
Keesokan harinya, di salah satu ruangan di lantai empat. Hendry, Filly, Dita dan Sherin sedang duduk berkumpul di meja Sherin. Sherin menceritakan bahwa kemarin ia dikerjai oleh Ralvin. Sampai lewat jam pulang kantor, Ia dan Ralvin masih berada di kantor. Tak terhitung sudah berapa kali Ralvin membuatnya bolak-balik ke ruangan Daniel. Sekarang seluruh tubuh dan persendian Sherin terasa sakit dan terasa akan copot. Ia benar-benar kesal pada pria satu itu. Ia berpikir kakak dan adiknya sama saja, sama-sama membuatnya naik darah.
"Jadi sekarang kamu mau nemuin dia gitu?" tanya Dita mengeluarkan asumsinya sesuai apa yang dikatakan oleh Sherin sebelumnya.
"Ya enggaklah, gak mungkin aku blak-blakan gitu. Aku bakal balas dendam, pokoknya dia harus ngerasain apa yang aku rasain" kata Sherin sambil cemberut.
"Kalau saran aku janganlah Rin, dia itu bos kita loh. Nanti kalau kamu dihukum atau dipotong gaji, atau lebih parah lagi yaitu dipecat, gimana coba? Biarin aja lah" kata Filly takut teman barunya itu mengalami masalah dan kesulitan.
"Tenang aja, aku gak takut sama dia. Lagian dalam kontrak kerja kan udah ada nominal berapa gaji yang aku terima. Nah kalau dia potong gajiku, ya tinggal aku tuntut aja tuh si bos." kata Sherin dengan yakin atas keputusannya.
"Memangnya kamu udah punya rencana?" tanya Dita.
"Udah dong." jawab Sherin sambil tersenyum setengah menyeringai.
"Rin, baru kali ini aku nemu karyawan yang punya nyali besar, yang berani ngelawan bos." akhirnya Hendry membuka suara.
"Sherin Fajriana gak bisa dipandang sebelah mata Bro." kata Sherin menyombongkan diri tanpa maksud serius. Sherin bukanlah tipe yang sombong.
* * * *
Ternyata perkiraan Sherin benar, berkas yang kemarin ia kerjakan sampai melewatkan jam istirahat dan makan siangnya hanyalah sebuah alasan untuk mengerjai dirinya.
Sekarang Ralvin belum datang ke kantor dan tidak ada yang namanya rapat dengan perusahaan China di hari ini. Ralvin benar-benar sudah keterlaluan, semua perbuatannya harus di balas. Dengan rencana yang sudah ia pikirkan sejak tadi malam, Sherin pergi ke ruangan Daniel.
"Kita lihat apa yang bisa seorang Sherin lakukan".
* * * *
Di lobby gedung kantor Citra Jaya, Daniel dan Ralvin sedang berjalan menuju lift. Semua pandangan para karyawan tertuju pada dua pria tampan itu. Ralvin tetap meneruskan langkahnya karena sudah terbiasa dipandangi seperti itu oleh semua orang.
"Dan, nanti anterin peta proyek yang mau dibangun di Surabaya ya. Aku mau cek petanya dulu" kata Ralvin ketika mereka sudah berada di dalam lift.
"Ok. Kamu nanti siang mau makan bareng aku gak?" tanya Daniel pada Ralvin.
"Kalau kerjaanku udah beres pasti aku mau. Makam di mana?" tanya Ralvin.
"Di ruanganku aja. Nanti aku pesan makanan delivery" jawab Daniel.
Ralvin mengangguk, ia sudah lama tidak makan bersama Daniel. Daniel adalah sahabat Ralvin ketika SMP. Mereka bertemu kembali ketika ibunya Ralvin menyerahkan perusahaan pada Ralvin.
Ralvin dan Daniel sudah sampai di lantai sebelas. Mereka berjalan ke ruangan masing-masing. Daniel berjalan santai menuju ruangannya.
__ADS_1
Ketika sudah sampai di depan ruangannya, Daniel melihat pintu tidak tertutup dengan rapat. Apakah ada orang yang masuk keruangan itu? Atau cleaning servis lupa menutup pintu? Tanpa pikir panjang Daniel langsung masuk ke dalam ruangannya.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat Sherin sudah duduk di bangkunya. Sherin mengangkat wajahnya ketika mendengar pintu terbuka. Sherin terkejut melihat Daniel yang sudah berdiri di ambang pintu. Sherin langsung berdiri ketika menyadari bahwa sekarang ia sedang menduduki kursi Daniel.
"Maaf" kata Sherin sambil berjalan menjauh dari kursi Daniel.
Bukannya marah, Daniel malah tersenyum pada Sherin. Ia berjalan menghampiri kursinya lalu duduk dengan santai. Ia meminta Sherin duduk dengan menunjuk kursi di hadapannya sebegai kode.
"Kenapa datang ke ruanganku?" tanya Daniel.
"Tadi aku datang ke sini untuk cari Mas, tapi kata OB Mas belum datang dan dia nyuruh aku nunggu di ruangan Mas aja" jawab Sherin dengan wajah tertunduk takut Daniel marah atas kelancangannya.
"Iya gak apa-apa. Kamu jangan takut gitu dong, aku kan gak makan orang" kata Daniel mengerti perasaan Sherin.
"Ada perlu apa?" tanya Daniel.
Sherin sedikit ragu untuk mengatakan tujuannya datang. Tapi karena didesak oleh Daniel, akhirnya Sherin pun memberanikan diri untuk mengatakannya.
* * * *
Daniel masuk ke ruangan Ralvin dengan membawa sebuah kertas di tangannya. Ralvin yang sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya langsung menghentikan kegiatannya itu.
