?" tanya Ralvin lembut.


"Aku lapar," jawab Jessika manja.


"Ya udah, ayo kita turun ke bawah. Tadi makanannya belum dimakan," kata Ralvin.


Ralvin berdiri lalu menarik tangan Jessika untuk ikut bersamanya. Mereka berjalan dengan sangat romantis menuju lantai bawah.


"Itu Aden udah turun," kata Imas yang sedang menemani Sherin makan.


Mata Sherin beralih ke arah yang Imas tunjuk. Entah mengapa hatinya mencelos ketika melihat Ralvin mengandeng tunangannya itu.

__ADS_1


"Sherin, kamu udah makan duluan. Kok kamu gak ngajak -ngajak aku?" kata Ralvin.


Sherin tersenyum. "Aku gak mau ganggu kalian," jawab Sherin.


Ralvin menarik satu kursi untuk Jessika lalu mempersilahkan gadis itu untuk duduk. Begitulah kebiasaan Ralvin. Dia selalu memanjakan dan melindungi Jessika dari apapun.


"Kamu jangan jauh-jauh duduknya," kata Jessika yang menahan tangan Ralvin.


"Iya," jawab Ralvin sambil tersenyum.


Sherin dan Imas melanjutkan makannya, sedangkan Ralvin dan Jessika baru mulai makan. Selama makan Sherin tidak berbicara satu patah katapun. Ia hanya fokus menatap piringnya dan mengunyah makanan.


Di depan Sherin ada pemandangan yang membuat dirinya merasa ingin cepat-cepat pergi dari sana. Jessika meminta Ralvin menyuapinya, dan Ralvin memenuhi permintaan Jessika.


"Makan yang banyak ya," kata Ralvin saat menyodorkan sesuap nasi pada Jessika.


"Sayang, Stevani katanya pengen ketemu Daniel loh." Jessika mulai membuka topik pembicaraan.


"Oh ya, Vani teman sekelas kita itu? Udah lama banget aku gak ketemu sama dia. Dia dulu gendut banget. Apa sekarang dia masih gendut?" kata Ralvin menanggapi.


"Sekarang dia udah langsing. Dia kan udah jadi peraga busana muslim," jawab Jessika.


"Hahaha dulu dia itu tomboy. Aku aja sampe takut kalau ketemu sama dia," kata Ralvin sambil tertawa.


Ralvin dan Jessika sangat asik bercerita tentang masa kuliahnya dulu. Mereka sampai lupa ada Sherin di hadapan mereka.


Setelah selesai makan, Sherin membawa piring kotornya lalu mencucinya. Ia tidak menyapa Ralvin ataupun Jessika karena tidak ingin mengganggu pasangan kekasih itu.


Saat Sherin melewati Ralvin, barulah Ralvin sadar sedari tadi ada Sherin di meja makan.


"Kamu udah selesai makan?" tanya Ralvin yang melihat Sherin melenggang pergi.


Sherin berbalik untuk melihat orang yang bertanya. "Udah. Aku naik ke atas dulu ya," kata Sherin.


Ralvin merasa tidak enak pada Sherin. Ia sudah membuat Sherin seperti obat nyamuk. Sama sekali tidak mengajak gadis itu berbicara ketika makan.


Setelah Sherin pergi, Jessika merapatkan bangkunya pada Ralvin.


"Memangnya keluarga dia ke mana sih? Kok malah tinggal satu rumah sama kamu? Apa dia gelandangan?" tanya Jessika.


"Huss, kamu ini ngomong apa sih? Aku gak bisa jelasin soal dia ke kamu," kata Ralvin.


"Ok. Hmm suapin lagi," kata Jessika dengan manja.

__ADS_1


Imas yang sedang makan serasa ingin muntah melihat tingkah manja dari calon istri majikannya.


* * * *


Di dalam kamar, Sherin melamun. Ia memandangi kota Jakarta dari jendela kamarnya. Ia berpikir tidak seharusnya ia tinggal di rumah Ralvin. Ia merasa tidak enak pada Jessika. Jessika sudah jelas calon istri Ralvin, sedangkan dirinya hanya sebatas asisten pribadi di perusahaan dan juga teman biasa.


"Rin, kamu lagi ngapain?" Suara Ralvin menyapa dari arah pintu. Sherin menoleh pada sumber suara.


"Gak lagi ngapa-ngapain. Jessika mana?" tanya Sherin.


"Dia lagi tidur siang di kamarku," jawab Ralvin.


Ralvin duduk di tepi ranjang Sherin. Sherin kembali memalingkan pandangan pada luar jendela.


"Kamu marah?" tanya Ralvin.


Sherin tidak menjawab.


"Aku tahu kamu marah karena aku gak pernah cerita tentang tunangan aku. Aku juga udah sering deketin kamu bahkan nyiu--"


"Udahlah gak usah dibahas. Anggap aja yang waktu itu gak pernah terjadi," kata Sherin memotong tanpa menatap Ralvin.


Ralvin berdiri lalu berjalan menghampiri Sherin yang berdiri di depan jendela.


"Please jangan marah," kata Ralvin yang kini sudah berhadapan dengan Sherin.


"Aku gak tau ada berapa banyak lagi yang kamu tutupin dari aku. Dan aku juga gak tau kenapa kamu harus nutupin itu," kata Sherin.


Ralvin menarik nafas panjang, ia tahu ia salah. Dan sekarang Sherin pasti sedang marah padanya.


"Apa yang bisa aku lakuin supaya kamu gak marah sama aku?" tanya Ralvin.


Sherin diam saja, ia tidak menjawab pertanyaan Ralvin. Ralvin menatap mata Sherin. Ia menarik tangan Sherin untuk duduk di sofa. Ia duduk berhadapan dengan Sherin.


"Jangan kayak gini. Aku merasa bersalah banget. Sekarang di Jakarta kamu gak punya siapa-siapa. Jura lagi di Bali. Kalau bukan aku yang ngurus kamu, siapa lagi?" kata Ralvin.


"Aku gak butuh diurus sama kamu. Kamu pikir hidupku bergantung sama kamu?" kata Sherin. Sepertinya ia semakin salah paham.


"Bukan itu maksudku. Maksudnya, kalau aku gak bisa buat kamu nyaman di sini, aku merasa bersalah banget. Jura nitipin kamu sama aku. Aku gak mau kamu gak nyaman tinggal di sini," kata Ralvin.


"Entahlah." Sherin berdiri.


Saat akan berjalan, Ralvin menarik tangannya hingga Sherin jatuh ke dalam pelukan Ralvin.

__ADS_1


__ADS_2