
Sherin baru selesai menata seluruh pakaian dan barang-barang lainnya. Jura juga membantunya merapikan kamar. Kini mereka berdua duduk di sofa ruang tamu. Sherin dan Jura membicarakan soal Ibunya yang kemarin masuk rumah sakit.
"Sekarang mamah udah sehat kan Kak?" tanya Sherin.
"Iya, mamah udah di rumah lagi kok. Maaf ya Rin, selama ini kamu diperlakukan gak adil sama mamah dan papah." kata Jura sambil mengusap kepala Sherin.
Sherin tersenyum manis, "Gak apa-apa Kak. Sherin juga ngerti, dan Sherin juga udah terbiasa kok. Tapi Sherin gak mau pulang ke rumah lagi karena takut mamah makin gak suka sama Sherin.".
Jura tersenyum melihat adiknya itu selalu tegar. Tiba-tiba ia memegang bagian ulu hatinya. Ia meringis ke sakitan.
"Kakak kenapa?" tanya Sherin.
"Kakak gak kenapa-kenapa kok.".
Walaupun Jura berkata tidak apa-apa, tapi Sherin tahu bahwa kakaknya itu tidak dalam kondisi baik-baik saja. Wajah Jura menjadi pucat, Sherin pun menjadi panik.
"Kak? Kakak kenapa? Apa yang sakit?" tanya Sherin sambil memegang tangan Jura.
Jura tidak menjawab. Ulu hatinya begitu sakit sehingga ia tidak bisa berbicara.
"Sherin bawa ke rumah sakit ya?".
Karena kakaknya terus tidak menjawab, akhirnya Sherin memutuskan untuk langsung memanggil ambulans.
Tak lama kemudian Jura sudah dijemput oleh ambulans dan dibawa ke rumah sakit. Dari seberang jalan seseorang tersenyum lebar dari dalam mobil.
"Rasain Ghani. Sebentar lagi kamu bakal tunggang langgang dan berlutut di depan bos untuk nyelamatin anaknya. Dia pikir bos main-main sama ucapannya?" kata pria itu langsung meluncur kembali ke tempatnya.
* * * *
Ralvin, Calvin dan Braham berjalan cepat di koridor rumah sakit. Ralvin terlihat lebih khawatir dan panik dibandingkan dengan Calvin dan Braham. Tadi Sherin sudah memberitahu bahwa Jura dibawa ke rumah sakit karena sakit mendadak.
Di depan ruang UGD Sherin sedang mondar-mandir tidak tenang. Air matanya terus menetes.
"Sherin." panggil Ralvin dan langsung memeluk Sherin.
__ADS_1
Gadis itu menangis dalama pelukan Ralvin. Ia sangat takut kehilangan kakaknya.
"Syut,,, jangan nangis gitu. Jura pasti baik-baik aja." kata Ralvin menenangkan.
Sherin melepas pelukan Ralvin setelah sadar di belakang Ralvin ada Calvin dan ayahnya Ralvin. Ia menghapus air mata nya lalu tersenyum menyapa ayahnya Ralvin.
"Bapak ayahnya Ralvin?" tanya Sherin.
"Iya benar." jawab Braham sambil tersenyum.
Sekilas Braham memperhatikan wajah Sherin. Ia sedikit familiar dengan wajah Sherin. Tapi ia sendiri tidak ingat apa yang membuat wajah gadis itu menjadi familiar di matanya.
"Dokter belum keluar?" tanya Calvin.
"Belum Kak. Mereka udah di dalam sejak satu jam yang lalu. Sampe sekarang belum juga keluar." jawab Sherin.
Ralvin mengajak Sherin duduk di bangku panjang yang tersedia di depan ruang UGD. Mereka semua berdo'a agar Jura baik-baik saja.
"Orang tuanya udah tahu belum?" tanya Braham.
"Udah Pak, tadi saya udah nelepon Papah. Sekarang papah lagi di perjalanan." jawab Sherin.
Mata Braham terfokus pada Wisnu yang tak lain adalah Ghani. Wajah pria itu sudah berubah dengan dua puluh tahun yang lalu ketika pria itu masih berusia 30 tahunan. Kini pria itu sudah menua.
Ghani bingung harus lari atau tidak. Ia memikirkan Jura yang sedang melawan kematian di dalam ruang UGD. Ia tahu jelas mengapa putranya tiba-tiba masuk ke dalam rumah sakit.
"Pah, kenapa Papah malah berdiri di situ?" tanya Sherin membuyarkan pikiran dua pria tua yang saling bertatapan.
"Sherin, saya mau bahas sesuatu dulu sama papah kamu." kata Braham lalu berdiri dan menghampiri Wisnu.
