
Ralvin sedang duduk santai bersama Sherin di dalam ruang tamu. Mereka berdua baru saja selesai membahas saham yang baru ditanam di salah satu PT di Riau.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ralvin.
"Apa aja yang penting perut keisi," jawab Sherin asal.
"Ya udah kita pesen goreng t*i kucing aja ya?" kata Ralvin sambil mengambil ponselnya di atas meja.
"Ish, kamu aja yang makan. Aku mah ogah," kata Sherin sambil menahan tawanya.
Ralvin juga ikut tertawa. "Jadi mau mesen apa nih?" tanya Ralvin sekali lagi.
Sherin berpikir sejenak. Ia sedang memikirkan makanan apa yang enak disantap pada siang yang terik itu. Tapi tiba-tiba Sherin mendapat ide untuk memasak sesuatu yang spesial.
"Gak usah mesen deh. Aku mau masak sesuatu yang spesial," kata Sherin.
"Cieee yang udah spesial-spesialan segala," goda Ralvin.
"Kan sekarang kamu lagi demam, jadi apa salahnya aku masak sesuatu yang spesial untuk kamu," jawab Sherin sambil memonyongkan bibirnya.
Ralvin terkekeh melihat Sherin merajuk seperti itu. Ia mencubit bibir Sherin dengan gemas. Ia selalu terhibur dengan wajah Sherin yang sedang marah tidak serius itu.
"Kebiasaan, dikit-dikit ngambek," ejek Ralvin.
"Ya udah, nanti aku minta tolong sama bi Imas untuk belanja sayurannya," kata Ralvin lagi.
Ralvin pergi ke halaman belakang untuk memanggil Imas yang sedang mengangkat jemuran. Ralvin meminta Imas belanja ke pasar. Setelah itu Imas segera belanja dengan nota daftar belanjaan yang sudah Sherin catat.
"Minta tolong ya Bi. Makasih," kata Sherin sambil tersenyum lebar.
"Iya sama-sama, Neng. Kalau gitu bibi pergi dulu ya," kata Imas dan langsung bergegas pergi ke pasar naik angkot.
* * * *
Setelah Imas pulang dari pasar, Sherin langsung memasak sayur lodeh dan sayur lainnya. Ia memasak dengan bantuan Ralvin yang membuat kepalanya pusing. Sejak awal masak hingga masakannya matang, Ralvin terus mengganggu Sherin. Tapi kali ini Sherin tidak marah-marah, ia malah tertawa dengan kejahilan Ralvin.
Sherin dan Ralvin bersenda gurau di depan meja makan. Ralvin tidak henti-hentinya mengganggu Sherin yang sedang menghidangkan makanan di meja.
__ADS_1
"Diem dong! Nanti gak siap-siap," kata Sherin sambil tertawa.
"Biarin aja," balas Ralvin terus mengusik.
Bi Imas hanya tersenyum melihat keakraban Tuannya dan Sherin. Bi Imas belum pernah melihat Ralvin tertawa bersama seorang gadis manapun.
"Hei ada apa ini? Kok keliatannya seru banget?"
Suara seorang wanita membuat gelak tawa Ralvin dan Sherin terhenti. Sherin menatap wanita itu. Wanita itu cantik, putih, langsing, tinggi dan penampilannya cukup seksi. Dalam hati Sherin bertanya-tanya siapa wanita itu yang masuk ke dalam rumah Ralvin tanpa permisi.
Belum berhenti pertanyaan itu, Sherin dikejutkan dengan tingkahnya yang dengan manja berjalan menghampiri Ralvin dan bergelayut di lengannya.
"Kamu kangen gak sama aku? Maaf ya, aku baru ada waktu untuk kamu," kata wanita itu sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Ralvin.
Ralvin mematung, ia menatap pada Sherin dan menatap pada wanita yang bergelayut manja di lengannya. Imas langsung pergi ke kamarnya begitu melihat siapa yang datang.
"Ehkm, gak enak ada orang. Lepas Jessika," kata Ralvin dengan gugup.
"Aaa, biasanya juga kamu yang manja-manja sama aku. Kok sekarang kamu gak mau sih aku manja sama kamu? Padahal kita udah lama gak ketemu loh. Terakhir pas kamu gak sengaja nabrak aku pake bajaj kamu," kata Jessika dengan manja.
