(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Ke Surabaya


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Sherin sudah mulai terbiasa tinggal satu rumah dengan Calvin. Setiap hari ia memasak dan melakukan kegiatan lainnya layaknya ibu rumah tangga. Walaupun ia sering berdebat dengan Calvin, tapi menurutnya itu adalah hal yang menyenangkan. Merekapun semakin akrab.


Jura percaya menitipkan Sherin pada Calvin. Ia membiarkan Sherin tinggal di rumah Calvin sementara ia mencari rumah baru yang aman untuk Sherin.


Hari ini Sherin sudah mulai masuk kerja dan mulai bekerja dengan janatan barunya. Banyak karyawan yang bergosip tentang Sherin. Ada yang bergosip Sherin kekasih rahasia Ralvin, ada juga yang mengira Sherin telah menggoda Ralvin dan akhirnya ia dinaikkan jabatannya. Hanya teman-teman Sherin lah yang tidak berburuk sangka dan ikut bahagia dengan jabatan baru Sherin.


Sherin berjalan menuju ruangan Ralvin di lantai sebelas. Ia mengenakan jas wanita, rok span selutut dan memakai high heels hitam. Sebenarnya Sherin tidak memiliki uang untuk membeli setelan pakaian formal semahal yang ia kenakan sekarang. Ralvin lah yang membelikan itu semua untuk Sherin.


Setelah sampai di depan ruangan Ralvin, Sherin mengetuk pintu.


"Masuk" kata Ralvin dari dalam.


Sherin membuka pintu dan melangkah masuk.


"Selamat pagi Pak" kata Sherin basa-basi.


"Pagi juga. Hari ini gak ada kerjaan. Jadi kamu boleh duduk santai di sofa" kata Ralvin.


"Tumben Bapak pagi-pagi udah ke kantor?" tanya Sherin yang sudah duduk di sofa.


"Saya lagi nyiapin persiapan ke Surabaya" jawab Ralvin yang masih sibuk berkutat di depan laptop.


Sherin menganggukkan kepala pelan. Dilihatnya Ralvin sangat fokus di depan laptop. Karena merasa bosan, Sherin mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atik ponsel itu. Entah mengapa mucul ide untuk mengirim pesan pada Calvin.


Jari Sherin dengan cepat mengetik pesan, 'Hai, kalau kamu nanti siang pulang, aku udah nyiapin makan siang di meja makan. Pas berangkat lagi jangan lupa kunci pintu'. Kemudian Sherin mengklik tombol kirim.


Sherin menunggu balasan dari Calvin tapi ia tidak menerima balasan. Sherin kembali mengetik pesan.


'Woi! Balas' kemudian Sherin mengklik lagi tombol kirim.


Sherin berkali-kali mengirim pesan pada Calvin tapi sama sekali tidak ada balasan.


Tiba-tiba Sherin dikejutkan oleh Ralvin yang berteriak.


"Akh!! Siapa sih yang dari tadi sibuk ganggu".


Ralvin merogoh ponselnya, lalu melihat layar. Ia tersenyum sekilas lalu memasang wajah kesal lagi. Ia mematikan ponselnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu mending makan sana, atau ngerumpi kek sama temen-temen kamu di lantai empat. Gak usah sibuk sama hp mulu" kata Ralvin tanpa menoleh pada Sherin.


"Gak mau ah Pak, temen saya lagi pada sibuk, takut ganggu" jawab Sherin.


Tak lama kemudian Ralvin menutup laptopnya. Ia berdiri dan berjalan menghampiri Sherin lalu ikut duduk di sofa.

__ADS_1


"Nanti bilang sama Calvin, besok kamu ikut sama saya ke Surabaya" kata Ralvin.


"Apa? Surabaya? Jauh amat" kata Sherin.


"Baru ke Surabaya aja kamu bilang jauh, gimana kalau ke rumah orang tua saya di Australia" kata Ralvin sambil memposisikan diri sesantai mungkin.


"Ngapain juga saya ke rumah orang tua Bapak" kata Sherin menertawakan Ralvin.


"Ya diperkenalkan sebagai calon istri saya" kata Ralvin sambil tertawa.


"Idih..mimpi" kata Sherin mendengus kesal.


Ralvin tertawa terbahak-bahak. Ia sangat suka dengan wajah Sherin yang sedang cemberut. Wajah gadis itu semakin menggemaskan.


"Pokoknya siap-siap aja berangkat ke Surabaya. Mungkin kita bakal tinggal di sana selama dua hari. Habis itu kita langsung pulang lagi ke Jakarta" kata Ralvin.


Sherin mengangguk. Ia memang harus menemani Ralvin di manapun ketika Ralvin ada urusan kantor. Itu lah tugas asisten pribadi.


* * * *


Jam pulang kantor tiba, Sherin sedang berjalan di lobby setelah ia menscan ID Cardnya. Tidak sengaja ia bertemu dengan Hendry. Hendry menyapanya dengan sangat ramah. Akhirnya mereka pun berjalan bersamaan.


