
Ralvin memayungi Sherin yang baru turun dari mobilnya. Sherin menggeret koper sambil berlari kecil. Di depan pintu sudah ada Imas yang menunggu ke datangan mereka. Setelah sampai di teras, Ralvin menutup payung.
"Silahkan masuk." kata Imas sambil membuka pintu lebar-lebar.
Sherin dan Ralvin melangkah masuk ke dalam rumah.
"Langsung ke ruang tengah aja Rin." kata Ralvin.
Sesampainya di ruang tengah. Ralvin mengambil koper di tangan Sherin lalu meletakkannya di dekat sofa.
"Den, mau dibuatkan apa? Kopi, susu, atau teh?" tanya Imas.
Ralvin yang baru duduk di sofa menoleh pada Sherin yang duduk di sebelahnya.
"Mau minum apa?" tanya Ralvin.
"Terserah aja." jawab Sherin.
"Buatin teh aja Bi." kata Ralvin.
Imas langsung berjalan ke meja dapur. Ralvin mengambil remote tv lalu menyalahkan tv. Walau tv menyala, tapi keduanya tidak fokus pada tayangan televisi, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Ralvin berpikir bahwa sekarang Sherin adalah tanggung jawabnya. Sedangkan Sherin masih sedikit shock dan ia juga sedang mengagumi kemewahan rumah Ralvin.
Tak lama kemudian Imas datang dengan dua cangkir teh di atas nampan. Ia meletakan teh dengan rapi di atas meja.
"Silahkan diminum." kata Imas tersenyum ramah pada Sherin.
"Makasih." kata Sherin sambil membalas senyuman Imas.
"Maaf Den kalau bibi lancang, ini siapanya Aden?" tanya Imas. Sedari tadi ia sangat penasaran.
"Owh iya, Ralvin belum ngasih tau Bibi. Ini Sherin, asisten pribadi di perusahaan sekaligus temen Ralvin. Mulai sekarang dia bakal tinggal di rumah ini sampai Jura, kakaknya pulang ke Jakarta." kata Ralvin.
"Owh, Jura itu kakaknya Neng Sherin." kata Imas.
"Iya Bi." kata Sherin sambil tersenyum.
Imas akan melangkah ke dapur tapi Ralvin memintanya ikut duduk di sofa. Karena memang sudah terbiasa duduk bersama Ralvin, Imas tidak lagi canggung.
"Bi, kamarnya udah diberesin kan?" tanya Ralvin.
"Udah Den. Udah bibi beresin dan bersihin." kata Imas.
__ADS_1
"Bi mulai sekarang anggap Sherin kayak Bibi ke Ralvin. Gak usah terlalu sungkan karena Sherin gak sombong kok Bi." kata Ralvin.
"Siap Den." jawab Imas sambil tersenyum.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Sherin pun diminta Ralvin untuk naik ke atas. Sherin naik ke lantai tiga diantar oleh Imas. Begitu sampai di lantai tiga, Sherin membulatkan matanya. Kamar itu begitu mewah dan luas. Sherin jadi ingat kamar yang ada di film kerajaan. Kamar di hadapannya itu bernuansa emas dan putih. Segala perabotannya elegan dan mahal.
"Bi, ini beneran kamar?" tanya Sherin tidak percaya.
"Iya Neng, ini kamar beneran. Kamar ini Den Ralvin siapin untuk kamar dia sama istrinya." jawab Imas.
Sherin membulatkan matanya. Jangan-jangan Ralvin ingin menjebaknya. Seperti di novel-novel itu, begitu pikir Sherin.
Tanpa sepengetahuan Sherin, Ralvin sudah berdiri di belakangnya. Sekarang ia sudah memakai baju tidur lengan panjang. Ia tersenyum melihat Sherin yang masih melongo di depan pintu kamar.
"Bi, bisa kasih waktu kami sebentar?" tanya Ralvin.
Sherin menoleh dan terkejut melihat Ralvin sudah berada di belakangnya.
"Iya Den, bisa." kata Imas lalu pergi ke lantai bawah.
Setelah Imas pergi, Ralvin berjalan semakin dekat pada Sherin, "Kok belum masuk kamar?" tanya Ralvin.
Ralvin tersenyum lebar, "Iya memang bener. Terus kenapa? Kan kamu mau jadi istri aku kan? Jadi gak masalah dong." kata Ralvin santai.
"Iish, gak mau. Aku mau tidur bareng Bi Imas aja deh." kata Sherin sambil menarik koper nya dan melangkah.
Tapi baru satu langkah, Ralvin bergerak untuk menghalangi Sherin. Sherin berdecak kesal.
"Minggir." kata Sherin sambil menatap wajah Ralvin.
