(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Kontrakan Sherin


__ADS_3

Calvin bangun dari lantai. Walau sakit dan kesal ketika Sherin mendorong secara tiba-tiba, tapi Calvin masih tersenyum. Ia merasa senang karena dengan bisikannya tadi bisa membuat Sherin langsung terbangun dari tidurnya.


"Udah cepet makan sop ini. Nanti baru Abang beliin bubur di pinggir jalan depan sana" kata Calvin sambil menunjuk semangkuk sup di atas meja.


"Abang sama Kak Jura kapan datang ke sini?".


"Dari jaman Fir'aun" jawab Calvin asal.


"Selama itu ya Sherin tidur?" tanya Sherin lagi.


"Kakak gak tau, tapi pas kakak sama Calvin sampe sini, kamu udah tidur" jawab Jura lembut.


"Nanti kalau udah makan langsung minum obat ya, biar panasnya turun" kata Jura lagi.


Sherin meraih mangkuk sup lalu menyendokan sup itu ke dalam mulutnya. Sherin merasakan lidahnya merasakan sesuatu yang bisa mambuatnya melayang bahagia. Rasa sup itu luar biasa enak. Apakah Calvin yang memasaknya? Tidak mungkin, pasti Calvin hanya memesannya saja. Begitu pikir Sherin selama memakan sup.


"Bang, ini bang Calvin yang masak?" jiwa penasaran Sherin memang tidak pernah bisa ditahan.


"Bukan" jawab Calvin santai.


"Oh, pantes aja enak" kata Sherin tidak kalah santai.


"Memangnya kenapa kalau saya yang masak?" tanya Calvin.


"Kalau Abang yang masak, pasti rasa sop ini bakalan asem" jawab Sherin sambil menyeruput kuah sup.


"Lah kenapa asem?" tanya Jura yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan adiknya dengan Calvin.


"Karena kena keringet ketek, Bang Calvin kan pasti keringetan abis narik bajaj" jawab Sherin santai.


Jura tertawa terbahak-bahak, sedangkan Calvin membelalakkan matanya. Ternyata Sherin adalah gadis yang asal ceplos.


"Enak aja, gak mungkinlah. Lagian narik bajaj itu kan cuma nginjek pedal gas, bukan ditarik pake ketek" gerutu Calvin.


Sherin tertawa karena baru kali ini ia berhasil membuat Calvin kesal. Ternyata raut wajah Calvin dan Ralvin sangat mirip, apalagi bila sedang kesal seperti saat ini.


Sherin sudah menghabiskan sup yang diberikan oleh Calvin. Kini ia sedang meminum obat. Setelah minum obat, Sherin menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Kak, kata mamah apa? Apa mamah ada ngomong?" tanya Sherin.


"Gini Sherin, tadi kakak ngambil baju kamu ke rumah secara diam-diam. Kakak sengaja pengen buat mamah khawatir sama kamu terus nyuruh kakak buat nyari kamu. Nah jadi pas kamu pulang ke rumah pasti mamah gak akan marah sama kamu lagi" jawab Jura menjelaskan.


"Tapi Kak, Sherin gak yakin mamah bakalan kayak gitu. Soalnya yang Sherin tau, mamah memang gak pernah peduli sama Sherin" raut wajah Sherin berubah sedih.

__ADS_1


Calvin menatap wajah Sherin yang sedang bersedih itu. Ia tidak tahu sudah berapa lama gadis itu mengalami penderitaan. Yang selama ini ia tahu adalah Sherin yang ceria ketika bersama temannya, dan selalu marah-marah setiap bertemu dengan dirinya.


"Udahlah, gak perlu dibahas lagi. Sekarang mending kita lihat kontrakan sebelah" kata Calvin mencairkan suasana agar Sherin tidak semakin terlarut dalam kesedihan.


"Eh iya, ayo" ajak Jura yang langsung berdiri.


* * * *


Sherin, Calvin dan Jura masuk ke dalam kontrakan kosong. Di sana tidak ada perabotan lain selain kursi kayu yang berjajar di ruang tamu. Sherin mencari ruang kamar, dan dilihatnya hanya ada lemari kosong. Sherin pindah ke dapur dan di sana juga hanya ada wastafel dan meja makan. Sherin pindah lagi ke kamar mandi, dan di sana juga kosong.


"Bang, kontrakan ini kosong banget." kata Sherin pada Calvin yang sedang duduk di ruang tamu.


"Ya namanya juga kontrakan. Kalau mau yang lengkap barangnya, sewa aja tuh villa." jawab Calvin santai.


Sherin telah berdiri di ambang pintu antara ruang tamu dan ruang tengah yang kecil. Tangannya meminta koper baju yang dibawa oleh Jura. Jura mendorong pelan koper itu hingga koper itu berjalan sendiri ke arah Sherin.


