(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Mati lampu


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, Jura dan Ralvin berpamitan pada Sherin. Sebelum pergi, Jura memeluk adiknya lalu mencium keningnya.


"Jaga diri baik-baik ya. Nanti kakak bakal sering jenguk kamu. Inget, obatnya diminum biar demamnya cepet sembuh" kata Jura.


Sherin tersenyum dan mengangguk. Ia sangat senang kakaknya sangat peduli dan perhatian.


Ralvin maju selangkah setelah Jura mundur.


"Mau ngapain?" tanya Sherin.


"Mau pamitan kayak Jura" kata Ralvin sambil tersenyum.


"Mimpi" kata Sherin sambil mundur satu langkah.


Jura menyentil telinga Ralvin dari belakang, "Jangan macem-macem. Mau ku hajar?".


"Pak Ralvin lama-kelamaan jadi makin mirip sama Calvin deh. Mulai genit" gerutu Sherin.


"Ya udah kami pergi dulu ya. Calvin mungkin sebentar lagi juga pulang. Jangan lupa tutup pintu, tutup jendela, sebelum tidur minum obat, gosok gigi, cuci muka, pakai selimut..."


"Bawel" kata Sherin memotong ucapan Ralvin.


Setelah berpamitan, Jura dan Ralvin pergi menggunakan mobil Ralvin. Mungkin nanti Ralvin akan mengantarkan Jura ke rumah Jura terlebih dahulu, barulah ia pulang ke rumahnya.


* * * *


Sherin sedang menonton acara konser dangdut yang disiarkan tiap malam oleh salah satu stasiun televisi. Walaupun Sherin lebih suka genre musik pop, tapi ia tetap cinta genre asli Indonesia.


Samar-samar Sherin mendengar suara bajaj dari luar rumah. Lama-kelamaan suara itu semakin bising. Ia yakin itu adalah bajaj Calvin. Tanpa peduli Sherin kembali terfokus mendengarkan alunan suara kendang dangdut yang asik.


Pintu rumah kontrakan Sherin diketuk, ia yakin itu adalah Calvin. Dengan malas Sherin membuka pintu.


"Hmm belum tidur?" tanya Calvin yang berdiri di depan pintu.


"Belumlah, kalau udah tidur gak mungkin aku buka pintu" jawab Sherin malas.


"Biasa aja kali jawabnya. Nih, aku bawain bubur, sesuai janji tadi sore" kata Calvin.


Sherin menatap kantong plastik putih yang disodorkan oleh Calvin. Ternyata Calvin peduli padanya, bahkan ingat tentang ucapannya tadi sore yang akan membelikan Sherin bubur.


Sherin mengambil kantong plastik putih dari tangan Calvin. Ia tersenyum kecil.

__ADS_1


"Makasih. Ya udah pulang sana. Udah malem".


Calvin hanya tersenyum. Matanya menatap layar televisi di belakang Sherin. Senyumnya semakin mengembang lebar.


"Ternyata kamu suka dangdut ya, aku sangka kamu suka pop atau hip-hop contohnya K-Pop" kata Calvin membahas siaran apa yang ditonton oleh Sherin.


"Memangnya kenapa? Gak boleh?".


"Bukan gitu, kebanyakan gadis jaman sekarang kan sukanya sama pop" kata Calvin tanpa menghilangkan senyum.


"Karya tanah air harus dijunjung tinggi dong. Ya walaupun aku suka pop, tapi aku cinta dangdut" kata Sherin.


"Bagus, mantap jawaban kamu. Tapi aku gak suka dua-duanya" kata Calvin.


"Terus sukanya apa?" tanya Sherin.


"Suka kamu".


"Dasar tukang gombal berkedok sopir."


Sherin akan menutup pintu tanpa permisi, tapi pintu itu ditahan oleh Calvin.


"Bentar lagi mau hujan, jangan lupa kunci pintu sama jendela. Kalau perlu kamu bisa ambil lilin di rumahku" kata Calvin.


"Gak perlu lah. Untuk apa juga lilin? Mau ngepet?" kata Sherin asal.


"Ya udah kalau gak butuh. Udah minum obat belum?" tanya Calvin lagi.


"Kepo deh. Aku udah minum obat. Udahlah, aku ngantuk. Bagus kamu mandi dulu, bau keringat" kata Sherin sambil mendorong Calvin menjauh dari pintu.


