
Hari sudah mulai gelap. Sherin baru diperbolehkan pulang setelah kondisi fisiknya mulai kuat. Ralvin dan Jura menuntun Sherin masuk ke dalam mobil. Sekarang tujuan mereka adalah ke rumah sakit yang sudah di sarankan oleh Rini.
Selama perjalanan ke rumah sakit yang dimaksud Jura, Sherin terus saja melamun. Ia mengingat bagaimana ayahnya menampar wajahnya begitu kuat dengan penuh amarah. Walau sebenarnya Sherin tidak bersalah, tapi Sherin selalu berpikir bahwa itu pantas ia dapatkan karena pergi dari rumah tanpa pamit.
"Jangan banyak pikiran Rin, dokter nyaranin supaya pikiran kamu relaks" kata Jura yang melihat Sherin terus melamun.
"Iya Kak" jawab Sherin singkat.
"Kak, kita mau ke mana sih?" tanya Sherin akhirnya penasaran.
"Kita mau ke rumah sakit bedah plastik" jawab Jura.
"Untuk apa Kak?" Sherin bingung.
"Nanti kalau udah diperiksa baru Kakak bakal ceritain" jawab Jura.
Ralvin tidak berkata apapun. Ia memilih untuk fokus menyetir mobil. Ia tidak sanggup memikirkan bagaimana perasaan Sherin ketika mengetahui bahwa orang tuanya yang sekarang hanyalah orang tua angkat yang menggunakan dirinya sebagai tameng? Dan bagaimana perasaan Sherin ketika mengetahui bahwa mimpi buruk yang selalu ia dapatkan adalah ingatan masa lalu dan kedua orang tua kandungnya sudah tiada? Memikirkan itu Ralvin menggelengkan kepala, tidak ingin membayangkan wajah sedih Sherin.
Beberapa menit kemudian, mobil hitam Ralvin berhenti di parkiran sebuah rumah sakit besar.
"Kita udah nyampe" kata Ralvin.
Jura menuntun Sherin untuk berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit yang menjulang tinggi. Rumah sakit itu sangat besar. Pasti siapapun yang masuk ke dalam adalah orang yang sudah tidak memikirkan pengeluaran uangnya.
Setelah mendaftar, Jura pun mengantar Sherin ke dalam sebuah ruangan. Begitu Sherin dibimbing oleh suster masuk ke dalam, Jura dan Ralvin menunggu di luar sambil duduk di bangku panjang.
* * * *
Seorang pria memakai masker, topi dan kacamata hitam tengah duduk di dalam mobilnya yang berada di seberang rumah sakit. Pria itu memperhatikan mobil hitam dan gedung rumah sakit besar.
"Hallo bos" kata pria itu yang sudah menyambungkan talian telepon.
"Bos, mereka membawa gadis itu ke rumah sakit bedah plastik." lanjut pria itu lagi.
"Hahaha ternyata mereka udah mulai tau siapa gadis itu sebenarnya. Ingat pantau terus gerak-gerik mereka. Aku tidak mau pencarianku selama bertahun-tahun berakhir dengan sia-sia" kata pria di seberang telepon.
"Baik Bos" kata pria bertopi itu.
"Ingat, jangan sampai kamu di buntutin lagi sama mereka" kata pria yang dipanggil bos itu.
__ADS_1
"Baik Bos, saya akan lebih hati-hati lagi" jawab pria itu.
Tak lama kemudian sambungan telepon terputus.
Dari balik masker, pria itu tersenyum sambil melihat mobil hitam dan gedung rumah sakit.
"Sudah cukup kamu membuat aku mencari kamu selama bertahun-tahun. Tinggal tunggu tanggal mainnya. Maka kamu akan ada di tangan kami" kata pria itu dengan maksud misterius.
* * * *
Sudah satu jam pemeriksaan Sherin dilangsungkan, tapi sang dokter belum juga keluar. Ralvin dan Jura menunggu dengan sangat sabar. Tak lama kemudian penantian mereka berakhir setelah melihat sang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Mari ikut saya" kata dokter yang sudah berusia 55 tahun.
Sesampainya di ruangan dokter tersebut, Ralvin dan Jura mengambil posisi duduk berhadapan dengan dokter tua itu.
"Bagaimana dengan hasilnya Dok" tanya Jura dengan antusias dan penuh penasaran.
Sang dokter diam beberapa saat, kemudian ia tersenyum lebar.
"Tidak ada hasil yang aneh. Adik Anda tidak pernah mengalami operasi apapun. Seluruh bagian tubuhnya adalah asli bawaan lahir" jawab dokter itu dengan tenang.
Berbeda dengan Ralvin. Ralvin memang tidak berkata apapun, tapi ia memperhatikan dokter itu dengan lekat. Ia memperhatikan sorot mata dokter tua itu, gerak-gerik jarinya yang terus memijat satu sama lain, dan juga gestur punggung yang terlihat tegak lurus.
