
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Jura.
"Kondisinya sudah mulai membaik. Ada luka dalam di bagian organ perutnya, jadi saya sarankan agar pasien tidak banyak bergerak. Apakah melibatkan otot perut," jawab dokter itu.
"Terima kasih, Dok."
Jura keluar dari ruang dokter dan kini berjalan menuju ruang rawat Ralvin. Begitu sampai di depan pintu, ia langsung membuka pintu. Di sana sudah ada Sherin yang menunggu Ralvin sadar. Jura berjalan menghampiri adiknya.
"Dokter bilang, kondisinya udah mulai membaik," kata Jura.
Sherin menengadah untuk melihat wajah Jura. "Kak, maafin Sherin." Air mata menetes kembali dari matanya.
"Kakak udah maafin kamu, tapi kakak cuma kecewa aja. Kenapa kamu gak bisa jaga diri kamu."
Sherin menunduk, ia tahu ini juga salah.
Saat suasana ruangan sepi, dering telepon berbunyi. Jura segera mengambil ponsel dari saku celananya. Ia terlihat gugup begitu melihat siapa pemanggil itu.
"Halo ... iya ... Ra-Ral-Ralvin ada di sini. Di rumah sakit kencana ... bukan, bukan kecelakaan ... nanti aku jelasin ... oke aku tunggu Kakak di sini."
Setelah menutup telepon, Jura menatap Sherin. "Keluarga Ralvin dan Jessika akan datang ke sini."
"Apa?" Sherin terkejut. "Kak, gimana--"
"Serahkan semua sama kakak." Jura duduk di samping Sherin.
Setengah jam kemudian, pintu diketuk. Jura membukakan pintu. Di depan pintu sudah ada Braham, Winda, Calvin, Viola, Jessika, Abhi, dan Mila. Jura mempersilakan mereka semua masuk.
.
"Ralvin." Winda langsung menghampiri ranjang Ralvin. Ia mengusap kepala putranya yang masih belum sadarkan diri. "Ralvin, kok kamu bisa babak belur gini?" Winda terlihat sangat cemas.
Calvin berdiri di samping Jura. "Apa yang terjadi? Kenapa Ralvin bisa babak belur. Apa dia diserang penjahat?" tanya Calvin.
Jura menggeleng. "Bukan, Kak. Dia lah penjahatnya." Semua mata menatap Jura, mereka tidak mengerti dengan ucapan Jura barusan. "Dan yang menghajar Ralvin sampai babak belur itu adalah aku," lanjut Jura lagi.
"Apa, maksud kamu?" tanya Braham.
"Dia udah nidurin Sherin," jawab Jura dengan mata yang kembali berapi-api.
"Apa?" Jessika dan Winda terkejut bersamaan. Begitu juga dengan yang lain. Sedangkan Sherin hanya bisa menunduk. Ia tidak berani mengangkat wajahnya.
"Gak mungkin." Jessika tidak percaya.
__ADS_1
"Apanya yang gak mungkin? Aku lembur, pulang pagi. Saat pagi aku ketuk kamar Sherin, dan yang keluar Ralvin hanya memakai celana. Dia mengakui perbuatannya. Apa itu kurang jelas?" kata Jura.
Winda menggeleng. Ia tidak dapat mempercayai kelakuan putra sulungnya. "Gak, Ralvin pasti gak melakukan hal itu."
"Kalau Ibu gak percaya. Tunggu aja Ralvin sadar, dan tanyakan semuanya sama Ralvin," kata Jura.
'Plak!'
Semua orang melihat ke arah Jessika dan Sherin. Ternyata Jessika baru saja menampar pipi Sherin dengan sangat keras.
"Dasar penggoda! Wanita murahan! Kamu pasti yang menggoda Ralvin! Kamu tau, Ralvin itu mau nikah sama aku!" teriak Jessika.
"Tutup mulutmu!" bentak Jura. Ia tidak terima adiknya ditampar.
"Kamu yang harusnya mendidik adikmu itu supaya punya moral!" balas Jessika.
Jura mengepalkan tangannya. Ketika ia akan menghampiri Jessika, Calvin menahannya dan menggeleng. "Jangan, Ra. Kamu harus sabar."
"Pergi kamu wanita murahan!" teriak Jessika pada Sherin.
"Jessika, jaga sikap." Abhi akhirnya mengendalikan putrinya.
"Ada apa ini?" Suara lemah dan serak terdengar. Semua orang melihat ke arah Ralvin.
Ralvin tidak mempedulikan ibunya, matanya melihat ke arah Sherin yang menunduk. Ada darah di sudut bibirnya akibat tamparan Jessika tadi. Winda mengikuti arah mata Ralvin dan berakhir pada Sherin. Ia bingung mengapa Ralvin melihat Sherin dengan tatapan penyesalan.
