
Suara bajaj terdengar di antara suara kendaraan lainnya. Di jalan Cinaru Indah, bajaj berwarna oranye berhenti di depan sebuah rumah. Calvin merasa tidak seperti biasanya. Biasanya Sherin sudah berdiri di pinggir jalan untuk mencari kendaraan umum. Tapi kali ini gadis itu tidak terlihat.
Calvin menoleh pada rumah nomor 35, matanya membulat ketika ia melihat sosok gadis yang sangat ia kenal sedang terbaring di teras rumah.
"Sherin!".
Dengan cepat Calvin turun dari bajajnya dan berlari menghampiri Sherin yang sedang terbaring. Calvin mengangkat kepala Sherin agar tangannya bisa menjadi tumpuan kepala itu.
"Sherin bangun, Sherin?" Calvin menepuk pelan pipi Sherin.
Calvin merasakan tangannya menyentuh kulit yang panas. Ia memeriksa kening Sherin.
"Sherin kamu demam tinggi. Sherin bangun, kenapa kamu tidur di sini?".
Tidak, Sherin tidak sedang tidur. Calvin yakin Sherin pingsan karena diam di luar semalaman.
Tangan kiri Calvin mengetuk pintu dengan keras hingga membuat siapa pun yang di dalam akan merasakan kebisingan. Tak lama kemudian keluarlah Yani yang sepertinya baru bangun tidur.
"Ada apa pagi-pagi udah bikin ribut?" tanya Yani sinis.
"Lihat anak Ibu, dia pingsan dan badannya demam" kata Calvin.
Yani melihat pada Sherin yang memejamkan mata di pangkuan Calvin.
"Biarin aja, nanti juga sadar sendiri" kata Yani acuh tidak acuh.
Calvin menatap Yani dengan keterkejutan, ia tidak menyangka seorang ibu akan berkata seperti itu. Di tambah lagi dengan ekspresi yang terlihat sama sekali tidak peduli dengan kondisi anaknya.
"Bu, ini anak Ibu. Kenapa ibu malah ngomong gitu?" kata Calvin menatap tidak suka pada Yani.
"Heh kamu pikir kamu siapa? Gak usah sok peduli sama si Sherin" kata Yani.
"Saya temannya, tapi saya punya hati. Dan Anda, seorang ibu tapi gak punya hati nurani pada anaknya" jawab Calvin kesal.
"Ya udah kalau kamu memang peduli sama dia, kamu bawa aja dia. Sekalian tuh bawa dia dan jangan sampe balik lagi ke rumah ini. Di sini dia gak ada gunanya" kata Yani.
Tanpa pikir panjang, Calvin mengangkat Sherin dan berlalu pergi meninggalkan Yani. Calvin dengan susah payah membuka pintu bajaj dan membaringkan tubuh Sherin di kursi penumpang.
Yani hanya memandangi sopir bajaj itu yang sudah membawa Sherin pergi.
"Dasar Sherin, dia malah berteman sama orang yang lebih miskin. Anak itu memang gak ada gunanya. Jika bukan karena Wisnu mempertahankan anak pembawa sial itu, udah dari dulu aku buang dia ke jalanan.".
* * * *
Bajaj oranye berhenti di depan rumah sakit. Calvin yang membawa Sherin di pangkuannya dengan cepat berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
__ADS_1
"Cepat beri penanganan dengan sebaik mungkin" kata Calvin sambil membaringkan tubuh Sherin di ranjang rumah sakit.
"Baik Pak. Silahkan tunggu di luar" kata seorang perawat.
Calvin terlihat sangat cemas. Ia tidak bisa duduk dengan diam. Bagaimana bisa Sherin semalaman diam di luar rumah, sedangkan tadi malam hujan turun dengan lebatnya.
Calvin mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang. Entah apa yang ia bicarakan, tapi ia terlihat sangat serius. Setelah selesai menelepon, Calvin kembali duduk dengan tenang.
"Anda keluarga pasien?" tanya dokter yang baru saja kaluar dari ruangan.
"Saya temannya" jawab Calvin.
"Baiklah, mari ikut saya" kata dokter itu.
* * * *
"Pasien hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Pasien juga masuk angin sehingga menyebabkan dia demam". dokter itu menjelaskan.
"Oh ya, saya hampir lupa. Untuk menjaga kesehatannya, tolong jangan biarkan pasien banyak pikiran". tambah dokter itu.
"Tentu saja Dok".
Setelah pembicaraan selesai, Calvin keluar dari ruangan dokter. Ia menuju ke ruangan di mana Sherin sedang dirawat.
Di dalam ruang rawat Sherin, Calvin duduk di samping ranjang rumah sakit. Ia memandangi wajah Sherin yang sedang terpejam. Tangannya terangkat membelai wajah cantik itu.
Jari tangan Sherin mulai bergerak. Calvin yang menyadari itu langsung menatik tangannya dari wajah Sherin. Ia tahu pasti Sherin tidak akan suka jika ia menyentuh wajahnya.
"Aku di mana?" Sherin berbicara pada dirinya sendiri karena tidak menyadari kehadiran Calvin.
