(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Dia penting bagiku


__ADS_3

Ralvin memeluk Sherin dengan erat. Ia tahu ia salah, tidak mengatakan bahwa ia sudah memiliki tunangan. Sungguh Ralvin tidak ingin jauh dari Sherin. Ia sempat berpikir bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada gadis yang ada di dalam pelukannya sekarang, tapi saat Jessika datang, ia juga tidak bisa melepaskan Jessika.


"Maafin aku, aku terlalu takut kamu menjauh. Aku gak mau jauh dari kamu." Ralvin mengatakan itu sambil memejamkan mata. Ia meresapi pelukannya untuk Sherin dengan harapan perasaannya bisa sampai pada gadis itu.


"Ralvin?" Jessika sudah berdiri diambang pintu.


Sherin mendorong tubuh Ralvin menjauh. Ia menunduk, tidak enak hati. Ia takut menyakiti hati Jessika.


"Apa gini kelakuan kamu di belakang aku?" Mata Jessika sudah berkaca-kaca.


Ralvin berdiri, ia berjalan mendekati Jessika. "Maaf, tapi ini gak seperti yang kamu pikirin. Aku cuma--"


"Cukup, aku kecewa sama kamu!" Jessika berlari dari sana.


"Jessika!" Sebelum mengejar Jessika, Ralvin menoleh pada Sherin yang masih duduk ditempatnya. Setelah itu ia berlari mengejar Sherin.


Sherin menunduk. Ada perasaan menyakitkan ketika Ralvin mengejar Jessika. Padahal sudah seharusnya Ralvin mengejar Jessika dan memberikan penjelasan agar gadis itu tidak marah. Namun, hati Sherin tidak bisa berbohong. Ada rasa sakit di sana.


"Seharusnya gak gini. Perasaan apa ini?"


Di lain tempat, Ralvin sudah berhasil mengejar Jessika. Kini mereka sedang berdiri di halaman rumah Ralvin. Jessika menangis di dalam pelukan Ralvin, sedangkan Ralvin terus memeluknya dan mengusap lembut punggung Jessika.


"Apa yang kamu lihat, itu semua gak seperti yang kamu bayangkan," kata Ralvin sambil mengeratkan pelukannya.


"Janji sama aku, kamu gak akan deket-deket sama dia." Jessika masih menyembunyikan wajahnya di dada Ralvin.


Ralvin menarik nafas dalam. Ia tidak bisa menyakiti dan mengecewakan Jessika, tapi ia juga tidak bisa menjauh dari Sherin. Baginya, Sherin adalah penawar dari segala suasana hati yang buruk. Ketika ia membutuhkan penambat hati, di mana Jessika saat itu? Gadis itu memilih tinggal di Amerika.


Untuk sekarang, ia tidak bisa berbuat apapun kecuali berjanji pada gadis yang sedang menangis itu.


"Baiklah, aku janji."


Jessika mengelap air matanya, ia tersenyum bahagia. Untuk beberapa saat kemudian, Ralvin melepas pelukannya. "Sekarang, jangan nangis lagi."


"Ok, tapi kamu harus nepatin janji kamu," kata Jessika sambil menjentikkan jari kelingking.

__ADS_1


Ralvin menaut jari kelingking itu. "Janji."


"Makasih sayang, i love you." Jessika memeluk Ralvin lagi.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata yang berkaca-kaca sedang memperhatikan mereka dari jendela lantai tiga.


* * * *


Jessika sedang berbicara dengan seseorang diseberang telepon. Ia berbicara pelan sekali, seolah tidak ingin terdengar oleh siapapun.


"Aku udah ngasih tau tentang sopir bajaj itu. Aku juga udah buat fokus Ralvin pecah. Sekarang giliran Anda yang menepati janjimu. Buat kontrak saya diperpanjang oleh agensi Amerika."


"Ok, aku tunggu janjimu." Setelah itu Jessika menutup panggilan.


Jessika tersenyum memandangi langit dari balkon kamar Ralvin. Akhirnya semua masalah pada karirnya akan terselesaikan. Walaupun ia harus mengkhianati Ralvin dengan membocorkan informasi tentang Ralvin yang menyamar menjadi sopir bajaj, tapi Jessika tidak peduli.


Pintu kamar Ralvin diketuk, kemudian disusul dengan suara Imas.


"Non, Den Ralvin udah nunggu di meja makan. Makan malem udah bibi siapin," ucap Imas dari balik pintu.


"Ya, aku akan ke sana," balas Jessika.