"Bau bunga mawar kali" kata Calvin sambil tersenyum.


"Bau bunga kamboja sih iya".


"Memangnya aku hantu? Eh tapi memang iya sih, hantu yang selalu menghantui pikiran kamu" Calvin malah menggombal.


Sherin memasang wajah cemberut. Tanpa aba-aba, Sherin langsung menutup pintu. Setelah ia yakin Calvin sudah pergi dari balik pintu. Sherin langsung tersenyum-senyum sendiri. Entah mengapa sekarang ia sedikit malu ketika Calvin terus menggombalinya. Mungkinkah karena perhatian yang Calvin berikan? Atau karena hatinya memang sedang gembira? Apapun itu, Sherin tetap saja senang.


* * * *


Hujan mulai turun dengan deras. Sherin yang sudah tidur di atas ranjang berbalut selimut, melihat jam dinding. Jam menunjukkan pukul 9.00 malam. Baru kali ini Sherin tidur sendirian di rumah. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa takut. Tapi apa boleh buat, sekarang tidak ada yang bisa membantunya.

__ADS_1


Sherin berusaha memejamkan mata agar cepat tidur, ia tidak sabar untuk menyambut besok pagi agar rasa takutnya ini hilang. Saat membuka mata kembali, Sherin merasa aneh. Kenapa semuanya gelap? Apakah ia sedang bermimpi? Tapi suara hujan dan petir masih jelas terdengar. Beberapa detik kemudian, ia baru sadar bahwa sekarang mati lampu.


"Mati lampu? Aaa!…" Sherin berteriak ketakutan.


Sherin sangat benci yang namanya gelap. Ia memiliki trauma karena ketika berusia 7 tahun, ibunya penah mengurungnya semalaman di kamar mandi dan ibunya mematikan lampu kamar mandi hingga kamar mandi itu gelap gulita.


Rasa takutnya semakin menjadi ketika mendengar suara petir. Tanpa berpikir panjang Sherin bangkit dari tempat tidur lalu berusaha keluar kamar. Semuanya gelap, Sherin berusaha mencari meja tempat ia meletakan kunci rumah. Setelah mendapatkannya, Sherin langsung mencari pintu keluar kamar.


Di ruang tamu juga sangat gelap. Untung saja dengan cepat Sherin bisa keluar dari rumah. Berkat kilatan petir, Sherin berhasil melihat pingu kontrakan Calvin.


Sherin menggedor pintu dengan keras. Ia terus berteriak meminta Calvin membukakan pintu secepatnya.


Tak lama kemudian, Calvin membuka pintu rumah. Tak pernah ia sangka, Sherin langsung memeluk nya dengan begitu erat.


"Aku takut".


Tangan Calvin perlahan memeluk balas tubuh Sherin yang hanya setinggi dadanya. Sepertinya Sherin menangis.


"Udah, gak apa-apa kok. Kan ada aku" kata Calvin menenangkan.


"Ayo masuk, banyak angin yang masuk nanti lilinnya mati.".


Rumah Calvin diterangi oleh cahaya lilin. Sheri duduk di samping Calvin karena ia masih takut. Calvin hanya tersenyum melihat wajah Sherin yang ketakutan karena gelap.


"Kan tadi aku udah bilang, mau pakai lilin gak".


"Udah diem, jangan malah nyalahin. Aku lagi takut nih" kata Sherin.


"Ya udah kamu tidur di kamarku sana, biar aku tidur di sini" perintah Calvin.


"Gak mau" jawab Sherin singkat.


Calvin membulatkan matanya, "Jadi kamu pengen kita tidur satu kamar? Gak bisa, aku takut khilaf".


Sherin menjitak kepala Calvin, "Bukan itu maksudnya. Aku tidur di sofa ini, kamu tidur di sofa sana".


Calvin merasa malu karena ternyata ia salah tebak. Tanpa banyak protes Calvin setuju.


Calvin ke kamarnya untuk mengambil dua bantal dan satu selimut.


"Nih, pake selimut nya" kata Calvin memberikan selimut pada Sherin.

__ADS_1


"Makasih".


Mereka berdua pun sama-sama tidur di ruang tamu.


__ADS_2