
Selama perjalanan ke lokasi proyek, Sherin terus saja cemberut dan tidak mau berbicara. Ia masih kesal dan malu atas kejadian di kamar hotel tadi. Ralvin yang duduk di sebelah Sherin hanya menahan senyum. Ia tahu Sherin pasti kesal padanya.
"Pak, kita sudah sampai." kata sopir perusahaan Ralvin yang bekerja di Surabaya.
Mereka sudah tiba di sebuah lapangan terbuka sekitar 1 hektar, di tengah hamparan luas itu, ada sebuah bangunan besar yang di klaim adalah sebuah proyek pembangunan mall besar. Diprediksi mall itu akan menjadi mall terbesar se-Jawa Timur.
Tidak heran jika Ralvin bekerja sama dengan pengusaha besar karena proyeknya kali ini sangat besar. Di antara rekan bisnisnya, dirinya lah yang paling muda.
Sherin berjalan mengikuti Ralvin dari belakang. Di tangannya membawa kumpulan beberapa dokumen. Dari kejauhan Sherin melihat ada beberapa orang pria berjas sedang berdiri di depan gedung yang sedang di bangun. Mereka semua memakai helm pelindung.
"Ambil dulu helm pelindung, baru kita gabung sama mereka." kata Ralvin tegas, ia sedang bersikap profesional.
"Ok." kata Sherin.
Sherin pergi mengambil dua helm pelindung. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Ralvin. Ketika berbalik badan Sherin terkejut karena seorang pria berusia sekitar 50 tahunan sudah berdiri di belakangnya.
"Maaf udah buat kamu kaget. Kamu siapa?" tanya pria itu ramah.
"Saya Sherin, asisten Pak Ralvin." jawab Sherin ramah juga.
"Oh, saya tersanjung bisa ketemu sama asisten pengusaha muda. Saya Bima, rekan bisnis Ralvin." kata pria itu sambil mengulurkan tangan.
"Saya juga tersanjung bertemu dengan Anda Pak." kata Sherin sambil menjabat uluran tangan Bima.
"Saya duluan Pak, Pak Ralvin pasti udah nungguin saya." kata Sherin.
"Oh, silahkan." kata Bima sambil tersenyum lebar.
Sherin berjalan meninggalkan pria tua itu. Ia merasa tidak nyaman berada di sana lama-lama karena Bima terlihat memandang dengan penuh arti. Tapi Sherin yakin itu bukan tatapan berondong tua yang jelalatan. Entah apa maksud dari tatapan itu, tapi yang jelas Sherin sangat tidak nyaman.
Sherin berjalan menghampiri Ralvin yang sedang berdiri sambil melihat gedung yang belum selesai. Sherin memberikan helm pelindung itu pada Ralvin. Setelah memakai helm, Ralvin mengajak Sherin menghampiri rekan bisnis lainnya.
"Wah, Ralvin kamu udah ganti asisten?" tanya salah satu pria yang bertubuh gemuk.
"Enggak Pak, Daniel tetep jadi asisten saya. Sherin jadi asisten pribadi saya yang harus selalu ikut saya." kata Ralvin sambil tersenyum ramah dan memandang Sherin.
Sherin tersenyum pada semua rekan bisnis Ralvin.
"Lalu ini gimana dengan penandatanganan kontrak kerja sama?" tanya yang lainnya.
"Sherin udah membawa semuanya. Saya udah menandatangani semua kontrak, tinggal Bapak sekalian yang harus tanda tangan." jawab Ralvin.
__ADS_1
Dari belakang terdengar langkah kaki seseorang, ternyata itu adalah Bima yang baru saja selesai memakai helm pelindung. Ia tersenyum ramah pada semua orang terutama pada Ralvin dan Sherin.
"Maaf saya terlambat. Ada hal yang saya tinggalkan?" tanya Bima.
"Enggak kok Pak. Belum ada yang terlewatkan. Mari kita lihat dulu proses proyeksi nya." kata Ralvin.
Ralvin, Sherin dan yang lainnya berkeliling bangunan untuk melihat keseluruhan pembangunan. Sambil melihat-lihat sisi bangunan, mereka semua berbincang-bincang membahas hal yang santai.
"Oh ya Ralvin, Calvin katanya mau ikut ke sini. Kok gak jadi?" tanya Bima.
Sherin mengerutkan alisnya. Selama ia tinggal di kontrakan Calvin, Calvin tidak pernah bercerita tentang ikut campurnya ia dalam proyek Ralvin ini. Bahkan Calvin tidak pernah membahas soal perusahaan. Pria itu hanya fokus menarik bajaj.
"A-a itu, Calvin bilang gak jadi." kata Ralvin terbata-bata.
Sherin melirik Ralvin yang sedang menatapnya. Jika bukan karena dalam rangka membahas proyek ini, Sherin pasti sudah melemparkan banyak pertanyaan pada Ralvin.