Setelah itu Jessika melenggang keluar dari kamar Ralvin.


Jessika tersenyum ketika melihat Ralvin sudah duduk di depan meja makan. Ia juga melihat Sherin dan Imas. Senyumnya semakin mengembang, inilah kesempatannya untuk membakar Sherin.


Jessika berjalan cepat menuju meja makan. Sebelum duduk, ia mengecup pipi Ralvin terlebih dahulu. "Selamat makan, Sayang."


Ralvin tersenyum kaku. Ia memikirkan bagaimana perasaan Sherin saat itu. Walaupun ia tidak tahu pasti apakah Sherin menyukai nya, tapi melihat dari kedekatannya beberapa hari lalu, Ralvin bisa merasakan ada sebuah perasaan yang sulit dikatakan.


"Sherin? Kenapa kamu diem aja. Ayo dimakan," kata Jessika sok ramah.


Sherin mengangguk dan tersenyum. Ia tidak ingin menunjukkan isi hati yang sebenarnya.


Mereka semua pun mulai menyantap makanan dengan damai sebelum akhirnya Jessika membuat ulah.

__ADS_1


"Oh ya, mulai besok Bi Imas gak usah gabung dimeja makan ya?" kata Jessika.


Sherin menoleh cepat pada Jessika, begitu juga Ralvin dan Imas.


"Kenapa?" tanya Sherin.


"Karena aku gak suka. Di rumahku, biasanya para pembantu itu makannya setelah semua orang selesai makan. Apa Bi Imas gak tau sopan-santun?" ucap Jessika.


"Stop!" Ralvin menggebrak meja. "Jangan kurang ajar kamu sama bi Imas. Dia udah aku anggap sebagai ibuku sendiri!" bentak Ralvin.


Bukannya takut, Jessika malah tertawa. Ia sama sekali tidak menggubris amarah Ralvin.


"Ok, maaf. Aku cuma mau ngetes, apakah bi Imas akan marah kalau aku ngomong gitu. Ternyata bi Imas itu orangnya sabar. Dia gak cuma jadi benalu di rumah ini, dia ngerjain semua pekerjaan rumah. Padahal bi Imas udah kamu anggap sebagai ibu kamu sendiri, kan? Tapi dia sama sekali gak cuma numpang aja. Bener gak, Sherin?"


Sherin tidak bisa menjawab, lidahnya kelu. Ternyata Jessika sedang menyindirnya. Tapi tidak bisa disangkal, yang dikatakan oleh Jessika memang benar adanya. Imas saja yang sudah Ralvin anggap sebagai ibu masih mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan dirinya yang bukan siapa-siapa Ralvin, ia malah hidup santai di rumah Ralvin seperti benalu.


"Jessika, udah. Kamu gak usah bahas apapun. Siapapun yang tinggal di sini, gak ada yang namanya jadi benalu. Semuanya penting untukku," kata Ralvin ketika menyadari bahwa Jessika sedang menyinggung Sherin.


"Bi Imas penting karena dia seorang asisten rumah tangga, aku penting karena aku tunangan kamu dan cintamu, terus dia?" kata Jessika sambil menunjuk Sherin. "Dia bukan orang penting, kan?" tanya Jessika melanjutkan ucapannya.


Sherin menunduk. Lagi-lagi ucapan gadis itu membakar dan meremukkan hati Sherin. Ia merasa sangat terpojokkan.


"Ya, aku tidak penting ada di sini," jawab Sherin masih dengan tertunduk.


"Tidak." Ralvin menyambar ucapan Sherin.


"Kamu penting untukku."


Sherin mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Ralvin.


"Kamu penting untukku. Mungkin gak untuk saat ini, tapi untuk masa yang akan datang."


Jawaban Ralvin berhasil membuat Sherin dan Jessika tertegun. Jessika membulatkan matanya pada Ralvin. Bukankah pria itu sudah berjanji akan menjauhi Sherin? Lalu apa ini?


"Maksud kamu?" tanya Jessika.

__ADS_1


Ralvin menggeleng. "Gak ada maksud. Aku cuma mau bilang, kamu jangan buat suasana di rumah ini jadi gak enak. Cobalah saring ucapan kamu supaya gak menyinggung perasaan orang lain,"jawab Ralvin tegas.


Sepertinya Jessika mulai tersulut api amarah. Ia berdiri tegak, menatap orang satu-persatu dengan tajam, kemudian tanpa berkata lagi, ia meninggalkan meja makan begitu saja.


__ADS_2