"Gak mau. Kamu harus tidur di kamar ini." kata Ralvin sambil tersenyum.
Sherin berkacak pinggang, seperti biasanya, bersiap untuk mengomel.
"Aku gak mau nempatin kamar yang bakal kamu tempatin sama istri kamu. Gimana perasaan calon istri kamu nanti kalau tau kamarnya udah di pake sama orang lain." kata Sherin.
Ralvin tersenyum misterius, "Di pake gimana maksudnya? Kamu mau pake kamar ini sama aku?" kata Ralvin.
Sherin menatap senyuman itu. Ia menemukan arti tertentu di sana, "Jangan macem-macem." ancam Sherin tajam.
"Bukannya waktu itu kamu yang maksa buka kemeja aku?" tanya Ralvin tanpa menghilangkan senyum itu.
__ADS_1
"I-i-iya tapi kan bukan ada maksud lain. Aku cuma mau lihat ada tanda lahir gak di dada kamu." kata Sherin gugup.
Ralvin terkekeh, "Mau lihat lagi?".
Sherin menggeleng cepat.
Tanpa diduga Ralvin langsung menyambar Sherin dan membopongnya ke dalam kamar. Sherin menjerit tapi Ralvin tidak mempedulikan nya sama sekali. Ia malah tersenyum lebar. Ia melemparkan Sherin ke atas tempat tidur.
"Kamu mau apa!?" bentak Sherin.
Ralvin mendekatkan wajahnya, dan Sherin memejamkan mata karena takut.
"Mau kamu tidur di sini," bisik Ralvin ditelinga Sherin, "Jangan bantah. Kalau ada apa-apa, kamu bisa panggil aku di kamar lantai dua." kata Ralvin lagi ketika ia sudah menjauhkan wajahnya.
Ralvin langsung berjalan keluar kamar dan meninggalkan Sherin yang masih terkejut dan ketakutan.
Ralvin tersenyum ketika melihat Imas berdiri tak jauh dari kamar Sherin tadi. Imas memandang Ralvin dengan penuh tanya.
"Aden ngapain?" tanya Imas hati-hati.
"Gak ngapa-ngapain Bi. Jangan berpikiran negatif Bi. Ralvin cuma maksa dia tidur di kamar itu. Tadi dia malah pengen tidur sama Bibi." jawab Ralvin lalu merangkul Imas seperti pada ibunya sendiri.
"Sangkain...".
"Iih Bibi ini kok berpikir ke sana. Gak mungkin lah Bi." kata Ralvin sambil tertawa terbahak-bahak.
Di dalam kamar Sherin masih termangu. Ia hampir saja berpikir macam-macam pada Ralvin. Ia kesal dengan perlakuan Ralvin kali ini. Pria itu membuat jantungnya hampir copot. Jika Ralvin berbuat lebih jauh sudah dipastikan ia akan menggorok leher Ralvin.
"Dasar Ralvin. Tapi dia memang selalu ada di saat aku butuh. Dia selalu ngelakuin hal baru yang bikin aku kaget, seneng, marah, kesel, bahagia dan...ah dia itu aneh dan, istimewa." kata Sherin pada dirinya sendiri sambil tersenyum-senyum.
Sherin menghentikan senyumannya, "Ish, kok aku malah mikirin dia sih? Dia itu nyebelin. Jangan sampe aku naruh hati sama dia." kata Sherin ketika sadar ia senyum-senyum sendiri.
Sherin merebahkan diri ke atas tempat tidur yang empuk. Ia merasakan tekstur kasur itu berbeda dari kasur-kasur yang selama ini ia tiduri. Sherin bangun dari tempat tidur. Ia membulatkan matanya.
"Ya ampun, tempat tidur ini bukan dari kapuk, tapi dari air. Berapa juta harganya? Si Ralvin bener-bener gak tanggung nyiapin semuanya. Yang jadi istrinya pasti beruntung banget." kata Sherin berdecak kagum.
Ketika memikirkan istri Ralvin, entah mengapa ia merasa tidak enak ketika membayangkan Ralvin bersanding dengan wanita lain. Ralvin yang akan memberikan perhatiannya pada wanita itu dengan sempurna. Senyum pria tampan itu akan diberikan sepenuhnya pada wanita yang ia cintai.
"Iiiih...aku kenapa sih? Kenapa coba harus mikir gitu? Jangan-jangan gara-gara aku tidur di kamar ini. Huft...lebih baik aku langsung tidur aja deh." kata Sherin.
Sherin berjalan ke depan pintu untuk mengambil koper yang ditinggalkannya tadi, lalu menutup pintu dengan rapat.
__ADS_1