(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Pulang ke Jakarta


__ADS_3

Makan malam sudah selesai. Sejak Ralvin melihat pria misterius itu, Ralvin dan Bima mengobrol dengan tatapan yang saling mengalahkan. Karena hari sudah hampir larut malam, Ralvin pun permisi pulang ke hotel.


Di dalam mobil Ralvin tidak berbicara, ia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Sherin tantu saja penasaran, karena ia merupakan orang yang selalu ingin tahu dan tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Kenapa diam aja Pak? Ada masalah?" tanya Sherin.


Ralvin yang sedang menyetir mobil menoleh pada Sherin sebentar, "Kamu jangan terlalu akrab sama Pak Bima.".


Sherin mengerutkan keningnya. Tentu saja ia tidak mengerti. Memang sejak pertama kali bertemu dengan Bima, Sherin sendiri tidak nyaman berada di dekat pria tua itu. Tapi apa alasan Ralvin mengatakan hal itu.


"Kenapa?" tanya Sherin.


"Pokoknya saya bilang jangan ya jangan. Ok?" kata Ralvin.


Sherin menghela nafas. Memangnya siapa Ralvin? Melarang dirinya dekat dengan Bima. Jelas-jelas Bima itu adalah pria tua. Mana mungkin juga Sherin mau dekat dengan pria tua.


"Nanti jangan lupa kamu kemasin semua pakaian kamu yang satu koper besar itu. Besok pagi kita langsung terbang ke Jakarta." kata Ralvin.


"Kita langsung pulang besok? Katanya dua hari?" kata Sherin kaget. Ia merasa lelah karena belum ada istirahat kecuali tidur malam.


"Kita sampai ke sini hari apa?".


"Hari Selasa sore.".


"Sekarang hari apa?".


"Hari Rabu.".


"Jadi, Selasa dan Rabu udah berapa hari?".


"Dua hari.".


"Ya udah, benerkan? Kita udah dua hari di sini. Jadi besok kita pulang. Hmm jangan-jangan kamu pengen lama-lama ya satu hotel sama saya. Biar bisa ngintip saya lagi?" kata Ralvin sambil menyipitkan matanya.


"Ngaco. Amit-amit saya ngintip Bapak." kata Sherin sambil bergidik.


Ralvin tertawa terbahak-bahak. Wajah Sherin sangat lucu dan menarik ketika marah, ngambek, atau pun seperti sekarang, bergidik jijik.


"Oh ya, saya baru ingat. Dulu Hendry bilang karyawan di kantor sering bilang Bapak itu gay." kata Sherin mengingat ucapan Hendry di hari pertama Sherin masuk kerja.


Ralvin mengerem mobilnya secara mendadak. Ia membulatkan matanya lalu menatap Sherin.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Siapa yang bilang gitu?" kata Ralvin menahan rasa kesal.


"Saya sih tau dari Hendry. Katanya Bapak itu belum pernah suka sama perempuan manapun. Makanya seisi kantor pernah gosipin gitu." kata Sherin tak berdosa.


"Dari mana mereka tau saya gak pernah suka sama perempuan mana pun?" tanya Ralvin masih kesal.


"Katanya dari Kakak perempuan Bapak" jawab Sherin.


"Kak Viola...aku udah tebak ini pasti ulah kecerewetannya." geram Ralvin kesal.


"Jangan percaya gosip itu. Saya ini laki-laki normal." kata Ralvin sambil siap-siap melaju mobilnya lagi.


"Masa Bapak normal?" tanya Sherin mengejek.


Ralvin menghentikan kakinya yang akan menginjak pedal gas. Ia menghadap lurus pada Sherin, menatap mata Sherin tajam.


"Mau saya buktikan sekarang?" kata Ralvin tajam.


Sherin langsung melotot. Ia menjauh dari Ralvin, "Ma-ma-maaf, saya percaya kok Pak. Sumpah." kata Sherin sambil mengacungkan dua jari.


Ralvin menarik nafas panjang, kemudian menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian mobil Ralvin melalui di jalan kota Surabaya.


* * * *


Bagaimana tidak, Ralvin dan Sherin berjalan dengan elegan. Mereka berdua memiliki pesona dan karisma tersendiri. Banyak orang yang berbisik menyangka mereka berdua pasangan artis ataupun model.


