(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Mulai sekarang tinggal di rumahku


__ADS_3

Malam hari tiba. Ralvin sudah pulang ke rumahnya dan kini Sherin di apartemen sendirian. Beberapa hari yang lalu ia masih tinggal bersama Jura, dan sekarang ia harus tinggal sendirian. Apartemen itu memang mewah dan besar. Tapi jika sendirian akan sangat terasa sepi dan menyeramkan.


Di luar sana hujan sedang turun dengan lebatnya. Sherin memilih untuk masuk kamar dari pada duduk sendirian di ruang tamu. Di dalam kamar Sherin menikmati keindahan dan kemewahan kamarnya. Sherin membayangkan banyak artis yang tinggal satu gedung dengannya saat ini. Sayangnya ia tidak tahu apartemen nomor berapa para artis itu tinggal. Jika saja ia tahu, mungkin malam ini ia akan berkunjung ke sana.


"Enak banget ya hidup jadi orang kaya. Hidup serba mewah dan serba ada." kata Sherin sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Hmm kenapa ya Kak Calvin membeli apartemen ini? Kenapa gak dijual aja kalau gak ditempatin?" Sherin berbicara pada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian ia membulatkan matanya, "Jangan-jangan Kak Calvin bohong lagi kalau ini cuma rumah lamanya. Kayaknya dia mendadak beli apartemen ini untuk aku, terus alasannya rumah lama dia, biar aku gak nolak." kata Sherin.


"Hmmm dasar kakak beradik, bantu orang kok ada rahasia segala. Memangnya aku ini gak cerdik apa." kata Sherin menggerutu sendiri.


Tiba-tiba, "Aaaaa!!!".


Lampu mati, semua menjadi gelap. Sherin kalang kabut mencari ponselnya untuk memberikan sedikit penerangan. Tangannya gemetar karena begitu takut pada kegelapan.


"Kak Jura....aku takut.." kata Sherin sambil duduk di atas kasur.


Ia semakin takut menyadari sekarang ia tinggal sendirian. Jika waktu itu ia bisa lari ke kontrakan Ralvin, sekarang ia tidak bisa. Ralvin jauh entah di mana. Sherin tidak tahu letak rumah asli Ralvin.


"Oh ya, Ralvin. Aku harus nelepon dia dan minta bantuan." kata Sherin yang tiba-tiba teringat Ralvin.


Segera Sherin menghubungi Ralvin, tak lama kemudian, sambungan telepon terhubung.


"Hallo Ralvin." kata Sherin dengan suara gemetar.


"Hallo Rin, ada apa nelepon jam segini. Aku baru aja pulang dari kantor dan baru selesai mandi." kata Ralvin dari seberang telepon. Suaranya terdengar ceria karena Sherin meneleponnya.


"Aku takut." kata Sherin masih dengan suara gemetar.


"Apa? Takut? Ada apa? Kamu kenapa? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Ralvin langsung panik.


"Mati lampu, gelap." kata Sherin yang malah langsung menangis.


Ralvin ingat, terakhir kali kejadian mati lampu waktu itu Sherin sangat ketakutan. Gadis itu lari ke kontrakannya dan langsung memeluknya dengan erat. Pasti sekarang Sherin lebih ketakutan karena tidak bisa mencari perlindungan.


"Ok aku ke sana sekarang. Kamu tenang dan jangan takut ya. Aku bakal datang." kata Ralvin menenangkan sebelum menutup telepon.

__ADS_1


"Aneh, kok di apartemen itu mati lampu? Bukannya itu apartemen elite? Biasanya walaupun hujan badai kayak gini dan ada pemadaman listrik, pihak gedung apartemen pasti langsung nyalain generator besarnya." kata Ralvin sambil memakai kaos putih lengan panjang dan celana levis warna hitam.


Setelah selesai berpakaian, Ralvin langsung menyambar kunci mobil di atas nakas dan turun ke bawah. Imas yang melihat Ralvin berlari menuruni tangga menjadi sangat penasaran.


"Mau ke mana Den." tanya Imas.


"Mau keluar sebentar Bi." kata Ralvin.


"Ini makan malemnya gimana?" tanya Imas sambil mengangkat sayur yang ia pegang.


"Nanti aja Bi. Ralvin harus pergi sekarang. Bi siapain kamar di lantai tiga ya." kata Ralvin yang sudah hilang dari ruang tengah.


