(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Di rumah sakit


__ADS_3

Ralvin sedang menunggu Jura di lorong rumah sakit. Wajahnya tidak begitu panik seperti tadi sore ketika Sherin pingsan di kantor. Ia mengenakan pakaian rapi dan juga jas hitam. Semua pandangan para suster yang lewat tidak pernah lepas dari sosok Ralvin.


Jura tiba-tiba muncul dan langsung berlari menghampiri Ralvin.


"Ral, gimana kondisi Sherin?" Jura mengatur nafas setelah berlari.


"Katanya dia baik-baik aja, cuma demam" jawab Ralvin.


"Kok kamu bisa tau Sherin di rumah sakit? Bukannya kata ibuku dia pergi jalan-jalan sama sopir bajaj?" tanya Jura.


"Nanti aku ceritain ya. Sekarang kita lihat Sherin di dalem" kata Ralvin sambil menepuk bahu Jura.


* * * *


"Pak Ralvin? Kak Jura? Kalian kok bisa ada di sini? Di mana Calvin?" tanya Sherin yang terkejut melihat kedatangan dua pria tampan yang tingginya sama.


"Pak Calvin?" Jura lebih terkejut lagi dibandingkan Sherin.


"Dia kan kakakku, jelas dia akan ngasih tau gimana kondisi karyawan aku yang suka ngelawan ini" jawab Ralvin santai.


"Terus di mana dia sekarang?" tanya Sherin lagi.


"Cie-cie yang kangen" ejek Ralvin.


"Saya serius Pak" Sherin mulai kesal.


"Dia lagi ngurus soal kontrakan" jawab Ralvin.


Sherin mengangguk, mungkin Calvin sengaja menghubungi adiknya untuk bergantian menjaga nya.


"Ral, memangnya Pak Calvin gak kerja di..."


"Ra, ayo kita urus semua administrasi rumah sakit" Ralvin memotong ucapan Jura dengan cepat seolah-olah Jura tidak boleh menyelesaikan ucapannya.


Ralvin menarik tangan Jura sebelum Jura berkata apapun lagi. Sherin yang sekarang ditinggalkan sendirian hanya bisa menarik nafas panjang. Bisa-bisanya kakak beradik itu selalu membuatnya naik darah. Tapi akhir-akhir ini, keduanya sudah tidak terlalu menyebalkan. Entah mengapa mereka mulai menunjukkan pergantiannya.


"Semoga saja mereka tidak lagi membuatku kesal".


* * * *


Ralvin dan Jura ternyata tidak langsung mengurus administrasi Sherin. Mereka masih berbicara serius di lorong rumah sakit. Ralvin berbicara dengan sangat pelan agar tidak ada yang bisa mendengar percakapan mereka berdua.


Jura mengeluarkan ekspresi terkejut dan membulatkan matanya sesekali. Sepertinya ada sesuatu yang dikatakan oleh Ralvin sehingga membuat Jura terkejut berulang kali.


"Selama misi ini belum selesai, tolong rahasiain ini rapat-rapat. Udah lima tahun aku jalanin misi ini untuk nemuin Ghani Pratama, orang yang ngebunuh pengusaha muda dua puluh tahun yang lalu. Aku ngasih tau kamu karena aku percaya kamu. Dan jangan kasih tau Sherin dulu" kata Ralvin.

__ADS_1


"Kenapa Sherin gak boleh dikasih tau juga? Dia orangnya bisa dipercaya kok" kata Jura.


"Karena aku ada misi lain".


"Terserah kamu aja" jawab Jura.


Ralvin dan Jura kembali meneruskan langkah mereka menuju tempat administrasi. Tapi mereka tidak bisa cepat karena antrean panjang. Jura dan Ralvin berdecak kesal. Mereka berdua harus rela menunggu.


Tak sengaja mata Ralvin melihat sosok David, sang rekan bisnisnya, berjalan ke arahnya. David tersenyum ketika melihat Ralvin yang juga menatapnya.


"Hai Ralvin, senang bertemu dengan kamu di sini." sapa David ramah.


"Senang bertemu dengan Anda juga Pak. Bapak sedang apa di sini?" tanya Ralvin sopan.


"Ibu mertua saya sudah diperbolehkan pulang, jadi saya akan membayar biaya pengobatannya. Kamu sendiri sedang apa?".


"Saya sedang menjenguk karyawan yang sakit. Dan ini Andra Jifura yang biasa dipanggil Jura, kakak dari pasien" kata Ralvin memperkenalkan Jura.


Jura tersenyum ramah, begitu juga dengan David.


"Senang bertemu dan berkenalan dengan mu Jura" sapa David sambil mengulurkan tangan.


"Terima kasih Pak, saya juga sangat senang bertemu dan berkenalan dengan Anda Pak" jawab Jura sambil menjabat tangan David.


Mereka terus berbincang-bincang sampai giliran mereka membayar administrasi tiba. Setelah semua urusan administrasi selesai, David kembali ke ruang rawat di mana ibu mertuanya dirawat.