"Ini petanya Ral, tapi aku gak tau ini peta lama atau yang baru" kata Daniel sambil menunjuk kertas yang ia bawa.
"Ya ampun..ini peta lama Dan. Gimana ini? Besok harus beres semuanya" kata Ralvin putus asa.
"Tuh kan aku bilang juga apa, aku gak tau ini peta lama atau baru. Ya gak ada cara lain, kita harus buat lagi" kata Daniel sambil kembali mengambil kertas yang dipegang oleh Ralvin.
"Ya udah, kita ke ruangan kamu aja Dan" kata Ralvin langsung berdiri dan berjalan ke luar dari ruangannya yang di ikuti oleh Daniel.
* * * *
Di ruangan Daniel, Ralvin terlihat sibuk berkutat dengan laptop milik Daniel. Sepertinya ia sedang sangat pusing karena membuat peta proyek mereka yang ada di Surabaya bukanlah sesuatu yang mudah. Daniel hanya berdiri di samping Ralvin yang sedang duduk sambil terus memutar otaknya.
"Ya ampun, ini apaan lagi sih? Kok ada bahasa Mandarin segala di laptop kamu Daniel?" kata Ralvin yang mulai kesal.
"Mana aku tahu? Lagian kamu jangan marah-marah terus dong, aku jadi ikut emosi nih" kata Daniel.
"Panggilin si Sherin, cuma dia yang ngerti kayak beginian" kata Ralvin sambil membantingkan diri ke sandaran kursi.
Tanpa diperintah dua kali, Daniel sudah menghubungi Sherin. Setelah mengatakan tujuannya, Daniel kembali menutup telepon.
__ADS_1
"Iya, sebentar lagi dia datang." kata Daniel.
Beberapa saat kemudian, seseorang dari luar ruangan Daniel mengetuk pintu. Ralvin langsung berteriak memerintahkan orang itu untuk segera masuk. Sherin yang tidak merasa memiliki kesalahan pada Ralvin hanya menggerutu dalam hati.
"Coba kamu lihat ini. Kenapa ada bahasa Mandarin pas saya mau mengkonfirmasi data peta?" kata Ralvin ketika Sherin sudah berhadapan dengan laptop Daniel.
Sherin mengetik sesuatu di laptop Daniel. Ia begitu serius sehingga tidak sadar bahwa dua pria itu juga sudah berdiri di sampingnya dan menatap layar laptop sama seriusnya.
"Bapak ada data yang lama? Kayaknya yang udah Bapak kerjain barusan hilang semua." kata Sherin sambil melihat ke arah wajah Ralvin.
"What! Hilang semua?" Ralvin terkejut. Ia sudah membuat peta itu dengan susah payah dan sekarang semuanya terhapus.
"Iya Pak" jawab Sherin.
Daniel menatap Sherin, ia tidak mengerti kenapa data yang sudah di kerjakan oleh Ralvin hilang begitu saja sedangkan di laptopnya bersih dari virus. Tak lama kemudian Daniel tersenyum, ia tahu apa yang sudah Sherin lakukan.
"Ya udah buat lagi aja Ral. Dari pada besok pas rapat kamu gak ada petanya gimana?" kata Daniel.
Dengan terpaksa Ralvin membuat semuanya dari awal. Walaupun sangat kesal, tapi Ralvin tidak tahu harus bagaimana lagi. Jika ia meminta bantuan Daniel, Daniel sama sekali tidak tahu menahu tentang proyek yang ada di Surabaya.
Setengah jam kemudian, Ralvin kembali marah-marah setelah mengetahui bahwa kejadian tadi terulang lagi. Bahasa Mandarin muncul secara tiba-tiba. Ralvin tidak mengerti kenapa bisa menjadi bahasa Mandarin secara otomatis ketika ia akan menyimpan data petanya.
Ralvin menatap pada Sherin. Entah mengapa tiba-tiba saja ia mencurigai Sherin. Sherin yang ditatap seperti itu merasa tidak enak dan langsung bertanya.
"Ada apa? Kenapa Bapak lihat saya gitu?" tanya Sherin.
"Kamu mau balas dendam?" Ralvin langsung menuding.
"Enak aja ya. Siapa yang balas dendam sih Pak? Saya juga gak paham dendam apa yang harus saya balas ke Bapak." kata Sherin mulai kesal.
Daniel berjalan menuju sofanya ketika mengetahui bahwa perang dunia akan segera dimulai.
"Ya karena kemaren saya ngerjain kamu" kata Ralvin tanpa sadar mengatakan perbuatannya kemarin.
"Owh..jadi benerkan Bapak ngerjain saya. Bapak tau gak? Karena Bapak saya kena marah sama ibu dan bapak saya karena pulang malam. Saya gak makan dan kecapean karena Bapak? Saya salah apa ke Bapak? Apa karena Calvin?" Sherin akhirnya pada hari ini bisa meluapkan kekesalannya yang kemarin ia pendam.
Ralvin terdiam. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah keceplosan. Ia juga tidak tahu kalau kejahilannya sudah membuat Sherin dimarahi oleh orang tuanya.
Sherin berdiri dan langsung meninggalkan ruangan Daniel.
Setelah Sherin pergi, Daniel berdiri menghampiri Ralvin yang masih terdiam di kursinya. Ia menepuk bahu Ralvin.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa sih? Masa sama karyawan aja iseng. Ya kalau pun sekarang ini ulah si Sherin, kamu harus terima. Anggap aja ini hari pembalasan kamu di dunia biar di akhirat nanti gak dituntut lagi" kata Daniel berusaha mencairkan suasana.
"Kamu bener Dan, lagi pula aku baru nemuin karyawan yang berani sama bosnya kayak si Sherin" kata Ralvin sambil melihat ke pintu keluar di mana tadi Sherin melewati pintu itu.