"Maafin aku, Rin." Kata-kata itu keluar dari mulut Ralvin.
Dari situlah semuanya percaya dengan yang diucapkan oleh Jura tadi. Mereka melongo tak percaya dan melihat Sherin dan Ralvin secara bergantian.
"Maafin aku, jangan benci aku," kata Ralvin. "Aku cinta kamu, jangan tinggalin aku," kata Ralvin lagi.
"Ralvin apa yang kamu omongin? Kamu tunangan Jessika." Akhirnya Mila berbicara.
"Ral, papah mau nanya. Tolong jawab dengan sejujurnya. Apa kamu udah nidurin Sherin?" tanya Braham.
Ralvin terdiam sejenak. Rasanya sulit untuk mengatakan 'ya' karena menurutnya yang telah ia lakukan adalah kejahatan yang paling jahat.
"Jawab papah, Ral," desak Braham.
"Ya," jawab Ralvin.
Jessika membelalakkan matanya. "Apa! Kamu jahat, Ral!" Jessika menangis.
__ADS_1
"Maafin aku, Jessika. Aku udah menghancurkan hubungan kalian. Aku akan pergi dari hidup kalian," kata Sherin meminta maaf.
"Ya, memang seharusnya dari dulu kamu pergi dari kehidupan kami. Kamu sama sekali gak pantas ada di sini." Jessika terlihat sangat marah.
"Gak Rin, Ralvin harus tanggung jawab. Dia udah merenggut masa depan kamu, apa kamu bisa hidup bahagia setelah semuanya hilang?" kata Jura menghentikan niat Sherin untuk pergi.
"Gak, Kak. Sherin memang harus pergi. Sherin juga salah. Jadi Sherin gak akan minta pertanggungjawaban dari Ralvin," kata Sherin tetap pada keputusannya.
"Rin, aku harus tanggung jawab. Kamu jangan pergi, tetap di sisiku," kata Ralvin dengan suara lemahnya.
"Ralvin, biarkan dia pergi. Dia gak pantas untuk kamu. Kalau hidup dia hancur itu udah jadi resiko dia," kata Jessika.
Saat Sherin akan melangkah pergi, Winda menahan tangannya. "Ralvin harus tanggung jawab."
Sherin menoleh pada Winda.
"Ralvin udah menghancurkan kehormatan kamu, dia harus tanggung jawab. Kalau kamu hamil, tentu anakmu adalah cucu saya. Saya gak mau kehilangan cucu pertama saya."
Jessika tidak percaya dengan ucapan Winda. Ia pikir Winda tidak akan menyetujui hubungan Sherin mengingat Winda sangat setuju dengan hubungannya dengan Ralvin.
"Tante, tapi--"
"Tanggung jawab Ralvin pada Sherin lebih besar dari pada tanggung jawabnya pada kamu, Jessi. Dia udah merusak Sherin, kalau Sherin hamil, tentu itu adalah anak Ralvin," potong Winda.
"Tapi gimana dengan janji Ralvin sama aku dan mamah-papahku? Janji harus ditepati bukan?" Jessika berusaha mempertahankan Ralvin untuknya.
"Jessika, yang dikatakan tante Winda benar. Kita gak boleh egois. Kalau kamu yang ada diposisi gadis itu, pasti kamu sangat butuh tanggung jawab Ralvin," kata Abhi.
"Winda, Braham, lupakan saja janji Ralvin dulu. Kami sudah ikhlas," kata Abhi lagi.
"Tapi, Pah ... Akh! Kalian semua jahat!" Jessika menghentakkan kakinya dan langsung pergi dari ruangan itu.
Mila dan Abhi pamit pergi pada semuanya, kemudian menyusul Jessika. Sedangkan orang yang ada di ruangan itu masih diam tak berbicara. Viola yang sedari tak berbicara berjalan menghampiri Sherin.
"Maafkan Ralvin ya." Viola langsung memeluk Sherin.
Jura melihat ke arah Ralvin yang masih berbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. "Maafkan aku ya, Ral. Aku terlalu emosi."
Ralvin tersenyum kecil karena bibirnya terasa sangat perih. "Gak apa-apa. Ini memang pantas untukku. Bahkan ini masih kurang," kata Ralvin.
Calvin berjalan mendekati ranjang. "Kamu nakal ya, lebih nakal dari kakak. Viola, lihatlah dia ini. Ayo kita sunat lagi dia," canda Calvin yang berusaha menghilangkan suasana canggung.
Winda, Braham, Viola, dan Jura tertawa. Hanya Ralvin dan Sherin yang merasa semakin salah. Mereka sama-sama tertunduk.
__ADS_1