
Sherin menangis di dalam kamar. Ia tidak percaya selama ini sudah dibohongi oleh Ralvin. Untung saja saat di Surabaya ia melihat tanda lahir di dada Ralvin, jika tidak, mungkin sekarang ia tidak tahu kebenarannya.
Sherin melangkah menuju lemari pakaian dan mengambil kopernya. Ia mengemasi semua barang-barang dan pakaian. Terkecuali pakaian kantor yang dibelikan oleh Ralvin, ia meninggalkan itu di dalam lemari.
Setelah selesai mengemasi pakaiannya, Sherin menggeret koper, melangkah keluar kamar. Ia masih sangat marah dan kecewa.
Tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang. Orang itu adalah Ralvin yang kancing kemejanya sudah terbuka.
"Lepasin." kata Sherin dengan mata yang tergenang air mata.
"Dari mana kamu tau semuanya?" tanya Ralvin yang menggenggam erat tangan Sherin.
"Sepandai-pandainya menutupi bangkai, pasti tercium juga. Itu juga yang kamu lakukan. Gak penting aku tau dari mana. Yang jelas aku tahu kalau kamu itu pembohong.".
"Kamu mau ke mana?" tanya Ralvin tanpa melepaskan tangannya.
"Aku gak mau tinggal sama pembohong kayak kamu." jawab Sherin.
Ralvin menunduk. Ia tahu ia salah, tapi itu semua ia lakukan dengan suatu alasan, dan alasan lainnya adalah ingin lebih dekat dengan Sherin. Gadis yang menarik dan berbeda dari gadis yang ia temui.
"Sekarang lepasin." kata Sherin tegas.
"Jangan pergi, aku mohon." kata Ralvin kembali mempererat genggamannya.
Sherin menarik tangannya dengan kuat. Setelah tangannya terlepas, Sherin kembali meneruskan langkahnya dengan sangat cepat.
Dari belakang Sherin mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Tak lama kemudian Sherin merasa tangannya ditarik dengan sangat kuat hingga membuat dirinya berbalik kebelakang lalu menabrak tubuh Ralvin.
Ralvin memeluk Sherin dengan sangat erat. Ia tidak memberi kesempatan pada Sherin untuk memberi jarak.
"Jangan pergi, maafin aku. Aku lakuin itu cuma pengen lebih deket sama kamu." kata Ralvin sambil memeluk Sherin dengan semakin erat.
Perlahan Sherin melepaskan tangan Ralvin dari tubuhnya. Sherin menatap mata Ralvin yang memancarkan penyesalan.
"Aku udah terlanjur kecewa." .
__ADS_1
Sherin kembali menarik kopernya dan pergi meninggalkan kontrakan Ralvin. Meninggalkan Ralvin yang mematung di ambang pintu.
Ralvin memandang Sherin hingga gadis itu hilang dari pandangannya.
"Aku harus cari tahu kenapa Sherin bisa tahu soal ini." Ralvin mengunci pintu kontrakan lalu pergi dari kontrakan.
* * * *
Semua karyawati menutup mata ketika melihat bos mereka datang ke kantor dengan kemeja yang tidak terkancing. Walaupun mata mereka ditutup, tapi mereka membuat celah pada jari mereka untuk mengintip. Siapa yang akan membuang kesempatan melihat tubuh kekar bos mereka yang sangat tampan. Tapi mereka tahu bahwa Ralvin sedang kesal dan marah. Mereka tidak berani menegur ataupun bertanya.
Ralvin membuka pintu ruangannya dengan sangat keras. Nafasnya memburu karena menahan amarah. Calvin terlompat kaget mendengar suara keras dari pintu.
"Ralvin, kamu ini bisa buka pintu pelan-pelan gak?" kata Calvin yang sedang menyeruput secangkir kopi.
"Owh, pantes aja, ternyata Kakak datang ke kantor." kata Ralvin sambil tersenyum sinis.
Calvin mengerutkan kening melihat adiknya bersikap tidak seperti biasa.
"Kamu kenapa Ral?".
"Harusnya kakak yang marah sama kamu. Kenapa kamu malah ngaku-ngaku kalau kakak ini sopir bajaj? Kamu nyamar pakai nama kakak." kata Calvin sama sekali tidak meninggikan suara. Calvin memang orang yang penyabar dan dewasa. Ia tidak mudah terpancing emosi, apalagi itu menyangkut Ralvin.
