
"Aku romantis, kan?"
Sherin menoleh dan sedikit mendongak untuk melihat wajah Ralvin. Beberapa detik kemudian ia baru tersadar bahwa mereka sedang duduk dengan cara yang paling romantis. Pipi Sherin memerah seketika.
"Biasa aja," jawabnya.
Ralvin menahan senyum. "Kalau biasa aja, kenapa pipi kamu jadi bersemu merah gitu?"
Pertanyaan Ralvin semakin membuat pipi Sherin memerah. Entah mengapa, akhir-akhir ini Ralvin banyak berubah. Pria itu telah membuatnya terombang-ambing oleh berbagai perasaan. Terkadang pria itu membuatnya kesal, tapi di saat yang bersamaan pria itu juga membuatnya gembira.
"Kenapa diam?"
Sherin menggeleng, ia terlalu malu untuk berbicara lagi.
"Ya udah kalau gak mau ngomong." Ralvin tidak ingin memaksa Sherin untuk bicara, ia tahu gadis itu sedang malu-malu padanya.
"Udah berapa lama kamu tinggal di sini?" tanya Sherin untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Udah lumayan lama sih, lima tahun," jawab Ralvin.
"Kak Calvin tinggal di mana?" tanya Sherin lagi.
"Dia tinggal di Jakarta juga, tapi Jakarta pusat."
Ada niatan Sherin untuk menyinggung soal apartemen elite yang beberapa waktu lalu Calvin berikan untuk nya, tapi ia merasa tidak ingin mengganggu suasana yang damai ini. Sherin jarang sekali merasakan suasana seperti yang ia rasakan sekarang. Itulah sebabnya sekarang ia sangat bahagia dan bersyukur telah mengenal Ralvin. Ya walaupun terkadang Ralvin menyebalkan.
"Jura ada ngabarin kamu lagi?" tanya Ralvin.
"Udah, tapi kak Jura cuma sms aja. Dia bilang, beberapa hari kedepan dia gak bisa ngasih kabar karena dia sibuk bantu ngurus nenek dan juga perusahaan peninggalan kakek."
"Owh ...." Hanya itu kata diucapkan oleh Ralvin.
"Hmm kamar yang aku tempatin itu mewah banget, kayak kamar raja dan ratu. Kamu sendiri yang pilih desainnya kayak gitu?"
Ralvin tertawa. "Enggak juga sih, aku juga dibantu sama kak Viola," jawab Ralvin.
"Kenapa? Kamu pengen nempatin kamar itu selamanya?" Ralvin memberikan jeda sebentar, kemudian meneruskan lagi. "Kalau kamu mau, kamu harus jadi istri aku dulu."
Sherin langsung nyengir, tidak tahan mendengar ucapan Ralvin. "Maless," kata Sherin penuh penekanan.
Saat mereka asik berbicara, Imas datang dengan membawa ponsel Ralvin di tangannya.
__ADS_1
"Den, ada yang nelepon dari tadi."
Ralvin turun dari ayunan dan mengambil ponsel dari Imas. Saat menatap layar ponsel, ia mengerutkan kening. Sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenali. Pada menit kedua, ponsel Ralvin berdering lagi.
"Hallo," sapa Ralvin.
"Serahkan Sherin." Suara itu rendah, berat, besar, dan menyeramkan.
Ralvin tidak ingin mendengar pria itu berbicara lagi. Ralvin langsung menutup telepon dan menarik nafas kasar. Entah apa lagi yang direncanakan oleh musuh yang ingin mendapatkan Sherin. Sampai detik ini pun, Ralvin tidak tahu apa yang mereka cari dari Sherin.
"Siapa?" tanya Sherin.
Ralvin menoleh pada Sherin. "Enggak, cuma temen meeting. Pas aku sapa, dia malah nutup teleponnya."
Sherin yang tidak tahu apa-apa hanya bisa percaya.
Ralvin kembali ke ayunan. Ia menatap wajah cantik Sherin. Apa yang ada di dalam pikiran Ralvin saat itu hanya dapat diketahui oleh Ralvin sendiri. Tiba-tiba ia memegang pipi kanan Sherin.
"Aku salut sama kamu. Hidup kamu gak semudah seperti orang-orang diluar sana, tapi kamu bisa tegar, bahkan terlihat gak punya masalah sama sekali."
Sherin menatap Ralvin, ia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Ralvin.
"Saat kamu tahu papah dan mamah kamu itu bukan orang tua kandungmu, kamu hanya sedih dalam sehari aja. Pas kamu tahu kamu itu Claudya, kamu cuma shock beberapa jam aja. Itu yang gak bisa orang lain tiru dari diri kamu." Lalu tiba-tiba Ralvin mengecup pipi Sherin.
"Kenapa kamu cium pipi aku?" Sherin mengelap pipinya dengan punggung tangan.
"Supaya kamu semangat jalanin hari-hari berikutnya. Aku pengen jadi penyemangat kamu setiap hari," jawab Ralvin.
