
Sherin, Calvin dan Jura baru selesai membereskan rumah Calvin. Mereka bertiga duduk di sofa dengan butiran keringat di kening mereka. Calvin dan Jura yang paling terlihat kacau dari pada Sherin. Tentu saja, karena mereka kebagian mengangkat perabotan yang berat.
Calvin menyeka keringatnya menggunakan kaos lengan panjang.
"Aku yakin yang ngegeledah rumahku ini bukan pencuri. Karena kalau pencuri pasti sebisa mungkin mereka bekerja dengan rapi. Tapi ini? Sengaja mereka hancurkan seisi rumahku." kata Calvin kesal.
"Betul Vin. Eh kamu udah periksa belum, apa ada yang hilang?" kata Jura.
Calvin langsung berdiri tegak, "Oh iya, aku baru inget kalau aku belum meriksa apa yang ilang.".
Calvin bangkit dan langsung berjalan menuju kamarnya. Sherin dan Jura mengikuti dati belakang. Calvin membuka laci nakasnya. Ia memeriksa satu persatu kertas yang ada di sana.
"Gimana Vin? Apa ada yang hilang?" tanya Jura.
"Gak ada Ra, semua lengkap." jawab Calvin.
Tapi ia ingat ada sesuatu yang belum ia periksa. Di bawah lemari baju. Calvin langsung berjalan menuju lemari dan berjongkok di sana. Ia mengeluarkan sebuah koper kecil. Tapi koper itu sudah terbuka dan isinya acak-acakan.
"Sial, orang itu ternyata nyari berkas itu." kata Calvin sambil memegang kepalanya.
"Memangnya berkas apa itu?" tanya Jura.
"Aku gak bisa nyeritain itu kalau ada Sherin. Sherin, kamu bisa kan keluar sebentar?".
Sherin mengangguk kemudian keluar dari kamar yang kini menjadi kamarnya. Setelah Sherin keluar, Calvin duduk di sisi ranjang sambil membawa koper itu ke atas pangkuannya.
"Itu berkas yang di kirim sama papah. Itu berkas mengenai Ghani Pratama. Di sana juga ada bukti kejahatan Ghani." kata Calvin.
"Owh, Ghani yang pernah kamu ceritain waktu itu. Memangnya selincah apa dia? Kok papah kamu sampe susah nemuin dia?" Jura ikut duduk dengan Calvin.
"Aku juga bingung. Informasi terakhir tentang dia adalah perusahaannya bangkrut dan dia kehilangan segala hartanya. Dia punya satu anak laki-laki. Dan habis itu papahku gak pernah dapet informasi apapun lagi. Kayak ada yang ngelindungin dia gitu." kata Calvin dengan serius.
"Terus sekarang gimana?" tanya Jura.
"Papahku bukan orang yang lalai, dia pasti udah menggandakan semua berkas dan barang buktinya." jawab Calvin.
Setelah selesai berbincang-bincang mereka berdua keluar kamar. Jura dan Calvin tersenyum ketika melihat Sherin tertidur di atas sofa. Pasti ia kelelahan karena baru saja tiba di Jakarta, ia langsung membenahi rumah Calvin.
"Kamu beruntung Ra, punya adik yang baik dan kuat kayak Sherin." pandangan Calvin tidak beralih dari Sherin.
"Ya. Aku bersyukur semua ini terjadi dan Sherin menjadi adikku walaupun bukan adik kandung." kata Jura sambil tersenyum.
"Biar aku pindahin dia ke kamar." kata Calvin.
__ADS_1
Calvin melangkah ke sofa, lalu secara hati-hati ia mengangkat tubuh Sherin.
* * * *
Pagi-pagi seisi kantor Citra Jaya sudah heboh. Kehadiran ayah dari sang pemimpin perusahaan datang ke kantor tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Daniel, Sifa dan atasan lainnya kalang kabut menyiapkan semua penyambutan untuk Braham.
Semua mata orang yang ada di lobby kantor tertuju pada sosok pria paruh baya yang merupakan ayah Ralvin. Mereka memuji kegagahan pria tua itu. Walaupun sudah tua tapi wibawa, karisma dan kegagahan nya tidak luntur sedikit pun.
Yang mengejutkan lagi adalah hadirnya sosok pria tampan bertubuh tinggi datang dan berjalan di belakang Braham. Pria itu masih cukup muda, sekitar 29 tahun. Wajahnya yang sangat tampan bisa membius seluruh karyawati citra jaya.
Daniel datang menghampiri Braham sambil memberikan senyum dan hormat dengan menganggukkan kepala.
"Pak, silahkan naik ke lantai dua belas." ajak Daniel.
Braham mengangguk lalu menoleh pada pria muda di belakangnya.
"Duluan aja." kata pria itu sambil tersenyum.
Braham dan Daniel pergi ke lantai dua belas sedangkan pria itu memilih untuk berkeliling kantor terlebih dahulu.
Sherin sedang sibuk membenahi berkas-berkas di ruangan Ralvin. Ralvin berkata bahwa hari ini ia tidak ke kantor karena ada urusan lain, maka dari itu Sherin lah yang membereskan berkas-berkas di ruangan Ralvin.
