(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Pengobatan Jura


__ADS_3

Dokter yang menangani Jura keluar dari ruang UGD. Wajah dokter pria itu terlihat tidak puas dengan hasil kerjanya. Ia berjalan menghampiri Sherin, Ralvin dan Calvin. Sherin langsung berdiri untuk menanyakan kondisi Jura.


"Gimana kondisi kakak saya Dok?" tanya Sherin.


"Kami menemukan sembilan bola kecil yang berisi racun di dalam tubuh pasien. Saya rasa awalnya ada sepuluh bola racun, tapi telah pecah satu yang menyebabkan pasien keracunan. Racun itu sangat cepat menyebar sampai ke darah pembuluh pasien." jawab dokter itu.


"Apa?" Sherin, Ralvin, dan Calvin berteriak terkejut bersamaan.


"Kami kesulitan melakukan pengobatannya. Selain pasien harus cuci darah, kami juga harus segera menemukan obat atau penawar racunnya." kata dokter itu lagi.


"Jadi bagaimana selanjutnya?" tanya Ralvin.


"Racun di tubuh pasien adalah racun yang diracik khusus. Rumah sakit ini belum memiliki penawar racun tersebut. Kami juga tidak sanggup mengoperasi pasien dan mengeluarkan bola racun tersebut. Saya mohon maaf, saya tidak sanggup menangani pasien." jelas dokter itu.


Sherin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kakinya terasa lemas semua. Ia takut terjadi hal yang buruk pada kakaknya. Selama hidupnya, hanya Jura lah yang menyayangi dirinya tanpa batas.


Ralvin menopang tubuh Sherin yang hampir terduduk di lantai. Ia membantu gadis itu duduk di bangku lalu menenangkannya.


"Apakah Anda memiliki rumah sakit rujukan yang bisa menangani pasien?" tanya Calvin.


Hanya ia lah satu-satunya orang yang bisa menangani situasi itu dengan cukup tenang dan berpikir jernih.


"Ada. Tapi itu salah satu rumah sakit di Singapura." jawab dokter itu.


"Baiklah, tolong keluarkan surat rujukan itu segera Dok. Hari ini juga kami ingin membawa pasien ke sana." pinta Calvin.


"Tentu saja. Mari ikut saya." kata dokter itu lalu pergi dengan diikuti oleh Calvin.


Ralvin menenangkan Sherin yang masih terus menangis. Ia sendiri sedang cemas pada kondisi Jura sekarang. Beberapa jam yang lalu Jura masih sehat dan biasa saja. Tapi tiba-tiba kondisinya jadi kritis seperti saat ini.


"Sherin, Jura akan baik-baik aja. Kita akan bawa dia ke Singapura. Kamu harus kuat dan semangat supaya Jura juga semangat." kata Ralvin menenangkan.


Tak lama kemudian Braham dan Wisnu kembali dan duduk di samping Sherin dan Ralvin. Braham merasa kasihan pada Sherin yang menangis tersedu-sedu. Ia mengulurkan tangan ke samping untuk mengusap kepala gadis itu.


"Apa yang dokter itu bilang?" tanya Braham pada Ralvin.


"Mereka bilang mereka gak sanggup nangani Jura. Mereka bakal kasih rujukan ke Singapura." jawab Ralvin.


"Jangan," kata Wisnu tiba-tiba, semuanya menatap penuh heran, "Kalian gak tau laki-laki itu. Dia tau setiap pergerakan Sherin. Kalau Sherin bawa Jura ke Singapura, sebelum kalian sampai, Jura pasti udah kehilangan nyawa." kata Wisnu menjelaskan maksud melarang mereka membawa Jura ke Singapura.


"Terus kita harus gimana?" tanya Ralvin.


Braham berpikir keras. Yang dikatakan oleh Wisnu memang benar. Mereka tidak boleh salah langkah.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan panggil dokter pribadiku di Australia untuk nanganin Jura." kata Braham.


Sherin mengangkat kepalanya, "Tapi Pak, itu pasti butuh biaya yang gak sedikit." kata Sherin.


"Nyawa lebih penting dari pada uang." kata Braham sambil tersenyum lembut pada Sherin.


Sherin sangat terharu, keluarga Ralvin sangat baik padanya. Baik itu Calvin, Braham, mau pun Ralvin. Ya walaupun Ralvin sedikit menyebalkan.


"Ghani, sesuai janjimu. Setelah aku ngobatin Jura, kamu harus nyerahin diri." kata Braham.


"Pasti, demi Jura." jawab Wisnu.


Sherin menatap Braham dan ayahnya secara bergantian. Ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang tua itu.


"Maksudnya apa? Janji apa?" tanya Sherin bingung.


"Ayahmu itu sebenarnya adalah Ghani, pembunuh pengusaha dua puluh tahun yang lalu. Sekarang dia udah ketangkep. Setelah Jura dipastikan baik-baik aja, dia bakal Papahku serahin ke keluarga korban. Maksudnya dihukum mati." kata Ralvin menjawab pertanyaan Sherin.


