
Sherin berlari dengan cepat menuju lift. Ia tidak peduli bagaimana mana sulitnya berlari menggunakan high heels. Sherin takut ayahnya membuat keributan di kantor Citra Jaya. Lebih baik ia dipukuli di rumah dari pada ayahnya membuat keributan di kantor orang.
Tak butuh waktu lama, Sherin sudah keluar dari lift dan berjalan di lobby kantor yang luas. Di sana, ayahnya sudah menjadi tontonan karena ia marah-marah dan hampir semua orang ia marahi.
"Papah" Sherin berlari menghampiri ayahnya.
"Papah cari Sherin?" tanya Sherin sopan walaupun ia sedang takut dan khawatir ayahnya akan jadi bahan gosipan orang sekantor.
Wisnu menatap Sherin tajam. Akhirnya anak yang membuatnya selalu marah sudah berada di hadapannya.
"Kamu ini, gak tau diuntung. Udah papah urus kamu dari kecil, tapi kamu malah pergi dari rumah gitu aja. Kamu tau papah nyari kamu ke mana-mana?" Wisnu mengeluarkan semua kekesalannya.
"Pah, Sherin gak maskud pergi dari rumah gitu aja. Tapi mamah sendiri yang gak mau Sherin ada di rumah" kata Sherin membela diri.
Baru kali ini ia membela diri ketika dimarahi ayahnya. Sedari dulu ia hanya bisa diam walaupun ia tidak bersalah. Tentu saja jawaban Sherin yang sedang membela diri membuat Wisnu semakin marah.
"Jadi kamu mau nyalahin mamah kamu yang udah ngelahirin kamu?" Wisnu melototi Sherin dengan lebar.
Para karyawan lain menjadi sangat penasaran untuk terus menonton perdebatan antara ayah dan anaknya. Sebagian orang menyalahkan Sherin karena menganggap Sherin tidak sopan berbicara dan menyalah ibunya sendiri atas kesalahannya yang pergi dari rumah secara diam-diam. Tapi sebagian lagi mencoba mencerna perkataan Sherin dan mereka mengerti sepertinya ayah Sherin lah yang selalu marah-marah tidak jelas.
"Sherin gak ada maksud nyalahin mamah, tapi itu kenyataan Pah" jawab Sherin, matanya mulai tergenang air mata.
"Kenyataan apanya?" tanya Wisnu keras.
"Kenyataan kalau mamah selalu gak suka sama Sherin dan selalu cari-cari kesalahan Sherin" jawab Sherin yang sudah tidak tahan menahan rasa pedih di hatinya yang sudah bertahun-tahun ia pendam.
"Pah" suara Jura terdengar dari arah belakang.
Semua pandangan melihat Jura yang baru saja keluar dari lift. Para karyawan terkejut mendengar Jura memanggil ayahnya Sherin dengan sebutan 'Papah'. Itu artinya Sherin adalah adiknya Jura, ketua HDR yang selalu jadi andalan CEO Citra Jaya. Pantas saja Sherin dengan mudah bisa diterima di perusahaan besar, ternyata HDR nya adalah kakaknya sendiri. Begitulah sekiranya gosipan mereka dalam hati.
"Papah jangan marahin Sherin terus dong Pah. Semua ini bukan salah Sherin" kata Jura yang sudah berdiri di samping Sherin.
"Kamu belain adik kamu ini?" tanya Wisnu sinis.
"Iya Pah, karena Sherin memang gak salah. Jura yang minta Sherin untuk tinggal dulu di kontrakan supaya amarah mamah mereda" jawab Jura tanpa ada nada tinggi sedikitpun.
Jura memang selalu berbicara pada orang tuanya dengan suara yang tenang.
"Papah gak peduli siapa yang nyuruh dia pergi dari rumah, yang jelas Sherin salah karena udah pergi dari rumah diam-diam. Sherin, mulai sekarang kamu gak boleh kerja lagi" kata Wisnu langsung meraih tangan Sherin dan menariknya secara paksa.
Sherin menarik tangannya agar tidak mengikuti ayahnya.
"Enggak Pah, Sherin butuh kerja".
__ADS_1
'Plakk!!'
Satu tamparan keras mendarat di pipi putih Sherin. Gadis itu sampai dibuat terjatuh ke lantai. Karyawan wanita berteriak terkejut tak menyangka seorang ayah akan menampar anaknya dengan begitu keras dan itu dilakukan di depan umum.
"Papah!" teriak Jura sambil meraih adiknya.
"Itu pantas untuk anak kurang ajar yang gak patuh sama orang tua".
"Siapa yang tidak patuh?".
Suara yang sangat dikenali oleh semua karyawan terdengar dari arah belakang Wisnu, dari arah pintu masuk utama.
Ralvin dengan gagah dan tegap berjalan masuk sambil menatap dingin pada Wisnu. Ralvin datang bagaikan seorang pahlawan yang datang menyelamatkan warga kerajaan dari serangan monster jahat.
"Siapa kamu?" tanya Wisnu yang sudah berbalik badan pada Ralvin.