Sherin menelan ludah, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Entah mengapa ia merasa risih dan tidak suka melihat Ralvin digelayuti oleh wanita itu.
Dari senyum itu Sherin tahu bahwa wanita itu sedang berpura-pura manis padanya.
"Aku Sherin," jawab Sherin sambil tersenyum.
"Sayang, kok kamu ngajak perempuan lain ke rumah sih? Kan ini calon rumah kita berdua."
'Deggg'
Jantun Sherin seperti mendapat kejutan listrik. Apa yang dimaksud dengan ucapan Jessika?
"Oh ya, kenalin aku Jessika Mouren, model dari Amerika, tunangan Ralvin."
Sherin terkejut bukan main. Mengapa Ralvin tidak pernah menceritakan dirinya sudah punya kekasih. Yang membuat Sherin terkejut adalah wanita itu tunangan Ralvin.
"Ralvin, apa iya?" tanpa disadari Sherin bertanya dengan tidak percaya.
__ADS_1
Ralvin menelan ludah. Sepertinya ia tidak ingin menjawab pertanyaan Sherin kali ini.
"I-i-iya, dia tunanganku," jawab Ralvin dengan berat.
Mendengar jawaban Ralvin, Sherin kembali kecewa. Rasa kecewanya melebihi rasa kecewa ketika tahu bahwa Ralvin menyamar menjadi sopir bajaj. Ia kecewa karena lagi-lagi dibohongi oleh Ralvin.
"Sayang, ini siapa yang masak?" tanya Jessika sambil memeluk Ralvin dari samping.
"She-Sherin yang masak," jawab Ralvin terbata-bata.
Ia bingung harus bagaimana. Di lain sisi ia ingin menjelaskan sesuatu pada Sherin, tapi di sisi lain ia juga tidak mungkin mengabaikan Jessika yang berstatus tunangannya.
"Wah.. ternyata kamu pintar masak ya. Bisa dong buatin makanan yang romantis untuk aku sama Ralvin?" kata Jessika dengan semangat.
"Tentu aja bisa." Sherin tersenyum kaku, "Maaf, aku mau naik dulu ke kamar," kata Sherin langsung berlalu pergi. Padahal tadi ia sudah sangat lapar, tapi entah mengapa rasa laparnya sudah hilang begitu saja.
"Sayang, dia siapa sih? Kok malah langsung naik ke kamar atas? Aku sangka dia cuma mampir aja" kata Jessika penasaran.
"Dia asistenku. Karena dia banyak masalah dan gak punya rumah, jadi dia tinggal di rumahku," jawab Ralvin malas.
"What? Tinggal satu rumah sama kamu? Itu gak adil. Kalau dia tinggal di rumah ini, berarti aku juga harus tinggal di sini," tegas Jessika sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Ngapain kamu tinggal di sini?" Ralvin terkejut.
"Dia aja boleh kenapa aku enggak? Dia bukan siapa-siapa kamu Ral, dan aku ini jelas-jelas tunangan kamu. Pokoknya aku mau tinggal di sini sama kamu." Jessika melipat tangan di depan dada.
"Stop bertingkah kayak anak kecil. Kamu punya rumah sendiri di Jakarta," kata Ralvin.
"Aku gak peduli. Pokoknya mulai hari ini aku mau tinggal di sini," kata Jessika keras kepala.
"Terserah. Aku mau istirahat." Ralvin langsung berjalan ke lantai atas.
Jessika membulatkan matanya ketika Ralvin pergi begitu saja. Terakhir ia bersama Ralvin dulu, Ralvin sangat perhatian dan peduli. Tidak ada apapun yang boleh melukai dirinya bahkan semut sekalipun. Tapi sekarang semua berubah. Jessika memutar otaknya.
"Jangan-jangan perempuan itu udah mencuci otak Ralvin?" gumam nya pelan.
Setelah diingat-ingat, ketika ia baru sampai di Jakarta, Ralvin tidak sengaja menyerempet nya dengan bajaj. Saat itu Jessika sangat terkejut melihat Ralvin menjadi sopir bajaj. Setelah itu Ralvin membawanya ke restoran dan membantu mengobati luka di kakinya. Tapi saat itu Ralvin memang sudah cuek dan bersikap tidak acuh.
__ADS_1
"Aku akan cari tahu apa penyebabnya dia bersikap begitu," kata Jessika sambil menyipitkan mata menatap kamar Ralvin yang terlihat dari lantai bawah.