(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Aku bukan anak mamah dan papah?


__ADS_3

Jura panik bukan main ketika melihat sang dokter yang sudah tua kini sudah tidak bernyawa. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa semua bertepatan ketika pria itu selesai menceritakan tentang Sherin?.


Ralvin sudah kembali ke ruangan dokter dengan membawa beberapa dokter lain dan juga perawat. Dokter itu terkejut melihat kondisi dokter bedah plastik sudah tidak bernyawa dengan mulut dipenuhi oleh busa.


"Dok, tolong autopsi jenazahnya. Saya berpikir ada hal ganjil pada kematiannya" kata Ralvin.


"Bagaimana kronologi kematian Dokter Subro?" tanya dokter yang sekarang akan menangani dokter tua itu.


"Kami tidak tahu Pak, setelah beliau selesai bercerita, tiba-tiba ia kejang-kejang di atas kursinya" jawab Jura.


"Baiklah, saya akan membawa jenazahnya untuk diautopsi" kata dokter itu dan keluar membawa jenazah Dokter Subro.


Jura dan Ralvin keluar dari ruangan Dokter Subro. Jura terlihat masih shock sehabis melihat sakratulmautnya yang terlihat sangat menyakitkan. Berbeda dengan Jura, Ralvin malah memasang wajah seperti seorang ilmuwan memecahkan rumus tersulit di dunia.


"Aku rasa kematian dokter tadi gak wajar" kata Ralvin pada Jura.


Mereka berdua masih berjalan menuju ruang di mana Sherin berada.


"Entahlah, aku masih shock banget Ral. Baru kali ini aku ngeliat orang sekarat di depan mataku" jawab Jura.


"Ya udah, sekarang kita temuin Sherin dulu" kata Ralvin.


Tak lama kemudian Ralvin dan Jura sudah berada di dalam ruangan menemui Sherin. Sherin terlihat bingung atas sikap kakaknya dan juga bosnya itu. Sampai pada akhirnya ia tidak tahan untuk menahan rasa penasarannya.


"Kak, sebenernya kalian ini kenapa sih?" tanya Sherin.


Jura dan Ralvin tidak menjawab.


"Kak, tadi kakak udah janji mau nyeritain semua sama Sherin. Tapi kenapa sekarang diem aja?" Sherin memaksa Jura untuk menjawab.


"Nanti aja di mobil kakak nyeritain nya. Sekarang kita pulang dulu ke kontrakan kamu" kata Jura.


Sherin cemberut, ia kecewa karena Jura mengundur penjelasan yang sudah dinantikan oleh Sherin sejak tadi.

__ADS_1


* * * *


Selama perjalanan ke kontrakan Sherin, Jura menceritakan semua kejadian di rumah sakit tadi. Ia juga menceritakan bahwa Sherin bukanlah anak kandung dari Yani dan Wisnu.


Mendengar penjelasan dari kakaknya, Sherin tidak bisa begitu mudahnya mempercayai perkataan Jura. Ia merasa sangat terpukul. Bagaimana mungkin ia hanya anak yang dipungut. Walau bagaimanapun juga, Sherin menyayangi kedua orang tuanya walaupun kedua orang tuanya itu memperlakukan dirinya dengan tidak baik.


"Kak, Sherin gak percaya" Sherin menangis dipelukan kakaknya.


Jura memeluk erat adiknya. Sesekali ia mengelap air mata Sherin yang terus terjun dari pipi putih gadis itu.


Ralvin hanya memandang kedua kakak beradik yang sedang duduk di kursi belakang. Ralvin terharu dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Sherin.


"Kalau Sherin bukan anak kandung mamah papah, Sherin ini anak siapa?" tanya Sherin sambil terus menangis.


"Kakak juga gak tau Rin. Tapi kakak janji sama kamu, kakak akan cari kedua orang tua kandung kamu" jawab Jura.


Jura tidak menceritakan keseluruhan dari ceritanya. Ia masih belum bisa menjelaskannya pada Sherin karena semua itu sangat rumit. Siapa mata-mata yang diceritakan oleh Calvin lewat telepon tadi siang? Siapa yang menitipkan Sherin pada ayahnya? Siapa yang meneror Daniel? Semua itu masih menjadi sebuah teka-teki yang sangat sulit dipecahkan.


