(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Bersama-sama kita cari identitas Sherin yang sebenarnya.


__ADS_3

Sejak kepulangan dari rumah sakit, Jura dan Ralvin tidak banyak bicara. Hal itu membuat Sherin merasa aneh. Apakah mungkin keduanya sedang bertengkar akibat kejadian tadi siang? Apakah Jura sudah memukul Ralvin? Apakah keduanya sedang marah padanya? Pertanyaan itu melintas di pikiran Sherin.


Mobil hitam melaju dengan kecepatan sedang di jalanan Jakarta yang padat. Ralvin fokus menyetir dan fokus melihat jalan ke depan, sedangkan Jura yang duduk di samping Ralvin hanya membisu sambil menatap ke luar jendela.


"Kalian kenapa?" tanya Sherin tiba-tiba.


"Enggak" jawab Jura dan Ralvin bersamaan.


Sherin kembali terdiam, tidak ingin bertanya lagi. Ia cemberut karena pertanyaannya dijawab dengan ketus.


"Kenapa cemberut?" tanya Ralvin yang melihat Sherin dari kaca depan mobil.


"Enggak" kata Sherin ketus.


"Ok, maaf kami tadi ketus. Kami cuma lagi pusing aja" kata Ralvin lembut, "Jangan cemberut lagi dong".


Entah mengapa Sherin hari ini tidak mau berdebat dengan Ralvin. Sherin memilih diam saja. Karena hari sudah malam dan Sherin mulai mengantuk, akhirnya Sherin memejamkan matanya.


"Dia tidur?" tanya Jura pada Ralvin ketika melihat Sherin di kursi belakang sudah memejamkan mata.


"Belum, dia baru aja merem" kata Ralvin.


"Kok Pak Ralvin tahu? Pak Ralvin merhatiin Sherin dari tadi ya?".


"A-a enggak kok" jawab Ralvin bohong.


"Ra, jangan pakai bahasa formal dong, gak enak" kata Ralvin berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Iyalah, aku tau kok kamu pengen deketin adikku" kata Jura dengan santai.


Wajah Ralvin bersemu merah. Ia tidak menyangka Jura akan berkata seperti itu dengan asal ceplos.


"Aku di mana? Dady! Mommy! di mana?".


Anak kecil yang sedang terikat di dalam gudang berteriak-teriak. Dari atas kepalanya menetes darah.


Dua orang pria berkulit putih dan hitam memasuki gudang itu. Pria itu membawa pisau dan pistol. Wajah mereka lebih garang dari sebelumnya.


"Diam anak kecil!" teriak pria berkulit hitam.


"Kepalaku pusing" anak kecil itu mulai menangis.


"Salahmu, mengapa keras kepala seperti ayah dan ibumu, dan malah melarikan diri" kata pria berkulit putih.


Pintu gudang terbuka lebar, muncul seorang pria memakai jas dan berpakaian formal. Anak kecil itu tidak dapat melihat dengan jelas karena kepalanya mulai pusing dan pandangannya kabur.

__ADS_1


"Claudya sayang, apa kabar? Akhirnya kita bertemu" suara pria itu besar dan serak.


Bukannya menjawab, anak kecil itu malah menangis. Rasa sakit di kepala dan rasa takut menjadikan tangisnya menjadi semakin histeris.


"Di mana Dady dan Mommyku?" tanya anak itu merengek.


"Mereka sudah mati" jawab pria berjas itu.


"Bohong! Tidak! Mommy! Dady!".


"Mommy, Dady!" tanpa sadar Sherin menyebut kata itu. Ternyata ia sedang bermimpi lagi.


"Kamu kenapa?" tanya Jura dan Ralvin bersamaan.


Mobil hitam yang masih melaju tiba-tiba berhenti mendadak. Dengan cepat Ralvin meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan. Jura berpindah ke kursi belakang, sedangkan Ralvin hanya berbalik badan ke kursi belakang.


"Apa kepalamu sakit lagi?" tanya Jura.


"Apa kamu mimpi lagi?" tanya Ralvin.


Sherin yang sudah berkeringat dingin dan masih shock hanya bisa mengatur nafas.


"Rin, jawab kamu mimpi apa?" tanya Jura.


"Stop, jangan cerita lagi" Ralvin menghentikan cerita Sherin. Ia tidak sanggup mendengar kisah buruk dari ingatan Sherin.


"Sekarang kita pulang" kata Ralvin.


Mobil hitam perlahan masuk ke lajurnya, dan kembali melaju dengan tenang.


