
Pintu apartemen diketuk dengan kuat. Hendry menggerutu geram karena suara itu sungguh membuat telinga sakit.
"Ya sabar!" teriak Hendry.
Saat membuka pintu, Hendry membulatkan matanya ketika dua orang pria menyelonong masuk melewatinya di ambang pintu.
"Sherin, kenapa kamu malah lari ke sini? Aku sama Jura udah nyari kamu sehari semalam, tapi kamu malah enak-enakan di sini?" kata Ralvin.
"Pak Ralvin, Jura, kalian kok bisa ada di sini?" tanya Hendry yang sudah menutup pintu.
Jura dan Ralvin menoleh ke sumber suara. Mereka baru menyadari ada Hendry di sana.
"Kamu ngapain ada di sini?" tanya Ralvin.
"Hahahha ini apartemen saya." jawab Hendry merasa lucu dengan pertanyaan Ralvin.
Jura dan Ralvin saling memandang dalam beberapa saat. Mereka baru sadar bahwa yang dimaksud oleh Bima anaknya itu ternyata Hendry, Dhil Hendry pegawai penerjemah di kantor nya.
"Kalian kenapa sih? Masuk ke apartemen orang sembarangan dan langsung nyalahin aku." kata Sherin sambil berkacak pinggang.
"Ya jelas dong. Kami khawatir setengah mati dan kamu malah di sini. Apa kamu gak bisa angkat telepon dan ngehubungin kami gitu kek?" gerutu Ralvin.
Hendry meminta Jura dan Ralvin untuk duduk, lalu merekapun sama-sama duduk berhadapan.
"Bukan salah Sherin Pak. Kemarin saya nemuin Sherin pingsan di belakang toko. Terus saya bawa ke sini. Entah kenapa saya gak inget untuk ngehubungin Jura." kata Hendry.
"Kamu pingasan? Kamu sakit? Atau mimpi kamu datang lagi?" tanya Jura.
Sherin tidak menjawab, ia bingung dengan Jura yang sekarang. Kemarin ia memarahinya dan berkata benci. Bahkan tidak ingin menjadi kakaknya lagi. Tapi sekarang pria itu khawatir dan peduli.
"Sherin, kakak minta maaf. Kemarin kakak cuma terpukul dan terkejut aja. Kakak mohon kamu jangan marah sama kakak. Kakak nyesel banget udah ngomong gitu sama kamu." kata Jura.
Sherin tidak menjawab, ia malah memandang ke arah lain. Jura berdiri dan beralih duduk di bawah kaki Sherin.
"Kakak mohon, jangan marah. Kakak tau kamu pasti sakit hati banget. Kakak bener-bener nyesel, tolong maafin kakak.".
Sherin mengalihkan pandangan pada kakaknya. Matanya berkaca-kaca. Ia turun dari sofa dan memeluk kakaknya.
"Kakak jangan mohon gitu. Sherin gak bener-bener marah sama kakak. Sherin mana bisa marah sama kakak.".
__ADS_1
"Ra, ayo cepet pergi." kata Ralvin.
Setelah Sherin melepas pelukannya pada Jura, Ralvin langsung menarik tangannya dan melangkah menuju pintu. Sherin mencoba menarik tangannya, tapi itu sama sekali tidak berpengaruh. Jura mengikuti dari belakang, sedangkan Hendry memandang tiga orang yang berlalu pergi begitu saja.
"Lepassin!" Sherin menarik tangannya kuat.
Ralvin menghentikan langkahnya dan berbalik pada Sherin.
"Kamu ini kenapa sih? Bisa gak kita itu pamitan dulu sama Hendry? Dia udah nolong aku, masa aku pergi gitu aja tanpa bilang makasih dan pamit." gerutu Sherin.
"Jangan terlalu deket sama si Hendry, paham?".
Sherin berkacak pinggang sambil memandang wajah Ralvin tajam.
"Waktu itu kamu bilang jangan terlalu deket sama Pak Bima, sekarang kamu larang aku juga untuk gak terlalu deket sama Hendry. Memangnya kamu siapa seenaknya larang-larang aku?".
Jura menarik nafas panjang. Ia tahu bahwa Sherin dan Ralvin memang tidak begitu akur.
"Aku memang bukan siapa-siapa kamu, tapi aku peduli, paham? Cepet kita pergi dari sini."
Ralvin kembali menarik tangan Sherin. Kali ini Sherin tidak melawan lagi.
* * * *
Hendry bingung mengapa ayahnya semarah itu padanya. Begitu Bima pulang kantor, ia langsung menanyakan keberadaan Sherin. Hendry menceritakan semuanya, dan tiba-tiba saja Bima marah-marah tidak jelas. Hendry hanya bisa menarik nafas panjang.
"Jawab!" teriak Bima.
"Papah, ya memangnya kenapa kalau Sherin pulang. Kan Jura itu kakaknya. Wajarlah kalau dia itu pulang. Gak mungkin juga dia mau tinggal di sini selamanya." jawab Hendry santai tanpa ada nada tinggi.
