(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Sopir bajaj elite


__ADS_3

"Sial!! Bukannya membantu, dia malah buat semua jadi kacau!"


Jessika melemparkan bantal hingga kamar Ralvin berantakan.


"Dan kamu Ralvin, ternyata kamu udah cinta sama Sherin. Kamu jahat! Kenapa kamu tega sama aku? Kenapa!"


Ternyata sedari tadi Jessika mengintip dan menguping pembicaraan Ralvin dan Sherin. Ia langsung masuk ke kamar ketika Ralvin mengatakan ucapan terakhirnya.


Tanpa pikir panjang, Jessika mengambil tas tangannya dan pergi dari kamar Ralvin. Ia juga akan pergi dari rumah Ralvin. Sebelum ia meninggalkan rumah Ralvin, ia menatap rumah itu dengan tajam.


"Aku akan buat kamu menderita, Sherin."


* * * *


Dua hari setelah Jessika pergi, rumah mewah milik Ralvin kini sudah terasa damai seperti semula. Sedangkan soal pengungkapan isi hati Ralvin, Sherin belum membalasnya. Ia berusaha melupakan itu agar ia tidak canggung saat berada di dekat Ralvin.


Mulai hari ini Imas diberi cuti selama satu minggu. Ralvin ingin Sherin yang menyiapkan segala keperluannya. Mulai hari ini juga, Ralvin akan menarik bajaj. Ia akan mengisi satu minggu itu dengan kebahagiaan yang sederhana.


Sherin sedang masak di dapur. Seperti biasanya, Sherin memasak makanan kesukaan Ralvin, yaitu goreng ikan asin, dan sambal goreng.


"Semoga dia suka. Sambal ini aku kasih terasi." Sherin tertawa geli. Ia ingin tahu reaksi Ralvin ketika berhadapan dengan sambal terasi.


Sherin menoleh ke arah tangga saat mendengar langkah kaki menuruni anak tangga. Dilihatnya Ralvin sudah memakai kaos lengan panjang dan celana jeans. Tidak lupa juga memakai toli dan handuk kecil untuk mengelap keringat.


"Selamat pagi, calon istri," sapa Ralvin dengan ceria.


"Iih, apaan sih?" Sherin tidak kuasa menahan tawanya.


Ralvin sudah duduk di depan meja makan. Ketika melihat sambil terasi, ia hampir kabur lagi. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia takut Sherin tersinggung.


"Kamu kenapa?" tanya Sherin ketika melihat sikap Ralvin berbeda.


"Enggak apa-apa kok," jawab Ralvin bohong.


"Kamu suka sambel terasi, kan?" tanya Sherin.


Ingin sekali Ralvin mengatakan tidak, tapi ia takut menyinggung perasaan Sherin. Gadis itu sudah memasakan makanan untuk nya, tidak mungkin ia mengatakan ketidaksukaannya.


"Aku suka kok," jawab Ralvin.


Memang tidak semua orang suka dengan terasi, salah satunya Ralvin. Entah mengapa ia tidak suka dengan yang tau itu.

__ADS_1


"Ya udah, ayo dimakan." Sherin mengambilkan nasi dan ikan asin, termasuk sambal terasi.


Mau tidak mau, Ralvin menyantap sambal itu. Ada rasa mual ketika dipaksa memakan makan yang tidak disukai. Tak lama kemudian, Ralvin sudah menghabiskan nasi yang ada di piringnya tanpa sisa.


"Gimana? Enak gak?" tanya Sherin dengan ceria.


"Enak," jawab Ralvin. Tapi ... "Uwoo." Ralvin menahan mualnya.


Sherin langsung panik. Ia menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada Ralvin. Tidak lupa ia memijat pundak Ralvin.


"Kamu kenapa?" tanya Sherin.


Setelah meminum air hingga habis, Ralvin mengambil nafas terlebih dahulu.


"Sambal itu," jawab Ralvin.


"Kamu gak suka terasi?" tanya Sherin.


Ralvin menggeleng, masih ada rasa mual namun ia tahan.


"Kenapa kamu gak bilang. Kan aku bisa buang dan ganti sambel yang baru. Pasti kamu mual karena makan makanan yang gak kamu suka. Kalau udah gini aku merasa bersalah," kata Sherin.


"Aku gak mau nyinggung perasaan kamu."