"Owh begitu. Aku udah lama gak ketemu sama dia. Kapan dia ada waktu ya?" kata Bima sambil tersenyum.
"Ahaha dia lagi sibuk Pak. Mari kita lanjut lagi kelilingnya" kata Ralvin seperti sedang mengalihkan pembicaraan.
* * * *
Waktu sudah sore dan semua kegiatan Ralvin di lokasi proyek itu sudah selesai. Sherin dan Ralvin berjalan ke mobilnya untuk pulang ke hotel. Langkah mereka berdua terhenti karena Bima memanggilnya.
"Aku ingin mengajak kalian makan malam. Apa kalian ada waktu?" tanya Bima sambil melihat Sherin dan Ralvin secara bergantian.
"Baik Pak, nanti saya akan menyempatkan diri." jawab Ralvin ramah.
"Kalau gitu nanti saya kirim lokasinya. Saya tunggu di sana jam 8.00 malam." kata Bima.
Ralvin setuju, setelah itu ia mengajak Sherin untuk masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian mobil mereka melesat pergi dari kawasan itu.
Bima mengeluarkan ponsel setelah mobil Ralvin tidak terlihat dari pandangan.
"Ikuti mobil itu." kata Bima sambil tersenyum.
Ralvin dan Sherin duduk bersebelahan di kursi penumpang. Mereka duduk dengan santai karena sangat lelah seharian berkeliling dan mengamati pembangunan mall itu. Tiba-tiba sang sopir menambah kecepatan. Ralvin duduk dengan tegak dan memasang sabuk pengaman. Ia juga memerintahkan Sherin untuk memasang sabuk pengaman.
"Ada apa ini?" tanya Sherin yang menyadari mobil mereka semakin lama semakin cepat.
"Ada yang ngikutin kita." jawab sang sopir.
__ADS_1
Sherin menoleh ke belakang. Ia berusaha menjari kendaraan mana yang mengikuti mereka. Sherin bingung karena tidak menemukan kendaraan manapun yang mencurigakan.
"Di belakang banyak kendaraan. Yang mana yang ngikutin kita?" kata Sherin meragukan ucapan sopir itu.
"Udah kamu diem aja. Dia lebih tau dari pada kamu. Saya pilih dia sebagai sopir perusahaan di Surabaya karena dia bukan sekedar sopir." kata Ralvin sambil memandang wajah Sherin dari sudut matanya.
Mobil yang ditumpangi Ralvin dan Sherin melesat cepat, menyelinap di antara kendaraan lain. Mobil mereka mengayun ke kanan dan ke kiri menghindari kendaraan lain yang disalipnya. Sherin yang tidak pernah mabuk kendaraan sampai hampir muntah di buatnya.
"Kamu kenapa? Pusing?" tanya Ralvin melihat Sherin pucat dan keringat dingin.
Ralvin mengambil air mineral di saku depan jok mobil lalu membuka tutup botolnya.
"Ini, minum.".
Ralvin membantu Sherin meminum air itu. Setelah selesai minum, Sherin memegang kepalanya.
"Pak, orang itu masih ngikutin?" tanya Ralvin berharap mobil mereka segera melaju normal karena ia sudah tidak tega melihat Sherin.
"Masih Pak, saya rasa mereka juga lihai mengendarai mobil." jawab sang sopir.
Ralvin menghela nafas. Ia tidak tega melihat Sherin tersiksa karena pusing dan menahan muntah. Ralvin melepas sabuk pengaman Sherin dan meranik gadis itu mendekat padanya.
"Sini." kata Ralvin sambil memeluk Sherin dan memegangi kepala Sherin.
Ia memijat kepala Sherin dengan harapan bisa mengurangi rasa pusing gadis itu. Sherin tidak protes.
Mungkin karena kepalanya sangat pusing, akhirnya Sherin tidak dapat menahan rasa mualnya lagi. Sherin mengeluarkan muntahannya dan tak sengaja mengenai jas dan celana Ralvin.
"Uwwo, uhuk." Sherin terus memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.
Ralvin membantu memijit pundak Sherin, ia tidak marah ataupun menggerutu. Ia sangat kasihan melihat Sherin. Setelah selesai muntah, Sherin duduk tegak dan mengelap mulutnya.
"Maaf." kata Sherin merasa sangat malu dan merasa bersalah.
"Gak apa-apa. Pak, minta tissue." kata Ralvin.
Ralvin mengambil tissue yang disodorkan oleh sopirnya. Ia memberikan dua tissue pada Sherin dan sisanya ia gunakan untuk membersihkan muntahan Sherin pada jas dan celananya.
"Biar saya bantu Pak." kata Sherin.
Ralvin menoleh cepat pada Sherin, wajahnya memerah, "Jangan, gak perlu.".
__ADS_1
"Kenapa? Itukan...".
"Kamu gak bakal ngerti. Udah biar saya aja, saya bisa sendiri." kata Ralvin lalu meneruskan membersihkan celananya.