"Anda yakin Dok?" tanya Ralvin curiga.
"Tentu saja" jawab dokter itu percaya diri.
Ralvin melihat sekarang jari-jari tangan dokter itu saling mencengkram.
"Katakan yang sejujurnya" kata Ralvin dengan tajam.
"Ral, kamu ini kenapa? Dokter ini udab ngomong Sherin gak pernah mendapat operasi apapun" kata Jura yang merasa pertanyaan Ralvin tidak sopan pada dokter tua itu.
"Dia bohong Ra" jawab Ralvin yang sekarang sudah menatap tajam dokter itu.
"Ti-tidak, saya tidak berbohong. Untuk apa saya berbohong" kata dokter itu gugup.
"Katakan yang sejujurnya atau saya akan membuat Anda dipecat dari rumah sakit ini" ancam Ralvin.
__ADS_1
"Tuan, saya tidak berbohong".
Sekilas mungkin orang akan langsung mempercayai perkataan dokter itu yang terlihat sangat jujur dan meyakinkan. Tapi itu tidak terjadi pada Ralvin.
Ralvin adalah orang yang sangat pintar dan cerdas. Ia juga mengerti tentang ilmu psikologi fisiologik. Jadi Ralvin tahu bagaimana tingkah laku seseorang yang sedang berbohong. Sepandai apapun orang itu berpura-pura di depan Ralvin, dengan mudah Ralvin mengetahui yang sebenarnya.
"Saya paham soal psikologi fisiologik Dok, Anda tidak bisa berbohong di depan saya".
Dokter itu terkejut, begitu juga dengan Jura. Ia tidak menyangka Ralvin memahami bidang ilmu itu.
"Katakan yang sebenarnya. Apakah Anda diancam?" Ralvin semakin menyudutkan.
"Tidak" jawab dokter itu masih menutupi walaupun ia tahu itu tidak mungkin ampuh karena pria muda di hadapannya menguasai ilmu psikologi fisiologik.
"Jika ada yang mengancam Anda, Anda tidak perlu takut. Saya yang akan menjamin pekerjaan Anda" kata Ralvin.
Ralvin terus mendesak tapi dokter itu tetap tidak mau mengatakan yang sejujurnya. Jura pun membantu Ralvin membujuk dokter tua itu. Lama-kelamaan akhirnya sang dokter tidak bisa berbohong lagi.
"Baiklah saya akan mengatakan yang sejujurnya" kata dokter itu.
"Delapan belas tahun yang lalu, ada seorang pria yang memakai topeng datang membawa anak kecil. Anak kecil itu masih dalam keadaan koma. Anak itu memiliki kulit putih khas orang barat. Rambutnya pirang, dan hidungnya mancung. Anak itu sangat lucu. Tapi sepertinya anak kecil itu baru mengalami kecelakaan parah."
"Lanjut" kata Jura yang mulai merasakan jantungnya berdetak kencang.
"Pria itu memaksa saya untuk segera melakukan operasi plastik untuk anak kecil itu. Dia menginginkan pupil matanya di ubah menjadi hitam, rambutnya hitam permanen dan yang pasti dia meminta saya untuk menyamarkan wajah baratnya menjadi wajah orang Asia. Itu adalah hal yang paling sulit terutama mengubah warna pupil mata dan menumbuhkan rambut hitam permanen. Tapi pria itu tetap memaksa. Akhirnya saya pun menyanggupinya dengan masa operasi satu minggu."
Dokter itu terlihat masih ragu dan takut.
"Tidak ada yang bisa mengancam Anda. Silahkan lanjutkan" kata Ralvin.
"Setelah operasi berhasil, pria itu meminta saya untuk merahasiakan informasi dan data pengoperasian anak kecil itu dengan rapat. Saya menerima data awal anak itu bernama Claudya, tapi pria itu berkata jika ada yang bertanya soal yang bernama Sherin maka jangan katakan apapun. Dia bilang bahwa nama anak itu sudah diganti menjadi Sherin".
"Begitu kalian membawa gadis ini, awalnya saya tidak ingat hal itu. Tapi setelah sang suster mengatakan nama gadis itu Sherin. Saya pun sangat berhati-hati karena ingat akan ancaman pria itu. Begitu saya selesai memeriksa ternyata benar, gadis yang kalian bawa adalah Sherin yang delapan belas tahun lalu saya operasi" kata dokter itu mengakhiri penjelasannya.
Jura hampir saja merosot dari kursinya. Ia sudah menduga bahwa Sherin memang dioperasi plastik. Yang sekarang jadi pertanyaan, siapa pria yang membawa Sherin ke rumah sakit ini.
"Ra, kita harus lebih serius dan berhati-hati" kata Ralvin.
Jura melihat Ralvin yang sedang menatap dengan pandangan nanar. Mata Jura mengikuti arah tatapan Ralvin. Dilihatnya dokter itu sudah kejang-kejang di atas kursinya sambil mengeluarkan busa dan darah.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?!" teriak Jura panik.