* * * *


Ralvin dan Jura hanya mengantar Sherin sampai rumah, kemudian mereka pergi lagi karena ingin membahas tentang ingatan Sherin. Begitu kakaknya dan bosnya pergi, Sherin masuk ke dalam rumah. Seperti yang biasa ia lakukan, sebelum masuk rumahnya sendiri, Sherin harus mengetuk pintu rumah layaknya orang asing.


Yani membuka pintu rumah sambil memasang wajah tidak bersahabat. Tatapannya tajam dan sinis. Bukannya mempersilahkan Sherin masuk, ia malah kembali menutup pintu.


"Mah, buka pintunya" Sherin mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban apapun dari dalam rumah.


"Mah, kalau Sherin ada salah Sherin minta maaf Mah".


"Kamu gak nurut apa kata mamah. Mamah bilang jangan pergi ke kantor!" bentak Yani dari balik pintu.


"Mah, tapi Sherin kerja kan supaya gak ngerepotin Mamah" Sherin mencoba meluluhkan hati ibunya yang sebenarnya tidak bisa diluluhkan.

__ADS_1


"Mah, tolong buka pintunya. Di luar dingin Mah" kata Sherin merasakan tenggorokannya tercekat akibat menahan suara tangis.


Sudah hampir setengah jam, Yani tidak membukakan pintu untuk Sherin. Semakin lama udara semakin dingin. Teras rumah mereka tidak luas, hanya ada satu meter saja. Sherin duduk di teras tersebut dengan hati yang sedih. Di saat dirinya dihantui oleh mimpi buruk, ibunya malah memperlakukan dirinya seperti ini.


Angin mulai bertiup kencang, kilatan petir terlihat sesekali menerangi langit malam. Sebentar lagi hujan akan turun. Sherin kembali berdiri untuk mengetuk pintu.


"Mah, tolong maafin Sherin. Sherin janji akan nurutin semua perintah Mamah. Tolong buka pintunya Mah".


Sepertinya ibunya sudah pergi sedari tadi meninggalkan pintu. Sherin hanya bisa terduduk lemas di lantai. Hujan mulai turun dengan deras. Karena teras rumah itu sempit, air hujan pun membasahi Sherin ketika arah angin datang dari depan. Sherin hanya bisa memeluk diri karena kedinginan, sekarang ia duduk di depan pintu.


"Seharusnya rumah adalah tempat ternyaman bagi seorang anak, tapi beda sama aku, menurutku rumah adalah kenangan buruk" Sherin meneteskan air mata.


Dari kecil ia tidak pernah mendapat kasih sayang dari seorang ibu dan ayah. Bahkan dirinya tidak ada di dalam foto keluarga. Foto masa kecilnya pun tidak pernah ia lihat.


* * * *


"Di luar lagi hujan deres Ra, bagus kamu nginep aja di rumahku" kata Ralvin yang sedang duduk bersama Jura di ruang tamunya yang mewah.


"Iya, kayaknya aku gak bisa pulang" kata Jura.


Ralvin tersenyum. Imas datang membawakan teh dan juga makanan ringan. Imas terlihat senang melihat Ralvin membawa seorang teman ke rumahnya. Selama ini Ralvin tidak pernah mengajak seseorang datang ke rumah karena masalah privasi.


"Makasih Bi" kata Ralvin ramah.


"Sama-sama Den". Bi Imas meninggalkan ruang tamu.


"Lanjut yang tadi" kata Ralvin.


"Aku gak habis pikir, kenapa Sherin bilang di mimpinya, ayahnya Claudya itu lebih mirip bule, dan dua orang penjahat itu juga orang bule" kata Jura bingung.


"Ya bener juga, udah disimpulkan kalau Sherin adalah Claudya. Tapi kenapa wajah Sherin gak ada mirip-miripnya sama orang bule?" Ralvin juga bingung.


"Tapi Ral, dari SD Sherin selalu dapat nilai seratus dalam pelajaran bahasa Inggris. Terus dia juga bisa bahasa Inggris" kata Jura.


"Aduh, kepalaku pusing mikirinnya Ra." kata Ralvin.


"Dan kamu tadi inget gak, kata si penjahat yang pakai jas, kedua orangtuanya udah meninggal. Jadi, sekarang gimana kita mau cari tahu?" lanjut Ralvin lagi.


"Gini aja, besok aku minta bantuan papahku untuk nyelidikin ini". kata Ralvin.


"Memangnya bisa?".


"Bisa dong, papahku pernah nyelidikin kasus seorang pengusaha yang hilang dua puluh tahun yang lalu" jawab Ralvin bangga.


"Mantap kalau gitu. Ya udah, aku setuju.".

__ADS_1


__ADS_2