Bima membantingkan diri ke sofa. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Kenapa aku punya anak sepolos dia?" kata Bima pada dirinya sendiri.
Hendry mengerutkan kening. Mengapa tiba-tiba ayahnya malah mengatai ia polos. Hendry sama sekali tidak mengerti mengapa ayahnya jadi begini.
"Kenapa malah bilang Hendry polos? Lagian kenapa sih Papah marah Sherin pulang?" tanya Hendry yang kini sudah duduk di sebelah ayahnya.
"Dia itu Claudya!" teriak Bima frustrasi.
__ADS_1
Hendry membulatkan matanya. Dulu ia diceritakan oleh ayahnya tentang Claudya. Ia juga diperintahkan untuk mencari sosok Claudya itu. Hendry juga sudah berjanji pada ayahnya untuk mencari Claudya dan menyerahkan Claudya pada ayahnya.
Tapi Hendry sama sekali tidak menyangka bahwa Claudya itu adalah Sherin. Yang ia kira Claudya itu memiliki wajah bule seperti dirinya.
"Dari mana papah bisa tau dia itu Claudya. Dia gak berwajah bule." kata Hendry.
"Lima tahun yang lalu. Papah lihat Ghani, dia itu buronan Braham ayahnya Ralvin. Papah ngikutin dia sampai ke rumahnya. Papah kaget lihat Ghani punya anak perempuan. Se-tahu papah, Ghani cuma punya satu anak laki-laki. Istrinya tidak mungkin memiliki anak lagi karena rahimnya sudah diangkat karena tumor. Mulai saat itu papah pun nyelidikin tentang anak itu.".
"Terus mata-mata papah ngelapor ada laki-laki yang rutin ngunjungin rumah Ghani. Dia selalu bahas Sherin. Dan setelah papah selidikin selama satu tahun, ternyata Sherin itu Claudya. Maka dari itu papah nyuruh seseorang yang khusus untuk mata-matain Sherin. Baru-baru ini papah dapat laporan kalau ada sopir bajaj yang selalu deket sama Sherin, dan selalu ngelindungin dia. Terus papah tau ternyata sopir itu adalah Ralvin.".
"Makanya papah nyuruh kamu naik bajaj itu adalah untuk ngebongkar penyamaran Ralvin. Tapi sekarang percuma, dibongkar pun gak akan berpengaruh karena tujuannya udah tercapai." jelas Bima panjang lebar.
"Memangnya apa tujuan Ralvin jadi sopir bajaj?" tanya Hendry.
"Nemuin Ghani yang tak lain ayahnya Jura." jawab Bima.
Hendry kini tahu, kenapa Sherin sering bilang ketemu sama Calvin. Pasti Ralvin menyamar jadi Calvin dan mengaku saudara kembarnya. Sekarang Hendry bingung harus bagaimana. Ia takut ayahnya meminta ia menyelakai Sherin. Sedangkan dirinya tidak akan sanggup untuk melakukan itu.
"Sekarang papah minta kamu untuk pantau terus Sherin. Deketin dia, dan buat dia jatuh cinta sama kamu. Setelah dia jatuh cinta sama kamu. Papah yakin dia akan ngasih tau rahasia yang selama ini keluarga kandungnya sembunyikan." kata Bima sambil tersenyum licik.
Hendry tidak menjawab apapun. Ia memilih untuk diam.
* * * *
Sherin melipat tangan di depan dada. Sekarang ia duduk di tepi tempat tidur. Ralvin dan Jura memaksanya untuk masuk kamar dan tidak boleh keluar apartemen sampai Jura dan Ralvin mengizinkan nya. Jura dan Ralvin berdiri di hadapan Sherin sambil menatap wajah cemberut gadis itu.
"Kalian larang aku untuk gak keluar dari apartemen. Tapi, aku tanya kenapa kalian gak mau jawab. Apa itu adil?" kata Sherin sambil memonyongkan bibirnya.
"Kamu ini kayak anak kecil Sherin. Sedikit-sedikit ngambek, marah, dan cemberut. Kamu itu nurut aja, biar kamu selamat." kata Ralvin.
"Tuh kan, keselamatan aja. Aku gak ngerti." kata Sherin sambil menatap Jura dan Ralvin secara bergantian.
Ralvin dan Jura saling berpandangan. Mereka bingung harus menjelaskan atau tidak. Jika mereka tidak menjelaskan sekarang, maka pertanyaan Sherin akan semakin menumpuk nantinya. Dan saat itu mereka pasti tidak dapat menjawabnya satu persatu.
Akhirnya lewat kode tatapan, mereka berdua sepakat untuk memberitahu Sherin.
Ralvin menarik nafas panjang, "Kamu itu...," Ralvin menggantung ucapannya sebentar, "Claudya.".
"Apa!?".
__ADS_1