Ucapan Ralvin sungguh membuat Sherin tersentuh. Demi tidak menyinggung perasaannya, pria itu rela menahan rasa mualnya selama makan. Bahkan terlihat sangat menyukainya. Sherin tersenyum.


"Kenapa kamu sebaik ini sama aku?" tanya Sherin.


"Karena aku cinta kamu," jawab Ralvin penuh penekanan.


Pipi Sherin langsung bersemu merah. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Sherin sedikit salah tingkah ketika Ralvin terus memandang wajahnya dengan lekat.


Untuk mengantisipasi kejadian yang akan terjadi selanjutnya, Sherin mendorong tubuh Ralvin agar sedikit menjauh darinya. Ralvin tersenyum, ternyata gadisnya itu mulai mengerti tanda-tanda yang akan terjadi.


"Udah sana berangkat, nanti kalau kesiangan, penumpangnya sedikit."


"Iya, iya." Ralvin berdiri dari kursinya.


Sherin mengantarkan sampai ke depan rumah. Tak lupa ia memberikan bekal nasi untuk Ralvin. Setelah itu Ralvin pergi menggunakan bajajnya.


Sherin menarik nafas panjang. Ia berharap hari-hari selanjutnya akan tetap sama seperti hari ini. Damai dan menyenangkan.

__ADS_1


* * * *


Hari mulai siang, baru beberapa jam, Ralvin sudah mendapatkan lebih dari dua puluh penumpang. Bagaimana tidak, para penumpang akan tertarik ketika melihat sang sopir begitu tampan. Tidak jarang gadis-gadis kaya jadi naik bajaj hanya karena melihat Ralvin. Tidak lupa mereka meminta foto bersama.


Sebenarnya baru kali ini Ralvin benar-benar menarik penumpang. Sebelumnya, ia hanya mengantar dan menjemput Sherin. Ia lewat di depan Sherin seolah-olah ia sedang mencari penumpang. Itulah salah satu alasan mengapa setiap Sherin naik bajaj Ralvin, tidak pernah ada satu penumpang pun di sana.


Ralvin menepikan bajajnya. Ia ingin beristirahat sebentar. Ia baru sadar, ternyata menjadi sopir bajaj itu tidaklah mudah. Ia salut pada para sopir kendaraan umum yang selalu sabar menghadapi pekerjaannya.


Ponsel Ralvin berdering, ia segera menjawab panggilan.


"Hallo Kak," sapa Ralvin.


"Halo, besok kamu datang ke sini ya. Ada sesuatu yang harus kita bahas," kata Viola dari seberang telepon.


"Sesuatu apa Kak? Tumben Kakak mau ngobrol serius, biasanya juga cuma gosipin orang."


"Udahlah, pokoknya besok kamu datang ke sini. Ada mamah-papah juga di sini," kata Viola.


"Ada mamah-papah? Kapan mamah datang ke Indonesia?" tanya Ralvin. Ia merasa bukan seorang anak ketika ibunya pulang saja ia tidak tahu.


"Baru aja nyampe. Oh ya, kamu di mana?" tanya Viola.


"Aku lagi di jalan nih. Lagi jadi sopir bajaj," jawab Ralvin santai.


Suara dari seberang telepon sana tidak terdengar untuk beberapa saat.


"Untuk apa jadi sopir bajaj lagi? Kan Ghani udah ketangkep," tanya Viola bingung.


"Ada deh Kak. Aku cuma pengen ngerasain jadi sopir bajaj beneran."


Mendengar jawaban Ralvin yang terakhir, barulah Viola mengeluarkan gelak tawanya. Tawa itu bergitu puas. Ralvin yakin di sana Viola tertawa sampai menetes air mata.


"Ya ampun, kamu udah hidup kaya, enak, dan santai, malah pengen ngerasain susahnya jadi sopir bajaj. Memangnya kamu sanggup?" tanya Viola mengejek.


"Sanggup dong, Kak. Lagian kalau gak ada penumpang pun gak masalah, aku banyak uang ini kok," jawab Ralvin sambil terkekeh.


"Dasar sopir bajaj elit. Sopir bajaj kaya raya, baru kali ini kakak tahu ada sopir bajaj yang kaya raya." Viola kembali tertawa.


Beberapa menit mereka bercanda gurau, akhirnya mereka menutup telepon.


"Kakak tau kamu lakuin itu demi seseorang, tapi maaf Ralvin, semua itu harus berhenti." Viola menunduk sedih.

__ADS_1


__ADS_2