
Ralvin dan Jura membawa Sherin ke rumah sakit yang beberapa hari lalu memeriksa Sherin. Ralvin dan Jura sama-sama khawatir. Mereka menunggu Sherin di bangku tunggu. Sesekali Jura dan Ralvin saling bergantian melihat pintu ruang rawat Sherin.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter wanita keluar dari ruangan. Seperti biasanya, dokter itu meminta Ralvin dan Jura untuk ikut keruangannya.
"Ada apalagi dengan adik saya Dok?" tanya Jura khawatir.
"Adik Anda sedang demam. Saya juga memprediksi pasien mengalami tekanan batin yang menyebabkan pasien selalu merasakan sakit di kepalanya setiap kali dia mengingat masa lalu itu. Jika ini terus terjadi, maka fungsi ingatannya bisa rusak dan pasien akan mengalami hilang ingatan lagi" jelas dokter itu.
"Maksudnya Dok?" Ralvin tidak mengerti.
"Jika dia mengalami ini terus, pasien akan kehilangan ingatannya. Tidak di masa lalu, tapi juga semua ingatan di masa sekarang" jawab dokter lagi.
Jura dan Ralvin terperanjat, nafas mereka tertahan secara bersamaan. Mereka tidak ingin itu terjadi.
"Dan jika itu terjadi, maka pasien akan kehilangan ingatannya secara permanen" lanjut dokter itu lagi.
"Dok, apa yang harus saya lakukan? Saya tidak tahu harus melakukan apa?" Jura sudah kalang kabut kebingungan dan panik.
"Cukup beri dia ketenangan, dan jangan paksa dia untuk mengingat masa lalu itu. Biarkan pasien mengingatnya secara perlahan".
"Tapi Dok, pasien secara tiba-tiba saja mengingat masa lalu itu. Jadi kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan" kata Ralvin.
"Ketika pasien merasa sakit kepala, dia harus mendapatkan ketenangan pikiran dan hati. Jadi sebisa mungkin buat pasien tidak memikirkan apapun" jawab dokter itu tetap dengan tenang.
"Baiklah Dok, terima kasih".
"Sama-sama, silahkan bertemu pasien" kata dokter itu dengan ramah.
* * * *
Wisnu sedang mengamuk di dalam rumahnya. Ia melampiaskan amarahnya pada dinding ruang tamu. Yani hanya bisa diam menyaksikan suaminya marah-marah.
"Ini semua gara-gara kamu! Coba aja kamu gak mentingin ego kamu, ini pasti gak akan terjadi" kata Wisnu membentak Yani.
"Karena aku udah gak tahan lihat dia di rumah kita. Anak itu selalu ngingetin kedatangan dia membawa sial" Yani selalu saja menjawab perkataan Wisnu.
"Bukan dia yang udah buat kita bangkrut, cuma aja kehadiran dia bertepatan sama bangkrutnya perusahaanku. Justru dia yang buat kita masih bisa hidup. Kalau bukan karena laki-laki itu nitipin Sherin ke kita, pasti sekarang aku udah masuk penjara atau bahkan mati dan kamu udah jadi janda" kata Wisnu menahan rasa geramnya.
Yani terdiam. Apakah mungkin itu benar? Apakah justru Sherin lah yang membawa keberuntungan? Tapi apapun itu, Yani sudah terlanjur membenci anak yang bernama asli Claudya.
__ADS_1
"Sekarang laki-laki itu terus ngancam kita. Dia gak mau Sherin lepas dari tangan kita" kata Wisnu lagi.
"Inget, jangan sampai Jura tahu kalau Sherin itu bukan adik kandungnya".
"Jura udah tau" suara Jura terdengar dari pintu depan.
Wisnu dan Yani sama-sama menoleh pada arah yang sama. Wisnu sangat terkejut melihat Jura sudah berdiri di ambang pintu.
"Jura? Kapan kamu datang? Ka-kamu udah denger dari tadi?" tanya Wisnu tergagap.
"Tanpa Jura denger aja Jura udah tau semuanya" jawab Jura tanpa beranjak pergi.
"Dari mana kamu tau?" tanya Wisnu.
"Gak perlu tau dari mana, yang jelas Jura udah tau. Jura kecewa sama Mamah, sama Papah. Kenapa harus jadiin Sherin tameng? Kenapa harus mempertahankan Sherin di rumah ini tapi Mamah sama Papah selalu nyiksa batin dia? Kenapa?" Jura mewakili kata hati adiknya.
"Dan tadi Papah bilang laki-laki yang nitipin Sherin. Siapa laki-laki itu Pah?" Jura bertanya menuntut jawaban.
Wisnu dan Yani tidak dapat menjawab. Mereka lebih baik diam dari pada menjawab pertanyaan Jura yang akan membahayakan posisi mereka.
"Kalau Papah sama Mamah gak mau jawab, Jura akan cari tau sendiri" kata Jura lalu berbalik.
