
Sherin memberontak sekuat yang ia bisa, tapi sayangnya tenaganya bukanlah tandingan orang itu. Ia diseret masuk ke dalam mobil. Setelah masuk, orang itu melepas tangannya dari Sherin.
"Tolong! Tolong!" Sherin berteriak sambil memberontak.
Pria itu kembali menutup mulut Sherin. "Syuutt, jangan berteriak, kami bukan orang jahat. Kami anak buah bos Calvin."
Mendengar nama Calvin, Sherin berhenti berteriak dan berhenti memberontak. Ia mengatur nafas dan detak jantungnya.
"Kalian, kenapa menculikku seperti itu? Dan dari mana kalian tahu aku ada di sini?" tanya Sherin ketika dirinya sudah mulai tenang.
"Sebenarnya ...."
Lima anak buah Calvin setiap hari mengawasi Sherin. Di manapun dan kapanpun mereka selalu mengawasinya, termasuk saat berada di rumah Ralvin. Sore itu, mereka melihat Sherin sedang berdiri sendiri di balkon kamar.
Melihat Sherin di luar, pengawasan mereka terhadap sekitar langsung meningkat. Mereka menggunakan teropong untuk mengawasi Sherin.
Dari jalan besar, ada sebuah mobil yang melaju menuju jalan sempit yang ada di belakang rumah Ralvin. Mereka langsung terfokus pada mobil yang mencurigakan itu. Sang pengendara mobil itu mengeluarkan sabuah busur panah, dengan secepat kilat, orang itu sudah memanahkan anak panah. Setelah itu, mobil tersebut melesat meninggalkan area rumah Ralvin.
Kelima anak buah Calvin kembali fokus pada Sherin yang tengah membaca surat. Mereka yakin surat itu berisi peneroran.
Pada malam hari, ketika Sherin makan malam dengan Imas. Salah satu dari mereka mengendap-ngendap dan masuk ke dalam kamar Sherin. Ia memanjat dinding layaknya sebuah cicak. Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari kertas tersebut.
"Nah, ini dia. Sepertinya surah ini yang dibaca oleh nona Sherin."
Pria itu membaca surat itu. Beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar Sherin dengan secepat kilat.
"Apa yang kamu temuin?" tanya salah satu dari mereka.
"Nona Sherin diajak ketemuan oleh seseorang pada malam ini. Kita harus ngikutin dia," jawab orang yang tadi masuk ke dalam kamar Sherin.
"Baiklah, sekarang, kalian berdua awasi taman mini itu, sedangkan aku dan yang lainnya akan mengikuti dan mengawasi nona Sherin
"Begitulah ceritanya."
Sherin tercengang, ternyata selama ini ia diawasi oleh lima orang mata-mata.
"Nona, janganlah percaya sama orang itu. Mereka itu licik dan jahat. Mereka gak akan ngasih keuntungan apapun untuk Nona. Mereka cuma pengen manfaatin Nona aja," sambung pria tadi.
Sherin merenung. Yang dikatakan anak buah Calvin memang benar. Hampir saja ia terjebak oleh umpan dari orang jahat itu.
__ADS_1
"Maafkan aku."
"Sekarang kami akan mengantar Nona ke rumah Pak Ralvin."
* * * *
Keesokan harinya, pagi itu Sherin baru bangun tidur. Ia menemukan dirinya sedang tertidur di atas sofa. Ya, dia ingat. Tadi malam ia terus memikirkan surat itu. Kini ia terus bertanya siapa kedua orangtuanya. Apakah mereka masih hidup? Jika diingat dari bayangan waktu itu, seorang pria mengatakan bahwa kedua orangtuanya sudah tiada.
Sherin bangun dan duduk di sofa. Ia teringat pada Ralvin yang mungkin akan sampai ke rumah hari ini. Mengingat Ralvin, tiba-tiba Sherin menjadi bersemangat. Ia akan menyiapkan makanan untuk pria tampan itu.
Sherin pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Setelah selesai, ia pergi turun untuk bergabung dengan Imas.
"Bi, Ralvin belum datang ya?" tanya Sherin ketika sudah berdiri di samping Imas.
Imas tersenyum. "Belum, Neng. Mungkin nanti siang."
Sherin membantu Imas menggoreng ikan asin. Ketika membuat sambal, tiba-tiba saja Sherin tertawa sendiri. Imas yang berhadapan dengannya menjadi bingung.