"Apa?" Sherin kembali terduduk lemas. Ia tidak percaya semua itu. Ditambah lagi ayah angkatnya itu akan dihukum mati. Bagaimanapun Sherin menyayangi ayah angkatnya itu.


"Enggak mungkin." kata Sherin sambil menangis.


* * * *


Sherin sendiri menemani kakaknya siang dan malam. Ralvin sudah meminta agar ia istirahat, tapi gadis itu tidak menggubris perkataannya.


Pada siang hari, Sherin sedang duduk di samping ranjang Jura. Kakaknya itu masih belum sadarkan diri walaupun semua racun di tubuhnya sudah diangkat. Sherin yang sedang menatap jendela merasakan pergerakan tangan Jura. Begitu menoleh, ternyata benar Jura sudah mulai membuka matanya.


"Kakak? Kakak udah sadar. Sherin panggil dokter dulu ya.".


Sherin sangat bahagia sampai-sampai air matanya meleleh. Ia segera berlari keluar kamar untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian seorang dokter berkewarganegaraan Australia masuk ke dalam kamar. Dokter itu langsung memeriksa kondisi Jura. Setelah selesai, ia menarik nafas lega.


"Kondisi Jura sudah stabil. Kita tinggal menunggu tenaganya pulih saja." kata dokter itu menggunakan bahasa Inggris.


"Terima kasih Dok." kata Sherin sambil tersenyum bahagia.


"Sherin, kakak ada di mana?" tanya Jura dengan suara yang sangat pelan. Ia begitu lemah dan pucat.


Sherin duduk di samping Jura yang sedang terbaring, lalu memeluk Jura lembut.


"Kita lagi ada di rumah yang Pak Braham sewa. Sherin seneng banget akhirnya Kakak sadar juga. Sherin kabarin dulu Ralvin ya." kata Sherin.


Ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Ralvin. Setelah selesai menyampaikan kondisi Jura, Sherin kembali menutup telepon.

__ADS_1


Setengah jam kemudian Ralvin, Calvin dan Braham sudah tiba di kamar Jura. Braham sengaja menetap di Indonesia dalam beberapa waktu karena ia ingin memantau kondisi Jura.


Melihat Ralvin, Calvin dan Braham di kamar itu, Jura mencari seseorang lagi.


"Sherin, kamu gak ngabarin mamah sama papah?" tanya Jura. Ia mengharapkan kehadiran orang tuanya.


Sherin terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Untung saja Braham mengambil alih jawaban.


"Maaf Jura. Ayahmu adalah Ghani." jawab Braham.


"Apa?" Jura terkejut bukan main. Ia tahu semua hal buruk tentang Ghani yang Ralvin pernah ceritakan. Tapi ia sama sekali tidak percaya bahwa orang itu adalah ayahnya sendiri.


"Demi kamu, dia menyerahkan diri ke keluarga orang yang pernah dia bunuh. Sesuai tuntunan di pengadilan Amerika dua puluh tahun yang lalu, Ghani dihukum mati.".


'Degg..' jantung Jura seakan berhenti berdetak.


"Dan istrinya yaitu Yani, dia udah pulang ke Bali." kata Braham.


"Bohong! Ayahku belum mati!" air mata Jura mengalir. Seberapapun ayahnya itu kejam dan jahat, Jura tidak ingin kehilangan ayahnya. Apalagi untuk selamanya.


"Sherin, bilang kalau itu cuma bercanda!".


Sherin menunduk, ia menahan air matanya yang terus menetes. Ia juga ikut terpukul ketika ayah angkatnya itu harus dihukum mati. Tapi apa boleh buat, semua itu sudah takdir.


"Sherin jawab!" teriak Jura. Matanya memerah karena air mata.


"Enggak Kak, itu gak bohong." kata Sherin sambil menangis.


Jura mencengkram rambutnya sendiri karena tidak percaya dan terpukul.


"Kenapa kamu gak bantu papah? Kenapa Sherin? Apa karena papah pernah memperlakukan kamu gak baik terus kamu mau balas dendam!".


"Enggak Kak, aku gak pernah mikir ke arah sana. Sama sekali enggak Kak." kata Sherin menatap tidak percaya pada Jura yang berkata demikian.


"Kalian semua jahat. Kalian cuma berkedok baik di depan semua orang. Terutama kamu Sherin, aku benci kamu. Mulai sekarang jangan panggil aku kakak lagi!".


Sherin membelalakkan matanya. Begitu juga yang lain karena tidak percaya Jura bisa berkata demikian.


"Kak...".


"Jangan panggil aku kakak!" potong Jura sambil berteriak.


Sherin langsung berdiri, ia berlari keluar kamar dengan isak tangis. Ia tidak pernah menyangka Jura akan berubah dan membencinya.

__ADS_1


Seumur hidup Sherin ia belum pernah dibentak oleh kakaknya itu. Tapi sekarang, Jura membentak nya bahkan melarangnya memanggil kakak. Sungguh Sherin merasa kehilangan hidupnya. Jura adalah satu-satunya keluarg yang ia punya. Walaupun Jura bukan kakak kandungnya, tapi Sherin menyayangi Jura lebih dari segalanya.


__ADS_2