"Neng lagi ada di rumah sakit" jawab Calvin.
Begitu melihat Calvin, Sherin terkejut. Bagaimana bisa sopir bajaj itu ada bersamanya.
"Kok Eneng tidur di luar?" tanya Calvin.
"Makasih ya Bang udah bawa saya ke rumah sakit" kata Sherin tersenyum.
Baru kali ini Sherin memberikan senyum tulus pada Calvin. Biasanya jika ia tersenyum, itu hanyalah senyuman palsu.
"Iya sama-sama Neng, tapi jawab dulu pertanyaan saya tadi" pinta Calvin.
"Ibu saya ngelarang saya kerja kemarin, tapi saya tetep berangkat kerja dan akhirnya pas saya pulang diantar Kak Jura dan Pak Ralvin, ibu saya gak kasih saya masuk rumah. Mungkin ini memang pantas untuk saya sebagai anak yang gak nurut" kata Sherin menunduk, menyembunyikan matanya yang memerah karena menahan tangis.
"Bukan salah Eneng. Saya juga heran kenapa ada ibu yang segitunya" kata Calvin menanggapi.
__ADS_1
"Oh ya, gimana Abang bisa bawa saya ke sini?" tanya Sherin penasaran.
"Oh itu, kebetulan tadi saya lewat jalan depan rumah Eneng, terus saya lihat Neng udah tiduran di lantai. Badan Neng demam tinggi, jadi saya bawa ke rumah sakit" jawab Calvin menjelaskan.
"Neng, lebih baik Neng pulang aja ke kontrakan saya" kata Calvin tiba-tiba.
Sherin membelalakkan matanya. Bisa-bisanya Calvin menawarkan tinggal satu kontrakan dengannya?
"Heh Bang, walau Abang udah nolong saya, tapi gak mungkin saya mau tinggal satu kontrakan sama Abang" kata Sherin mulai mengeluarkan nada bicara ciri khasnya, yaitu marah-marah.
"Eeh bukan gitu Neng, maksud saya tuh di sebelah kontrakan saya, ada kontrakan kosong, nah lebih baik Neng tinggal di sana aja" .
"Memangnya saya gak punya orang tua apa? Saya punya rumah dan saya gak diusir dari rumah" kata Sherin kesal.
"Neng diusir sama ibunya Eneng. Tadi dia bilang 'kalau kamu memang peduli sama dia, kamu bawa aja dia. Sekalian tuh bawa dia dan jangan sampe balik lagi ke rumah ini. Di sini dia gak ada gunanya', gitu Neng".
Sherin tadinya tidak percaya ucapan Calvin, tapi melihat dari wajah dan mata Calvin yang sangat serius, perlahan Sherin pun percaya.
"Masa sih Bang ibu saya ngomong gitu?".
"Beneran Neng. Mungkin tadi ibu Neng lagi marah dan dia butuh waktu untuk ngeredain amarahnya. Nah, sekalian ngasih waktu, Neng tinggal di kontrakan itu aja." Calvin meyakinkan.
"Tapi..."
"Soal bayarnya itu mah urusan belakangan Neng" potong Calvin.
Sherin berpikir cukup lama. Ia tahu ibunya memang tidak menyukainya, ditambah lagi dengan tadi malam, pasti ibunya sedang marah besar. Selama ini juga ia tidak pernah merasakan pulang ke rumah dengan hati yang tenang. Entah mengapa muncul di benak Sherin untuk coba hidup mandiri dan bisa merasakan istilah 'Rumahku Syurgaku'.
"Ok" jawab Sherin akhirnya.
* * * *
Jura sudah pulang ke rumah walau waktu masih siang. Ia mendapat kabar dari Filly bahwa hari ini Sherin tidak masuk kerja dan tidak memberi kabar. Mendengar itu Jura langsung minta izin untuk pulang lebih cepat.
Tadi malam Jura menginap di rumah Ralvin, sejak itu ia memang tidak mengabari Sherin lagi. Yang membuatnya bertambah panik adalah begitu pulang ke rumah, Sherin tidak ada di rumah.
"Tadi si Sherin pergi jalan-jalan sama sopir bajaj. Dia aja gak pamitan" kata Yani berbohong.
"Kalau papah sih gak tau Ra, soalnya papah baru aja bangun tidur" jawab Wisnu.
"Gak mungkin deh Sherin lebih mentingin jalan-jalan dari pada kerja. Lagian juga kalau dia gak kerja pasti dia bakal kasih kabar ke Jura ataupun temen-temennya" kata Jura.
Di saat mereka terus membahas soal Sherin, ponsel Jura bergetar pertanda ada pesan masuk.
'Ra, Sherin lagi ada di rumah sakit. Nanti aku jelasin semuanya'. Begitulah isi pesan yang di tulis oleh Ralvin.
__ADS_1
Tanpa berbicara pada orang tuanya lagi, Jura langsung meninggalkan rumah tanpa berpamitan.
"Jura kenapa? Kok pergi gak pamitan?" Yani heran dengan sikap Jura.