
Sherin sudah bangun pagi-pagi sekali. Ia mandi dan langsung berpakaian. Saat bangun tidur tadi ia sempat terkejut karena terbangun di kamar yang mewah. Tapi ia kembali lega ketika mengingat ia sedang berada di rumah Ralvin.
Dengan langkah ringan, Sherin berjalan keluar kamar dan langsung turun ke lantai bawah. Ia ingin membantu Imas memasak. Tidak enak rasanya jika ia beruncang-uncang kaki sedangkan Imas sibuk di dapur. Ia juga kan sedang menumpang di rumah itu.
"Bi, mau masak apa?" suara Sherin berhasil membuat Imas terkejut.
Imas tersenyum lebar, "Eneng udah bangun. Ini saya mau goreng sambel sama goreng ikan asin.".
Sherin mengerutkan kening, "Hmmm Ralvin gak makan sayur Bi?" tanya Sherin.
"Makan Neng, cuma kalau pagi Den Ralvin lebih suka makan sambal goreng sama ikan asing, terus lalap daun ubi. Kalau malem baru Den Ralvin makan sayur." jawab Imas.
"Oh ya, lupa, Neng mau dimasakin apa? Siapa tau Neng gak mau makan sama ini semua." kata Imas tanpa menghilangkan senyumnya.
"Mau kok Bi, Sherin suka apapun asal jangan beracun aja.".
Imas hampir tertawa lalu ia tahan, "Neng ini pinter ngelawak.".
Obrolan itu berujung pada Sherin yang membantu Imas menggiling cabai dan menggoreng ikan asin. Dalam hati Sherin memuji selera Ralvin. Walaupun pria itu kaya, tapi ia lebih suka masakan sederhana. Jika ia menjadi istri Ralvin, ia tidak perlu repot pagi-pagi untuk memasakan masakan yang rumit.
"Eh, Kenapa aku mikirin dia lagi?" Sherin baru menyadari dirinya terus memikirkan Ralvin sejak tadi malam.
"Mikirin siapa Neng?" tanya Imas. Ternyata Sherin secara tidak sadar telah menyuarakan isi pikirannya.
"Owh? Gak ada Bi, cuma ngelamun aja." Sherin menyengir malu.
Sherin dan Imas menoleh ke arah tangga serempak ketika mendengar langkah kaki. Ternyata itu Ralvin yang baru saja turun dari lantai dua. Pria itu memakai kaos lengan pendek berwarna hitam, dan celana levis pendek bermerk mahal. Sherin belum pernah melihat penampilan Ralvin yang sesantai itu.
"Eh yang udah masak pagi-pagi. Cieee calon istri idaman.".
Pagi-pagi saja Ralvin sudah mengusik Sherin. Sherin hanya mendengus, ia tidak ingin berdebat atau ribut dengan Ralvin untuk saat ini. Ya, untuk saat ini saja.
"Yok makan." kata Ralvin setelah ia duduk di depan meja makan.
Seperti biasanya, Imas akan ikut makan di meja makan. Pada pagi itu mereka makan dengan tenang tanpa ada cek-cok sedikitpun.
__ADS_1
Setelah selesai makan Sherin ingin membantu Imas mencuci piring, tapi Imas melarangnya. Sherin pun mengalah dan memilih duduk di ruang tamu mewah milik Ralvin. Ralvin juga mengikuti Sherin ke ruang tamu, lalu duduk bersebelahan dengan Sherin. Ia duduk dengan sangat santai.
"Gak kerja?" tanya Sherin membuka suara setelah beberapa lama terdiam.
Ralvin tersenyum kecil, "Enggak, males. Di kantor kan ada si Daniel sama Sifa." jawabannya ringan.
"Oh ya, aku udah lama gak ketemu sama Mas Daniel." kata Sherin yang tiba-tiba mengingat Daniel. Sosok atasan tampan yang ramah.
Ralvin kembali tersenyum kecil, "Dia udah aku ancem, gak boleh deket-deket sama kamu lagi.".
Sherin menoleh cepat pada Ralvin, ia terkejut, "Memangnya kamu siapa larang orang untuk deketin aku?".
Ralvin menatap Sherin hanya dengan mengalihkan pandangan matanya, tidak benar-benar menoleh.
"Jadi kamu pengennya dideketin sama dia?" tanya Ralvin menyudutkan Sherin.