"Lah, kenapa Aden Ralvin minta bersihin kamar lantai tiga? Katanya itu untuk kamar dia sama istrinya kalau udah nikah." kata Imas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


* * * *


Sherin masih menangis, ia memeluk dirinya sendiri karena sangat ketakutan. Samar-samar Sherin mendengar suara dari luar kamar. Ia langsung lega dan tidak ketakutan lagi.


"Ralvin! Aku di kamar." teriak Sherin.


Sherin mengintip dari lubang kunci. Diluar sangat gelap, hanya ada cahaya senter yang menyenteri pintu kamar. Walaupun tidak jelas tapi Sherin dapat melihat bahwa orang itu berpakaian serba hitam, topi dan masker.


"Ya ampun, apa itu hantu?" kata Sherin semakin takut dan gemetaran.


Ketika melihat orang itu mulai berjalan ke arah kamar, Sherin mengambil kunci dan langsung mengunci kamarnya. Nafasnya tersengal menahan debaran jantung dan rasa takutnya.


"Ralvin, tolong aku, cepet datang." bisik Sherin pelan, air matanya semakin deras menetes.


Gagang pintu di putar. Awalnya pelan dalam sekali putaran, tapi ketika pintu tetap tidak terbuka, gagang pintu itu diputar beberapa kali dengan kasar.


"Hei! Siapa kamu!" teriak seseorang.


Gagang pintu berhenti berputar dan terdengar langkah kaki berlari. Sherin juga dapat mendengar suara cukup berisik kemudian seseorang berteriak lagi.


"Woy jangan lari!!".


Sherin mengenali suara itu, "Ralvin." secercah senyum mengembang di wajah Sherin. Perasaan lega menghilangkan semua kekhawatiran dan ketakutannya.

__ADS_1


"Sherin, buka pintu." suara Ralvin dari balik pintu.


Dengan segera Sherin membuka kunci pintu lalu membuka pintunya.


"Sherin kamu gak apa-apa?" kata Ralvin langsung memeluk erat Sherin.


Sherin memeluk erat Ralvin. Seolah mendapat perlindungan dan tempat yang aman, Sherin terus memeluk Ralvin.


"Aku gak apa-apa. Aku cuma takut." kata Sherin, isak tangisnya terdengar oleh Ralvin.


"Makasih kamu udah datang tepat waktu. Makasih Ralvin.".


Ralvin mengelus kepala Sherin dengan lembut, "Yang penting kamu baik-baik aja. Sebentar lagi lampu nyala." kata Ralvin.


Cukup lama mereka berdiri sambil berpelukan sebelum akhirnya lampu menyala. Sherin melepas pelukan Ralvin dan melihat ruang tamu berantakan. Kemudian Sherin mengalihkan pandangan pada wajah Ralvin.


"Ya ampun Ralvin, muka kamu luka." Sherin menyentuh pipi Ralvin dan mengelap darah dari sudut bibir Ralvin.


Ralvin tersenyum, "Gak sakit kok." kemudian ia meringis.


"Gak sakit apanya. Buktinya kamu nyengir kesakitan gitu." kata Sherin.


"Yang tadi itu siapa?" tanya Sherin.


"Aku juga gak tau. Tadi pas aku mau ngehalangin dia kabur, dia malah ngehajar aku. Untung aku bisa ngasih pukukan juga sama dia. Tapi sayangnya dia berhasil kabur." jawab Ralvin.


"Sekarang kamu masukin baju sama barang-barang kamu ke koper. Kamu gak bisa tinggal di sini lagi, apalagi sendirian." kata Ralvin.


"Kenapa?" tanya Sherin.


"Kamu tau, yang mati lampu itu cuma ruang apartemen kamu aja. Yang lain dan di lobby tadi juga lampunya nyala. Pasti ini ulah orang itu. Jadi mulai sekarang kamu harus tinggal di rumahku." jawab Ralvin.


"Tapi kalau aku tinggal sama kamu kita malah digerebek massa gimana?" tanya Sherin.


"Kamu tenang aja. Aku gak tinggal sendirian kok di rumah. Ada Bi Imas asisten rumah tanggaku, terus juga ada empat security yang jaga rumah. Jadi pasti aman dan gak akan dikeroyok warga. Nanti juga aku bakal lapor sama Pak RT." kata Ralvin.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Sherin setuju lalu mengemasi barang-barang nya segera.

__ADS_1


__ADS_2