"Kenapa Neng? Ada yang salah sama bibi?" tanya Imas bingung.
Sherin menggelengkan kepala. Ia masih tertawa.
"Wah jangan ditanya, Neng. Den Ralvin itu anti sama terasi. Padahal keluarganya suka banget sama terasi, tapi Den Ralvin beda sendiri. Waktu itu pernah bibi buatin karena bibi gak tau, eh Den Ralvin malah kabur dari meja makan." Imas menceritakan itu sambil menahan tawa.
Sherin tertawa lagi. "Pantes aja waktu itu sampe muntah."
Imas mengerutkan keningnya. "Loh, memangnya kapan Neng kasih?" Imas penasaran.
"Kemarin lusa. Pas dia mau berangkat narik bajaj. Gak tau kenapa dia gak ngomong kalau gak suka. Dia malah terus makan sampe habis."
Imas tertawa keras, diikuti oleh tawa Sherin. Mereka masak dengan penuh cerita lucu yang terus terlontar dari mulut keduanya.
Beberapa menit kemudian, Sherin dan Imas sudah selesai menata makanan di atas meja. Bau ikan asin dan sambal goreng memenuhi ruang tengah. Sherin tidak langsung sarapan, ia ingin menunggu Ralvin dan makan bersama.
Saat baru akan meninggalkan ruang tengah, Ralvin berlari dari ruang tamu. Begitu sampai di hadapan Sherin, ia langsung memeluk gadis itu dengan erat. Ia terus memeluk Sherin tanpa ingin melepaskannya.
Melihat itu, Imas segera pergi dari ruang tengah menuju kamarnya. Ia tidak ingin mengganggu ataupun menyaksikan kemesraan dua insan berdarah muda tersebut.
"Hei, kenapa?" tanya Sherin sambil mengusap punggung Ralvin.
__ADS_1
"Aku khawatir sama kamu."
Sherin mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak mengerti apa yang dikhawatirkan oleh Ralvin.
"Kenapa kamu ngikutin umpan orang itu? Mereka cuma manfaatin kamu aja."
Setelah mendengar ucapan Ralvin itu, akhirnya Sherin mengerti. Pasti anak buah Calvin telah melapor pada Ralvin. Sherin melepaskan pelukan Ralvin, lalu mengajak pria itu untuk duduk di meja makan. Ia memberikan segelas air putih.
"Maaf, aku gak berpikir ke aras sana. Begitu ingat kedua orang tuaku, aku jadi gak bisa berpikir jernih." jawab Sherin.
Ralvin meneguk air yang diberikan oleh Sherin, setelah itu meletakkan gelasnya di atas meja.
Ia memandangi wajah Sherin dengan lekat. Ada sesuatu yang ia pikirkan saat ini.
"Apa aku sanggup untuk ngomong yang sejujurnya? Gak, aku gak bisa. Aku gak bisa ngomong itu ke kamu. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu kamu. Aku gak bisa ninggalin kamu."
"Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Sherin ketika menyadari Ralvin menatapnya sangat dalam.
"Apa kamu pernah jatuh cinta?"
Pertanyaan Ralvin sungguh tidak pernah diduga oleh Sherin. Hal itu mengundang gelak tawa Sherin. Ia tidak tahu bahwa Ralvin sedang serius.
"Aku serius, Sherin." Ralvin menatap dalam mata Sherin.
Sherin menghentikan tawanya. Kini tubuhnya terasa tegang. Ia belum pernah membahas soal ini sebelumnya. Ralvin yang tiba-tiba membahas tentang itu membuat Sherin jadi bingung harus menjawab apa.
"Aku belum pernah jatuh cinta," jawab Sherin. "Mungkin," tambahnya.
"Jangankan jatuh cinta, punya teman akrab aja aku gak pernah. Cuma Filly, Dita dan Hendry lah yang jadi teman aku sejak aku kerja di kantor kamu," Sherin menjelaskan.
"Terus, apa sekarang kamu lagi jatuh cinta?" tanya Ralvin masih sangat serius.
Sherin mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Apa kamu mencintai ku?"
'Deg'
Jantung Sherin langsung melompat. Ia tidak pernah menduga akan ada pertanyaan seperti itu yang keluar dari mulut Ralvin.
__ADS_1
"A-a-aku, aku ...."