"Nanti aku ambil baju Sherin dan langsung aku antar ke kontrakannya" kata Jura yang masih berjalan di koridor rumah sakit.


"Ok, nanti aku share lokasinya. Aku tunggu di sana ya" kata Ralvin..


* * * *


Mobil hitam memasuki sebuah lokasi perumahan. Di sana berjejer banyak rumah sederhana yang di kontrakan oleh sang pemilik tanah tersebut. Masing-masing bangunan rumah memiliki dua pintu. Lokasi tempat itu juga sangat damai dari kebisingan jalan raya Jakarta yang padat.


Mobil hitam melaju sampai di ujung gang. Tepat di depan bangunan rumah yang sepi, mobil hitam itu berhenti. Ralvin turun dari pintu depan pengemudi lalu ia keliling ke pintu belakang. Ralvin membukakan pintu untuk Sherin yang masih terlihat lemas.


"Ayo cepat masuk. Sementara nunggu kunci kontrakan sebelah, kamu nunggu di dalam kontrakannya Calvin dulu aja ya" kata Ralvin sambil menuntun Sherin masuk ke dalam rumah.


"Calvin ke mana?" tanya Sherin.


"Dia bilang tadi lagi ngurus dulu biaya kontrakan untuk kamu. Terus dia mau narik penumpang dulu. Paling sebentar lagi juga dia pulang" jawab Ralvin.


Ralvin menuntun Sherin untuk duduk di sofa sederhana. Ia meminta Sherin untuk tetap beristirahat dan tidak boleh banyak pikiran.


"Nanti Jura juga bakal dateng. Aku mau ngurus sesuatu dulu di kantor. Kasihan si Daniel ngurus semua sendirian" kata Ralvin.

__ADS_1


Sherin mengangguk. Ia yakin bisa menunggu Calvin dan Jura sendirian. Setelah itu Ralvin segera keluar rumah dan pergi menggunakan mobil hitamnya.


"Ternyata rumah Calvin rapi juga, aku sangka laki-laki gak bisa beres-beres rumah." kata Sherin memuji isi rumah kontrakan Calvin yang tertata rapi dan bersih.


Karena akibat efek obat dan lelah, akhirnya Sherin tidak kuasa menahan matanya yang terasa berat. Tak sadar Sherin pun terlelap di atas sofa.


Dua jam telah berlalu sejak Sherin terlelap tidur. Tanpa Sherin ketahui, Jura dan Calvin sudah duduk di seberang sofa di mana Sherin tengah tertidur. Mereka sedang berbincang ringan dan santai sambil menunggu Sherin terbangun. Tak lama kemudian Sherin menggeliatkan badan dengan mata masih terpejam.


"Ralvin..." panggil Sherin pelan.


Dua pria yang sedang memperhatikan Sherin langsung saling berhadapan.


"Mau ke mana?" Sherin melanjutkan ucapannya.


Jura berdiri untuk melihat apakah Sherin benar-benar masih tertidur. Jura duduk di sofa tempat Sherin tertidur. Ia melihat mata adiknya itu masih terpejam. Jura kembali memeriksa kening Sherin.


"Suhu badannya panas lagi" kata Jura.


"Dia ngigau nyebut nama Ralvin?" lanjut Jura sambil menyeringai pada Calvin.


"Ini udah sore, waktunya dia makan dan minum obat" kata Calvin sambil berjalan pergi ke dapur.


Jura mengguncangkan bahu Sherin pelan, "Rin, bangun, udah sore".


Sherin hanya menggeliat tanpa ada tanda-tanda ingin bangun. Jura tidak tega untuk mengganggu tidur adiknya yang sudah sangat pulas. Jura berdiri dan kembali duduk di sofa sebrang.


"Ra, dia udah bangun?" tanya Calvin.


"Belum, dia susah dibangunin" kata Jura.


Calvin yang sedari tadi memegang semangkuk sayur, dengan pelan meletakkan sayur itu di atas meja. Calvin menghampiri Sherin yang masih tertidur.


"Sherin, bangun" kata Calvin lembut sampil menepuk pipi Sherin pelan.


"Hmmm" Sherin masih belum bangun.


"Sherin nanti kamu dicium lagi loh sama Pak Ralvin kalau gak mau bangun" bisik Calvin.


Entah panggilan darurat dari mana, Sherin langsung membuka matanya lebar. Ia langsung terduduk dan mendorong Calvin hingga jatuh ke lantai.


"Jangan macam-macam" Sherin memasang kuda-kuda.


Jura terkekeh melihat Calvin yang saat ini jatuh ke lantai akibat didorong oleh Sherin. Ia juga tidak menyangka bahwa bisikan Calvin yang bisa ia dengar tadi bisa langsung membangunkan adiknya yang tertidur pulas.


"Sakit Sherin" gerutu Calvin.

__ADS_1


"Ups, maaf Bang" kata Sherin sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


__ADS_2