(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Aku tahu cara menjinakkan karyawan aneh ini.


__ADS_3

Keesokan harinya, di lantai empat tepatnya di ruangan kerja Sherin, para karyawan sedang sibuk mempersiapkan dokumen-dokumen yang nanti akan digunakan oleh Ralvin saat rapat. Sherin sedang menyusun dokumen dengan rapi. Ketika itu ada Hendry yang sedang membantunya.


"Memangnya Citra Jaya ada rapat sama perusahaan mana sih? Kok nyampe harus nyediain dokumen berbahasa asing segala?" tanya Sherin pada Hendry karena penasaran.


"Aku juga kurang tau sama perusahaan apa. Tapi yang jelas perusahaan itu adalah perusahaan orang China, sama Prancis" jawab Hendry seadanya.


Sherin hanya menganggukkan kepalanya. Tidak ada rasa penasaran lebih dalam lagi tentang perubahaan yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Citra Jaya. Filly datang menghampiri Sherin dan memintanya untuk mengantarkan semua dokumen itu ke ruangan Ralvin.


"Aduh Ly, tolong dong, aku males banget ketemu sama dia" kata Sherin menolak.


"Tapi kamu loh yang disuruh. Lagian juga kamu diminta untuk ngetik dokumen yang dipegang sama pak Ralvin ke dalam bahasa Mandarin" kata Filly meyakinkan Sherin.


"Oke kalau gitu".


Dengan terpaksa Sherin yang mengantarkan semua dokumen ke ruangan Ralvin. Ia bersumpah jika Ralvin mengerjainya lagi, maka ia tidak akan segan-segan untuk menghajar Ralvin habis-habisan.


Sesampainya di depan ruangan Ralvin, Sherin mengetuk pintu lalu masuk. Di dalam ruangan itu tidak ada orang lain selain Ralvin. Sherin melangkahkan menuju meja lalu meletakkan semua dokumen di atas meja tersebut.


"Udah di cek semua kan?" pertanyaan Ralvin memecahkan keheningan di dalam ruangan itu.


"Udah Pak, silahkan di cek" kata Sherin tanpa ada nada kesal sedikitpun.


Ralvin mengangkat sebelah alisnya. Entah mengapa ia merasa heran dengan sikap Sherin yang sedang profesional ini. Sepertinya ia lebih suka dengan Sherin yang melawan dan suka marah-marah.


"Tumben gak marah-marah." tanya Ralvin.


Sherin yang sedang berdiri dengan sopan kini ia mulai berdiri sesuka hatinya.


"Mau Bapak apa sih? Saya ngelawan salah, saya sopan dan berusaha profesional juga salah. Jadi saya harus bagaimana?" Sherin mulai meninggikan nada bicaranya.


"Nah gitu baru bener." kata Ralvin sambil tersenyum lalu memeriksa dokumen yang Sherin letakkan di atas meja.


Sherin mengerutkan alisnya. Apakah bosnya ini sudah tidak waras? Ralvin malah senang dengan Sherin yang marah-marah. Yang benar saja ada bos seperti Ralvin yang menyukai karyawannya marah-marah padanya.

__ADS_1


"Ok, semuanya perfect. Kamu boleh keluar" kata Ralvin sambil menggerakkan tangannya seperti sedang mengusir.


Tanpa banyak bicara, Sherin segera berbalik badan. Namun ketika akan melangkah, ia menghentikan langkahnya saat suara Ralvin memanggilnya.


"Saya lupa kalau ada yang harus kamu kerjain. Cepat bawa kursi itu ke samping kursi saya" perintah Ralvin.


Sherin hanya mengikuti semua perintah Ralvin tanpa berbicara karena saat ini ia sangat malas untuk berdebat. Sherin duduk di samping Ralvin sesuai instruksi dari bosnya itu. Ia menatap layar laptop yang sedang ditatap oleh Ralvin.


"Sekarang kerjakan ini. Terjemahin ke dalam bahasa Mandarin" perintah Ralvin.


Sherin kembali hanya mengangguk tanpa berkata apa pun. Entah mengapa Ralvin sungguh tidak nyaman dengan sikap Sherin yang seolah-olah sedang mendiaminya. Ralvin berpikir keras mencari cara agar Sherin bisa cerewet seperti biasanya.


"Kau ini kenapa diam aja? gak kayak biasanya?" tanya Ralvin karena sudah tidak tahan dengan sikap Sherin.


"Udahlah Pak, saya lagi gak pengen berdebat dan marah-marah" kata Sherin sambil terus fokus pada pekerjaannya.


"Kamu marah beneran sama saya?" tanya Ralvin lagi.


"Memangnya kamaren-kemaren Bapak pikir saya marah pura-pura?" Sherin malah balik bertanya. Tapi kali ini pertanyaannya bernada dingin.