"Aku tahu aku salah, tapi aku lakuin itu karena suatu alasan. Lagian kenapa Kakak bisa tiba-tiba ada di kantor?" kata Ralvin mereda ketika kakaknya bersikap lembut.
"Papah yang nelepon mendadak. Katanya minta ditemenin ke sini. Ya udah kakak langsung datang." jawab Calvin.
Ralvin mengacak-acak rambutnya. Percuma ia meluapkan kekesalannya karena Sherin tetap saja sudah pergi.
Calvin menahan tawa ketika melihat kancing kemeja Ralvin terbuka. Ia yakin para karyawan sudah cuci mata melihat tubuh atletis Ralvin. Melihat kakaknya menahan tawa, Ralvin bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu mau pamer badan? Hmm karyawati yang jomblo udah cuci mata tuh." ejek Calvin.
Ralvin menunduk melihat tubuhnya. Ia membulatkan mata dan langsung menutup kemeja yang sudah tidak berkancing lagi.
"Kenapa kancingnya bisa hilang?" tanya Calvin.
__ADS_1
"Sherin yang narik dan ngebuka kemejaku secara paksa. Jadi lepas semua kancingnya." jawab Ralvin.
Calvin mengangkat sebelah alisnya, "Jadi yang kamu maksud dia pergi itu Sherin? Gadis yang tadi duduk di sini? Dia itu pacar kamu? Kamu nipu dia?" Calvin melemparkan banyak pertanyaan.
Ralvin berjalan masuk dan duduk di sebelah Calvin. Ia terlihat kusut dan tidak bersemangat ketika Calvin mengucap kata itu.
"Iya, tapi dia bukan pacarku." jawab Ralvin.
"Kamu mau deketin dia? Hmm kakak kira dia bukan incaran kamu. Tadinya kakak mau deketin dia karena pertama kali lihat dia, dia itu cantik dan menarik banget.".
Ralvin menoleh cepat pada Calvin. Matanya menatap tajam.
"Jangan macem-macem." ancam Ralvin.
Calvin tertawa terbahak-bahak melihat Ralvin sudah berani mengancamnya hanya karena satu gadis.
"Jadi kamu minta anak buah kakak juga untuk jaga dia?" tanya Calvin yang mengingat pesanan Ralvin saat Ralvin masih di Surabaya.
"Iya Kak. Tapi sekarang dia udah pergi. Aku udah minta maaf sama dia berulang kali, tapi dia belum maafin aku. Mungkin dia udah terlalu kecewa dan gak akan mau berteman sama aku lagi." kata Ralvin menyerah. Wajahnya muram.
Calvin tidak tega melihat adiknya murung seperti itu. Jarang sekali ia melihat Ralvin putus asa dan murung. Yang sering ia lihat adalah Ralvin yang selalu marah-marah pada karyawan dan selalu tertawa ketika dirinya bergabung bersama kakak-kakaknya.
"Udah jangan Khawatir. Nanti kakak bakal bantu kamu cari dia dan minta maaf sama dia. Kakak lihat dia gadis sederhana yang gak butuh harta, jadi permintaan maaf yang tulus lebih berharga untuk dia." kata Calvin sambil menepuk bahu Ralvin.
"Beneran Kak?" tanya Ralvin sambil menoleh pada Calvin.
"Iya lah beneran. Sekarang kakak mau nyuruh OB untuk beli baju untuk kamu. Memangnya kamu mau badan kamu jadi pajangan pempesona?" kata Calvin sambil mencubit perut sixpack Ralvin.
"Aw! Sakit Kak." gerutu Ralvin sambil mengusap bekas cubitan Calvin.
"Ya elah, lebay. Nanti sebelum kita cari pacar kamu itu, kita temuin papah dulu di lantai dua belas." kata Calvin lalu kembali menyeruput kopinya.
"Bukan pacar Kak." kata Ralvin sambil menyandarkan tubuh pada sofa.
"Ya udah kalau bukan pacar kamu, berarti kakak bisa deketin kan?" kata Calvin dengan niat iseng.
__ADS_1
"Dia pacarku." kata Ralvin sambil menatap tajam pada Calvin hingga membuat kakaknya itu tertawa terbahak-bahak.