"Harusnya saya yang bertanya pada Anda. Siapa Anda yang sudah tidak sopan dan berani-beraninya membuat keributan di kantor saya?" Ralvin menggunakan bahasa formal ketika ia bertanya dingin pada seseorang yang baru ia kenal.
"Aku ayahnya Sherin. Kenapa kamu ikut campur urusan keluargaku?" Wisnu bertanya dengan nada yang tidak sopan.
"Tentu saja urusan saya. Ini kantor saya dan Anda membuat keributan dan menampar karyawan saya di depan umum. Apakah saya harus diam saja?" tanya Ralvin berusaha menjatuhkan Wisnu.
"Dia anakku jadi itu hakku" kata Wisnu semakin memanas.
"Anak? Seorang ayah tidak mungkin menampar anaknya sekeras itu. Lagi pula apakah Anda tidak punya malu, menampar anak sendiri di depan umum?" Ralvin masih berbicara dengan tenang namun dingin.
Wisnu memang tidak tahu bahwa Ralvin Rahelindra adalah putra bungsu Braham. Dan ia juga tidak tahu bahwa perusahaan Citra Jaya adalah perusahaan yang di bangun oleh istrinya Braham.
"Saya adalah orang yang memiliki hati nurani" jawab Ralvin sinis.
"Lebih baik Anda angkat kaki dari kantor saya sebelum saya yang mengusir Anda menggunakan security".
Wisnu sangat marah, ia seperti sedang dijatuhkan harga dirinya. Tapi daripada ia lebih terjatuhkan lagi, akhirnya ia memilih untuk keluar dari kantor Citra Jaya.
Setelah Wisnu pergi, Ralvin langsung berjongkok di hadapan Sherin yang masih memegangi pipinya yang merah. Ralvin melihat ke sekeliling.
"Apa yang kalian lihat? Cepak kerja" Ralvin memarahi karyawan yang masih saja menonton seolah-olah tadi adalah sebuah drama di televisi.
"Sherin, kamu gak apa-apa kan?" tanya Jura sambil mengelap air mata Sherin.
"Tamparan ini gak sakit kok Kak. Tapi tamparan di hati ini yang sakit banget. Apa salah Sherin sama mamah papah Kak?" Sherin memeluk Jura.
"Udahlah Rin, ada kakak di sini. Kakak akan terus sama kamu selamanya" kata Jura menenangkan Sherin.
__ADS_1
"Ra, lebih baik kamu antar Sherin pulang ke kontrakan. Biarkan dia istirahat dan nenangin pikiran. Kata dokter Sherin gak boleh banyak pikiran" kata Ralvin.
"Terus kerjaan ku sama kerjaan Sherin gimana?" tanya Jura.
"Udah, gak usah dipikirin. Nanti malem aku mau ngomongin sesuatu sama kamu" kata Ralvin.
"Oke lah, aku mau nelepon Rini dulu, mau minta tolong ambilin tas aku sama tas Sherin" kata Jura.
Jura dan Ralvin sama-sama membantu Sherin untuk berdiri. Tapi tiba-tiba Sherin memegangi kepalanya.
"Momy, Dady! Tolong aku" teriak anak kecil di dalam gudang.
"Diam! Mereka tidak akan mendengar mu. Sekarang beritahu kami, di mana dokumen itu?" kata pria berjas itu.
Anak kecil itu perlahan-lahan dapat melihat pria itu. Wajah pria itu tidak seperti orang yang biasa ia temui. Pria itu berambut hitam, hidung tidak tinggi, bola mata hitam pekat, dan kulitnya tidak terlalu putih, ciri-ciri orang Asia Tenggara pada umumnya.
"Baiklah" jawab anak itu sambil menangis.
"Katakanlah" pinta pria itu.
"Tidak bisa, aku tidak tahu nama tempatnya. Aku harus menunjukkan lokasinya langsung" kata anak kecil itu.
Pria berjas itu memaklumi anak itu. Ia tahu anak kecil pasti hanya tahu letak lokasinya tanpa tahu nama lokasi itu.
"Bawa dia untuk menunjukkan tempatnya" kata pria itu pada dua anak buahnya.
Anak kecil itu di bawa keluar dari gudang sebuah bangunan tua. Sebelum ia dimasukan ke dalam mobil. Anak kecil itu menggigit tangan dua penjahat dan menendang alat vital mereka. Pria berjas tadi sangat terkejut melihat anak buahnya berguling-guling di lantai.
"Bodoh!" teriaknya sambil berlari mengejar anak kecil yang sudah berlari ke jalan.
Tiba-tiba suara klakson mobil memekakkan telinga. Anak kecil itu melihat sebuah mobil melaju ke arahnya dengan sangat cepat.
"Aaaa!!!".
"Aaa!" Sherin tiba-tiba berteriak.
Jura dan Ralvin menjadi sangat panik.
"Sherin kamu kenapa? Apa kepalamu sakit banget? Kita ke rumah sakit ya" kata Ralvin penuh khawatir.
"Anak kecil itu" Sherin masih memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Anak kecil? Apa mimpi itu berlanjut?" tanya Jura khawatir.
__ADS_1
"Iya. Anak kecil itu..."
Sherin jatuh pingsan dan langsung ditopang oleh Ralvin dan Jura.