"Sherin, kamu jangan nangis terus. Aku yakin kamu gadis yang kuat" kata Ralvin yang masih menyetir mobil.


Ralvin terdiam. Satu lagi yang ia tahu dari Sherin. Ketika gadis itu sedang menangis, ia jadi lebih sensitif dan mudah marah.


"Udah kamu jangan marah-marah gitu. Sekarang kamu tenang dulu ya" kata Jura menenangkan Sherin.


Beberapa menit kemudian, Sherin, Jura dan Ralvin sudah sampai di depan kontrakan Sherin. Sherin turun dari mobil sambil dituntun oleh Jura. Sherin melihat ke kontrakan sebelah dan dilihatnya rumah itu gelap dan kosong. Sherin berpikir apakah semalam ini Calvin belum pulang?.


"Ral, kayaknya aku mau nginap di sini aja dulu, nemenin Sherin. Kasian dia nanti nangis terus" kata Jura pada Ralvin yang masih di dalam mobil.


"Ok, kalau gitu aku pulang dulu ya. Sherin, kamu jangan nangis terus" kata Ralvin sebelum memundurkan mobilnya.


Sherin hanya tersenyum sekilas, lalu menekuk wajahnya kembali. Rasa sedih dihatinya membuat ia malas untuk tersenyum.


Setelah Ralvin pergi, Jura mengajak Sherin masuk ke dalam kontrakan. Ia menyuruh Sherin untuk segera beristirahat karena kondisi Sherin belum sehat total.

__ADS_1


"Kakak mohon kamu jangan banyak pikiran ya. Dokter tadi siang bilang kalau kamu banyak pikiran, nanti kepala kamu bakal sakit lagi" kata Jura yang kini sudah berada di kamar Sherin.


Sherin yang sudah berbaring di atas kasur menarik selimutnya. Ia hanya mengangguk pada sang kakak. Ia tahu Jura sangat menyayangi dirinya. Maka dari itu walaupun Sherin sudah tahu ia bukan anak kandung dari Yani dan Wisnu, tapi Sherin masih bisa kuat karena ada Jura yang menyayangi dirinya.


"Kak, walaupun Sherin bukan adik kandung Kakak, tapi Kakak bakal sayang Sherin selamanya kan?" kata Sherin sambil menatap mata Jura.


"Ya iya dong Sherin. Kakak itu sayang kamu selamanya. Kamu itu adik kakak satu-satunya." jawab Jura sambil mengelus rambut Sherin.


"Ya udah kamu tidur ya. Kakak tidur di sofa aja" kata Jura.


Jura berjalan keluar kamar, sebelum keluar, tangannya meraih sakelar lampu kamar Sherin.


"Kakak! Gelap!" Sherin berteriak ketika kamarnya gelap.


Jura tersadar dan kembali menyalakan lampu.


"Maaf, kakak lupa. Kebiasaan kakak kalau mau tidur matiin lampu. Ya udah sekarang kamu tidur ya".


"Iya Kak".


* * * *


Pagi-pagi sekali, Sherin terbangun karena mencium bau tidak sedap. Seperti bau asap yang sangat menyeruak hidung. Sherin melihat jam dinding dan jam masih menunjukkan pukul 3.00 pagi.


Sherin mengucek matanya berkali-kali tapi pandangannya masih saja berkabut. Ia membuka mata lebar-lebar dan hasilnya masih sama. Sherin bangkit dari tidurnya dan duduk di atas ranjang. Ia kembali mengucek mata. Tapi tetap saja pandangannya berkabut dan putih semua.


"Apa mataku ini rabun pagi?" gumam Sherin pelan dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Bau apa ini?" gumamnya lagi.


Beberapa detik kemudian, Sherin baru menyadari akan suatu hal. Matanya tidak sedang rabun dan penglihatan berkabutnya bukanlah sebuah kabut, tetapi asap.


"Kebakaran!" Sherin berteriak dan berlari ke arah pintu.

__ADS_1


Pintu kamar Sherin dikunci. Sherin dengan kuat menggedor pintu dan berteriak memanggil nama Jura.


"Kak! Kebakaran! Tolong Sherin!"


__ADS_2