Sherin berjalan menuju kamar sambil menarik koper yang berisi pakaian. Dengan cepat ia menyusun seluruh pakaian di dalam lemari. Setelah selesai ia kembali ke ruang tamu lagi.


"Terus saya harus tidur di lantai Bang?" tanya Sherin pada Calvin.


"Ya enggaklah, nanti Ralvin yang bakal urus semua kebutuhan perabotan di sini" kata Calvin santai.


"Lagian gak usah pakai saya-sayaan, terserah kamu mau ngomong pakai bahasa apa juga. Asalkan masih bahasa yang aku ngerti" kata Calvin lagi.


"Tapi, kalau udah ngomong aku, Sherin gak bisa manggil abang atau mas atau pak lagi" kata Sherin mengatakan kecanggungannya.


"Kok jadi kayak Pak Daneil gitu sih".


"Daniel? Memangnya dia juga nyuruh kamu pakai 'aku' selama di kantor?" tanya Calvin seperti terkejut.


Sherin menganggukkan kepalanya.


"Dasar Daniel, bisa-bisanya dia mau ngeduluin aku" kata Calvin bergumam tak jelas, hampir tidak terdengar.


"Ngomong apa?" tanya Jura yang duduk di sampingnya.


"Enggak kok" Calvin tersenyum lebar.


"Ya udah, aku mau narik bajaj lagi nih. Nanti Ralvin bakal dateng bawa semua keperluan kamu" kata Calvin yang langsung berdiri.


Ia berpamitan pada Jura sebelum ia meneruskan langkah keluar kontrakan Sherin.


* * * *

__ADS_1


Suara derung mobil terdengar dari luar rumah kontrakan Sherin. Jura yang sedang duduk santai di kursinya menjadi penasaran. Ia segera keluar rumah. Dilihatnya ada tiga mobil yang berhenti di depan rumah kontrakan. Satu mobil mewah berwarna hitam, dan dua mobil pickup membawa spring bed dan perabotan lainnya.


Dari mobil hitam, Ralvin keluar dengan santai. Di tangan kirinya membawa jas kerja yang sepertinya ia lepas sedari tadi. Ralvin berjalan mendekati Jura.


"Ra, ini semua perabotan rumah untuk Sherin. Ya walaupun Sherin mungkin gak bakalan netep di kontrakan ini, tapi seenggaknya dia harus merasa nyaman" kata Ralvin.


"Iya Ral, makasih ya" kata Jura.


"Mas, bawa semua masuk dan tolong disusun ya" kata Ralvin pada beberapa orang yang mengantarkan perabotan.


"Ayo masuk" ajak Jura.


Di ruang tamu, Ralvin tidak melihat sosok gadis yang ingin ia lihat. Mungkinkah Sherin sedang tidur.


"Ra, Sherin ke mana?" tanya Ralvin.


"Lagi masak" jawab Jura.


Ralvin tersenyum, ia sangat kagum pada Sherin. Walaupun gadis itu sedang sakit, tapi ia masih sanggup untuk memasak.


"Ra, besok aku mau ngomong hal penting. Setelah jam istirahat, kamu datang ke ruangan aku ya" kata Ralvin sambil memperhatikan orang yang berlalu-lalang mengangkut perabotan rumah.


"Ok, nanti aku pasti ke ruangan kamu" jawab Jura.


Ralvin dan Jura berdiri lalu membantu mengarahkan para pekerja dalam menata perabotan rumah. Jura memuji Ralvin dalam hati, pemuda itu sangat baik, pekerja keras dan sekarang ia baru tahu bahwa Ralvin juga ahli dalam menata ruangan.


Dering ponsel Ralvin membuat dirinya dan Jura terkejut.


"Maaf" kata Ralvin pada Jura.


Ralvin menatap layar ponsel sambil mengerutkan keningnya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, Ralvin terlihat bimbang. Beberapa lama ia membiarkan telepon berdering, akhirnya ia menjawab panggilan itu.


"Hallo" Ralvin terlihat sangat serius mendengarkan suara dari seberang telepon.


"Apa? Apa gak bisa diundur?" tanya Ralvin.


"Aduh jangan waktu deket dong, nanti semuanya kacau" Ralvin malah terlihat merengek.


"Halo? Halo? Ahk! Kacau" Ralvin mengomel pada dirinya sendiri.


"Kenapa Ral?" tanya Jura.


"Calvin mau ikut mantau proyek di Surabaya" jawab Ralvin.

__ADS_1


"Hahahha, celaka lah" ejek Jura.


"Entah apa yang bakal terjadi nanti" Ralvin pasrah.


__ADS_2