Saat sedang sibuk di meja Ralvin. Seseorang mengetuk pintu dari luar. Dengan santai Sherin mempersilahkan orang itu untuk masuk.
"Ralvin ke mana?" tanya seorang pria tampan yang tinggi dan putih.
"Pak Ralvin lagi gak masuk kantor. Maaf Anda siapa ya?" tanya Sherin karena tidak mengenali pria itu.
Pria itu tersenyum, "Saya rasa kamu belum lama ya kerja di Citra Jaya? Karena semua orang di Citra Jaya tau siapa saya." kata pria itu bukannya menjawab.
"Ya saya memang baru di sini. Mungkin sekitar satu bulan lebih." kata Sherin ramah.
Pria itu berjalan lalu duduk berhadapan dengan Sherin.
"Kamu siapa? Kerja sebagai apa di sini?" pria itu malah balik bertanya.
"Saya Sherin Fajriana. Asisten pribadi Pak Ralvin. Maaf tapi tolong jawab Anda siapa?" tanya Sherin kembali pada pertanyaan pertama.
"Saya Calvin." jawab pria itu.
Sherin menganggukkan kepala. Di dalam hatinya mengingat Calvin saudara kembar Ralvin.
"Apa sebelumnya ada temu janji sama Pak Ralvin?" tanya Sherin.
__ADS_1
"Untuk apa harus pake temu janji. Ralvin pasti membolehkan saya datang kapan saja. Kalau dia marah karena saya dateng, saya pecat dia sebagai adik saya." kata pria yang mengaku Calvin itu.
"Apa? Pak Ralvin adiknya Anda? Tapi kakaknya Pak Ralvin itu sopir bajaj." kata Sherin bingung.
"Apa? Sopir bajaj? Yang bener aja Ralvin bilang gitu? Saya Calvin Rahelindra, kakaknya Ralvin Rahelindra, anak kedua dari Pak Braham." kata pria itu dengan kejelasan yang sangat jelas.
Sherin tersentak sekaligus tidak percaya. Nama belakang pria itu sama dengan nama Ralvin. Tapi sungguh semua ini sangat membingungkan.
"Tapi saya udah sangat kenal sama Calvin. Dia kakak kembarnya Ralvin. Anda gak bisa ngada-ngada.".
Pria yang mengaku Calvin itu menarik nafas panjang, "Hmm rupanya dia jadi sopir bajaj ngaku-ngaku jadi aku. Dasar si Ralvin, adik yang selalu menistakan kakaknya." kata Calvin pada dirinya sendiri.
Sherin terpaku dan hampir tidak bisa bergerak. Tak lama kemudian ia sudah bisa menggunakan otaknya. Ia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.
"Hallo, sekarang juga jemput aku." kata Sherin langsung kembali menutup telepon.
Sherin langsung berdiri dan keluar dari ruangan Ralvin tanpa berbicara apapun lagi. Ia melangkah sangat cepat, masuk ke dalam lift lalu menuju lantai dasar.
Setelah sampai di lobby Sherin berjalan keluar dengan langkah yang sangat cepat. Kini ia sudah berdiri di pinggir jalan menunggu kedatangan Calvin yang akan menjemputnya. Tak butuh waktu lama, suara bajaj terdengar dari kejauhan.
Nafas Sherin tidak beraturan. Ia memendam rasa marah, bingung, penasaran dan mencari kepastian. Tak lama kemudian Calvin dan bajajnya sudah berhenti di hadapan Sherin.
"Hai, tumben minta dijemput? Mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya Calvin dengan senyum lebar khasnya.
Sherin tidak menjawab, ia membuka pintu depan dan merongkok mendekati Calvin. Tangan kanannya mencengkram kemeja yang sekarang Calvin kenakan.
Calvin membulatkan matanya, "Sherin, apa-apaan kamu?".
Calvin menggenggam tangan Sherin yang akan membuka bajunya. Sekarang Calvin menatap tajam mata Sherin yang sedang menatap matanya juga.
"Jangan main-main." ancam Calvin tajam.
Sherin tidak menggubrisnya, ia membalas tatapan tajam Calvin. Dengan sekuat tenaga Sherin melepaskan tangannya dari genggaman Calvin lalu menarik kemeja Calvin hingga kancing kemeja itu lepas semua dan menampakkan tubuh bagian atas Calvin.
Tanpa diduga, 'Plakk!!',
Sherin menampar wajah Calvin dengan sangat kuat hingga membuat Calvin sangat terkejut. Bagaimana tidak, Sherin membuka bajunya secara paksa dan kini tiba-tiba menampar wajahnya dengan sangat kuat hingga menyisakan rasa panas.
"Apa-apaan kamu Sherin?" tanya Calvin marah.
"Kamu yang apa-apaan! Kamu udah bohongin aku. Kamu Ralvin! Gak ada yang namanya kembaran bernama Calvin. Kamu pembohong. Aku benci kamu!".
Sherin langsung keluar dari dalam bajaj dan mencegat taksi lalu pergi.
__ADS_1
"Sherin! Tunggu!".