"Ya-ya ya enggaklah," Sherin tertawa kaku, "Mana mungkin aku pengen didekatin sama Mas Daniel." jawabnya lagi dengan mengalihkan pandangan ke lain arah.
Ralvin mencondongkan tubuhnya pada Sherin, "Jadi kamu mau dideketin sama aku?" kata Ralvin dengan nada penuh percaya diri.
Ralvin tertawa terbahak-bahak, ia sudah berhasil menggarai Sherin lagi.
"Yok ke taman?" kata Ralvin yang sudah berdiri.
"Taman mana? Aku lagi males jalan-jalan." jawab Sherin tanpa melihat wajah Ralvin. Ia masih kesal karena selalu digarai oleh pria itu.
"Siapa bilang jalan-jalan? Aku bilang ke taman. Kamu pikir taman mana? Aku di sini punya taman yang luas. Kamu mau lihat? Kamu pasti suka." cerocos Ralvin.
Sherin menarik nafas sebelum mengatakan persetujuannya.
"Ok, tapi kalau aku gak suka, awas aja." ancam Sherin tanpa maksud serius.
Ralvin mengajak Sherin untuk berjalan ke belakang rumah. Sesampainya di sana Sherin menutup mulutnya dengan tangan karena sangat kagum melihat pemandangan di depannya.
Di sana ada berbagai macam bunga dengan bermacam warna yang bermekaran dengan indah. Beberapa pohon yang berjejer rapi dan bangku taman putih yang panjang. Taman itu cukup luas, jika Ralvin melaksanakan pesta pernikahan di sana pun pasti akan cukup.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Sherin langsung berjalan untuk melihat bunga-bunga itu lebih dekat. Matanya berbinar karena begitu kagum. Ralvin yang melihat itu tersenyum lebar. Rasanya ia ikut bahagia melihat binar gembira dari mata Sherin.
"Ini beneran taman di rumah kamu?" Sherin mengalihkan pandangan pada Ralvin.
Ralvin mengangguk dan tersenyum lebar lagi.
"Kamu suka?" Ralvin berjalan mendekati tempat Sherin berdiri.
Masih dengan penuh kekaguman, Sherin mengangguk cepat.
Ralvin menarik tangan Sherin menuju sebuah ayunan yang ada di dekat pancuran air kecil. Tali ayunan itu dililit oleh bunga yang hidup merambat. Ralvin mendudukkan Sherin di atas ayunan lalu ia mengayunkan Sherin dengan pelan.
"Kamu suka?" tanya Ralvin lagi dengan pertanyaan yang sama.
"Aku suka banget. Rasanya aku lagi gak di bumi." jawab Sherin.
Ralvin tertawa, "Kalau bukan di bumi, bunga ini gak mungkin tumbuh dong.".
Sherin ikut tertawa, ia menyadari kekonyolan atas ucapannya tadi.
Ralvin berhenti mengayunkan Sherin, kini ia ikut duduk di sebelah Sherin. Karena ayunan itu hanya cukup untuk duduk satu orang, jadi Sherin dan Ralvin harus duduk berdempetan. Tangan Ralvin dibentangkan dari tali ayunan satu ke satu lainnya.
"Bersender." perintah Ralvin.
Sherin pun mengikuti arahan Ralvin. Ia menyenderkan kepalanya pada bahu Ralvin. Setelah itu Ralvin mengayunkan ayunan dengan kakinya.
Pada saat itu, Sherin merasa benar-benar damai. Bersender pada bahu yang nyaman, duduk di ayunan, melihat pemandangan indah, dan tanpa keributan membuatnya benar-benar bahagia.
Akhirnya ia bisa merasakan hari menyenangkan selama bertahun-tahun tidak menemukan hari itu. Setelah semua yang terjadi, hari ini adalah hari yang indah. Ralvin sendiri merasakan hal yang sama. Sudah lama ia tidak duduk bersama seseorang di taman itu.
"Kamu suka?" tanya Ralvin. Lagi-lagi dengan pertanyaan yang sama.
Sherin terkekeh, "Mau sampe kapan kamu nanya gitu terus ke aku. Aku udah bilang suka, suka banget.".
Ralvin tertawa kecil, tanpa sadar tangan kanannya memeluk Sherin dengan lembut. Sherin juga tidak sadar akan hal itu. Yang ia rasakan hanya nyaman, damai, dan bahagia.
__ADS_1