* * * *
Di rumah sakit tepatnya di ruang rawat Sherin, Ralvin tengah duduk di kursi menunggu Sherin sadarkan diri. Sudah lebih dari satu jam Sherin belum juga membuka matanya. Ralvin sampai meninggalkan rapat penting dengan tamu perusahaan dari Kalimantan demi menunggu Sherin.
Ralvin berungkali melihat ke arah pintu masuk. Ia menunggu Jura yang tadi mengatakan akan mengambil pakaian Sherin di rumahnya. Jura memutuskan agar Sherin tetap tinggal di kontrakan sampai kondisi Sherin benar-benar baik. Sampai sekarang Jura belum juga kembali.
"Pak" suara Sherin terdengar begitu lemah.
"Sherin? Kamu udah sadar?".
"Kalau belum sadar mana mungkin saya manggil Bapak" kata Sherin dengan suara yang begitu kecil.
"Kamu ini masih aja gak serius. Gimana kepala kamu? Masih sakit?" tanya Ralvin penuh perhatian.
Sherin menggelengkan kepala pelan.
"Pusing?" tanya Ralvin lagi.
__ADS_1
"Enggak Pak, saya udah gak apa-apa. Kak Jura mana?" kata Sherin.
"Jura ngambil sisa baju kamu di rumah" jawab Ralvin seadanya.
Pintu di buka dan Jura masuk ke dalam ruang rawat Sherin. Begitu melihat adiknya sudah sadarkan diri, Jura tersenyum lebar. Sebuah kelegaan besar melihat adiknya kini sudah baik-baik saja.
Jura duduk di samping Ralvin. Ia menatap mata Sherin. Entah apa yang ia sedang pikirkan tentang adiknya, yang jelas dari sorot mata Jura ia sedang iba melihat adiknya.
"Sherin, tadi kakak udah nemuin Rini. Kakak pengen kamu diperiksa sesuatu. Atas saran dari Rini, kakak bakal bawa kamu ke rumah sakit lain" kata Jura tiba-tiba.
"Pemeriksaan apa Ra?" tanya Ralvin bingung.
Apa yang direncanakan oleh Jura? Bukankah mereka berdua sudah sepakat untuk menangani masalah ini bersama-sama dan selalu berbagi informasi apapun? Begitulah pikir Ralvin.
"Pokoknya Sherin harus diperiksa. Ral, nanti ikut aku. Aku mau ngomong sesuatu" kata Jura.
"Rin, kamu gak apa-apa kan kakak tinggal dulu sebentar?" tanya Jura pada Sherin.
"Iya Kak".
* * * *
Ralvin dan Jura sedang duduk di bangku taman rumah sakit di bawah pohon. Mereka berbicara dengan sangat pelan. Mereka juga sama-sama memasang wajah serius.
"Jadi kamu denger kalau ayah kalian bilang ada seorang laki-laki yang nitipin Sherin? Dan kalau Sherin gak sama kalian maka ayah kalian udah masuk penjara atau mati?" kata Ralvin tidak percaya.
"Ya, tadinya aku pikir ayah sama ibuku itu memang gak sengaja mungut Sherin di jalanan atau dari panti asuhan. Tapi ternyata semua asumsiku salah, mereka dititipin oleh laki-laki yang sekarang terus ngancam mereka untuk nyembunyiin Sherin" jawab Jura.
"Ini aneh banget. Ada laki-laki yang neror Daniel untuk nyerahin Sherin sama dia, tapi disisi lain ada orang yang ngancem ayah kalian untuk nyembunyiin Sherin. Aku rasa ada dua pihak yang saling berebut Sherin" kata Ralvin.
"Iya bener, aku juga jadi mikir gitu. Tapi apa yang mereka butuhkan dari Sherin?" kata Jura bingung.
"Aku rasa Sherin bukan orang yang sembarang Ra. Tapi yang buat aku terus bertanya-tanya dari dulu adalah, kata Sherin dalam ingatan yang dia sebut mimpi itu, ayah Claudya itu bule, tapi kenapa Sherin gak ada wajah bule-bule nya" kata Ralvin mengeluarkan unek-unek di pikirannya.
"Itu juga yang aku pikirin. Maka dari itu aku mau bawa Sherin ke rumah sakit bedah plastik. Biar diperiksa dulu apakah ada kelaian atau enggak" kata Jura.
"Maksud kamu apa Sherin pernah operasi plastik gitu? Biar wajah bule nya ilang?" tanya Ralvin seolah-olah mengejek pemikiran Jura.
"Kita harus coba segala kemungkinan kan? Apa salahnya kita coba dulu. Lagian seharusnya anak itu punya gen lebih besar dari ayahnya. Jadi seharusnya Sherin punya wajah bule minimal satu persen aja" jawab Jura.
__ADS_1
"Ya terserah kamu sih. Aku dukung aja selagi itu gak bahayain Sherin" kata Ralvin.