Sherin sampai mengangkat alis melihat sikap Ralvin. Ada apa dengan bosnya itu? Kemarin Ralvin selalu membuat dirinya marah dan kesal, dan selalu marah ketika melihat sikap ketus dan marah-marah yang Sherin tunjukkan. Tapi sekarang ia meminta Sherin untuk mengomel dan marah-marah.


"Saya gak marah, cuma saya males berdebat Pak. Bapak ngerti gak sih?" kata Sherin yang mulai kesal.


Ralvin terdiam dan berpikir mengapa Sherin hari ini berbeda. Ia pikir mungkin Sherin memiliki masalah di luar kantor yang menyebabkan ia sangat malas berdebat dengan dirinya. Ralvin memandangi wajah Sherin. Ia berusaha menemukan semua jawaban dari setiap pertanyaannya sendiri melalui wajah Sherin.


Sherin menyadari bahwa Ralvin terus memandangi wajahnya. Ia mendengus kesal lalu menampar pelan wajah Ralvin.


"Entah kerasukan apa Bapak ini? Bisa diem dan gak usah lihatin saya kayak gitu gak sih?" kata Sherin mulai mengomel. Tapi nada marahnya tidak seperti biasanya.


"Kamu nutupin kesedihanmu ya? Sekarang saya tau kalau kamu lagi sedih, bukan malas debat atau semacamnya" kata Ralvin ketika menangkap sesuatu yang tersembunyi dari wajah marah Sherin.


Sherin hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Ralvin. Karena kesal Sherin tidak mau berbicara, Ralvin pun meraih Sherin lalu memeluknya dalam pelukan eratnya. Sherin langsung membelalakkan matanya ketika Ralvin memeluknya secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Pak lepasin! Apa-apaan sih?" Sherin berteriak sambil melepaskan pelukan Ralvin.


"Saya bukan perempuan sembarangan yang bisa dipeluk gitu aja. Lagian ini di kantor Pak, saya ini karyawan Bapak. Kalau Bapak kangen pacar Bapak, jangan peluk saya juga dong!" kali ini Sherin mengeluarkan kekesalan.


"Nah gitu dong, saya baru seneng kalau kamu udah bisa cerewet lagi. Ayo cepet kerjain." kata Ralvin sambil menunjuk laptopnya.


"Saya gak mau ngerjain ini." kata Sherin lalu berdiri.


"Jadi kamu mau saya potong gaji?" kata Ralvin sambil menahan tangan Sherin.


"Biarin, saya gak takut" kata Sherin lalu menjulurkan lidahnya.


"Kamu berani ya, siapa sih yang nerima kamu kerja di sini? Saya bakal tegur HDR itu. Bisa-bisanya dia nerima karyawan yang setengah stres begini" gerutu Ralvin sambil meraih gagang telepon duduk untuk menghubungi pihak HDR.


Sherin langsung membulatkan matanya dan merebut gagang telepon dari genggaman Ralvin.


"Aduh Pak tolong jangan laporin saya ke HDR" kata Sherin yang sekarang sedang memohon sambil memegang kedua tangan Ralvin.


"Kenapa?" tanya Ralvin heran.


"Saya takut dimarahin Pak" jawab Sherin sambil memegang tangan Ralvin.


"Jadi kamu lebih takut sama HDR dibanding saya yang seorang pemilik perusahaan ini dan sekaligus CEO di sini?" kata Ralvin kesal.


"Pak, saya gak takut sama Bapak bahkan sama presiden sekalipun. Tapi tolong Pak, jangan laporin saya ke HDR. Saya benar-benar takut dimarahin karena ketua HDR itu kakak saya" kata Sherin menjawab pertanyaan Ralvin.


"Jadi Jura itu kakak kamu?" tanya Ralvin tidak percaya.


"Iya Pak, tolong jangan laporin saya ke kak Jura ya" kata Sherin lalu mengeluarkan senyum termanisnya.


Ketika melihat senyum manis Sherin, tiba-tiba jantung Ralvin berdetak dengan cepat. Segera ia tepis segala pikiran yang muncul di benaknya.


"Ya udah, kali ini saya gak akan laporin kamu ke HDR. Tapi inget, kalau kamu berani buat saya kesel, saya pastiin kamu akan dipanggil oleh Jura." Kata Ralvin mengancam.

__ADS_1


Ralvin sangat senang, akhirnya ia tahu kelemahan yang dapat menjinakkan Sherin yang selalu melawan. Ia juga masih tidak percaya bahwa Sherin adalah adiknya Jura. Karena sepengetahuannya, Jura tidak memiliki seorang adik. Sekarang Ralvin bisa mengendalikan Sherin. Ia tersenyum bahagia.


"Mari kita mulai permainan ini." gumam Ralvin dalam hati.


__ADS_2