"Ayo ikut aku." kata Braham berkata tegas namun pelan.
Wisnu tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Braham. Ia tidak ingin penyamarannya terbongkar di rumah sakit yang penuh pengunjung.
Wisnu dan Braham sudah duduk di bangku taman belakang rumah sakit. Braham sengaja membawa Wisnu ke halaman belakang karena khawatir akan ada orang yang memata-matai mereka.
__ADS_1
"Kamu pasti tau apa yang terjadi sama anak kamu." kata Braham.
"Kamu mau nangkep aku? Udah dua puluh tahun tapi kamu masih memburon aku. Apa kamu gak capek?" kata Wisnu. Sifat angkuhnya sama sekali tidak hilang dari dirinya.
"Jelas aku gak akan melupakan semua kejahatan kamu. Yang kamu bunuh itu adalah sahabatku. Sekarang kamu gak bisa berbuat apapun lagi." kata Braham menegaskan posisi Wisnu sekarang.
Wisnu menghela nafas. Ia tahu sekarang posisinya sedang di ujung tanduk. Jika ia tidak melarikan diri dari Braham, ia akan tertangkap dan tidak mungkin bisa menghirup udara segar. Tapi jika ia melarikan diri, maka ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada putra satu-satunya.
Jika dulu ia adalah pembunuh tersembunyi, kini ia tidak bisa melakukan itu lagi karena ia sedang berada di bawah tekanan seseorang.
Braham diam saja, ia menunggu Wisnu berbicara padanya.
"Apa untungnya kamu nangkep aku sekarang? Toh dia udah mati juga kan?" kata Wisnu.
Braham tersenyum sinis, "Jadi kamu minta aku lepasin gitu aja? Masih ada istrinya yang mengharap kepalamu." jawab Braham tajam.
"Sekarang kamu kasih tau apa yang terjadi sama Jura sekarang." perintah Braham.
Wisnu berpikir cukup lama. Ia berpikir sekarang hanya Braham lah yang bisa menyelamatkan Jura. Jika ia meminta bantuan pada pria misterius itu, pasti pria itu akan semakin menyulitkannya.
"Bertahun-tahun yang lalu, ada seorang laki-laki yang nitipin Sherin sama aku. Awalnya aku gak mau, tapi dia maksa aku dengan ancaman bakal bongkar penyamaranku. Akhirnya aku pun setuju. Gak lama kemudian perusahaanku bangkrut dan ternyata itu ulah laki-laki itu. Aku ngancam dia bakal bunuh Sherin.".
"Selang seminggu setelah aku ngancam bakal bunuh Sherin, Jura yang tinggal di Bali sama neneknya menghilang selama tiga hari. Kemudian laki-laki itu kembali ngancam, kalau sempet aku bunuh Sherin, maka Jura juga akan mati. Ternyata laki-laki itu udah nanam racun di badan Jura. Kapanpun dia bisa ledakan racun itu dan nyawa Jura pasti akan lenyap." kata Wisnu mengakhiri ceritanya.
Braham cukup terkejut. Berarti kematian dokter yang diceritakan oleh Ralvin tadi bisa juga karena pria yang menitipkan Sherin pada Wisnu. Braham berpikir harus waspada pada pria itu.
"Aku gak tau ada berapa banyak racun yang ada di dalam badan Jura. Mungkin laki-laki itu meledakan racun dengan kadar rendah untuk saat ini. Tapi aku takut suatu saat dia akan ledakin semua racun itu. Hanya kamu yang bisa bantu aku." kata Wisnu.
Tanpa diduga oleh Braham, Wisnu berlutut di kakinya.
"Aku rela dihukum mati asal Jura selamat. Dia sama sekali gak bersalah. Tolong Jura, aku mohon Braham." kata Wisnu hampir menangis.
Braham memang sangat membenci Wisnu karena pria itulah yang telah membunuh sahabatnya dulu. Tapi yang ia pikirkan bukan Wisnu, ia memang memikirkan Jura yang merupakan teman Ralvin.
"Udah, berdiri. Aku pasti bakal bantu Jura. Tapi siapa laki-laki yang udah nitipin Sherin?" kata Braham setelah membantu Wisnu kembali duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Aku gak tau namanya, aku gak tau informasi apapun tentang laki-laki itu. Aku cuma pernah lihat mukanya dua kali. Selebihnya dia selalu nutupin mukanya." jawab Wisnu.
Braham mengerutkan alisnya. Semua akan menjadi sulit jika mereka tidak mengetahui siapa pria yang menitipkan Sherin itu. Tapi Braham sudah bertekad untuk menyelidiki semua itu.