Pipi Sherin kembali memerah, kali ini ia tidak dapat bertahan berhadapan dengan Ralvin. Sherin turun dari ayunan, lalu ia berlari kecil dari taman itu dengan senyum malu yang merekah.
"Aku baru tau kalau kamu itu nambah cantik kalau lagi malu-malu kayak gitu," gumam Ralvin.
Di kamar, Sherin berguling-guling di atas tempat tidur. Jantungnya terus berdegup kencang. Senyumnya tidak bisa hilang dari wajahnya. Entah perasaan apa yang sedang bercampur aduk di dalam hatinya. Bayangan ketika Ralvin mencium pipinya kembali terlintas. Sherin semakin berguling-guling dan tersenyum lebar.
"Kenapa dengan hari ini? Kenapa Ralvin terlihat menarik dan ganteng? Aaaa!!" Sherin berteriak-teriak tidak jelas.
"Kenapa aku baru sadar kalau Ralvin itu mempesona. Perlakuan dia itu ...," Sherin menjeda sebentar, "manis banget," lanjutnya bersamaan dengan melebarnya senyuman.
"Aduh.....kenapa aku jadi baper gini? Jangan, aku gak boleh naksir dia segampang itu. Belum tentu dia suka aku. Dia kan memang baik, jadi gak menutup kemungkinan kalau perlakuan dia ke aku itu cuma sebagian dari perlakuan baiknya."
Sherin mengatur nafasnya. Baru sehari satu rumah dengan Ralvin, dirinya sudah hampir terbawa perasaan. Sungguh Ralvin itu membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
__ADS_1
"Kamu kok ninggalin aku sendirian di taman?"
Suara Ralvin mengejutkan Sherin yang masih berbaring di atas tempat tidur. Ralvin berdiri di ambang pintu dengan senyum manisnya. Entah apa maksudnya? Mungkin ia ingin menggoda Sherin.
Dengan langkah santai, Ralvin menghampiri Sherin. Ia duduk di tepi ranjang.
"Kelihatannya lagi seneng, ada apa?" tanya Ralvin. Sepertinya ia ingin mengusik Sherin lagi.
"Enggak kenapa-kenapa kok. Hmm ngapain kamu ke sini?" tanya Sherin.
Ralvin tersenyum. "Aku cuma pengen ngobrol aja."
"Ish!! Dia kenapa sih? Apa dia sengaja pengen buat jantung aku deg-degan?" gerutu Sherin dalam hati.
Ralvin ikut membaringkan tubuhnya di samping Sherin. Kemudian ia merubah posisi sehingga miring menghadap Sherin. Sekarang wajahnya menghadap wajah Sherin. Mata mereka saling tatap.
"Kamu suka tinggal di rumahku?" tanya Ralvin.
Sherin hanya mengangguk. Jantungnya berdebar lebih cepat. Jarak mereka sangat dekat, terlalu dekat.
Ralvin tertawa terbahak-bahak. "Lihat muka kamu itu, merah semua. Dan suara jantung kamu, aku bisa denger dengan jelas."
Tanpa Sherin duga, Ralvin memeluknya. Pada saat yang bersamaan, Imas datang untuk mencari Ralvin. Mata Imas hampir copot melihat pemandangan itu. Tentu saja dari posisi Imas berdiri, Ralvin dan Sherin terlihat sedang melakukan suatu hal. Imas menutup matanya sambil berteriak.
"Adennn!!"
Teriakan Imas membuat Ralvin dan Sherin terkejut. Ralvin membalikkan badan lalu membulatkan matanya. Ia langsung bangun dan duduk dengan salah tingkah, begitu juga dengan Sherin.
"Aden ngapain?" Imas masih menutup matanya.
"Bi, ini gak seperti yang Bibi pikirin dan bayangin. Ralvin sama Sherin gak ngapa-ngapain kok." Ralvin berbicara dengan sangat gugup.
Ia memaklumi jika Imas berpikir macam-macam, sebab posisi mereka tadi pasti akan membuat orang berpikir macam-macam.
"Den, kalau Aden macam-macam, nanti bibi laporin ke tuan sama nyonya loh." Ancam Imas tegas.
Ralvin mengacak-acak rambutnya. "Aduh Bi, jangan berpikir macem-macem. Sumpah, Ralvin gak ngapa-ngapain dan gak ada niatan ngapa-ngapain."
Sherin di sebelah Ralvin hanya menunduk malu. Entah apa yang dirasakan oleh Sherin sekarang. Ia malu karena ulah Ralvin, mereka jadi tertuduh.
"Ya udah, habis ini, Aden jangan masuk ke kamar Neng Sherin." Tegas Imas lalu berlalu pergi. Itulah salah satu tanggung jawab Imas. Tidak hanya mengurus rumah, tapi membantu mengawasi Ralvin layaknya orang tua.
__ADS_1
"Gara-gara kamu sih." Sherin cemberut.
"Maaf," kata Ralvin dengan suara pelan.