Hendry melihat leher Sherin, di sana masih melingkar kalung yang ia berikan. Hendry tersenyum mengetahui Sherin masih memakai kalung itu.


"Udah lama loh kita gak ketemu" kata Hendry.


"Iya, soalnya habis itu aku berangkat ke Riau nemenin Bu Sifa rapat" kata Hendry sambil tertawa.


"Banyak yang gosipin kamu loh. Kamu kan akhir-akhir ini jarang masuk kantor, setibanya masuk kantor, kamu udah naik jabatan. Sampai ada yang bilang, naik ranjang naik jabatan. Pokoknya mulut mereka pedes banget." kata Hendry sambil menggelengkan kepala karena tidak tahan mengingat bagaimana orang-orang bergosip.


"Biarin aja lah, mulut orang iri ya gitu" kata Sherin.


Karena asik berbincang, tak terasa mereka sudah sama-sama berdiri di pinggir jalan.


"Loh kamu gak bawa mobil?" tanya Sherin pada Hendry.


"Enggak, lagi males aja. Aku disuruh ayahku naik bajaj" jawab Hendry.


"Bajaj? Kenapa gak naik taksi aja?" tanya Sherin bingung.


"Enggak tau tuh, tapi ya udahlah gak masalah. Lagian aku juga aku jarang ketemu sama ayahku kan, jadi sekalinya dia ada di Indonesia, aku harus nurut dong" kata Hendry.


"Oh, Memangnya kamu gak tinggal sama ayah kamu?" tanya Sherin.

__ADS_1


"Enggak, ayahku tinggal di Amerika, nah karena dia ada proyek kerja sama di Surabaya, jadi dia datang ke Indonesia dulu" jawab Hendry.


"Oh gitu. Eh, ada taksi nih. Aku duluan ya, bye" kata Sherin sebelum ia mencegat taksi.


* * * *


"Banyak banget kamu bawa baju? Mau pindahan?" tanya Calvin yang sedang duduk di atas ranjangnya yang kini sudah menjadi tempat tidur Sherin.


Sherin memasukkan banyak pakaian ke dalam kopernya. Calvin memang tidak paham kalau wanita itu memang harus lengkap jika membawa sesuatu. Dimulai dari makeup, pakaian, sepatu, alat mandi, handuk dan jika perlu wanita harus membawa selimut sendiri.


"Sampai besok pagi gak akan selesai tuh" kata Calvin lagi.


"Diem aja deh" kata Sherin singkat. Ia masih fokus mengemasi barang-barang yang sekiranya ia perlukan.


Beberapa lama kemudian, Sherin sudah selesai mengemasi pakaiannya. Sherin merasa lelah dan memutuskan untuk berbaring di samping Calvin.


Calvin tersenyum, ia tahu pasti Sherin sangat ke lelahan. Tak lama kemudian Calvin pun ikut berbaring sehingga tubuhnya berbaring di samping Sherin.


"Capek?" tanya Calvin.


"Ya iyalah. Pulang sore, begitu nyampe rumah nyuci baju, masak, beres-beres, terus malemnya beresin baju lagi" jawab Sherin tanpa menoleh pada Calvin. Ia tahu jika ia menoleh ke kanan, maka wajahnya akan bertemu langsung dengan wajah Calvin.


Tiba-tiba Calvin memiringkan tubuh lalu memeluk Sherin. Sherin membelalakkan matanya dan mencoba melepaskan tangan Calvin yang melingkar pada pinggangnya.


"Apa-apaan kamu? Lepasssin!".


"Diem, biar kamu gak capek" kata Calvin tidak menanggapi protesan Sherin. Ia malah memejamkan mata seolah akan tidur.


Sherin berusaha melepaskan tangan Calvin, sayangnya usahanya hanya sia-sia, tenaga pria tampan itu sangat kuat. Sherin pun pasrah tak memberontak lagi. Walaupun tubuh mereka tidak saling berhadapan, tapi Sherin sungguh tidak nyaman.


"Udah tidur, udah malem" bisik Calvin di telinga Sherin.


Wajah Sherin memerah. Bagaikan patung, Sherin tidak bergerak sedikitpun.


"Lepasin gak? Nanti aku nangis loh" kata Sherin.


"Nangislah, nanti kan aku peluk lebih erat" kata Calvin santai.


"Aku laporin sama Kak Jura loh" ancam Sherin.


Calvin terdiam, tak lama kemudian tangan Calvin lepas dari pinggang Sherin. Ia kembali memposisikan diri telentang.


"Dikit-dikit laporin ke Jura. Gimana kalau kita jadi suami istri? Mau laporin juga?" kata Calvin pura-pura merajuk.

__ADS_1


"Terserah aku dong" kata Sherin sambil bangkit dari tempat tidur lalu keluar kamar.


"Sherin Sherin, kamu gak tau kalau jantungku deg-degan" kata Calvin pelan sambil tersenyum.


__ADS_2