Ralvin dan Sherin tidak mempedulikan mata yang terus menatap mereka. Sherin berjalan seolah-olah sedang berjalan di bandara yang sepi. Tiba-tiba Ralvin menarik tangannya menuju kerumunan orang yang berjalan.


"Ada apa?" tanya Sherin heran.


"Nunduk aja." kata Ralvin sambil menunduk.


Dari sudut mata Sherin, ia melihat seorang pria memakai topi dan masker hitam sedang melihat ke sekeliling. Sepertinya pria itu sedang mencari seseorang.


"Ada yang ngikutin kita?" tanya Sherin.


"Iya. Udah ayo cepet jalan." jawab Ralvin langsung menarik tangan Sherin agar Sherin berjalan cepat.


Setelah keluar dari kerumunan orang, Sherin melihat mobil yang biasa Ralvin gunakan. Ralvin kembali menarik tangan Sherin dan mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil hitam melaju meninggalkan bandara.


Di tengah perjalanan, Ralvin sesekali Ralvin melihat ke belakang. Sepertinya ia takut ada orang yang mengikuti mereka. Ralvin tidak menyetir mobil karena ada sopir andalan Ralvin.

__ADS_1


"Pak, saya gak ngerti kenapa Bapak ngehindari orang itu?" kata Sherin sambil mengelap keringatnya karena tadi ia berjalan terlalu cepat.


"Orang itu yang saya lihat di restoran pas kita makan malem bareng Pak Bima. Saya rasa orang itu selalu ngikutin kita kemanapun kita pergi." jawab Ralvin.


"Iiih jangan-jangan Bapak ini mafia ya? Kayak di novel-novel seorang mafia di mata-matain sama intelejen kelas dunia." kata Sherin.


Ralvin menyentil kening Sherin, "Ngawur kamu. Kamu hobi baca novel ya? Kebanyakan baca novel gini deh, dramatis." kata Ralvin.


"Ya terserah saya dong Pak. Mau baca novel kek, komik kek atau baca masa depan juga bukan urusan Bapak." kata Sherin sambil memonyongkan bibirnya.


Ralvin menggelengkan kepala, "Baru disentil aja udah ngambek. Kamu dikit-dikit cemberut. Lucu tau." kata Ralvin.


"Udah deh. Pak tolong cepet ya Pak. Saya harus masak untuk Calvin." kata Sherin pada sopir.


"Perhatian banget kamu sama Calvin. Jangan-jangan kalian udah nikah diem-diem ya?" kata Ralvin.


Sherin diam saja, entah mengapa tiba-tiba sekarang ia malas berdebat dengan Ralvin.


* * * *


Sherin turun dari mobil Ralvin. Ia mengucapkan terima kasih karena Ralvin sudah mengantarnya sampai rumah. Setelah mobil Ralvin pergi, Sherin berbalik badan ke arah rumah kontrakan. Dilihatnya pintu dikunci.


"Loh, apa Calvin belum pulang ya? Padahal ini udah siang. Harusnya dia pulang untuk makan siang." kata Sherin.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Segera Sherin menjawab telepon yang tidak lain telepon dari Calvin.


"Hallo, kamu kok belum pulang?" tanya Sherin.


"Hmm kamu udah sampe rumah ya? Bentar lagi aku pulang kok. Bawa oleh-oleh gak?" tanya Calvin dari seberang telepon.


"Enggak." jawab Sherin singkat.


"Tega kamu ya. Ya udah deh, aku lanjut narik bajaj lagi." kata Calvin.


"Ya udah hati-hati ya. Aku juga mau nyiapin makan siang untuk kamu.".


Setelah itu telepon ditutup dan Sherin pergi masuk ke dalam kontrakan Calvin.


Sherin membulatkan mata karena terkejut. Setelah ia masuk ke dalam, dilihatnya seluruh isi di dalam rumah Calvin sangat berantakan. Vas bunga pecah, meja kaca pecah, sofa terbalik, tv jatuh ke lantai, isi laci meja berserakan di mana-mana. Sherin yakin ada yang menggeledah rumah Calvin.


"Apa-apaan ini? Aku harus nelepon Calvin.".

__ADS_1


__ADS_2