
Selesai membersihkan muntahan Sherin, Ralvin menarik tubuh Sherin ke pelukannya lagi.
"Masih pusing?" tanya Ralvin.
Sherin bingung harus menjawab apa. Sebenarnya ia masih sangat pusing karena sampai sekarang mobil mereka masih melaju seperti roller coaster dengan rel yang melingkar-lingkar. Tapi jika ia berkata ya, maka Ralvin pasti akan terus memeluknya. Jika ia berkata tidak, tapi ia memang sangat pusing dan ia bisa sedikit baikan dalam pelukan Ralvin.
"Gak usah dijawab, saya tau kamu masih pusing." kata Ralvin.
Ralvin memeluk Sherin dengan erat karena mobil mereka membanting ke kanan dan ke kiri. Sang sopir terlihat terus menginjak pedal gas dan rem secara bergantian. Setir ia putar ke kanan dan ke kiri dengan cepat.
"Pak, kita ke mana?" tanya sopir itu.
"Masuk ke car wash." kata Ralvin.
Di depan ada car wash yang cukup besar. Mobil mereka berbelok dengan cepat ke car wash. Sang sopir menyelinap di antara mobil yang antri menunggu giliran mobil mereka di cuci.
"Ke mana mobil itu?" kata pria yang mengendarai mobil hitam.
Ia memakai topi hitam, dan masker hitam. Ia memukul setir mobil dengan geram.
"Bos bisa marah kalau tahu aku gagal ngikutin mereka." kata pria itu.
Karena sudah kehilangan jejek mobil Ralvin, pria itu pun memutar arah.
Sang sopir dan Ralvin melihat ke sekitar memastikan mobil putih itu tidak mengikuti mereka lagi. Setelah merasa semua aman, Ralvin memerintahkan sopirnya untuk segera kembali ke hotel.
* * * *
Ralvin dan Sherin masuk ke kamar masing-masing. Karena hari sudah hampir gelap, Ralvin memutuskan untuk segera mandi. Ia juga ingat bahwa nanti malam ia harus memenuhi undangan Bima.
Ralvin sudah selesai mandi. Ia mengenakan kemeja biru lengan panjang yang di gulung pada ujungnya. Setelah melihat dirinya sudah rapi, ia duduk di tepi ranjang. Ia terlihat sedang berpikir keras. Mungkin penguntitan tadi telah membuatnya semakin waspada.
"Aku rasa aku harus membayar orang untuk jaga Sherin secara diam-diam. Ya, aku rasa itu ide yang paling bagus." kata Ralvin pada dirinya sendiri.
Ralvin meraih ponsel yang ada di atas nakas. Kemudian menghubungi seseorang.
"Hallo Kak, aku butuh bantuan." kata Ralvin langsung pada pokok pembahasan.
"Kamu nelepon kakak kalau ada butuhnya aja. Mau minta bantuan apa?" tanya seorang pria dari seberang telepon.
"Tolong kirim dua orang anak buah kakak yang paling bagus." kata Ralvin.
"Untuk apa? Apa ada bahaya?" tanya pria itu lagi.
"Ah Kak Calvin ini banyak tanya. Cepat kirim ya." kata Ralvin.
"Ya udah, dua hari lagi ya. Soalnya mereka kan bukan barang yang langsung di paketkan. Mereka butuh ngemasin baju sama perlengkapan mereka, dan juga harus pamitan sama keluarganya.".
__ADS_1
"Iya Kak aku juga tau. Cerewet amat sih, kayak Kak Viola aja." kata Ralvin.
Setelah selesai membahas semuanya, Ralvin menutup telepon.
Di kamar nomor 107, Sherin baru selesai mandi. Ia mengenakan dress selutut warna biru. Ia tahu malam ini ia di ajak Ralvin makan malam bersama Bima. Maka dari itu ia memakai pakaian yang rapi dan elegan guna menghormati acara makan malam mereka.
Saat sedang memakai lipstik, tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat Sherin meraih ponselnya lalu menjawab panggilan dari Jura.
"Hallo Kak." sapanya ceria.
"Kamu gak apa-apa kan? Baru aja kakak dapat kabar dari Ralvin kalau kamu sama Ralvin di buntutin seseorang." kata Jura panik.
"Sherin gak apa-apa kok Kak. Buktinya sekarang Sherin bisa ngangkat telepon Kakak." jawab Sherin ringan.
"Kamu ini selalu aja jawab ringan kayak cuma hal sepele. Ya udah deh, yang penting kamu baik-baik aja." kata Jura.
"Udah dulu ya Rin, kakak harus nemenin mamah ke rumah sakit." kata Jura.
Sherin langsung tersentak, "Mamah kenapa Kak?" tanya Sherin khawatir.
"Bukan sakit serius kok, cuma demam biasa aja." jawab Jura.
"Owh, syukurlah kalau gitu. Titip salam ya buat mamah." kata Sherin sambil menitikkan air mata.
Walau Yani bukan ibu kandungnya dan juga selalu memperlakukan dirinya dengan tidak baik. Tapi Sherin menyayangi ibu angkatnya itu. Yang membuatnya menangis adalah, ia ingin berbakti pada ibunya itu, tapi sayang, ia tahu apapun yang ia lakukan pasti akan salah di mata ibunya.
"Selamat malam juga Kak." jawab Sherin lalu menutup telepon.
Pintu kamar di ketuk membuat Sherin segera mengelap air matanya. Buru-buru ia membuka pintu kamar. Ternyata Ralvin sudah berdiri di depan pintu. Mata Sherin tidak terfokus pada wajah Ralvin, tapi pada kemeja yang pria itu pakai. Warna kemejanya sama dengan warna dress yang sekarang ia pakai.
"Iih Bapak ngikutin warna baju saya ya?" kata Sherin sambil menyipitkan mata.
"Enak aja, kamu paling yang ngikutin saya. Tapi gak apa-apa, biar keliatan couple nya." kata Ralvin tersenyum menyeringai.
"Saya ganti baju dulu." kata Sherin.
Ralvin menarik tangan Sherin, "Gak perlu, nanti kita terlambat. Gak enak sama Pak Bima." kata Ralvin.
Sherin berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia setuju dan mengunci kamar hotel.
* * * *
"Tepat waktu sekali Ralvin." puji Bima yang menjabat tangan Ralvin dan Sherin.
Ia mempersilakan Ralvin dan Sherin untuk duduk. Setelah mereka semua duduk, mereka memesan makanan.
"Sherin kamu cantik sekali." kata Bima memuji.
__ADS_1
Sherin hanya tersenyum lalu menunduk. Ia selalu malu jika ada yang mengatakan dirinya cantik. Ia merasa dirinya biasa saja. Tapi entah mengapa banyak orang yang berkata dirinya sangat cantik.
"Apa kamu sama Ralvin punya hubungan khusus?" tanya Bima tiba-tiba.
Sherin yang sedang menunggu langsung mengangkat kepalanya, Ralvin yang sedang menatap ke meja langsung membulatkan matanya, kemudian mereka berdua saling berpandangan.
Ralvin mendeham, "Ehkm, enggak kok Pak. Dia cuma asisten dan teman aja." jawab Ralvin.
"Tapi kayaknya kalian itu deket. Bukannya kamu perhatian banget sama Sherin." kata Bima. Dalam perkataannya mengandung arti tersembunyi.
"Hahah enggak Pak, biasa aja." jawab Sherin tertawa hambar.
"Orang tua kamu siapa? Barang kali saya kenal." kata Bima.
Ralvin mengerutkan keningnya. Entah mengapa hatinya berbisik ada maksud tertentu dari pertanyaan Bima. Ralvin sudah merencanakan untuk tidak memberitahu siapapun siapa orang tua angkat Sherin. Karena sekarang ia merasa para penjahat itu sudah semakin dekat dengan Sherin.
Sebelum Sherin membuka mulutnya, Ralvin sudah memotong.
"Orang tua Sherin bukan pengusaha. Jadi mungkin Bapak tidak akan mengenalnya." jawab Ralvin.
Bima menatap Ralvin. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tapi Ralvin tahu bahwa Bima tidak suka padanya karena telah mengganggu proses interogasi nya.
Makanan sudah datang, mereka semua memutuskan untuk menyantap makan malam lebih dulu baru meneruskan obrolan mereka.
Saat sedang menyuap makanan ke dalam mulutnya, Ralvin melihat seseorang sedang berdiri di luar restoran. Pria itu memakai topi hitam dan masker hitam. Ralvin menyipitkan matanya karena sangat curiga, pria itu memandang Ralvin tanpa peduli Ralvin menatapnya juga.
Pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebilah pisau tajam. Ralvin tahu pria itu sedang mengancamnya. Bima yang menyadari Ralvin terlihat aneh, ia langsung menegurnya.
"Ada apa Ralvin?" tanya Bima.
"Saya melihat seorang pria berpakaian serba hitam, topi dan masker." jawab Ralvin.
Bima menoleh ke arah pandangan Ralvin. Tapi di sana tidak ada siapapun. Bima menarik nafas seperti orang yang merasa lega.
"Mungkin kamu salah liat." kata Bima.
"Enggak Pak, orang itu bahkan ngeluarin pisau." kata Ralvin.
"Biarin aja lah, mungkin orang gila. Eh ngomong-ngomong ayam gorengnya enak banget ya." kata Bima.
Ralvin menatap Bima yang sibuk mengunyah ayam. Aneh sekali, sepertinya Bima sedang mengalihkan pembicaraan. Ralvin memperhatikan gestur tubuh Bima. Ralvin bukan orang yang bodoh, ia tahu Bima sedang menyembunyikan ketegangannya.
Ralvin tersenyum, "Saya menguasai ilmu psikologi fisiologik." kata Ralvin langsung memakan makanannya.
Bima langsung tersedak makanannya. Ia menatap Ralvin, "Apa maksudnya?".
"Gak ada maksud Pak. Silahkan makan lagi." kata Ralvin sambil tersenyum dan membalas tatapan Bima.
__ADS_1
Sekarang mereka menyimpan peperangan dalam mata mereka. Sherin yang tidak menyadari hal itu hanya fokus menyantap makan malamnya.